Nakalnya Dewi Perssik Saat Difoto

Nakalnya Dewi Perssik Saat Difoto - Dewi Perssik merupakan sosok artis yang ramah dan koporatif. Terutama pada awak media. Tak pernah menolak ketika diminta bergaya untuk difoto. Tanpa diarahkan, ia langsung menunjukkan gaya-gaya sensual, seperti yang terekam berikut ini.

Nakalnya Dewi Perssik Saat Difoto

Dijumpai di syuting perdana film terbarunya, Nyi Blorong di Cinere, Senin (14/1/2013), Dewi Perssik sangat bersemangat ketika diminta kesediaannya untuk bergaya di depan juru foto. Bahkan ia sampai menunda makan siangnya demi memenuhi permintaan fotografer.

Nakalnya Dewi Perssik Saat Difoto

Tanpa perlu diarahkan, Dewi langsung mengeluarkan gaya-gaya seksi yang menjadi andalannya. Rupanya Dewi tahu persis angle terbaik dari dirinya. Tak cukup dengan berdiri, Dewi Perssik langsung mendekati meja besi yang dilapisi kaca dan duduk di atasnya. Kalau pecah, kaca-kaca itu bisa merusak kulit mulusnya. Namun ia tak takut. Ia terus melakukan aksinya.

Nakalnya Dewi Perssik Saat Difoto

Kali ini Dewi Perssik mengeluarkan gaya yang lebih hot lagi. Dengan posisi terlentang, ia sengaja memamerkan lekuk tubuhnya. Meski dengan busana yang tertutup, tapi Dewi sadar betul bagaimana membuat pria bergairah ketika melihat posenya.

Nakalnya Dewi Perssik Saat Difoto

Makin panas, Dewi semakin meluncurkan gaya-gaya yang semakin hot. Bahkan dengan gilanya ia menggoda para fotografer dengan gaya nakalnya. Dewi sengaja memegang payudaranya dengan tangan kiri, sementara wajahnya menampilkan ekspresi yang menggoda.

Nakalnya Dewi Perssik Saat Difoto

"Jadi pengen buru-buru pulang ya mas, ketemu istrinya," kata Dewi Perssik dengan gaya genitnya. Ahh... Dewi Perssik memang menggoda

Sumber : http://showbiz.liputan6.com/read/487808/ih-nakalnya-dewi-perssik-saat-difoto

Model Seksi Hot Teman Tante Menggoda

Model Seksi Hot Teman Tante Menggoda - Cantik, seksi dan berani. Itulah ciri khas dari seorang Model. Baik Model Amatiran maupun Model Profesional. Apalagi sang Model Dewasa khusus para lelaki hidung belang, dia harus berani tampil full alias Vulgar. Totalitasnya harus dilakoni, bahkan sampai bugil pun.

Salah satu contohnya adalah Model Seksi Hot Teman Tante Menggoda di bawah ini. Langsung saja deh kamu lihat yah.

Inilah Model Seksi Hot Teman Tante Menggoda.

Model Seksi Hot Teman Tante Menggoda

Model Seksi Hot Teman Tante Menggoda

Model Seksi Hot Teman Tante Menggoda

Semoga kamu terhibur dengan Model Seksi Hot Teman Tante Menggoda di atas. By Tante Alexa.

Inilah Teman Tante Alexa Lagi Hot

Inilah Tante Alexa Lagi Hot - Siapa yang tidak kenal yang namanya Tante Alexa. Pesonanya begitu menggoda. Senyum yang keluar dari bibir manisnya pun memberikan kesejukan yang menyenangkan. Apalagi Alexa memberikan kado terindah kepada kita. Sungguh membuat hati bahagia. Alexa begitu dekat dengan para blogger atau webmaster. Karena Alexa adalah sebuah situs yang memberikan informasi tentang rating dan trafik sebuah situs / web / blogger.

Inilah Teman Tante Alexa Lagi Hot

Alexa untuk saat ini adalah tolok ukur keberhasilan sebuah situs / web / blog. Di kalangan para blogger, Alexa kerap kali disebut sebagai Tante. Alexa ibarat seorang wanita genit yang senantiasa menggoda para lelaki, sudah tentu ini hanya sebagai istilah.

Blogger atau webmaster tidak bisa lepas dari Alexa. Bahkan senantiasa ingin lengket kayak perangko. Tanpa Tante Alexa, rasanya para blogger kesepian. Hampa rasanya dunia blog tanpa ada Tante Alexa. Seakan-akan para blogger terhipnotis oleh Tante Alexa. By The way, gambar Cewek Cantik di atas hanya Ilustrasi saja lho, yang diambil dari mesin pencari Google, (hehehehe) bukan si Tante Alexa. Oleh karena itu saya membuat dengan judul Tante Alexa.

Ini adalah Teman Tante Alexa kamu tentu menyukainyai.

Inilah Teman Tante Alexa Lagi Hot

Inilah Teman Tante Alexa Lagi Hot

Semoga kamu suka dan menyukainya yah... by Tante Alexa.

Hot dan Nakal Dina Teman Tante Alexa

Hot dan Nakal Dina Teman Tante Alexa - Sendirian di kamar, dan tidak ada suami di rumah membuat Dina teman Tante Alexa bebas sebebasnya. Itulah yang dilakukan oleh Tante Dina. Lihat saja penampilannya di bawah ini.

Foto Hot dan Nakal Dina Teman Tante Alexa

Hot dan Nakal Dina Teman Tante Alexa

Hot dan Nakal Dina Teman Tante Alexa

Hot dan Nakal Dina Teman Tante Alexa

Hot dan Nakal Dina Teman Tante Alexa untukmu by Tante Alexa.

Cerita Dewasa Tante Girang Yang Binal

Cerita Dewasa Tante Girang Yang Binal - ini di mulai setelah sekolah aku disuruh jaga toko Milik Tante Julia yang sebenarnya bukan tante asliku, dia adalah teman dari dari ibu sodaraku jauh, ribet deh kalodiceritain, aku menjaga toko itu sudah sekitar 2 minggu. Karena toko milik Tante Julia menjual sembako, maka pembelinya pun kebanyakan ibu-ibu ataupun perempuan. Saya yang bertugas untuk mengambilkan barang-barang seperti beras, gula ya hanya bersikap cuek saja terhadap banyaknya pembeli itu. Inilah cerita dewasa panas yang paling seru. Sebut Tante Lina pemilik toko di sebelah tokonya Tante Julia yang sepertinya juga tipe Tante Girang Binal, dia sering datang sore hari setiap toko akan ditutup. Dia biasanya saling omong-omong, bersenda gurau dengan Tante Julia, dan apabila telah begini tentu lama sekali selesainya. Dan seperti biasanya, aku pulang duluan ke rumah karena Tante Julia biasanya dijemput oleh suaminya atau anaknya.

Cerita Dewasa Tante Girang Yang Binal

Tapi suatu saat, ketika mau pulang aku teringat bahwa harus mengantarkan Indomie ke pelanggan, aku cepat-cepat balik ke toko. Dan memang toko sudah sepi, pintu pun hanya ditutup tanpa dikunci. Aku pun langsung masuk menuju tempat penyimpanan Indomie. Ternyata aku menyaksikan peristiwa yang tidak kuduga sama sekali, kulihat Tante Julia dengan posisi tetelentang di antara tumpukan karung beras sedang dioral kemaluannya oleh Bu Lina. Tante Julia sangat menikmati dengan rintihannya yang ditahan-tahan dan tangannya memegang kepala Bu Lina untuk dirapatkan ke selangkangannya.

Karena terkejut atas kedatanganku, maka keduanya pun berhenti dengan memperlihatkan wajah sedikit malu-malu. Tapi tidak sampai lima detik, mereka pun tersenyum dengan penuh artii

“Kamu belum pulang to Her (Hery namaku), kebetulan lho kita bisa rame-rame, ya kan Bu Lina..?” ucap Tante Julia sambil menariktangan Bu Lina ke arah kedua dadanya yang terbuka.

“Ayo sini Her.., jangan malu, ughh, ahh..!” desah Tante Julia lagi, kali ini tangannya melambai ke arahku.

Dan aku pun sempat bingung tidak tahu harus berbuat apa, tapi karena kedua wanita dalam keadaan tanpa pakaian seperti itu memanggilku, nafsu kelelakianku bangkit walaupun aku belum pernah merasakan sebelumnya. Perlahan aku mendekati keduanya sambil melihat mereka berdua. Seperti seorang raja aku pun disambut, mereka yang tadinya telentang dan menindih kini mereka bangkit dan duduk sambil menata rambutnya masing-masing.

Hanya lima langkah aku pun sampai di hadapanya, dan dengan lihai mereka berdua langsung meremas selangkanganku.

“Her, ini pernah masuk ke sarangnya belum..?” tanya Tante Julia manja.

“Be.., belum Tante..!” jawabku polos sambil menahan rasa geli yang begitu nikmat.

“Wah.., hebat dong belum pernah. Pertama kali langsung dapat dua lubang..!” canda Bu Lina, sementara tangannya menarik lepas celanaku hingga aku benar-benar telanjang di hadapan mereka.

Dan sesaat kemudian aku merasakan kehangatan padabatang kemaluanku. Terdengar srup, srup ahh. Tante Julia dan Bu Lina seakan ingin berebut untuk menikmati batang kemaluanku yang berukuran normal-normal saja.

“Ayo Bu.., hisap yang lebih kenceng biar keluar isinya..!”
“Iya Bu.., ini kontol kok enak banget sih..?”
“Cupp.., crupp..!” kata mereka berdua saling menyahut.

Aku hanya pasrah menikmati perlakuannya dan sesekali kuusap pipi-pipi kedua Tante-Tante itu dengan nafsu juga.
Tidak sampai 10 menit, aku merasakan sesuatu kenikmatan luar biasa yang biasanya terjadi dalam mimipi, badanku menegang, mataku terpejam untuk merasakan sesuatu yang keluar dari kemaluanku. Tumpahan maniku memuncrat mengenai wajah Bu Lina dan Tante Julia, dan dengan serta merta Tante Julia mengalihkan lumatan dari punyaku ke wajah Bu Lina. Dengan buas sekali mereka saling berciuman bibir, berebutan untuk menelan air kenikmatan punyaku. Aku pun berjongkok dan membuka paha Tante Julia, Tante Julia hanya menurut.
“Mau apa kau Sayang..?” desah Tante Julia.

Aku hanya diam saja dan mengarahkan wajahku ke arah selangkangannya yang berbau anyir dan tampak mengkilap karena sudah basah. Aku mencoba untuk melakukan seperti di film-film. Kumasukkan lidahku ke dalam rongga-rongga vaginanya serta menyedot-nyedot klitorisnya yang kaku itu. Kurasakan ketika aku menyedot benda kecil Tante Julia, Tante Julia selalu menggelinjang dan mengangkat pantatnya, sehingga kadang hidungku ikut mencium benda kecil itu.

“Her.., kamu kok pinter banget sih, terus, terus uggh.. ughh.. ahhh, ehh, aahhh..!” ceracau Tante Julia.

“Terus Her, terus..! Beri Tantemu surga kenikmatan, ayo Her..!” ucap Bu Lina yang memilin dan mengemut puting susu Tante Julia.

“Terus Bu..! Her.., aku mau muncrat! Ayo Her.., sedot yang keras lagi..!” pinta Tante Julia.

Aku pun semakin liar memainkan vaginanya, dan dengan teriakan Tante Julia, “Aghh.., ughh..!” lidahku merasakan ada cairan kental keluar dari vagina Tante Julia. Aku cepat-cepat menangkapnya dan sedikit ragu untuk menelannya.
“Her, sudah Her.., Tante sudah puas nih..! Kamu gantian dengan Bu Lina ya..!” ucapnya sambil tangannya mengusap cairannya yang keluar dari liang senggamanya.

Aku pun tidak sadar bahwa batang kemaluanku sudah bangun lagi, tegak dengan sempurna walaupun sedikit terasa ngilu.
“Bentar Her.., kamu disini dulu ya..!” pinta Bu Lina sambil keluar ke tempat tumpukan koran dan mengambil beberapa lembar.

Kemudian Bu Lina masuk ke gudang lagi dengan menggelar koran yang dibawanya. Setelah kira-kira cukup, Bu Lina menelentangkan tubuhnya dan memanggilku, “Ayo sekarang giliran saya dong Her..!” katanya sambil tangannya meremas susunya sendiri.
Aku pun langsung mengangkanginya dan kedua tangan pun mengganti tangannya untuk meremas susu-susunya yang masih kenyal. Lembut, halus, enak rasanya memegang payudara orang dewasa.

“Her.., masukin dong tuh burung kamu ke lubang Lina, ayo dong Her..!” bisiknya lembut.

|| intermezooo….Silahkan lanjutkan baca Cerita Ngentot Tante Girang nya ya….||||

Aku pun berusaha untuk mengarahkan masuk ke liangnya, tapi dasar memang masih amatir, terasa terpeleset terus.
“Ayo Lina bantu biar nggak salah sasaran..!” ucapnya.

Dan tangannya pun memegang batang kemaluanku dengan lembut dan memberikan kocokan sebentar, dan akhirnya dibimbing masuk ke lubang kenikmatannya.

Ini pertama kali kurasakan penisku masuk ke sarangnya. Terasa hangat, lembab, nikmat dan seperti ditarik-tarik dari dalam kamaluan Bu Lina. Secara naluri aku pun mulai menggerakkan pantatku maju mundur secara pelan dan berirama.
“Terus Her.., masukkin lagi yang lebih dalam, ayooo, ughh..!” desah Bu Lina.

Tangan Bu Lina pun telah memegang pantatku dan menekan-nekan supaya doronganku lebih keras, sedangkan kakinya telah melingkar di pinggangku.

Kira-kira hanya 10 menit berlalu, Bu Lina menjerit sambil menggaruk punggungku dengan keras, “Ooohhh.., aku ngejrot.., Her..! Yeess.., uhhh..!”

Kemudian tubuhnya lunglai dan melepaskan kakinya yang melingkar di pinggangku. Aku pun bangkit meninggalkan Bu Lina yang telentang dan tampak dari liang kenikmatannya sangat banyak cairan yang keluar. Kuhampiri Tante Julia yang mulai menutup pintu-pintu tokonya. Aku pun turut membantunya untuk mengemasi barang-barang.

Setelah beberapa menit menunggu jemputan, terdengar telpon berdering. Setelah kuangkat ternyata mobil yang dipakai menjemput dipakai suaminya untuk ngantar tetangga pindahan. Kemudian aku pun menawarkan untuk mengantarkan ke rumah Tante Julia dengan Impresa 95 kesayanganku.

Di dalam perjalanan, Tante banyak bercerita bahwa hubungan lesbinya dengan Bu Lina sudah 3 tahun, karena Omku suka pulang malam (mabuk-mabukan, judi, nomor buntut, dan sebagainya) sehingga tidak puas bila dicumbu oleh Omku. Sedangkan Bu Lina memang janda karena suaminya minggat dengan wanita lain.

Sampai di rumah Tante Julia, suasananya memang sepi karena anaknya kuliah dan Omku sedang mengantar tetangga pindah rumah. Setelah aku angkat-angkat barang ke dalam rumah, aku pun lalu pamitan mau pulang kepada Tante Julia. Aku terkejut, ternyata Tante Julia bukannya memperbolehkan aku pulang, tetapi malah menarik tanganku menuju kamar Tante Julia.

“Her.., Tante tolong dipuasin lagi ya Yang..!” pintanya sambil memelukku dan menempelkan kedua buah dadanya ke tubuhku.

Aku pun mencium bibirnya yang terbuka dan mengulumnya dengan nafsu, demikian pula Tante Julia. Kemudian dengan dorongan, jatuhlah tubuh kami berdua di kasurnya, dan dengan bersemangat kami saling meraba, menindih, merintih. Hingga akhirnya aku melepaskan maniku ke dalam kemaluan Tante Julia.

Aku pun pamitan pulang dengan mencium bibirnya dan meremas susunya dengan lembut. Kemudian dari laci lemari diambilnya uang seratus ribuan, dan diberikan kepadaku, “Untuk rahasia kita..!” katanya.

Sampai saat ini lebih dari 2 tahun aku bekerja di toko Tante Julia, dan hubungan badanku dengan Tante Julia dan Bu Lina masih berlangsung. Dan yang menyenangkan adalah Tanti, anak Bu Lina mau kupacari, dan aku ingin menjadikannya sebagai istri.

Cerita Dewasa Desahan Nafas Mbak Marissa

Cerita Dewasa Desahan Nafas Mbak Marissa - Mendung tipis berarak di langit. Aku menatap lapisan awan hitam itu sejenak. Sebentar lagi pasti hujan. Dan seperti biasa, sementara aroma angin menjelang hujan menerpa leher, setiap kali hendak hujan aku selalu teringat masa paling mengasyikkan dalam hidupku. Masa di mana sesosok perempuan secantik dewi tiba-tiba hadir memberikan kehangatan dan kenikmatan luar biasa ketika aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA.

Cerita Dewasa Desahan Nafas Mbak Marissa

Cuaca agak mendung ketika sebuah truk boks berhenti di depan rumah kosong persis di sebelah kanan rumahku. Seorang laki-laki turun, diikuti seorang perempuan yang menurutku teramat cantik. Kecantikan itu bisa kulihat dari warna kulitnya yang amat benderang dalam balutan blus tipis yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, Manakala turun dari kendaraan, ia sedikit menunduk dan bisa kunikmati sejenak belahan dadanya yang bersih dan penuh. Sebagai lelaki remaja kelas 2 SMA, perempuan yang kuperkirakan berusia di atas 25 tahun ini merupakan sosok terindah yang pernah kulihat. Aku berseru senang dalam hati manakala kutahu ia adalah tetangga baruku.

Satu-dua hari pertama tak terlihat perempuan itu di luar rumah. Ia pasti sibuk mengatur rumah. Sesekali sang lelaki, suaminya, berada di luar rumah untuk melepas penat. Lelaki itu melambai padaku ketika aku memperhatikannya. Seorang lelaki gagah dan ganteng, dengan usia beberapa tahun di atas perempuan itu. "Rumah Pak RT di mana?" tanya lelaki itu menghampiriku.. "Di sini," aku menunjukkan rumahku, "Ayah saya Pak RT"

Malam itu pasangan baru itu berkunjung ke ayahku. Aku yang membukakan pintu. Kini bisa kulihat jelas raut perempuan itu. Demikian cantik. Rambutnya lurus panjang. Hidung mancung. Bibirnya merekah, pipinya merona dan pandangan matanya benar-benar membuat dadaku berdebar-debar.
"Perkenalkan, nama saya Fredi dan ini istri saya, Marissa. Kami pindah kemari tiga hari lalu. Kami mau melapor pindah," kata lelaki itu sopan. Ia memberikan foto kopi KTP dan kartu keluarga kepada ayahku. Kulirik sejenak tanggal lahir Mbak Marissa. Benar, ia berusia 26 tahun. Entah kenapa, semenjak hari itu, wajah Mbak Marissa, begitu aku memanggilnya, terus bergelayut di mataku. Aku tahu banyak cewek cantik di sekolah naksir aku, tapi aku tak pernah tertarik. Bila bertatap mata dengan Mbak Marissa, dadaku berdebar-debar. Sering diam-diam aku menatapnya dari kejauhan manakala ia bekerja di taman kecil kebun di depan rumahnya. Ia juga kadang menatapku sekilas, dan melempar senyum kecil, yang menurutku teramat hangat itu. Dan akan makin panas dingin aku dibuatnya kalau ia bekerja sore-sore di depan rumah itu denga tank-top dan celana pendek yang menampakkan dua paha mulusnya yang jenjang.

Dua minggu setelah kepindahan mereka, Mbak Marissa mengantar Fredi suaminya naik taksi di depan rumah. Sebelum masuk taksi, Mas Fredi menghampiri ayahku yang sedang membaca surat kabar di beranda
"Saya titip rumah, Pak RT. Saya harus bertugas ke Papua selama 6 bulan," kata Fredi. Ayahku mengangguk. Fredi kemudian memeluk dan mencium pipi Mbak Marissa mesra. Mbak Marissa membalasanya. Ah, aku merasa Mbak Marissa seperti sengaja ingin membuatku cemburu.

Suatu sore, aku tengah membantu ibuku mengangkat jemuran di bagian belakang rumah ketika pintu di tembok belakang rumah diketuk-ketuk. Aku ingat itu pintu yang menghubungkan rumahku dengan rumah sebelah. Aku membuka selot dan membuka pintu. Mbak Marissa berdiri di situ, dengan tank-top dan celana pendek favoritnya, yang sekarang jadi favoritku juga.
"Hei, ada pintu tembus, rupanya!" celetuknya riang. Suaranya empuk dan meneduhkan.
"Ya, rumah ini dulu rumah Pakde saya. Karena kami keluarga, maka dibuatlah pintu penghubung ini," aku bicara gugup.
"Namamu siapa, sih?" Tanya Mbak Marissa.
"Mirza!"
"Ah, huruf depannya sama-sama M dengan saya. Eh, ngomong-ngomong, Mbak baru bikin brownies buat mama kamu, nih!" Mbak Marisa mengangsurkan sepiring brownies. Aku mengucapkan terimakasih. Mbak Marisa mengerling dengan senyum semanis brownies itu, dan menghilang di balik pintu.

Seminggu kemudian, sore itu mendung mulai menyergap, dan pada malam harinya hujan benar-benar turun menghujam ke bumi. Entah kenapa aku jadi ketakutan. Itu mungkin karena ayah dan ibuku tidak ada di rumah. Tadi padi mereka terbang ke Banjarmasin untuk menengok kakakku yang melahirkan. Mereka akan berada di Banjarmasin sampai minggu depan. Aku menatap jam dinding. Pukul 9 lebih sedikit. Dan tiba-tiba rumah jadi gelap gulita. Kebiasaan jelek. Kalau hujan, pasti lampu mati. Aku meraba-raba sekeliling dan mencari lilin. Aku menemukan sebungkus lilin, dan menyalakannya dengan korek api yang tergeletak di sebelahnya. Cahaya mulai menggerayangi ruangan. Tiba-tiba dari arah pintu bagian belakang hadir satu sosok. Aku terkejut. Mbak Marisa berdiri di sana. Ia pasti masuk lewat pintu terobosan di belakang yang tidak terkunci..
"Punya lilin?" tanyanya. Kali ini, ia dalam balutan tank-top lain yang sangat seksi-dan setelah kuperhatikan lama--, tanpa beha, dengan rok longgar yang menurutku teramat pendek. Ia bicara dekat sekali di depanku. Dadanya bergoyang-goyang ketika ia mengisyaratkan kedinginan. Aku memberikan lilin itu dan memberanikan diri menatapnya agak lama sambil sesekali memperhatikan dadanya.
"Kamu nggak takut sendirian? Kan hujan dan gelap?" tanya Mbak Marisa.
"Nggak. Mbak sendiri?" tanyaku, sedikit gugup.
"Nggak. Sudah biasa! Eh, ayah dan ibumu lama ya perginya?" Tanya Mbak Marisa.
"Sampai minggu depan!" jawabku.
"Kesepian, dong?" celetuk Mbak Marissa.
"Iya, gitu deh!" kataku, masih sedikit gugup. "Mbak gimana?"
"Biasa aja. Sudah biasa ditinggal pergi Mas Fredi," ia menatapku tajam, mengerling sekilas dan berbalik meninggalkanku.
"Sudah, ya, aku balik dulu" ia pamit. Sejenak matanya menatapku. Kulihat dalam remang ia menggigit ujung bibirnya. Aroma farfumnya tertinggal di ruanganku.
"Ya, mbak, selamat malam!" kataku. Jauh dalam hati aku sih pingin bilang, "Please dong temenin saya sebentar! Pingin sekali rasanya menatap Mbak Marissa berlama-lama, sambil membayangkan bagaimana rasanya mencium bibirnya yang seksi. "Ah, itu cuma angan gila yang tak masuk akal!" pikirku.

Aku menyalakan satu lilin lagi dan menutup korden ...rumah serta mengunci pintu. Di luar sepi dan dingin sekali. Hujan masih turun. Aku yakin tak ada orang yang berkeliaran di luar rumah malam ini. Sekarang, hal yang paling asyik adalah adalah masuk kamar tidur dan membayangkan Mbak Marissa berada di sisiku.

Aku duduk di kursi dan menuang air minum. Tiba-tiba aku mendengar suara dari belakang rumah. Pintu terobosan itu terbuka lagi. Mbak Marissa datang lagi lagi. "Sori, Mir. Lilinku habis. Dan aku jadi ketakutan mendengarkan suara hujan dalam gelap," kata Mbak Marissa. Ia berdiri sangat dekat di hadapanku. Bias kucium harum tubuhnya. "Saya bisa kasih mbak lilin lagi kalau mau," jawabku, aku bersiap bangkit dari kursiku. "Nggak usah," Mbak Marisa menahanku. Mendidik dadaku merasakan tangannya mendarat di pundakku. Aku hanya bisa mematung duduk persis di hadapannya. Darah seperti terpompa ke ubun-ubunku.. "Aku mau di sini saja, kalau boleh. Boleh, kan?" Mbak Marissa menunduk, mencoba mensejajarkan wajahnya denga wajahku. Ini membuatku dengam mudah melihat kepundan di dantara dua gunung indah di dadanya. Dan kali ini aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini, karena aku berpikir Mbak Marissa sengaja membiarkan aku melihatnya. Aku menatap dada itu tanpa ragu dengan nikmat. "Eit, kau melihat dadaku terus!" Mbak Marissa refleks menutup dadanya. Aku terperangah malu tertangkap basah seperti itu. "Sori, Mbak!" "Kau bilang sori, tapi terus menatap dadaku. Kalau melihat terus seperti itu, ntar kepingin lho?" seloroh Mbak Marissa dengan suara lembut menggoda. Dan entah kenapa aku merasa tak terlalu kuat menahan gejolak mudaku. Meluncur saja kalimat itu dari mulutku. "Kalau saya kepingin, bagaimana?" tanyaku. Kutatap matanya penuh-penuh. Ia mendekat dan melepaskan tangannya dari dadanya. Ia mendekatkan wajahnya ke arahku.. "Mirza, aku tahu aku lebih tua darimu. Tapi aku tahu kau menyukaiku. Itu dari caramu menatapku dan menelusuri tubuhku dengan tatapanmu. Tanyakan sekali lagi pertanyaanmu, dan kau akan tahu apakah aku menyukaimu juga," kata Mbak Marissa. Aku mengulang pertanyaanku, "Kalau saya kepingin, bagaimana?" Mbak Marissa tersenyum "Kalau kau kepingin," ia membuka tali di kanan-kiri dan melorotkannya perlahan, membiarkan dua buah dadanya menyembul menantang, "kau boleh menyentuhnya,"

Berdebar jantungku. Tubuhku seperti mendidih. Mbak Marissa benar-benar seksi dengan dada terbuka dan bibir mereka dalam remang di tengah hujan malam ini. "Sentuh puting ini dengan lidahmu, Mirza. Aku menginginkannya, lebih dari yang kau impikan". Tiba-tiba saja Mbak Marissa menarik kepalaku dan membenamkan dadanya ke wajahku. Dibantunya mulutku menemukan puting merah muda itu. Putting dan bundaran empuk di dada Mbak Marissa seperti memberi jalan dan megajariku untuk mengulum-ngulum dan memutar-mutarnya agar pemiliknya mendapatkan nikmat yang istimewa. Mbak Marissa mendesah makin keras dalam tingkahan suara hujan. Aku makin membara dan membara. Kujelajahi dengan mulutku semua permukaan dadanya. Mbak Marissa sesekali mengangkat kepalaku dan mengulum mulutku dengan beringas berkali-kali. "Kamarmu! Bawa aku ke kamarmu segera!" desah Mbak Marissa. Aku tak segera bergerak. Ia menghelaku ke kamarku dan menjerembabkan aku ke tempat tidur. Ia melepas tank-top dan melepas kaosku. Ia pun tak segan-segan melepas celanaku dan tanpa ragu-ragu menjilati, mengulum dan menghisap penisku. Sungguh malam yang luar biasa. Aku seperti tenggelam dalam segala macam rasa : coklat, vanilla, strawberry, almond. Mbak Marissa benar-benar menikmatinya. Kubiarkan pula ia menjadi guru yang baik dan memberikan pengalaman itu. Ia melepas sendiri celananya dan membantu membimbing masuk penisku yang keras ke dalam vaginaya yang basah. Sesekali ia menghentikan ujung penisku di bagian bawah vagina dan dengan asyik mengusap-usapkannya ke pinggiran vagina itu. Benar-benar aku melayang-layang penisku mendapatkan rekreasi yang nikmat dan indah itu. Dan dengan gelora yang memuncak dalam limpahan keringatku dan keringat Mbak Marissa, ia membiarkan penisku meluncur ke vaginanya berulang-ulang. Ini membuatnya menggelinjang-gelinjang, mengerang, mendesah dan merasakan nikmat luar biasa dalam tindihanku. Dan kesempatan itu tak kusia-siakan. Aku balik menyerangnya, menggumulinya dan memberikan semua yang ia ingin dan ia mau. Kubiarkan ia terus mengerang dan mengaduh, mendesah.

Mbak Marissa kembali ke rumahnya lewat pintu belakang jam 5 pagi. Dan tak perlu menunggu sore, ia kembali siangnya, sekitar pukul 10 dan menyerangku lagi di minggu pagi itu. Ia memberiku kenikmatan seminggu penuh. Kadang sampai 2 kali sehari, kadang pula sampai harus membuatku membolos sekolah.

Affairku dengan Mbak Marissa berlangsung terus sampai menjelang kedatangan suaminya. Kami bisa bergumul di mana saja: di kamar hotel, di hutan pinus yang sepi, di pantai yang sunyi, di sebuah dagau kosong di gunung Bromo dan di mana saja.

Aku tak bertemu lagi dengan Mbak Marissa ketika suaminya datang dan mengajaknya serta pindah ke Jakarta. Namu, meski Mbak Marissa tak ada lagi, bila hari menjelang hujan, penisku selalu berdiri, dan bisa kubayangkan aroma tubuh dan gelinjang gelora mbak yang cantik dan seksi itu.

TAMAT

Duh... Nakalnya Tante Sri Saat Tidak Bersama Suaminya

Duh... Nakalnya Tante Sri Saat Tidak Bersama Suaminya - Ketika menikah dengan suaminya, Tante Sri sepertinya merasa terpaksa. Walaupun sudah menjalani pernikahan beberapa tahun. Di saat sendirian dan jauh dari suaminya, Tante Sri main gila dengan brondong-brondong kesukaannya. Itulah teman Tante Alexa yang bernama Tante Sri (nama samaran lo...).

Lihat saja beberapa foto hot dan nakal dari Tante Sri di bawah ini. Kamu pasti menyukainya deh...

Duh... Nakalnya Tante Sri Saat Tidak Bersama Suaminya

Duh... Nakalnya Tante Sri Saat Tidak Bersama Suaminya

Duh... Nakalnya Tante Sri Saat Tidak Bersama Suaminya

Duh... Nakalnya Tante Sri Saat Tidak Bersama Suaminya

Bagaimana dengan beberapa foto hot tentang Duh... Nakalnya Tante Sri Saat Tidak Bersama Suaminya di atas.... jangan dianggap serius yah... ini cuma iseng dan karangan belaka... hehehe... by Tante Alexa.

Cerita Dewasa Melawan Birahi Tante Nita

Cerita Dewasa Melawan Birahi Tante Nita - Apa yang akan kuceritakan ini terjadi beberapa tahun yang lalu, sewaktu aku masih kuliah sebagai mahasiswa teknik di Bandung tahun 90-an. Kejadiannya sendiri akan kuceritakan apa adanya, tetapi nama-nama dan lokasi aku ubah untuk menghormati privasi mereka yang terlibat.

Cerita Dewasa Melawan Birahi Tante Nita

Menginjak tahun kedua kuliah, aku bermaksud pindah tempat kos yang lebih baik. Ini biasa, mahasiswa tahun pertama pasti dapat tempat kos yang asal-asalan. Baru tahun berikutnya mereka bisa mendapat tempat kos yang lebih sesuai selera dan kebutuhan.

Setelah “hunting” yang cukup melelahkan akhirnya aku mendapatkan tempat kos yang cukup nyaman di daerah Dago Utara. Untuk ukuran Bandung sekalipun, daerah ini termasuk sangat dingin apalagi di waktu malam. Kamar kosku berupa paviliun yang terpisah dari rumah utama. Ada dua kamar, yang bagian depan diisi oleh Sahat, mahasiswa kedokteran yang kutu buku dan rada cuek. Aku sendiri dapat yang bagian belakang, dekat dengan rumah utama.

Bapak kosku, Om Rahmat adalah seorang dosen senior di beberapa perguruan tinggi. Istrinya, Tante Nita, wanita yang cukup menarik meskipun tidak terlalu cantik. Tingginya sekitar 163 cm dengan perawakan yang sedang, tidak kurus dan tidak gemuk. Untuk ukuran seorang wanita dengan 2 anak, tubuh Tante Nita cukup terawat dengan baik dan tampak awet muda meski sudah berusia di atas 40 tahun. Maklumlah, Tante Nita rajin ikut kelas aerobik.

Kedua anak mereka kuliah di luar negeri dan hanya pulang pada akhir tahun ajaran. Karena kesibukannya sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi, Om Rahmat agak jarang di rumah. Tapi Tante Nita cukup ramah dan sering mengajak kami ngobrol pada saat-saat luang sehingga aku pribadi merasa betah tinggal di rumahnya. Mungkin karena Sahat agak cuek dan selalu sibuk dengan kuliahnya, Tante Nita akhirnya lebih akrab denganku. Aku sendiri sampai saat itu belum pernah berpikir untuk lebih jauh dari sekedar teman ngobrol dan curhat. Tapi rupanya tidak demikian dengan Tante Nita…. “Doni, kamu masih ada kuliah hari ini?”, tanya Tante Nita suatu hari. “Enggak tante…” “Kalau begitu bisa anterin tante ke aerobik?” “Oh, bisa tante…” Tante Nita tampak seksi dengan pakaian aerobiknya, lekuk-lekuk tubuhnya terlihat dengan jelas.

Kamipun meluncur menuju tempat aerobik dengan menggunakan mobil Kijang Putih milik Tante Nita. Di sepanjang jalan Tante Nita banyak mengeluh tentang Om Rahmat yang semakin jarang di rumah. “Om Rahmat itu egois dan gila kerja, padahal gajinya sudah lebih dari cukup tapi terus saja menerima ditawari jadi dosen tamu dimana-mana…” “Yach, sabar aja tante.. itu semua khan demi tante dan anak-anak juga,” kataku mencoba menghibur. “Ah..Doni, kalau orang sudah berumah tangga, kebutuhan itu bukan cuma materi, tapi juga yang lain. Dan itu yang sangat kurang tante dapatkan dari Om.” Tiba-tiba tangan Tante Nita menyentuh paha kiriku dengan lembut, “Biarpun begini, tante juga seorang wanita yang butuh belaian seorang laki-laki… tante masih butuh itu dan sayangnya Om kurang peduli.” Aku menoleh sejenak dan kulihat Tante Nita menatapku dengan tersenyum.

Tante Nita terus mengelus-elus pahaku di sepanjang perjalanan. Aku tidak berani bereaksi apa-apa kecuali, takut membuat Tante Nita tersinggung atau disangka kurang ajar. Keluar dari kelas aerobik sekitar jam 4 sore, Tante Nita tampak segar dan bersemangat. Tubuhnya yang lembab karena keringat membuatnya tampak lebih seksi. “Don, waktu latihan tadi tadi punggung tante agak terkilir… kamu bisa tolong pijitin tante khan?” katanya sambil menutup pintu mobil. “Iya… sedikit-sedikit bisa tante,” kataku sambil mengangguk. Aku mulai merasa Tante Nita menginginkan yang lebih jauh dari sekadar teman ngobrol dan curhat. Terus terang ini suatu pengalaman baru bagiku dan aku tidak tahu bagaimana harus menyikapinya. Sepanjang jalan pulang kami tidak banyak bicara, kami sibuk dengan pikiran dan khayalan masing-masing tentang apa yang mungkin terjadi nanti. Setelah sampai di rumah, Tante Nita langsung mengajakku ke kamarnya. Dikuncinya pintu kamar dan kemudian Tante Nita langsung mandi. Entah sengaja atau tidak, pintu kamar mandinya dibiarkan sedikit terbuka. Jelas Tante Nita sudah memberiku lampu kuning untuk melakukan apapun yang diinginkan seorang laki-laki pada wanita.

Tetapi aku masih tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya terduduk diam di kursi meja rias. “Doni sayang… tolong ambilkan handuk dong…” nada suara Tante Nita mulai manja. Lalu kuambil handuk dari gantungan dan tanganku kusodorkan melalui pintu sambil berusaha untuk tidak melihat Tante Nita secara langsung. Sebenarnya ini tindakan bodoh, toh Tante Nita sendiri sudah memberi tanda lalu kenapa aku masih malu-malu? Aku betul-betul salah tingkah. Tidak berapa lama kemudian Tante Nita keluar dari kamar mandi dengan tubuh dililit handuk dari dada sampai paha. Baru kali ini aku melihat Tante Nita dalam keadaan seperti ini, aku mulai terangsang dan sedikit bengong. Tante Nita hanya tersenyum melihat tingkah lakuku yang serba kikuk melihat keadaannya. “Nah, sekarang kamu pijitin tante ya… ini pakai body-lotion…” katanya sambil berbaring tengkurap di tempat tidur. Dibukanya lilitan handuknya sehingga hanya tertinggal BH dan CD-nya saja. Aku mulai menuangkan body-lotion ke punggung Tante Nita dan mulai memijit daerah punggungnya. “Tante, bagian mana yang sakit…” tanyaku berlagak polos. “Semuanya sayang… semuanya… dari atas sampai ke bawah. Bagian depan juga sakit lho…nanti Doni pijit ya…” kata Tante Nita sambil tersenyum nakal. Aku terus memijit punggung Tante Nita, sementara itu aku merasakan penisku mulai membesar. Aku berpikir sekarang saatnya menanggapi ajakan Tante Nita dengan aktif. Seumur hidupku baru kali inilah aku berkesempatan menyetubuhi seorang wanita. Meskipun demikian dari film-film BF yang pernah kutonton sedikit banyak aku tahu apa yang harus kuperbuat… dan yang paling penting ikuti saja naluri… “Tante sayang…, tali BH-nya boleh kubuka?” kataku sambil mengelus pundaknya.

Tante Nita menatapku sambil tersenyum dan mengangguk. Aku tahu betul Tante Nita sama sekali tidak sakit ataupun cedera, acara pijat ini cuma sarana untuk mengajakku bercinta. Setelah tali BH-nya kubuka perlahan-lahan kuarahkan kedua tanganku ke-arah payudaranya. Dengan hati-hati kuremas-remas payudaranya… ahh lembut dan empuk. Tante Nita bereaksi, ia mulai terangsang dan pandangan matanya menatapku dengan sayu. Kualihkan tanganku ke bagian bawah, kuselipkan kedua tanganku ke dalam celana dalamnya sambil pelan-pelan kuremas kedua pantatnya selama beberapa saat. Tante Nita dengan pasrah membiarkan aku mengeksplorasi tubuhnya. Kini tanganku mulai berani menjelajahi juga bagian depannya sambil mengusap-usap daerah sekitar vaginanya dengan lembut. Jantungku brdebar kencang, inilah pertamakalinya aku menyentuh vagina wanita dewasa… Perlahan tapi pasti kupelorotkan celana dalam Tante Nita. Sekarang tubuh Tante Nita tertelungkup di tempat tidur tanpa selembar benangpun… sungguh suatu pemandangan yang indah. Aku kagum sekaligus terangsang. Ingin rasanya segera menancapkan batang kemaluanku ke dalam lubang kewanitaannya.

Aku memejamkan mata dan mencoba bernafas perlahan untuk mengontrol emosiku. Seranganku berlanjut, kuselipkan tanganku diantara kedua pahanya dan kurasakan rambut kemaluannya yang cukup lebat. Jari tengahku mulai menjelajahi celah sempit dan basah yang ada di sana. Hangat sekali raanya. Kurasakan nafas Tante Nita mulai berat, tampaknya dia makin terangsang oleh perbuatanku. “Mmhh… Doni… kamu nakal ya…” katanya. “Tapi tante suka khan…?” “Mmhh.. terusin Don… terusin… tante suka sekali.” Jariku terus bergerilya di belahan vaginanya yang terasa lembut seperti sutra, dan akhirnya ujung jariku mulai menyentuh daging yang berbentuk bulat seperti kacang tapi kenyal seperti moci Cianjur. Itu klitoris Tante Nita. Dengan gerakan memutar yang lembut kupermainkan klitorisnya dengan jariku dan diapun mulai menggelinjang keenakan. Kurasakan tubuhnya sedikit bergetar tidak teratur. Sementara itu aku juga sudah semakin terangsang, dengan agak terburu-buru pakaiankupun kubuka satu-persatu hingga tidak ada selembar benangpun menutup tubuhku, sama seperti Tante Nita. Kukecup leher Tante Nita dan dengan perlahan kubalikkan tubuhnya. Sesaat kupandangi keindahan tubuhnya yang seksi. Payudaranya cukup berisi dan tampak kencang dengan putingnya yang berwarna kecoklatan memberi pesona keindahan tersendiri. Tubuhnya putih mulus dan nyaris tanpa lemak, sungguh-sungguh Tante Nita pandai merawat tubuhnya. Diantara kedua pahanya tampak bulu-bulu kemaluan yang agak basah, entah karena baru mandi atau karena cairan lain. Sementara itu belahan vaginanya samar-samar tampak di balik bulu-bulu tersebut. Aku tidak habis pikir bagaimana mungkin suaminya bisa sering meninggalkannya dan mengabaikan keindahan seperti ini. “Tante seksi sekali…” kataku terus terang memujinya. Kelihatan wajahnya langsung memerah.

“Ah.. bisa aja kamu merayu tante… kamu juga seksi lho Don… lihat tuh burungmu sudah siap tempur… ayo jangan bengong gitu… terusin pijat seluruh badan tante….,” kata Tante Nita sambil tersenyum memperhatikan penisku yang sudah mengeras dan mendongak ke atas. Aku mulai menjilati payudara Tante Nita sementara itu tangan kananku perlahan-lahan mempermainkan vagina dan klitorisnya. Kujilati kedua bukit payudaranya dan sesekali kuhisap serta kuemut putingnya dengan lembut sambil kupermainkan dengan lidahku. Tante Nita tampak sangat menikmati permainan ini sementara tangannya meraba dan mempermainkan penisku. Aku ingin sekali menjilati kewanitaan Tante Nita seperti dalam adegan film BF yag pernah kutonton. Perlahan-lahan aku mengubah posisiku, sekarang aku berlutut di atas tempat tidur diantara kedua kaki Tante Nita. Dengan perlahan kubuka pahanya dan kulihat belahan vaginanya tampak merah dan basah.

Dengan kedua ibu jariku kubuka bibir vaginanya dan terlihatlah liang kewanitaan Tante Nita yang sudah menanti untuk dipuaskan, sementara itu klitorisnya tampak menyembul indah di bagian atas vaginanya. Tanpa menunggu komando aku langsung mengarahkan mulutku ke arah vagina Tante Nita. Kujilati bibir vaginanya dan kemudian kumasukkan lidahku ke liang vaginanya yang terasa lembut dan basah. “Mmhhh.. aahhh” desahan nikmat keluar dari mulut Tante Nita saat lidahku menjilati klitorisnya. Sesekali klitorisnya kuemut dengan kedua bibirku sambil kupermainkan dengan lidah. Aroma khas vagina wanita dan kehangatannya membuatku makin bersemangat, sementara itu Tante Nita terus mendesah-desah keenakan.

Sesekali jari tanganku ikut membantu masuk ke dalam lubang vaginanya. “Aduuh.. Donii… enak sekali sayang… iya sayang… yang itu enak.. emmhh .. terus sayang… pelan-pelan sayang… iya… gitu sayang… terus.. aduuh.. aahh… mmhh..” katanya mencoba membimbingku sambil kedua tangannya terus menekan kepalaku ke selangkangannya. Tidak berapa lama kemudian pinggul Tante Nita mulai berkedut-kedut, gerakannya terasa makin bertenaga, lalu pinggulnya maju-mundur dan berputar-putar tak terkendali. Sementara itu kedua tangannya semakin keras mencengkeram rambutku. “Doni.. Tante mau keluaar… aah.. uuh..aahh…oooh…. adduuh… sayaaang… Doniiii…. terus jilat itu Don… teruus… aduuuh… aduuuh…tante keluaaar…” bersamaan dengan itu kepalaku dijepit oleh kedua pahanya sementara lidah dan bibirku terus terbenam menikmati kehangatan klitoris dan vaginanya yang tiba-tiba dibanjiri oleh cairan orgasmenya.

Beberapa saat tubuh Tante Nita meregang dalam kenikmatan dan akhirnya terkulai lemas sambil matanya terpejam. Tampak bibir vaginanya yang merah merekah berdenyut-denyut dan basah penuh cairan. “Doni.. enak banget…. sudah lama tante nggak ngerasain yang seperti ini…” katanya perlahan sambil membuka mata. Aku langsung merebahkan diri di samping Tante Nita, kubelai rambut Tante Nita lalu bibir kami beradu dalam percumbuan yang penuh nafsu. Kedua lidah kami saling melilit, perlahan-lahan tanganku meraba dan mempermainkan pentil dan payudaranya. Tidak berapa lama kemudian tampaknya Tante Nita sudah mulai naik lagi. Nafasnya mulai memburu dan tangannya meraba-raba penisku dan meremas-remas kedua buah bola pingpongku. “Doni sayang… sekarang gantian tante yang bikin kamu puas ya…” katanya sambil mengarahkan kepalanya ke arah selangkanganku. Tidak berapa lama kemudian Tante Nita mulai menjilati penisku, mulai dari arah pangkal kemudian perlahan-lahan sampai ke ujung. Dipermainkannya kepala penisku dengan lidahnya. Wow.. nikmat sekali rasanya… tanpa sadar aku mulai melenguh-lenguh keenakan. Kemudian seluruh penisku dimasukkan ke dalam mulutnya. Tante Nita mengemut dan sekaligus mempermainkan batang kemaluanku dengan lidahnya. Kadang dihisapnya penisku kuat-kuat sehingga tampak pipinya cekung.

Kurasakan permainan oral Tante Nita sungguh luar biasa, sementara dia mengulum penisku dengan penuh nafsu seluruh tubuhku mulai bergetar menahan nikmat. Aku merasakan penisku mengeras dan membesar lebih dari biasanya, aku ingin mengeluarkan seluruh isinya ke dalam vagina Tante Nita. Aku sangat ingin merasakan nikmatnya vagina seorang wanita untuk pertama kali…. “Tante… Doni pengen masukin ke punya tante… ” kataku sambil mencoba melepaskan penisku dari mulutnya. Tante Nita mengangguk setuju, lalu ia membiarkan penisku keluar dari mulutnya. “Terserah Doni sayang… keluarin aja semua isinya ke dalam veggie tante… tante juga udah pengen banget ngerasain punya kamu di dalam sini….” Perlahan kurebahkan Tante Nita disebelahku, Tante Nita langsung membuka kedua pahanya mempersilahkan penisku masuk. Samar-samar kulihat belahan vaginanya yang merah.

Dengan perlahan kubuka belahan vaginanya dan tampaklah lubang vagina Tante Nita yang begitu indah dan menggugah birahi dan membuat jantungku berdetak keras. Aku takut kehilangan kontrol melihat pemandangan yang baru pertama kali aku alami, aku berusaha keras mengatur nafasku supaya tidak terlarut dalam nafsu…. Perlahan-lahan kupermainkan klitorisnya dengan jempol sementara jari tengahku masuk ke lubang vaginanya. Tidak berapa lama kemudian Tante Nita mulai menggerak-gerakkan pinggulnya,

“Doni sayang.. masukin punyamu sekarang, tante udah siap…” Kuarahkan penisku yang sudah mengeras ke lubang vaginanya, aku sudah begitu bernafsu ingin segera menghujamkan batang penisku ke dalam vagina Tante Nita yang hangat. Tapi mungkin karena ini pengalaman pertamaku aku agak kesulitan untuk memasukkan penisku. Rupanya Tante Nita menyadari kesulitanku. Dia memandangku dengan tersenyum….. “Ini pengalaman pertama ya Don….” “Iya tante….” jawabku malu-malu. “Tenang aja… nggak usah buru-buru… tante bantu…” katanya sambil memegang penisku. Diarahkannya kepala penisku ke dalam lubang vaginanya sambil tangan yang lain membuka bibir vaginanya, lalu dengan sedikit dorongan ke depan…masuklah kepala penisku ke dalam vaginanya. Rasanya hangat dan basah…. sensasinya sungguh luar biasa. Akhirnya perlahan tapi pasti kubenamkan seluruh penisku ke dalam vagina Tante Nita, aah.. nikmatnya. “Aaahh…Donii.. eemh…” Tante Nita berbisik perlahan, dia juga merasakan kenikmatan yang sama.

Sekalipun sudah diatas 40 tahun vagina Tante Nita masih terasa sempit, dinding-dindingnya terasa kuat mencengkeram penisku. Aku merasakan vaginanya seperti meremas penisku dengan gerakan yang berirama. Luar biasa nikmat rasanya…. Perlahan kugerakkan pinggulku turun naik, Tante Nita juga tidak mau kalah, pinggulnya bergerak turun naik mengimbangi gerakanku. Tangannya mencengkeram erat punggungku dan tanganku membelai rambutnya sambil meremas-remas payudaranya yang empuk. Sementara itu bibir kami berpagutan dengan liar…. Baru beberapa menit saja aku sudah mulai merasa seluruh tubuhku bergetar dijalari sensasi nikmat yang luar biasa… maklumlah ini pengalaman pertamaku… kelihatannya tidak lama lagi aku akan mencapai puncak orgasme.

“Tante…Doni sudah hampir keluar…. aaah…uuh…” kataku berusaha keras menahan diri. “Terusin aja Don… kita barengan yaa…. tante juga udah mau keluar… aahh… Doni… tusuk yang kuat Don… tusuk sampai ujung sayang… mmhh….” Kata-kata Tante Nita membuatku makin bernafsu dan aku menghujamkan penisku berkali-kali dengan kuat dan cepat ke dalam vaginanya. “Aduuh…Doni udah nggak tahan lagi…” aku benar-benar sudah tidak dapat mengendalikan diri lagi, pantatku bergerak turun naik makin cepat dan penisku terasa membesar dan berdenyut-denyut bersiap mencapai puncak di dalam vagina Tante Nita. Sementara itu Tante Nita juga hampir mencapai orgasmenya yang kedua. “Ayoo Don… tante juga mau…ahhhh…ahhh kamu ganas sekali……. aaaahhh…. Doniii…. sekarang Don…. keluarin sekarang Don… tante udah nggak tahan…mmmhhh”. Tante Nita juga mulai kehilangan kontrol, kedua kakinya dijepitkan melingkari pinggulku dan tangannya mencengkeram keras punggungku.

Dan kemudian aku melancarkan sebuah tusukan akhir yang maha dahsyat… “Tante…aaaa…aaaagh….Doni keluaaaar…..aagh..” aku mendesah sambil memuncratkan seluruh spermaku ke dalam liang kenikmatan Tante Nita. Bersamaan dengan itu Tante Nitapun mengalami puncak orgasmenya, “Doniii…. aduuuh……tante jugaa….aaaah… I’m cumming honey… aaaahh…..aah….” Kami berpelukan lama sekali sementara penisku masih tertanam dengan kuat di dalam vagina Tante Nita. Ini sungguh pengalaman pertamaku yang luar biasa…. aku betul-betul ingin meresapi sisa-sisa kenikmatan persetubuhan yang indah ini. Akhirnya aku mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, seluruh persendianku terasa lepas dari tempatnya. Kulepaskan pelukanku dan perlahan-lahan kutarik penisku yang mulai sedikit melemah karena kehabisan energi. Lalu aku terbaring lemas di sebelah Tante Nita yang juga tergolek lemas dengan mata masih terpejam dan bibir bawahnya sedikit digigit.

Kulihat dari celah vaginanya cairan spermaku meleleh melewati sela-sela pahanya. Rupanya cukup banyak juga spermaku muntah di dalam Tante Nita. Tak lama kemudian Tante Nita membuka matanya dan tersenyum padaku, “Gimana sayang…enak?” katanya sambil menyeka sisa spermaku dengan handuk. Aku hanya mengangguk sambil mengecup bibirnya. “Tante nggak nyangka kalau kamu ternyata baru pertama kali “making-love”. Soalnya waktu “fore-play” tadi nggak kelihatan, baru waktu mau masukin penis tante tahu kalau kamu belum pengalaman. By the way, Tante senang sekali bisa dapat perjaka ting-ting seperti kamu. Tante betul-betul menikmati permainan ini. Kapan-kapan kalau ada kesempatan kita main lagi mau Don…?” Aku hanya diam tersenyum, betapa tololnya kalau aku jawab tidak. Tante Nita membaringkan kepalanya di dadaku, kami terdiam menikmati perasaan kami masing-masing selama beberapa saat.

Tapi tidak sampai 5 menit, energiku mulai kembali. Tubuh wanita matang yang bugil dan tergolek dipelukanku membuat aku kembali terangsang, perlahan-lahan penisku mulai membesar. Tangan kananku kembali meraba payudara Tante Nita dan membelainya perlahan. Dia memandangku dan tersenyum, tangannya meraih penisku yang sudah kembali membesar sempurna dan digenggamnya erat-erat. “Sudah siap lagi sayang…? Sekarang tante mau di atas ya…?” katanya sambil mengangkangi aku. Dibimbingnya penisku ke arah lubang vaginanya yang masih basah oleh spermaku. Kali ini dengan lancar penisku langsung meluncur masuk ke dalam vagina Tante Nita yang sudah sangat basah dan licin.

Kini Tante Nita duduk diatas badanku dengan penisku terbenam dalam-dalam di vaginanya. Tangannya mencengkeram lenganku dan kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam menahan nikmat. “Aahh…Doni… penismu sampai ke ujung… uuh…. mmhh… aahhh” katanya mendesah-desah. Gerakan Tante Nita perlahan tapi penuh energi, setiap dorongannya selalu dilakukan dengan penuh energi sehingga membuat penisku terasa masuk begitu dalam di liang vaginanya. Pantat Tante Nita terus bergerak naik turun dan berputar-putar, kadang-kadang diangkatnya cukup tinggi sehingga penisku hampir terlepas lalu dibenamkan lagi dengan kuat. Sementara itu aku menikmati goyangan payudaranya yang terombang-ambing naik-turun mengikuti irama gerakan binal Tante Nita. Kuremas-remas payudaranya dan kupermainkan pentilnya sehingga membuat Tante Nita makin bergairah.

Gerakan Tante Nita makin lama makin kuat dan dia betul-betul melupakan statusnya sebagai seorang istri dosen yang terhormat. Saat itu dia menampilkan dirinya yang sesungguhnya dan apa adanya… seorang wanita yang sedang dalam puncak birahi dan haus akan kenikmatan. Akhirnya gerakan kami mulai makin liar dan tak terkontrol… “Doni… tante sudah mau keluar lagi…. aaah… mmmhh.. uuuughhh…” “Ayoo tante… Doni juga udah nggak tahan…” Akhirnya dengan sebuah sentakan yang kuat Tante Nita menekan seluruh berat badannya ke bawah dan penisku tertancap jauh ke dalam liang vaginanya sambil memuncratkan seluruh muatan… Tangan Tante Nita mencengkeram keras dadaku, badannya melengkung kaku dan mulutnya terbuka dengan gigi yang terkatup rapat serta matanya terpejam menahan nikmat. Setelah beberapa saat akhirnya Tante Nita merebahkan tubuhnya di atasku, kami berdua terkulai lemas kelelahan.

Malam itu untuk pertama kalinya aku tidur di dalam kamar Tante Nita karena dia tidak mengijinkan aku kembali ke kamar. Kami tidur berdekapan tanpa sehelai busanapun. Pagi harinya kami kembali melakukan persetubuhan dengan liar… Tante Nita seolah-olah ingin memuaskan seluruh kerinduannya akan kenikmatan yang jarang didapat dari suaminya. Semenjak saat itu kami sering sekali melakukannya dalam berbagai kesempatan. Kadang di kamarku, kadang di kamar Tante Nita, atau sesekali kami ganti suasana dengan menyewa kamar hotel di daerah Lembang untuk kencan short-time. Kalau aku sedang “horny” dan ada kesempatan, aku mendatangi Tante Nita dan mengelus pantatnya atau mencium lehernya.

Kalau OK Tante Nita pasti langsung menggandeng tanganku dan mengajakku masuk ke kamar. Sebaliknya kalau Tante Nita yang “horny”, dia tidak sungkan-sungkan datang ke kamarku dan langsung menciumi aku untuk mengajakku bercinta. Semenjak berhasil merenggut keperjakaanku Tante Nita tidak lagi cemberut dan uring-uringan kalau Om Rahmat pergi tugas mengajar ke luar kota. Malah kelihatannya Tante Nita justru mengharapkan Om Rahmat sering-sering tugas di luar kota karena dengan demikian dia bisa bebas bersamaku.

Dan akupun juga semakin betah tinggal di rumah Tante Nita. Pernah suatu malam setelah Om Rahmat berangkat keluar kota, Tante Nita masuk ke kamarku dengan mengenakan daster. Dipeluknya aku dari belakang dan tangannya langsung menggerayangi selangkanganku. Aku menyambut dengan mencumbu bibirnya dan membaringkannya di tempat tidur. Saat kuraba payudaranya ternyata Tante Nita sudah tidak memakai BH, dan ketika kuangkat dasternya ternyata dia juga tidak memakai celana dalam lagi. Bibir vaginanya tampak merah dan bulu-bulunya basah oleh lendir. Samar-samar kulihat sisa-sisa lelehan sperma dengan baunya yang khas masih tampak disana, rupanya Tante Nita baru saja bertempur dengan suaminya dan Tante Nita belum merasa puas. Langsung saja kubuka celanaku dan penis yang sudah mengeras langsung menyembul menantang minta dimasukkan ke dalam liang kenikmatan.

Tante Nita menanggapi tantangan penisku dengan mengangkangkan kakinya. Ia langsung membuka bibir vaginanya dengan kedua tangannya sehingga tampaklah belahan lubang vaginanya yang merekah merah. “Masukin punyamu sekarang ke lubang tante sayang…..” katanya dengan nafas yang berat dan mata sayu. Karena aku rasa Tante Nita sudah sangat “horny”, tanpa banyak basa-basi dan “foreplay” lagi aku langsung menancapkan batang penisku ke dalam vagina Tante Nita dan kami bergumul dengan liar selama hampir 5 jam! Kami bersetubuh dengan berbagai macam gaya, aku diatas, Tante Nita diatas, doggy-style, gaya 69, kadang sambil berdiri dengan satu kaki di atas tempat tidur, lalu duduk berhadapan di pinggir ranjang, atau berganti posisi dengan Tante Nita membelakangi aku, sesekali kami melakukan di atas meja belajarku dengan kedua kaki Tante Nita diangkat dan dibuka lebar-lebar, dan masih banyak lagi.

Aku tidak ingat apa masih ada gaya persetubuhan yang belum kami lakukan malam itu. Dinginnya hawa Dago Utara di waktu malam tidak lagi kami rasakan, yang ada hanya kehangatan yang menggetarkan dua insan dan membuat kami basah oleh keringat yang mengucur deras. Begitu liarnya persetubuhan kami sampai-sampai aku mengalami empat kali orgasme yang begitu menguras energi dan Tante Nita entah berapa kali. Yang jelas setelah selesai, Tante Nita hampir tidak bisa bangun dari tempat tidurku karena kakinya lemas dan gemetaran sementara vaginanya begitu basah oleh lendir dan sangat merah. Seingatku itulah malam paling liar diantara malam-malam liar lain yang pernah kulalui bersama Tante Nita.

Petualanganku dengan Tante Nita berjalan cukup lama, 2 tahun, sampai akhirnya kami merasa Om Rahmat mulai curiga dengan perselingkuhan kami. Sebagai jalan terbaik aku memutuskan untuk pindah kos sebelum keadaan menjadi buruk. Tetapi meskipun demikian, kami masih tetap saling bertemu paling sedikit sebulan sekali untuk melepas rindu dan nafsu. Hal ini berjalan terus sampai aku lulus kuliah dan kembali ke Jakarta. Bahkan sekarang setelah aku beristri, kalau sedang mendapat tugas ke Bandung aku masih menyempatkan diri menemui Tante Nita yang nafsu dan gairahnya seolah tidak pernah berkurang oleh umurnya yang kini sudah kepala lima.

Cerita Dewasa Enaknya Punya Pembantu Bisa PSK

Cerita Dewasa Enaknya Punya Pembantu Bisa PSK - Namaku adalah Rina. Aku lahir di Semarang pada tanggal 21 Oktober 1982. Aku bertipikal seperti wanita jawa pada umumnya. Tubuhku singsat padat dengan kulit kecoklatan. Pada saat aku berumur 20 tahun aku merantau ke Jakarta. Aku bercita-cita menjadi pelayan restoran besar. Namun, cita-cita itu tidak mudah. Dengan pendidikanku yang hanya tamat SD dan tidak punya pengalaman bekerja. Seringkali aku di tolak. Kalau ada yang menerimaku, paling lama hanya 3 bulan dalam masa uji coba setelah itu aku dikeluarkan.

Cerita Dewasa Enaknya Punya Pembantu Bisa PSK

1 tahun aku dapat bertahan hidup di jakarta. Memasuki tahun kedua, keadaanku semakin sulit. Aku mulai kehabisan uang, sementara aku belum mendapatkan pekerjaan. Sudah 4 bulan aku menganggur. minggu depan masa kontrakan rumah ku harus diperpanjang. Untuk makanpun, aku kesulitan. Singkat cerita, karena kesulitan itu, aku terjerumus ke dalam dunia prostitusi. Aku menjadi pelacur. Masa-masa itu, aku hidup dengan cukup. Aku menjadi pelacur selama 4 tahun. Suatu malam, aku terjaring razia. Lalu di masukkan ke panti rehabilitasi dan di bekali dengan pelatihan Baby sitter selama 1 tahun. Selama 1 tahun itu aku disadarkan dari kelakuanku yang asusila. Aku bertekad untuk tidak menjadi pelacur lagi.

Lulus dari pelatihan itu aku pun di terima menjadi baby sitter di sebuah keluarga. Keluarga itu adalah keluarga Tiong Hoa. Suaminya bernama A Chan dan istrinya A Lun. Mereka mempunyai 2 orang anak laki-laki. Yang kecil berumur 4 tahun namanya Ricardo dan yang besar berumur 7 tahun namanya Rivaldo Aku bekerja dengan sebaik-baiknya. Tugas utamaku adalah menugurus Ricardo, namun aku juga membantu Rivaldo menyiapkan keperluan sekolahnya karena Pak A Chan dan istrinya sibuk berdagang dan membersihkan rumah. Tentu saja dengan gaji yang di atas rata2 babysitter lainnya. Mereka memiliki toko di glodok. Sehingga jam 8 sudah harus berangkat dan baru pulang jam 6 sore.

Suatu malam, pukul 11 aku terbangun dan ingin buang air kecil. Aku keluar kamar, namun langkahku tertahan oleh suatu pemandangan. Di ruang tamu aku melihat Pak A Chan dan isterinya sedang bersetubuh di atas sofa. Aku hendak kembali ke kamar, namun entah aku terdiam. Mereka tidak sadar kalau aku memperhatikan mereka. Mereka bergumul dengan penuh gairah namun tana suara. Hanya terdengar entakan suara saat pantat ibu A Lun membentur pangkal kemaluan suaminya. Aku melihat adegan itu hingga selesai. Pak Achan mengeluarkan semua spermanya di dalam memek ibu A Lun. Setelah itu aku kembali ke kamar.

Selama 1 jam aku tidak bisa tidur. Membayangkan kejadian tadi dan teringat masa lalu ku sebagai pelacur. Aku menjadi sangat terangsang.. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. karena aku tidur 1 kamar dengan Ricardo dan Rivaldo. Sebagai baby sitter aku harus menemani Ricardo, sehingga aku tidur di lantai dengan kasur gulung dalam kamar mereka. Jika aku masturbasi, lalu tiba-tiba mereka terbangun, akan sangat bahaya. Akhirnya aku tertidur juga dan bermimpi di setubuhi oleh salah satu pria yang sering menjadi pelangganku.

Keesokan harinya, aku kembali melakukan rutinitas pekerjaanku. Ricard dan Aldo sudah berangkat sekolah. Setelah itu Pak Achan dan isterinya ke toko. Aku segera merapikan rumah. Aku melakukan semuanya dengan buru-buru karena aku ingin segera masturbasi sebelum Ricard dan Aldo pulang. Pukul 10 aku selesai membereskan rumah. Ricard dan Aldo akan pulang pukul 12. Jadi ada waktu 2 jam. Aku segera ke masuk kamar. Melepas celana dalamku dan mulai mengusap-usap memekku. Aku tidak ingin segera orgasme, jadi aku hanya bermain-main dengan memekku, menikmati sensasi yang sudah 1 tahun tidak ku rasakan. Satu jam sudah berlalu dan aku memutuskan untuk segera mencapai orgasme. namun tepat ketika aku akan menanjak naik, terdengar klakson mobil jemputan Ricard dan aldo. Aku panik. Karena, baju, celana dalam, BH semua bertebaran di dalam kamar itu. Aku segera bangkit dan memakai pakaianku. tepat ketika Ricard dan Aldo memasuki kamar. Aku lega, namun juga kesal karena nafsu yang sudah memuncak namun tak bisa dikeluarkan.Namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Akupun tersenyum dan bertanya kepada mereka : "Aldo dan Ricard kok sudah pulang?". Aldo menjawab "Iya mbak, guru-gurunya ada rapat. Mbak laper ni, tolong siapin makan donk." aku tersenyum dan menjawab "oke deh. Sebentar yaa" Aku berpikir akan segera menyuruh mereka tidur siang, agar aku bisa masturbasi lagi.

Namun, ternyata rencanaku tidak berjalan mulus. Setelah makan, Ricard memang langsung tertidur. Namun, Aldo tidak mau tidur. Dan yang membuatku stress adalah, Aldo tidak mau tidur karena mau mengerjakan PR. Kalau dia tidak mau tidur karena bermain atau menonton, aku bisa mengancamnya akan mengadukan ke orangtuanya. Namun, apa yang bisa ku ancamkan jika alasan dia tidak mau tidur adalah mengerjakan PR??

Ingin kubantu agar cepat selasi, namun ku lihat soal PR nya susah sekali. Akupun hanya pasrah. Bertiduran di kasur gulung ku di kamar menemani Ricard tidur sementara Aldo berada tidak jauh dariku mengerjakan PR. Namun, nafsuku semain tak tertahankan. Aku memutuskan akan masturbasi saja di kamar mandi. Aku sudah melangkah keluar kamar, namun Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benakku. Ini memang ide yang bangsat dan entah setan apa yang membisikkan di telingaku.

Aku keluar kamar, menuju kamar mandi. Ketika sudah di dalam kamar mandi. Aku tiduran di lantai dan
Aku berteriak : "DO, aldo TOLONG do!!". "Tolong mbak do!!"

Aldo pun datang dengan terogopoh. "Ada apa mbak? Mbak kenapa? Mbak...jangan nakutin aldo donk..Mbak"
"Do... badan mbak tiba-tiba lemas gak bisa gerak. Tolong kamu pijit-pijit kaki mbak ,do?"

Aldo pun segera memijit kakiku. Kulitnya yang putih tambah putih karena pucat ketakutan.

"Gimana mbak?? bener gak pijitnya?"

"Bener do..Iyah, do...shhhh...pijit trus do, udah mulai baikan ni."

"hyuhhh...mbak bikin panik Aldo aja.."

"ADUUUHHHH!!!! DO!!...sakitnya pindah do ke pinggang mbak do...cepet balikin badan mbak do. trus teken-teken pinggangnya!!"

"I..iya mbak, sebentar ya sabar."

Aldo segera membalik badanku. Tentu saja sebenarnya aku yang membalik badanku sendiri.

"Ditekan-tekan gini mbak?" dia bertanya

"Gak kerasa do, baju mbak di naikin dulu. ato sekalian buka aja."

"Oke mbak, sebentar ya..." dia membuka bajuku

"mbak...aku telepon mami aja ya, biar cepet pulang, trus mbak di bawa ke dokter."

"eh...eh...jangan...gak usah..mama kamu pasti lagi sibuk. kamu tolongin mbak aja sini"

"Tolongin gimana mbak?"

"Kamu buka celana mbak soalnya celana mbak basah. trus kamu pijit pinggang sama pantat mbak. Cepetan do!!"

"oke mbak" Dia segera membuka celanaku. Tangannya mulai memijiat pinggangku.

"Do, pinggangnya udah enakan, pijitin pantat mbak aja." aku menyuruhnya.

"Pijat gimana mbak?"

"kayak pijat kaki tadi." Diapun segera mempraktekkan. Pantatku diremas-remas. Aku menikmatinya.. Dia masi ketakutan. namun dengan patuh dipijitnya pantatku. Aku pun berkata kepadanya "Do, celana dalam mbak basah juga nih gara2 kesiram air. Kamu lepas juga donk tolong" Dia segera melepaskannya. Setelah itu aku segera membalikkan badan. "Do, pantat mbak udah gak sakit. Tapi sekarang selangkangan mbak gatel banget ni. Tangan mbak masi lemes, belom bisa garuk sendiri. Tolong garukin dong do."

Tanpa ada curiga sedikitpun, Aldo segera menggaruk area memekku. Namun, entah kenapa dia tidak mau menyentuh tepat di memeku. "bukan di situ do yang gatel. Ke kanan dikit.Bukan...kebanyakan. ke kiri dikit, dikit aja....itu do yang ada rambutnya, di situ yang gatel...NAHHHHH...iya do di situ yang gatel..garuk terus do...shhhhh...iyah do, garuk terus do...aduh do, gatelnya pindah ke dalem do...telunjuknya masukin do...do..Aldo kok bengong, cepet masukin jari telunjuk aldo...mbak udah ga tahan nih gatel banget..." Aldo hanya terdiam...aku pun menucbit pipinya pelan. Dia lalu tersadar. "Ada apa mbak??"
"Selangkangan mbak dah gatel banget nih di dalem, cepat kamu masukin telunjuk kamu."
"i iiya mbak" Aldo segera memasukkan jarinya...
"NAHHHHH....iiiya do...garuk terus do...OUUUHHHHH..." aku melenguh...

aku lalu berkata "DO, kemaren kamu makan gak di abisin ya? nasi nya kamu buang ke tempat sampah"
"hah? kok mbak tahu?"
"tahu donk. Nanti mbak laporin mami loh"
"jangan mbak...jangan donk mbak..ntar aldo di marahin"
"oke mbak gak akan laporin ke mami, tapi kamu harus nurut sama mbak.janji?"
"iya deh mbak, Aldo nurut sama mbak"
"Sekarang, mbak udah gak sakit, tapi baju kamu basah semua tuh gara2 keringet, ayo kamu mandi ya..."
"iya mbak." Dia lalu mengambil handuk dan masuk kamar mandi.
Aku melepaskan BH ku dan berkata, "sini mbak mandiin aja, biar cepet supaya gak masuk angin. Sekalian mbak juga mau mandi" Aku segera masuk, dia sudah membuka baju dan celananya.

Di dalam kamar mandi. Aku segera mengguyur badannya dengan air. Lalu mengusap-usap tititnya. "DO, makasi ya udah nolongin mbak..mbak sayang sama kamu. Sini mbak peluk dulu.." Aku pun berjongkok dan memeluknya.Dia membalas pelukanku "Sama-sama mbak"

Setelah pelukan kami lepas,
"Ehm...titit kamu kotor tuh do. Harus di bersihin."
"o iya mbak, pake sabun ya?"
"sebelum di sabunin, titit kamu harus di gosok-gosok dulu biar kotorannya lepas."
"oke sebentar mbak" dia segera menggosok-gosok titit kecilnya.
"bukan gitu caranya..sini mbak bersihin.."aku menggosok-gosok dengan tanganku..lalu
"ADUUHH...tangan mbak masi lemes, belom bisa gosok kenceng2, tapi kalo gak di gosok, nanti kotorannya gak lepas...gimana ya??" aku pura2 berpikir
"ya udah, biar aldo gosok sendiri aja."
"AH. mbak ada ide, titit aldo di masukin ke lobang ini aja, terus aldo maju mundur"
"hah? lobang mana mbak?"
"Lobang ini." kataku sambil membuka kaki lebar-lebar. Jembutku sudah basah dari tadi.
"masukin ke situ mbak?"
"Iya kamu masukin ke sini, coba deh" dia segera maju. Aku duduk dan mengangkang.
PLESS...tititnya yang kecil masuk ke dalam memeku..
"Sekarang badan kamu maju-mundur" dia maju munudr
"mbak...kok ngilu si??kayaknya titit aldo mengembang deh...aduh mbak...sakit"
"tahan do, nanti lama-lama pasti jadi enak deh, pokoknya kamu maju mundur aja" dan benar saja, tititnya memang mengembang menjadi besar, memang tidak sebesar titit pria dewasa, namun cukup untuk membuatku horny.
"AHHHH...Do, ayo do, cepet, kamu maju mundur.Ahhhh...doooo...."
"MBAKKKK....titit aldo kenapa mbak?? ADUUUHHH...mbak...ngilu mbak"
"GAK PAPA DO..ayo.huhhhhuhhhh...terus do.... terus do huhhhhuhhhhuhhhhuhhhuhhuuu" nafasku makin tersengal.
"MBAKKKK...aldo dah gak tahannn...ngilu "
"ALDOOOOOOO.....AHHHHHH..SHHHHHHHH....." CROTTTTTT...cairanku keluar tak terbendung...cairan yang kusimpan selama 1 tahun aku tidak ngentot, cairan yang kupendam dari tadi malam, membasahi tubuh ku dan aldo. Aldo tidak mengeluarkan sperma, karena dia baru 7 tahun, tapi aku sangat puas dengan tititnya. Ku ancam, jika dia menceritakan kejadian hari ini, aku mengadukan soal makanannya yang tidak habis. Setelah itu aku tidur nyenyak dan dia kembali mengerjakan PR
Support : Tante Alexa | Tante Alexa | Tante Alexa
Copyright © 2012. Tante Alexa - All Rights Reserved
Template ReCreated by Tante Alexa Published by Tante Alexa
Proudly powered by Blogger