Cerita Dewasa : Petualangan Cinta Hendra Menikmati Lagi Tubuh Bi Ina

Cerita Dewasa : Petualangan Cinta Hendra Menikmati Lagi Tubuh Bi Ina - Akupun terlambat bangun setelah semalaman bertempur dengan bi Ina, padahal hari ini aku ada meeting dengan clientku, kulihat bi Ina masih tidur dengan lelapnya di mulutnya tersungging senyuman, tubuhnya yang telanjang membuat gairahku bangkit kembali, ingin rasanya kontolku kembali meresakan jepitan memeknya bi Ina, tapi aku teringat aku harus cepat ketemu dengan clientku, akhirnya aku membatalkan niatku untuk mengganggu bi Ina, akupun segera bergegas menuju kamar mandi, kontolku yang sedang tegak berdiripun menjadi menciut saat terkena dinginnya air, selesai mandi akupun segera berpakaian dengan rapi, dan meninggalkan rumah mamangku menuju kantor clientku.

Cerita Dewasa : Petualangan Cinta Hendra Menikmati Lagi Tubuh Bi Ina

Sekitar jam 3 meeting dengan clientkupun selesai, hasil yang kuharapkanpun berhasil kuraih, perusahaanku berhasil mendapatkan proyek yang diinginkan, tidak percuma jauh-jauh kudatang ke Garut, setelah berpamitan dengan clientku, akupun meluncur kerumah mamangku itu, dengan pikiran yang dipenuhi oleh kegembiraan, karena berhasil mendapatkan proyek, dan dapat kesempatan lagi menikmati tubuh bi Ina yang montok serta memeknya yang sempit dan legit, kontolkupun mulai bangun membayangkan kemontokan tubuh bi Ina dan kelegitan memeknya, membayangkan itu semua ingin rasanya aku cepat sampai kerumah mamangku dan lengsung menerkam tubuh bi Ina dan membenamkan kontolku dalam-dalam di lubang senggamanya.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore lewat sedikit saat mobilku memasuki pekarangan rumah mamangku, dengan segera kuparkirkan mobilku dan langsung bergegas menuju rumahh utama mamangku itu, tanpa memperhatikan keadaan sekitar, dan tanpa kusadari ada sebuah mobil yang terparkir agak kebelakang, hal itu luput dari perhatianku karena pikiranku adalah tubuh bi Ina yang montok dengan sepasang payudara yang ranum yang menantang untuk diremas-remas, dan lembah hitam yang mempunyai sumur yang sempit menantikan digali oleh kontolku.

Kulihat keadaan rumah sangat sepi dan lengang dan tubuh bi Inapun tidak terlihat, aku segera melangkah kedalam ruangan keluarga, di sanapun tidak terlihat tubuh montok bi Ina, tapi aku mendengar suara lenguhan dari dalam kamar mamangku, aku tersentak mendengar suara lenguhan itu karena suara tersebut adalah suara orang yang bersetubuh, dengan mengendap-ngendap akupun menghampiri kamar mamangku tersebut, dengan perlahan kain gorden yang menutupi kamar tersebut kusingkapkan sedikit dan aku sedikit terkejut karena kulihat mamangku sedang asyik memompa kontolnya keluar masuk di lubang senggama bi Ina, batinku mendengus kesal karena bakalan gagal dapat menikmati tubuh bi Ina hari ini, kain gordenpun kututup kembali.

Dengan perasaan campur aduk antara kesal melihat mamangku sedang mengentot bi Ina dan ingin merasakan lagi jepitan memek bi Ina, kembali kusingkapkan sedikit kain gorden kamar mamangku itu, terlihat mamangku sedang merasakan enaknya jepitan lubang senggama bi Ina, tapi setelah kuperhatikan lebih jelas lagi posisi tubuh bi Ina yang sedang digenjot oleh mamangku itu, kedua kaki bi Ina tampak rapat, aku heran dengan posisi kakinya tersebut, tapi kulihat mamangku melenguh keenakan, kulihat mamangku sangat semangat menggenjotkan kontolnya keluar masuk di lubang senggama istri mudanya, sementara bi Ina hanya mendesah-desah saja, tidak seperti kemarin sewaktu kuentot, bi Ina menjerit-jerit kenikmatan.

Mendengarkan lenguhan nikmat mamangku dan melihat aksinya menggenjotkan kontolnya keluar masuk lubang senggama bi Ina, kontolkupun semakin mengeras, kurasakan sakit karena kontolku terjepit oleh celanaku, kemudian kubuka ritsletingku dan kutongolkan jagoanku itu agar terlepas dari himpitan celana, sambil mataku tetap mengintip, tangan kananku mulai mengelus-elus jagoanku yang sudah sangat tegang sekali, kulihat mamangku semakin mempercepat genjotannya, lenguhan-lenguhan nikmatnya semakin kerap terdengar, matanya terpejam merasakan nikmat, sementara kulihat tubuh bi Ina bergoyang seirama dengan gerakan mamangku, nampaknya bi Ina hanya bertingkah pasif saja melayani mamangku, tidak seperti semalam bi Ina bergerak sangat aktif sekali.

Kontolku semakin banyak mengeluarkan cairan pre-cumnya, dan saat itu juga kudengar mamangku mengerang yang menandakan puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh, tak lama kemudian kulihat tubuh mamangku ambruk keatas tubuh bi Ina, dan kudengar suara nafas mamangku memburu, selang tak lama kulihat tubuh mamangku bergulir kesamping tubuh bi Ina, dan kudengar mamangku bertanya tentangku kepada bi Ina yang dijawab bi Ina bahwa diriku sudah pergi dari pagi sekali untuk meeting dengan client.

“Aku harus berangkat ke kampung lagi sore ini, karena urusannya belum tuntas semua, kalau Hendra pulang ke Jakarta besok, kamu ikut numpang saja sama dia, dia pasti juga akan mampir ke Bandung, nanti selesai urusanku di kampung, aku menyusul ke Bandung,” kata mamangku.

“Iyach, kang,”bi Ina mengiyakan permintaan suaminya
“Yach sudah aku mau mandi dulu, nanti kalau Hendra pulang bilang ke dia, mudah-mudahan aku masih bisa ketemu sama ponakanku itu,” kata mamangku sambil beranjak dari tempat tidurnya.

Aku segera beranjak dari depan kamar mamangku itu, dan cepat-cepat menyembunyikan diri di kamar sebelah, sambil mengintip dari balik gorden kamar tersebut, kulihat mamangku melangkah keluar dari kamarnya, akupun keluar dari persembunyianku dan menuju kekamar mamangku, saat kudengar pintu kamar mandi terkunci, akupun melangkah masuk kekamar mamangku, bi Ina terkejut melihat kehadiranku di kamarnya itu, apalagi melihat si otongku yang sudah berdiri dengan gagahnya tersembul keluar dari ristleting celanaku.

“Hendra……kamu gilaaaa…mamangmu ada di sini, dia sedang di kamar mandi, keluar kamu cepat, nanti ketahuan bisa berabe,” bi Ina berkata lirih

“hehehe… aku tahu mamang ada dirumah, dan aku juga sudah melihat aksinya dia tadi, enak Ina sayang dientot sama dia atau enakan dientot samaku,”jawabku sambil berjalan menghampiri bi Ina yang masih telanjang bulat dan telentang diatas tempat tidur.

“Hen…jangan…Hen…ooohhh…Hen…ada mamangmu…ooohh…kamu nakaaall…Hen,” bi Ina merintih sambil berusaha menolakku, saat kedua tanganku mulai meremas-remas kedua teteknya yang ranum.

“Gak..apa-apa…Ina sayang, aku sudah membayangkan tubuhmu di jalanan tadi, ditambah melihat aksi si mamang yang asyik menggenjot memekmu,”sahutku sambil menambah aksiku, tubuhnya kutarik kepinggir ranjang, kemudian kedua kakinya kubuka lebar-lebar sehingga lubang senggamanya terkuak siap untuk diterobos batang kontolku.

“Jangaaann…Hen…jangan..nanti mamangku keluar dari kamar mandi…kita pasti ketahuan…Hen…tolong Hen…jangannn…..”Bi Ina dengan suara lirih masih menolak tapi tidak dapat berbuat banya karena kakinya kujepit dengan ketiakku, sementara tangan kananku mulai mengarahkan kepala kontolku kelubang memeknya, dan tangan kiriku meremas-remas payudara sebelah kirinya.

Bi Ina hanya bisa mendesah lirih, batinnya bertempur antara ingin kembali merasakan lesakan kontolku yang besar dan menolak karena takut ketahuan oleh suaminya yang sedang berada di kamar mandi, matanyapun terpejam meresapi remasan tanganku di payudaranya, dan merasakan kepala kontolku yang sudah mulai menyelinap di bibir vaginanya.

“Ooohhh… Hen…kamuuu…naakkaaall….oooohhh….Hen.,..cepaaaatt…m asukkiinnn… semua kontolmu yang besaaaarrr…itu….puassskkaaannn akuuu…oooohhh..cepat… sebelum mamangmu keluaaaarr….aaahhhhh….iyaaaa…..aaahhhh…tekaaannn…l ebiihh dalaaaamm…oouuughhh….aaaahhh….,”Bi Ina mulai merintih lirih dan mau menerima sergapanku.

Kontolku semakin melesak lebih dalam lagi di lubang senggamanya dan kemudian dengan sekali hentakan kuat kutekan kontolku itu sehingga terbenam dalam-dalam di lubang senggamanya, tubuh bi Inapun tersentak saat menerima sodokan keras itu, dan dengan sekuat tenaga diapun berusaha untuk tidak menjerit saat kontolku itu menerobos sekaligus, kulihat bi Ina menggigit bantal kuat-kuat sehingga yang terdengar hanya dengusannya saja.

“Ooouuggghhh…Ina sayang…memekmu memang legit…aaagghhh…sempit sekali… kontolku terjepit dengan ketatnyaaa…aaahhh…,”akupun melenguh lirih, sambil mulai mengeluar masukkan kontolku.

“hhhhnggggg,…..hhhmmmm…hhhnnngghhhh….hhhmmm….,”bi Ina merintih sambil mulutnya masih tersumpal oleh bantal yang sengaja ia gigit, agar suara jeritan keenakannya tidak terdengar oleh mamangku yang sedang di kamar mandi.

Karena dari tadi aku sudah sangat bernafsu ingin mengentot bi Inaku yang montok ini, akupun mulai mempercepat gerakan keluar masuk kontolku di memeknya, ada sensasi yang aneh yang baru pertama kali ini kurasakan saat menggenjot memek bi Ina, sensasi rasa takut akan ketahuan oleh mamangku dan sensasi enaknya memek bi Ina ini bercampur aduk, membuat sensasi kenikmatan tersendiri, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, kulihat bi Ina semakin kuat menggigit bantalnya sementara matanya hanya terlihat putihnya saja, nampaknya bi Ina juga menikmati persetubuhan kali ini, dan kurasa ia juga merasakan hal yang sama dengan ku, rasa nikmat dan rasa takut ketahuan.

Kurang lebih 5 menitan aku menggenjot kontolku dengan cepat, dan sekarang aku merasakan desakan kuat dikontolku, akupun hampir mencapai puncak kepuasanku, merasakan hal itu akupun semakin menambah ritme kecepatan kontolku keluar masuk dilubang senggama bi Ina, sementara itu kurasakan bi Ina juga mulai menggoyangkan pantatnya dengan cepat, nampaknya bi Inapun hampir mencapai puncak kenikmatannya.

“Ina sayaaaang…. Ooohhh…enaaaakkk… nikmaaatt….aakuu mau keluaarrr….kita keluarin barengan…yaaaahhhh….oooohhh…..ssshhhh…..,”aku mendesah lirih.

“hhhhhnnggggghhhhh…..hhhhnngggghhhhh….hhhhmmmmm…., ”bi Ina pun merintih lirih sambil mulutnya tetap menggigit bantal tapi kepalanya mengangguk setuju dengan ajakanku.

Sodokan-sodokankupun semakin bertambah cepat dan tidak beraturan, sementara itu goyangan pantat bi Inapun semakin tidak beraturan, tak lama berselang kami berdua mengejang hampir bersamaan dan kemaluan kami berduapun menyemprotkan lahar kenikmatannya, yang saling membasahi kemaluan kami masing-masing.

Creeettttt…..ssssrrrrrr….creeeetttt….sssssrrrrrr…. creeeetttt….sssrrrrrr…..creeeetttt….sssssrrrrrrr…. cccreeeeetttt…sssrrrrrr…

Aku merasakan hangat pada batang kemaluanku akibat semprotan lahar kenikmatan Bi Ina, sementara bi Ina merasakan hangat pada dinding vaginanya akibat spermaku. Saat tetes terakhir dari air maniku menyemprot keluar dari kontolku, akupun melenguh panjang, sambil membenamkan dalam-dalam kontolku di lubang memeknya bi Ina, sementara bi Inapun mengejang saat merasakan tetes-tetes lahar kenikmatanya menyemprot keluar dari lubang vaginanya.

Nafas kami berdua terdengar memburu, detak jantung kami berduapun seolah terdengar oleh telinga kami berdua, detak jantung yang baru saja mencapai puncak kenikmatan dan detak jantung yang takut ketahuan oleh mang Nanang yang sedang mandi.

Setelah tuntas dengan mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan kami, akupun segera merapihkan diri, kontolkupun kumasukkan kembali kedalam sangkarnya, sementara bi Ina sendiri melap memeknya dengan selimut tipis, dan langsung mengenakan daster batiknya, tanpa mengenakan pakaian dalam sepotongpun.

“Hen…enaknya…nanti kalau mamangmu sudah pergi, kita lanjutkan lagi permainan kita, aku pengen lagi merasakan kontolmu menyodok-nyodok memekku, kita ngentot sampai pagi mumpung ada kesempatan,” goda bi Ina nakal sambil meremas kontolku yang sedang tidur di sangkarnya.

“hehehehe…siapa takut ngentot nyonya montok dan seksi, sampai pagi akan kulayani Inaku sayang,”akupun membalas godaan bi Ina sambil kedua tanganku meremas memek dan payudaranya.

“eeehhh….,”bi Inapun kaget atas balasan remasan tanganku.

“aku keluar dulu yach Ina sayang, aku mau pura-pura baru datang,”kataku

“Gih sana…bocah nakal,”jawab bi Ina sambil tersenyum.

Kira-kira lima menitan akupun pura-pura mengucapkan salam, seolah-olah baru datang dan bertepatan dengan mang Nanang yang baru keluar dari kamar mandi dan sedang berjalan kearah kamarnya.

“Eh..mang Nanang udah datang,”kataku pura-pura kaget.

“Hen…iyach..tapi mau pergi lagi, sebentar yach aku pakai baju dulu,”jawab Mang Nanang.

“Hen..kamu baru pulang, gimana meetingmu, kamu mau kopi?,”bi Ina bertanya padaku

“Iyah…Bi…meetingku sukses. Aku dapat proyek dari mereka, siapa mau nolak dengan kopi buatan Bi Ina,”jawabku sambil merubah panggilanku kepadanya.

“Iyah..Hen, kopi buatan bibimu itu memang nomer satu belum ada saingannya, aku juga buatkan satu, biar gak ngantuk,”teriak mang Nanang dari dalam kamar.

Kemudian kami berdua menuju ke ruangan makan yang juga ruangan dapur, sambil berjalan kuremas pantat bi Ina yang semok dan menantang, bi Ina hanya bisa melototkan matanya saja menanggapi perbuatanku, akupun lalu duduk di kursi makan, sementara bi Ina mulai membuat kopi untuk kami bertiga, saat ia menghidangkan kopi untukku, tangan bi Ina meremas kontolku yang masih tidur di sangkarnya, akupun menjerit lirih atas perbuatannya itu, sambil membisikkan kata di telingaku, bahwa itu adalah balasan yang tadi saat aku meremas pantatnya, saat aku ingin membalasnya, aku mendengar suara kain gorden yang dibuka, akupun mengurungkan niatku untuk membalasnya.

Kami betigapun akhirnya berbincang-bincang, mang Nanang menitipkan bi Ina kepadaku karena ia tahu aku pasti akan mampir ke Bandung dulu, dan nanti setelah urusannya selesai ia akan menjemput bi Ina di Bandung, akupun menyanggupinya, mang Nanang tidak tahu bahwa menitipkan bi Ina samaku sama dengan menitipkan daging ke mulut harimau.

Selepas magrib mang Nanangpun berpamitan hendak kembali ke kampung untuk menyelesaikan urusannya yang belum beres, dengan pura-pura berat hati Bi Ina melepas kepergiannya, padahal dalam hatinya bi Ina ingin agar suaminya lekas-lekas pergi agar dia dapat merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan keponakannya yang besar yang sudah beberapa kali memberinya kepuasan, akupun dengan terpaksa ikut berpura-pura juga dan tidak lupa mengatakan kepada mang Nanang agar selekasnya menyusul ke Bandung untuk menghadiri acara yang diadakan di rumah orangtuaku itu.

Hanya dalam hitungan detik saja setelah melihat mobil mang Nanang menghilang dari balik pintu pagar rumahnya, bi Ina melirik nakal padaku, setelah selesai menutup pintu dan menguncinya, bi Ina menyerangku dengan penuh nafsu, bibir kami berpagutan dengan penuh nafsu, lidah kami saling mencari, sambil mencumbu bibirku tangan bi Ina mulai aktif bergerak, dengan cepat seluruh pakaian yang menempel di tubuhku telah lepas sehingga aku menjadi telanjang bulat, akupun lalu membalas aksinya itu dengan melepaskan daster batiknya yang menempel di tubuh seksinya, sehingga tubuhnyapun menjadi telanjang bulat sama sepertiku.

Tangan bi Ina mulai menjamah kontolku dan mengelus-elus kontolku, perlahan tapi pasti kontolku yang sedang tidur mulai menggeliat, tanpa lama kontolkupun mulai berdiri dengan gagahnya, sementara bi Ina masih tetap meremas, mengelus kontolku yang sudah tegang, mulutnya masih mencumbu bibirku dengan penuh nafsu, akupun membalas tingkahnya, tangan kiriku mulai meremas payudaranya dan yang kanan meluncur turun kelubang kenikmatannya, dengan perlahan belahan bibir vaginanya mulai kuelus-elus, dan bibirku membalas pagutannya dengan penuh nafsu juga, suara desahan mulai terdengar dari mulut kami berdua bercampur dengan suara decakan bertukarnya ludah kami saat berciuman.

Percumbuan yang kami lakukan sekarang ini sangat berbeda dengan pergelutan yang kami lakukan tadi sore, kali ini kami melakukannya lebih santai tanpa harus merasa takut akan ketahuan, lidah kami saling bertautan, kadang-kadang didalam rongga mulutku dan kadang-kadang dirongga mulut Bi Ina, air ludah kami sudah saling bertukar, remasan dan elusan tangan kamipun semakin bertambah ritmenya, desahan-desahan suara kamipun semakin sering terdengar.

Jari jemari tangan kananku semakin lancar mengelus-elus memek bi Ina, karena memek bi Ina semakin basah, perlahan-lahan jari tengahku mulai menerobos masuk kedalam lubang kenikmatan bi Ina, bi Inapun mulai melenguh saat jariku mulai menyeruak masuk ke dalam memeknya, kemudian dengan perlahan-lahan telapak tanganku mulai kugerakkan, dan kupastikan telapak tanganku itu menggesek-gesek kelentit bi Ina, dan sudah pasti jari tengahku yang sedang dalam jepitan memek bi Inapun ikut bergerak keluar masuk seirama dengan gerakan telapak tanganku yang sedang menggesek kelentitnya.

Bi Inapun merintih-rintih keenakan akibat aksi tanganku itu, dan bibirnya masih sibuk melumat bibirku, tangannya semakin aktif mengocok kontolku, sehingga kontolku semakin sering mengeluarkan cairan pre-cum dan membasahi tangannya, akupun mendengus nikmat akibat permainan tangan bi Ina, kontolku semakin mengeras dan siap untuk mengobrak-abrik memeknya bi Ina.

Dengan perlahan bi Inapun maju selangkah demi selangkah mendesak tubuhku sehingga tubuhkupun mundur selangkah demi selangkah kearah sofa yang berada diruang depan rumah mamangku ini, sementara tangannya tidak mau melepaskan genggamannya dan kocokannya di kontolku, akupun melakukan hal yang sama, jari tanganku tidak dikeluarkan dari dalam lubang senggamanya dan gerakan telapak tanganku masih tetap dengan lembut menggesek-gesek kelentitnya.

Akhirnya tubuhku tidak dapat mundur lagi karena sudah terhalang oleh sofa sementara tubuh bi Ina masih maju, sehingga akupun jatuh terduduk di sofa, karena pegangannya pada kontolku cukup kuat, bi Inapun ikut jatuh menimpa tubuhku, bi Inapun mengerang akibat jatuhnya itu,

“Ooohhh… Hen…aku pengen dientot lagi oleh kontolmu ini,”erang bi Ina

“OK, Ina sayang, akan kupuaskan rasa dahagamu…”jawabku sambil tersenyum nakal

Kemudian bi Ina mengambil posisi jongkok diatas tubuhku, tepatnya diatas kontolku, dan iapun menarik tanganku sehingga jariku yang sedang asyik berendam di memeknya tertarik keluar, kontolku yang masih dalam genggaman tangannya mulai ia arahkan kekemaluannya yang sudah sangat basah, aku melenguh kegelian saat bi Ina mengoles-oleskan kepala kontolku ke bibir memeknya, kudengar iapun melenguh kegelian juga, dengan perlahan-lahan kepala kontolku diselipkan kedalam memeknya, Sleeepppp…

Setelah merasa tepat kontolku berada dalam jepitan memeknya, dengan tangan kiri bertumpu di pundakku dan tangan kanan yang masih menggenggam kontolku, perlahan-lahan bi Ina mulai menurunkan pantat semoknya itu, kontolku perlahan-lahan mulai menyeruak masuk kedalam lubang senggamanya, Bleeesssss….

“Aaahhhhh….kontolmu besaaarr…Hen….memekku masih dibuatnya penuh…ooohhhhh enaaaaaakkkk….,”bi Ina melenguh enak saat kontolku mulai terbenam kedalam lubang senggamanya.

“memek kamu juga enaaak…sempiitt…biarpun sudah pernah diterobos oleh kontolku..tapi tetap aja masih sempiitt..,”akupun melenguh merasakan ketatnya dinding vagina bi Ina menjepit kontolku.

Bleeessss…..bleeesssss….bleeessss…..dengan perlahan-lahan kontolku semakin menusuk lebih dalam lagi sehingga amblas seluruhnya didalam lubang senggamanya bi Ina, aku merasakan dinding vagina bi Ina berdenyut-denyut pelan, seolah sedang meremas-remas batang kontolku, sementara itu bi Inapun merasakan hal yang sama ia merasakan memeknya dibuat penuh sekali oleh kontolku, dan saat batang kontolku berdenyut, bi Inapun merasakannya pada dinding vaginanya.

Kedua tangan bi Inapun bertumpu pada pundakku, sementara itu pantatnya menempel pada pahaku, dengan perlahan-lahan bi Ina mulai menaik turunkan pantatnya, dan dengan otomatis kontolkupun timbul tenggelam di lubang memeknya, geseran yang kurasakan pada batang kontolku sungguh sangat ketat dan erat sekali, memek bi Ina menjepit kuat batang kontolku, biarpun sempit dan ketat memeknya menempel di batang kontolku tapi pergerakan keluar masuk kontolku itu cukup mudah karena memek bi Ina yang sudah sangat basah oleh cairan precumnya dan cairan precumku.

Dengan posisi seperti ini aku hanya dapat pasif karena aku tidak dapat menggerakkan pantatku, tapi pemandangan yang ada di hadapanku sungguh asyik, karena kedua payudara bi Ina terpampang dihadapanku dan sedang terombang-ambing, apalagi saat itu bi Ina sudah mulai menaikkan irama naik turunnya, kedua payudaranya ikut juga naik-turun seirama dengan naik turun tubuhnya, kedua tanganku langsung menyergap kedua payudara bi Ina yang sedang terombang-ambing itu, kuremas-remas kedua bukit kembar itu, sehingga membuat Bi Ina semakin merintih-rintih, gemas dengan suara rintihan Bi Ina yang semakin sering terdengar, mulutkupun mulai ikut beraksi, kedua puting susunya yang berwarna coklat, mulai kujilati dan kuhisap-hisap,
“Ooohhhh…Hen…geeeliii….Heenn…aaahhhh…sshhhh…aaahhh …terusss…hisaaappp.. tetekkku…ooohhh….Hen…enaaakk…nikmaaattt…ngentooooo tttt…kamu…ooohhh,”Bi Ina merintih keenakan.

Sssllrrrppp….ssslrrrpppp…ssslrrrpppp… suara hisapanku pada kedua susu Bi Ina, kuremas, kujilat, kuhisap dan kupilin-pilin kedua susu dan putingnya bergantian kiri dan kanan, membuat Bi Ina semakin menggila, gerakannya semakin bertambah cepat, kontolku semakin cepat keluar masuk memeknya, tak lama berselang Bi Ina mulai mengerang panjang, menandakan puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh,

“Heeeeennnnnn…..Oooohhhh….aaakuuuu…keluuaaaarrr….a aaaahhhhhh…kontolmuuuu enaaaaakkkk….besaaaaarrr…panjaaaang….memekkuuu…pen uh sesaaakkk…dijejaalii… kontolmuuuuu….ooohhh…Heennn….ooooohhh…ssshhhh….aaa aahhh,”Bi Ina mengerang keenakan menyambut puncak kenikmatannya.

Sssssrrrr……sssssrrrrrr….sssrrrrrrr….sssssrrrrrr….. lubang senggamanya menyemburkan lahar kenikmatannya membasahi kontolku yang sedang terbenam dalam-dalam, aku merasakan batang kontolku menjadi hangat akibat semburan cairan memek Bi Ina, dan kurasakan juga dinding vagina Bi Ina berdenyut dengan kuatnya saat menyemburkan lahar kenikmatannya itu.

Tubuh Bi Inapun ambruk diatas tubuhku, kudengar suara nafasnya memburu, lalu kuelus-elus punggung, pinggang dan bongkahan pantatnya sambil agak kuremas-remas, membuatnya melenguh lirih,

“ooohhh…Hen…enak sekali..aku puas dientot oleh kontolmu yang besar dan panjang itu, gila hari ini sudah 2 kali aku mencapai puncak kenikmatan bersenggama,”Bi Ina berkata lirih.

“hehehehe…Ina sayang, mau lagi,”tanyaku

“Hhhmmmm…aaaahhh….bentar..aku ambil nafas dulu,”jawabnya lirih masih dengan nafas yang agak memburu.

Kurasakan denyutan dinding vaginanya sudah mulai melemah, dengan menggendong Bi Ina dan tanpa melepaskan kontolku dari jepitan memeknya, akupun bangkit dari dudukku , kemudian tubuh Bi Ina kurebahkan diatas meja tamu yang terbuat dari marmer, kontolku masih tetap terjepit dengan eratnya oleh memek Bi Ina, lalu kutindih tubuh Bi Ina dan mulai kupompa kontolku keluar masuk memeknya dengan gerakan cepat, suara rintihan Bi Ina kembali terdengar, erangan-erangan nikmatnya kembali membahana diruangan tamu rumah mamangku ini.

“Oooohhh…Hen….kaamuu…aaaahhhh…enaaaakkk..enjot…ter usss…kontolmuuuuu…. yaaahhhh…terusss..hhhmmm…tekaaann.yang dalam…Heeeenn….ooohhh…ooohhhhh,” erang Bi Ina keenakan digenjot dengan gaya cepat olehku.

“Ouuughh…enaaak…Ina…sayaanngg…enaaakkk…kontolkuuu. .enaaakk…memekmuu jugaaaa…legiiittt…sempit…aaaahhhh…,”akupun mengerang merasakan enaknya jepitan memek Bi Ina yang sangat ketat di batang kontolku, walaupun memeknya sudah sangat-sangat basah sekali.

Suara kecipakan beradunya memek Bi Ina yang sudah basah dengan batang kontolku yang dengan gencarnya menyodok-nyodok, menambah hiruk pikuk suara di ruangan tamu ini, aku tidak perduli suara yang kami keluarkan akan terdengar oleh para pembantunya yang tinggal di rumah belakang ataupun oleh penj****ya yang berada di gerbang depan, yang kupikirkan adalah mengentot Bi Ina sampai puas, sampai pagi kalau bisa.

Kedua kaki Bi Inapun mengait dipinggangku, sementara kedua tanganku berada di samping kiri dan kanan kepala Bi Ina, kedua tanganku itu menjadi tumpuanku agar Bi Ina tidak terlalu berat ditindih oleh tubuhku, dan menjadi tumpuan saat aku menggenjot memek Bi Ina, sementara tangan Bi Ina memegangi pundakku saat memeknya semakin gencar kusodok-sodok.

“Oooohhhh…ssshhhh…aaahhhh….Heennn…enaakk…terusss…s odok…teruss..memekku nikmaaaattt….kontolmuuuuu…enaaaakkk…bessaaaarr..pa anjaaanng…yang dalaaaam .. tekaaaann…yang.dalam…sodoookkk…yaaang dalaaammm…oooohhh…Heenn…ooohhh ssshhh….aaaahhh…ssshhh..aaahhh…Heeenn….,”Bi Ina semakin mendesah keenakan menerima hajaran kontolku di lubang senggamanya.

“akkkuu…jugaaa…enaakk…Inaaa…saaayyaaang…ooohhhh… ngentot memekmu ini…. Ooohhhh…betul-betuuulll…enaaakk….,”Akupun mengerang keenakan.

Kurang lebih sudah 10 menitan kugenjot kontolku keluar masuk memek Bi Ina, dan aku sudah mulai merasa bahwa air maniku sudah mulai mengantri di batang kontolku siap untuk meledak, akupun semakin mempercepat kocokan kontolku, Bi Inapun semakin mengerang-erang keenakan, kulihat matanya kembali hanya terlihat putihnya saja, menandakan bahwa Bi Ina betul-betul sedang menikmati sodokan-sodokan kontolku, akupun semakin menambah cepat irama kocokanku.

“Ooougghhh…Inaaaa…..aaakuuu…maauuu keluaarr….ooohhh….akuuu…sudah tidak tahan lagiii….,”erangku.

“Iyaaaa…akuuuu….jugaaaa…mau keluaarr..lagiii…Heeennnnn….aaagghhhh… kontolmu memang enak daan perkaaaassaaa…..puaaasss akuu dibuatnyaaa…,”Bi Inapun mengerang.

Kontolku semakin bertambah cepat keluar masuk di lubang vagina Bi Ina yang sudah semakin banjir oleh cairan precum kami berdua, tak lama berselang dengan kekuatan penuh aku hentakkan kontolku dalam-dalam di lubang memeknya Bi Ina, sehingga membuat Bi Ina menjerit, dan,

Creeeettttt…..ccreeeeetttt….ssssrrrrr…ccreeetttt…s ssrrrrrr….creeettttt..sssrrrr…ccreeett.. sssssrrrrr…..sssrrrrr…. kontolku menembakkan air maninya hampir bersamaan dengan memeknya Bi Ina yang memuntahkan lahar kenikmatannya.

Kontolku berkedutan saat menembakkan air maninya, dan saat bersamaan kurasakan dinding vagina Bi Ina berdenyut sangat kuat saat memuntahkan lahar kenikmatannya, dan kurasakan hangat di batang kontolku, Bi Inapun merasakan hal yang sama yang dirasakan olehku, ia merasakan hangatnya spermaku yang menyirami lubang rahimnya, dan lubang vaginanya merasakan kedutan-kedutan batang kontolku saat mengeluarkan air mani.

“Ooouugghhhhh… Inaaaa…..enaaakkk….sekaallliii…meemekmuu….berdenyu t-denyuuut. Kontolku seperti diremaaass..remas…aagghhh….sedaaapnnyaa…enaaakknya aa…terima pejuhkuuuu….oooohhhh…Inaaa….ooohhh….,” erangku keenakan saat kontolku menyemprotkan air mani.

“Heeennnn…..aaaakkuuu…jugaaa…enaaakk…puaaaasss…die nttooott…kontolmu.. yang besaaaar..dan panjaaaang…pejuhmuuu hangaatt..kurasakaan….ooohhhh….kamu hebat. Heeennn….kamu sungguh perkaaassaaaa….aku betul-betul puaaass..aaahhh..sshhhh aaahhhhh…Hen…,”Bi Inapun mengerang kenikmatan.

Sambil masih merasakan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami rengkuh, sambil tubuhku masih berada diatas tubuh Bi Ina, bibir Bi Ina kupagut dengan lembut dan mesra, sambil perlahan-lahan kutarik kontolku kemudian kudorong masuk lagi, lama-lama kontolku semakin menciut dan terlepas dengan sendirinya dari jepitan memek Bi Ina, akupun bangkit dari atas tubuh Bi Ina, dan duduk diatas sofa, Bi Inapun mengikutiku dan duduk disebelahku, nafas kami masih agak sedikit tersengal-sengal.

Setelah nafas kami kembali normal, kamipun bangkit dari sofa dan berbarengan berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu dengan tubuh yang masih tanpa busana kami berdua menikmati hidangan malam yang memang sudah tersedia dari tadi.

Pertempuran demi pertempuran kami lanjutkan kembali setelah kami selesai makan malam, kami lakukan sepanjang malam sampai kami kelelahan.

TAMAT

Cerita Dewasa : Petualangan Cinta Hendra Anna yang pasrah

Cerita Dewasa : Petualangan Cinta Hendra Anna yang pasrah - Hari ini adalah hari kedua kami di Surabaya, dan hari pertama kami di pameran, pameran di buka sekitar jam 10 pagi, kegiatan kami hari ini cukup menguras tenaga, stand kami banyak di kunjungi terutama oleh para lelaki, kebanyakan dari mereka hanya sekedar ingin berbincang dengan Tina dan Anna, ada juga beberapa yang serius bertanya tentang produk-produk kami, tapi lebih banyak lagi yang bertanya tentang no HP Anna dan Tina, untungnya kedua gadis itu ahli dalam menghadapi para lelaki usil tersebut.

Cerita Dewasa : Petualangan Cinta Hendra Anna yang pasrah

“Tin, sini sebentar, aku mau tanya,”Aku memanggil Tina untuk mendekatiku.

“Ada apa Boss, pengen lagi yach,”Tina berkata lirih begitu dia sudah berada didekatku.

“Bukan itu, tapi kemarenkan waktu berhubungan, aku-kan keluarnya di dalam, aku takut kamu hamil ajach,”bisikku.

“Ooohhh…itu, gak usah takut boss, seperti Anna bilang everything under control…hihihihi… kirain minta nambah lagi,”jawab Tina sambil berlogat cadel seperti Anna saat mengucapkan Control.

“Uihhh..lega dah, emangnya masih mau ngerasain si otong gua ini,”jawabku sambil melepaskan nafas lega.

“Hhhmmmm… memekku masih gatal pengen digaruk lagi sama si otong, tapi badanku masih lemes, dan kurang tidur, pengen tapi tidak malam ini, hihihihi mau istirahat dulu, kalau besok malam pasti kulayani lagi si otong tuch sampe pagi,”kata Tina genit sambil mengedipkan matanya.

“hehehehe…sip dach,”jawabku.

Kemudian kami kembali di sibukkan melayani pengunjung yang kembali memenuhi stand kami, tanpa terasa jam menunjukkan pukul 13.00, kamipun bergantian untuk makan siang, Anna dan Tina menyuruhku untuk makan terlebih dahulu, karena kata mereka akukan bossnya jadi harus makan terlebih dahulu, yang mendapatkan bagian ke 2 untuk makan adalah Anna karena Tina ngotot yang tua lebih dulu makan takut pingsan katanya, Tina memang anaknya suka bercanda, usil, dan ceriwis juga.

Saat itu Tina yang mendapatkan giliran terakhir makan siang baru saja meninggalkan stand, dan para pengunjungpun sudah mulai sepi, terlihat Anna menggerakkan kepalanya sambil tangannya memijat-mijat pundaknya, melihat hal itu kuhampiri dia.

“Kenapa An, cape yach?” tanyaku

“hooh nich, pegel-pegel, pundak dan leherku tegang, terus yang paling parah ini nich betisku, kebanyakan berdiri,”kata Anna

“lagian kamu pake sepatu hak tinggi begitu sich, jelas ajach pegel,”kataku

“iyach ach, salah pake nich, seharusnya pake yang gak ada haknya,”Anna membetulkan perkataanku.

“Mau kupijitin gak,”aku menawarkan bantuannya.

“bener nich, mau dong, tapi jangan disini, gak enak kelihatan sama pengunjung, nanti ajach setelah acara ini selesai, mas Hen pijitin aku yach, makasih sebelumnya,”kata Anna

“Sip dach, pokoknya buat Anna yang cantik apa saja kan kulakukan,”kataku

“Uuuhh..mulai dah rayuan gombalnya, inget aku tuch udah punya suami, jangan genit lho, tar kulaporkan sama suamiku, hihihihi.”Anna berkata menggodaku.

“Eits…siapa yang genit, gak takut dilaporkan sama suaminya, lha aku kan Cuma nolongin mijit istrinya yang cuantik ini biar gak sakit,”kataku lagi.

Senda gurau kami terhenti karena ada beberapa pengunjung yang mendatangi stand kami, dari kejauhan kulihat Anna sedang bergegas mendatangi kami, kamipun kembali disibukkan dengan kegiatan kami lagi.

Tepat pukul 6 sore pameran hari inipun ditutup, kamipun berbenah merapikan stand kami, jam 6.30 tuntas sudah kami merapikan stand kami, kamipun melangkah ke restoran di hotel tersebut untuk makan malam.

Kami bertiga kembali kekamar kami masing-masing setelah selesai menyantap hidangan malam kami, kurebahkan tubuhku setelah aku masuk kedalam kamarku dengan tak lupa mengunci pintu kamarku, setelah rasa lelah dan pegalku reda, aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, rasa segar kurasakan setelah kuselesai mandi, kukenakan celana boxerku dengan tanpa mengenakan dalaman, aku memang terbiasa dengan hanya mengenakan celana boxer saja, tanpa CD soalnya lebih bebas kurasakan, juga yang sudah menjadi kebiasaanku adalah aku tidak pernah mengenakan pakaian atau kaos untuk menutupi bagian atasku, aku lebih suka bertelanjang dada.

Kemudian kurebahkan tubuhku sambil menonton acara TV lokal, selang beberapa menit kudengar ketukan di pintu, dengan malas-malasan aku melangkahkan kakiku kepintu kamarku, kuintip lubang yang berada di pintu untuk memastikan siapa yang datang, kulihat dikoridor depan pintu kamarku tidak nampak seseorangpun.

“kurang ajar nich orang, gak ada kerjaan pake ngetuk-ngetuk pintu orang,”batinku menggerutu.

Saat kembali ketempat tidur, kembali kudengar ketukan pintu, dan baru kusadari ternyata suara ketukan itu berasal dari pintu yang menghubungkan kamarku dengan kamarnya Anna, kuhampiri pintu tersebut dan kubuka, dihadapanku terlihat pintu yang terletak dikamar Anna setengah terbuka dan wajah Anna yang melongok dari balik pintu tersebut.

“Ada apa, An?,”tanyaku

“Iihhh…lupa dia, jadi gak mau tolongin aku,”kata Anna sambil cemberut.

“Oohhh…yang mijitin kamu itu,”kataku memastikan.

“Ya..iyalah…memangnya minta tolong apalagi,”kata Anna masih cemberut

“Oohh…kukira gak jadi, hehehe”kataku sambil tertawa,

“Tapi An, aku-kan sudah terbiasa bertelanjang dada begini, kamu gak risihkan, soalnya males nich kalau mau pake kaos lagi,”tanyaku

“Hhmmm…yach udah, gak apa-apa dech, tapi bener yach mas Hen, jangan genit yach…,”kata Anna.

“masa aku dibilang genit sich, emang kapan kamu kugenit-in, eh…,”tanyaku

“Belom pernah sich,”kata Anna membuka pintunya lebar-lebar.

Akupun melangkahkan kakiku masuk kedalam kamar Anna, mengikuti langkah Anna yang menuju tempat tidurnya, dari belakang kulihat pantat Anna yang cukup besar itu bergoyang, bayangan garis CDnya terlihat dari balik dasternya yang berwarna kuning, sementara disebelah atas kulihat juga garis BHnya tercetak dengan jelas di dasternya itu.

“Mas Hen, aku tengkurap atau telentang nich,”Anna bertanya tentang posisinya.

“Tengkurap dong neng, kalau telentang nanti aku bukannya mijit…hehehe,”kataku

“Tuch kan, mas Hen mulai genit dech,”Anna merengut

“lha iyakan, barusan kamu tanya mo telentang apa tengkurap,”jawabku

Anna mencibirkan bibirnya, setelah itu ia membalikkan tubuhnya dan tengkurap diatas tempat tidur, akupun segera naik ketempat tidur, dan duduk di dekat kakinya Anna, kemudian akupun mulai memijat-mijat telapak kaki Anna.

“Mas Hen, kok pintar sich mijatnya,”tanya Anna setelah merasakan pijatan-pijatanku di telapak kakinya.

“hehehehe…gini-gini aku-kan pernah belajar bela diri,”jawabku

“hihihihi…ditanya pintar mijat, malah jawabnya pernah belajar bela diri, gimana sich,” Anna tertawa geli

“Iyach maksudku saat belajar bela diri itu aku juga diajarin untuk bisa membetulkan otot-otot yang keseleo,”jawabku sambil tetap tanganku memijat-mijat telapak kakinya

“Ooohhh…gitu.. tapi bener-bener enak mas, pijatannya,”kata Anna.

Sambil memijat mataku tidak pernah beralih dari bongkahan pantat Anna yang montok, pikiranku membayangkan meremas-remas pantat Anna, telapak kaki selesai kupijat, akupun beralih memijat-mijat betisnya Anna, kurasakan kulit Anna yang lembut, yang membuatku semakin membayangkan kehalusan kulit Anna di tempat yang lainnya, kudengar Anna beberapa kali memuji pijatanku yang dirasakannya enak sekali, telapak kakinya yang sudah selesai kupijat dirasakan olehnya sudah tidak berat seperti tadi siang.

Tanganku mulai merayap kearah paha Anna setelah kurasakan otot-otot betisnya Anna tidak terlalu tegang, dengan lembut kupijat-pijat paha Anna, Anna semakin mendesah keenakan merasakan pijatanku,

“Ooohh…Mas Hen, enak betul pijatanmu, alangkah beruntungnya gadis yang mendapatkanmu,”kata Anna

“hehehehe…apa hubungannya bisa mijat sama gadis,”kataku sambil tertawa

“adalah mas, kan tiap malam bisa minta dipijatin sama suami,”kata Anna

“Wah…itu sich enak di dia gak enak di gua, udah kerja seharian eh pulang kerumah disuruh mijatin, emang suaminya tukang pijat yach, hehhehe”kataku sambil tertawa dongkol

“hihihihi…marah dia, kan gak tiap hari mas, kalau istrinya pegal-pegal ajah,”lanjut Anna

Pijatankupun beralih kearah punggung Anna, tapi aku agak kesulitan memijat punggungnya Anna karena daster yang dikenakan oleh Anna berbahan satin, sehingga saat memijat-mijat punggungnya dasternya ikut tertarik-tarik, Annapun merasakan hal yang sama ia tidak merasakan enak saat dipijat punggungnya tersebut.

“Kok gak enak mas, gak seperti saat mijat betis dan pahaku,”Anna bertanya heran.

“Ini nich, dastermu yang bikin susah, selalu ngikutin gerakan tanganku,”jawabku.

“Eeehh…jadi harus gimana dong mas, punggung dan pinggangku juga pegal-pegal,”tanya Anna.

“heeh…mana kutahu, kecuali kalau dasternya dicopot baru dach tanganku leluasa memijat-mijat pinggang dan punggungmu,”kataku sambil berharap Anna mau melepaskan dasternya.

“Waduh…kalau dicopot berarti aku telanjang dong, wah bahaya…kalau mas Hen genit…ckckckck…gak ach,”kata Anna.

“telanjang sich gak juga, kan masih ada BH dan CDmu,”kataku kembali sambil masih tetap mengharap Anna melepaskan dasternya.

“Wahh..malu mas, tapi…hhhmmm…mas ambilin handuk dong di kamar mandi,”Anna kembali berkata sambil meminta tolong padaku untuk mengambilkan handuk.

Segera kuambilkan handuk tersebut dan kuserahkan pada Anna,

“mas Hen, balik badan dong, aku mau buka dasterku nich, jangan ngintip yach,”Anna berkata saat ia menerima handuk tersebut.

Tapi Anna lupa didepan tempat tidurnya itu terletak cermin yang besar sehingga biarpun aku membalikkan badan tapi bentuk tubuhnya yang hanya berbalut CD dan BH saja nampak dihadapanku walaupun cuma sebentar tapi cukup untuk menggeliatkan siotongku, dari cermin kulihat Anna sudah kembali tengkurap dengan handuk yang menutupi bagian pantatnya dan sebagian punggungnya.

“An, sudah belum,”aku pura-pura bertanya.

“sudah mas Hen, tapi mas Hen janji yach gak nakal yach…,”jawab Anna sambil memohon.

“iyach..ach…aku gak akan nakal, cuman badung ajach,”candaku

“iiihh…mas Hen…iiihh jangan dong..,”kata Anna sedikit ketakutan.

“iyach..aku bercanda kok,”kataku menenangkan Anna.

Lalu tanganku mulai bersentuhan dengan punggung Anna, tapi gerakkan tanganku saat memijat punggung Anna masih tidak dapat dengan leluasa karena terhalang oleh BH Anna,

“An, sorry yach…kaitan BHnya kulepas yach, kalau gak tanganku susah buat mijatnya nich,”kataku.

“hhmmmm… iyach dech…tapi janji yach mas, mas Hen gak akan nakalkan,”Anna mengiakan permintaanku.

Kulepaskan kaitan BHnya, karena BH yang dikenakan oleh Anna adalah BH tanpa tali jadi begitu kulepaskan kaitannya, gumpalan payudara Anna kulihat disamping kiri dan kanan punggungnya tersebut, kemudian akupun mengambil hand body Anna, lalu punggungnya mulai kulumuri hand body dan tanganku mulai bergerak perlahan memijat-mijat punggung Anna, agar lebih mudah kurubah posisiku, kukangkangi tubuh Anna, kedua lututku tepat berada disamping kiri dan kanan pinggang Anna dan pantatku bersentuhan dengan pantat Anna, si otongpun mulai menggeliat bangun, melihat kemulusan punggung Anna dan merasakan empuknya pantat Anna.

Dengan lembut tubuh Anna mulai kupijat-pijat, jari jemariku mulai menari-nari di bagian tengah punggung Anna mulai dari sekitar pinggang sampai ke leher, sambil tanganku sibuk memijat-mijat punggung Anna, mataku sibuk juga melirik gumpalan payudara Anna yang meluap kepinggir, dari posisiku sekarang ini gumpalan payudara Anna itu terlihat disamping kiri dan kanan punggungnya, kontolku semakin menegang.

Dari tengah sedikit demi sedikit jari jemariku kuarahkan kesamping kiri dan kanan punggungnya, sampai jari jemariku mulai menyentuh pinggiran payudara Anna, saat jemariku mulai menyentuh pinggiran payudara Anna itu, kulirik wajah Anna untuk melihat ada perubahan di wajahnya, kulihat kedua mata Anna tertutup dari mulutnya kudengar desahan lirih, setelah yakin tidak ada perubahan dan tidak ada penolakan dari Anna, jemariku semakin sering menyentuh pinggiran payudara Anna tersebut.

Setelah kurasakan cukup memijat-mijat punggung dan pinggiran payudara Anna, tanganku beralih ke bongkahan pantat Anna, kemudian kuremas-remas lembut kedua bongkah pantat Anna yang montok itu, setelah terlebih dahulu kusingkirkan handuk yang menghalangi gerakan dan pandanganku, saat kuremas-remas pantatnya kulihat paha Anna sedikit mengejang, perlahan-lahan tanganku turun kearah paha bagian dalamnya, kupijat-pijat lembut didaerah itu, kedua kakinya yang tadinya rapat mulai terbuka sedikit demi sedikit seiring dengan pijatan-pijatanku di kedua pahanya, silih berganti kupijat paha dan pantatnya Anna, semakin sering pula kudengar Anna mendesah.

Saat kaki Anna semakin terbuka lebar kulihat CDnya Anna dibagian kemaluannya sedikit basah, saat itu tanganku sedang memijat-mijat pantat Anna, dengan perlahan-lahan jari jempolku kuarahkan di dekat pangkal paha Anna dan jari jempolku mulai menekan area tersebut, sementara jari yang lainnya masih memijat-mijat pantat Anna.

“An, CDnya ngalangin nich, kubuka yach biar pijatanku lebih enak,”kataku sambil tidak menghentikan pijatanku.

Kulihat Anna menganggukkan kepalanya, melihat anggukan Anna, CD Annapun kulepaskan, dan juga tidak lupa kulepaskan celana boxerku, kulihat kepala kontolku sudah mengeluarkan cairan pelicin juga, aku kemudian bersimpuh di antara paha Anna dan melanjutkan pijatanku, kedua jempolku kembali kutekankan di pangkal paha Anna tepatnya dibibir vagina Anna, kulihat vagina Anna yang gembung, garis bibir vaginanya terlihat masih bagus, kutekan-tekan dengan lembut kedua pinggiran vaginanya tersebut dengan jempolku, sementara jemari yang lain secara bersamaan meremas-remas pantatnya.

Anna semakin mendesah-desah, dan pantatnya mulai terangkat sedikit demi sedikit, kedua kakinyapun semakin terbuka lebar seolah ingin memberikan ruang untukku, gerakan jempolku mulai berputar di kedua pinggiran vagina Anna, sehingga lubang vagina Anna mulai terlihat karena gerakan berputar jempolku tersebut, ingin rasanya kusedot dan kujilati vagina Anna yang berwarna merah muda itu, tapi kutahan hasratku tersebut karena takut akan membuat Anna kaget, bisa hilang nanti burung yang hampir dalam genggamanku.

Gerakan jempolku yang berputar merambat perlahan-lahan kearah kelentitnya Anna, lalu dengan bergantian jempol kiri dan kananku mulai mengelus dan menekan kelentit Anna, kelentit Annapun mulai terlihat oleh mataku, warnanya merah muda, bentuknya kecil sebesaran kacang kedelai, ingin rasanya kujilati kelentit itu, tapi lagi-lagi kutahan hasratku untuk melakukan hal itu, sementara kontolku sudah mengeras sekali sudah sangat siap untuk menerobos masuk kedalam lubang senggama Anna.

Kurasakan kedua jempolku sudah semakin basah oleh cairan birahi Anna, nampaknya sudah waktunya untuk melakukan keinginanku yang dari tadi kutahan,

“An…Anna…enak pijatanku…,”tanyaku dengan nafas yang sedikit memburu karena menahan birahiku.

“Hhhmmm….hhhmmmm….,”gumam Anna sambil menganggukkan kepalanya.

Melihat Anna yang sudah pasrah itu, akupun semakin berani,

“mau yang lebih enak..lagi An,”tanyaku kembali.

Anna tidak menjawab pertanyaanku tapi kulihat kepalanya sedikit terangguk, melihat hal itu, akupun tidak mau membuang kesempatan emas tersebut, tanpa membuang waktu lagi kontolku kuarahkan ke lubang vaginanya Anna, keinginanku untuk menjilati kelentitnya Anna terpaksa kutunda dahulu, takut nanti Anna berubah pikiran saat merasakan jilatan lidahku di kelentitnya,

Sleeeeppp……kepala kontolku mulai terjepit di lubang vagina Anna, dan tanpa menunggu lebih lama lagi,

Bleeeessss…..kontolku mulai menyeruak masuk kedalam rongga senggama Anna, perlahan tapi pasti, kontolku mulai terbenam sedikit demi sedikit.

Bleeesssssss….kutekan lagi kontolku masuk kedalam rongga vagina Anna sehingga terbenam seluruhnya.

Kurasakan vagina Anna ini sempit tapi tidak sesempit punya Tina, karena kontolku yang besar ini dapat dengan mudah menerobos masuk walaupun sedikit peret,

“Ooogghhh…An, memekmu sempit juga,”Aku mengerang merasakan jepitan memeknya Anna.

“Hhhmmmm…ooohhhh…mas Hen…,”Anna mendesah merasakan lesakan kontolku di memeknya.

Pantat Anna semakin menungging keatas, sementara tubuh bagian atasnya tetap menempel di tempat tidur, setelah mendiamkan sebentar kontolku didalam lubang vagina Anna, kemudian dengan bertumpu pada kedua tanganku, kontolku mulai keluar masuk di memek Anna, kulihat kontolku yang keluar masuk di memek Anna mengkilat karena cairan birahi Anna.

“Hhhmmm…ssshhh…aaaaahhh…hhhmmmm..ssshhh…,”Anna mendesah keenakan merasakan sodokan-sodokan kontolku di memeknya.

Kulihat kedua mata Anna terpejam, dan kedua tangannya mencengkram kain seprei, dari mulutnya semakin terdengar rintihan-rintihan nikmat, kurasakan memek Anna semakin basah dan kontolku semakin leluasa keluar masuk, gerakan keluar masuk kontolku semakin kupercepat, dan kulihat cengkraman Anna semakin kuat mencengkram kain sprei,

“Ouuughhhh…ssshhh…aaaahhh…..ssshhh…aaahhh…mas Hen…,”Anna merintih-rintih.

“Enaaakk.. An…sayang…kontolku..enak…,”akupun mendesah

“Ooohhh…sshhh…hhhheeehhh..ssshhhh…aaaahhhh…,”kemba li Anna mendesah seolah menjawab pertanyaanku.

Tak lama kemudian kurasakan tubuh Anna, pantatnya serta kakinya mengejang, mengetahui hal itu akupun semakin mempercepat gerakanku, karena kutahu sebentar lagi Anna akan mencapai puncak kenikmatannya, perkiraanku betul selang beberapa detik setelah kupercepat genjotanku, Annapun melengking,

“Maaaasss….Heeenn.. aakuuu…keluaaarr….ooohhhh..aaaaahhh…ssshhh…,” Anna melengking menyambut kedatangan puncak kenikmatannya.

Ssssrrrrr… Sssssrrrrr…. Srrrrrr…. Srrrrr……

Kurasakan kontolku menjadi hangat oleh siraman cairan kepuasan Anna, dan kurasakan dinding vaginanya berdenyut dengan cepat, seolah-olah sedang meremas-remas kontolku, sengaja kontolku yang barusan kubenamkan dalam-dalam saat Anna mencapai puncak itu tidak kugerakkan karena aku ingin menikmati sensasi kedutan dinding vagina Anna.

Kuciumi kuduk, leher dan telinga Anna, untuk memberikan sensasi nikmat yang lebih,

“Mas Heen, jahat…aku jadi berkhianat sama suamiku,”kata Anna dengan nafas masih tersengal-sengal.
“Ehh..jahat…apa? hehehe…kan kutanya tadi apa mau lebih enak lagi,”jawabku pura-pura bego.

“Iyaah…tapi pijatannya mas Hen itu bikin orang terangsang sich,”Anna berkata lagi.

“Hhmmm..ya kalau gitu kan bukan salahku, iya kan,”jawabku berkelit.

“Tau aaah…mas Hen nakal, aaauuugghhh…,”kata Anna sambil menjerit karena saat itu kontolku mulai kugerakkan lagi.

“Sudah…sudah..mas Hen…masa gak cukup satu kali,”kata Anna mencoba untuk menghentikan aksiku.

“hehehe..jangan curang dong saying, yang sudah puaskan baru kamu aja, aku kan belum keluar,”kataku sambil tetap menggerakkan kontolku dan mulai menciumi kuduk, leher dan telinga Anna.

“Mas..Hen…jangan..gelliiii…aaaawwww…mas Hen belum keluar, ooohh..awww..geli. kukira sudah keluar juga…mas geli..mas..Hen…nakal yach…,”Anna berkata sambil kegelian akibat ciumanku.

“Hhmmm…sslrrrppp…iya…puaskan aku An,”kataku sambil menjilati dan menghisap lehernya Anna.

“Mas Hen…jangan …mas…geli…jangan ciumi leherku…ooohh…mas…,”Anna memohon padaku untuk tidak menciumi lehernya.

“Sudah…mas…sudah… aku pasrah..mau diapain juga…tapi jangan leherku…mas.. oohhh…memekku nanti semakin basah…,”Anna mulai mendesah-desah antara geli dan nikmat.

Dengan perlahan-lahan tubuhnya mulai kuangkat, dengan berlutut aku mulai menggenjot Anna yang juga berlutut, sementara tubuhnya bersandar pada tubuhku, kedua tanganku mulai aktif meremas-remas kedua payudaranya yang montok, dengan perlahan-lahan aku mulai memutarkan tubuh kami, sehingga posisi tubuh kami menghadap kearah cermin, sekarang dapat kulihat kedua payudara Anna yang montok dihiasi dengan kedua putingnya yang berwarna merah muda, sungguh jauh berbeda dengan warna putingnya Tina yang coklat, dengan gemas kuremas-remas kedua payudara itu, dan kedua putingnyapun tidak luput dari aksiku, Anna semakin mendesah,

“ooohh… mas Hen… oooohh… ssshhhh… mas… ssshhhh… puaskan… aku… lagi.. mas…. ,”Anna merintih-rintih minta dipuaskan lagi.

Tubuh Annapun mulai bergerak seirama dengan gerakan keluar masuknya kontolku, Anna mendorong mundur pantatnya saat kontolku melesak masuk dan ia menarik maju pantatnya saat kontolku keluar dari lubang vaginanya, bukan itu saja Anna juga memutar-mutarkan pantatnya saat maju-mundur.

Aku merasakan enak yang sangat akibat putaran-putaran pantat Anna, kontolku seperti di pilin-pilin oleh dinding vaginanya, kulihat di cermin Anna dengan mulut setengah terbuka dan mata yang terpejam, nampaknya Anna betul-betul menikmati sodokan-sodokan kontolku.

“ooohhh…ssshhh…enaakk…mas….enaaakk…diputar…putar…b egini… aku enaakk juga…kontolmu..mas…Hen..besaaarr…paanjaanng…,”rint ih Anna.

“hhheeehhh…enaak..An, terus putaaar…saayang…teruss…,”akupun mengerang menikmati goyangan Anna.

Keringat kami semakin banyak, dan menimbulkan bunyi kecipak saat pantat Anna beradu dengan perutku, suaranya membuat kami semakin terangsang, gerakan kami semakin menggila, Annapun semakin cepat memutar pantatnya sementara aku sendiri semakin cepat mengeluar masukkan kontolku di vagina Anna.

Rintihan, erangan dan desahan kami saling bersahutan, Anna yang pada babak pertama tadi hanya bisa pasrah saja, pada ronde kedua ini aksinya sungguh bertolak belakang, rintihannya semakin sering terdengar,

“ooohhh…mas …genjot kontolmu….yaaaaa….yyaaaa….aaahhh…enaaaakk..tekan yang…dalammm…yang kkuaaatt…mas….Heeennn… ooohhh.. sshhhh…enaakk…,” Anna merintih-rintih keenakan

Akupun semakin menghentakkan kontolku dalam-dalam di lubang vagina Anna sampai kurasakan kepala kontolku bersentuhan dengan dinding rahimnya, sambil tanganku tetap aktif meremas-remas payudara Anna, kadang-kadang payudara Anna kucengkram dengan kedua telapak tanganku saat aku menghentakkan kontolku, Annapun menjerit saat dinding rahimnya tersodok oleh kontolku,

“Aaawwww…sssshhh…aaaaahhhh….ssshhh…awwww….enaaakkk …aaawww…, terusss…mas Hen…terusss…puaskan aku dengan kontolmu itu….awwww… ssshh aaahhh…yang kuat…mas Hen…yang dalam…,”jerit Anna.

“Oooghhh…enak…An…enaakkk…kontolku…memekmu…juga .enak…saying.. oooghh…aaaaghhh,”akupun mengerang keenakan.

Gerakan kami semakin lama semakin tidak beraturan, tanda-tanda puncak kenikmatan kami hamper tiba, aku merasakan desakan-desakan kuat hendak menerobos keluar dari dalam kontolku, kurasakan Annapun mengalami hal yang sama putaran-putarannya tidak teratur lagi, tubuhnya mulai mengejang-ngejang, akupun tidak dapat membendung gelombang nikmat yang berusaha menerobos keluar dari kontolku, dan

Crreeeeetttttt….creeeetttt….creeeetttt…ccreeeetttt …kontolku memuntahkan sperma dengan kuat di lubang memek Anna.

“Aaannnnaaa, aakkkuuu keeluuaar….ooohhh…memekmu enaaakk.. Annn,”aku mengerang menyambut datangnya puncak birahiku, kontolku kubenamkan dalam-dalam di lubang memek Anna.

“Akkkuu juga maaass…oooohhh…aakkuuu keeluuaarrr jugaa….aaahhh…mass…,” Anna mengerang saat memeknya mulai menyemburkan cairan birahinya.

Sssssrrrrr…sssrrrrr…sssrrrrr…ssrrrrrr….kurasakan hangatnya cairan birahi Anna membasahi kontolku yang sedang berkedut-kedut menyemprotkan air maniku.

Setelah air maniku dan cairan birahi Anna meneteskan tetes terakhirnya, tubuh kami ambruk kelelahan, sementara kontolku masih berada dalam jepitan lubang vagina Anna, kuciumi leher dan telinga Anna.

“Enak…An…sayang…puas..kamu,”tanyaku

“heeh…,”jawab Anna sambil menganggukkan kepalanya dan berusaha menahan geli atas ciumanku.

“Mana…enak…dientot olehku….atau dientot suamimu..,”tanyaku lagi

“Ahhh…gak tau..kok nanyanya gitu sich,”jawab Anna malu sambil membenamkan kepalanya ditempat tidur.

“hehhee…hanya sekedar ingin tahu saja, mana hebat suamimu atau aku..kalau diatas ranjang,”tanyaku penasaran.

“Gak tau…gak tau…,”Anna menjawab dengan penuh rasa malu.

“iya udah deh…kalau kontolnya besaran dan panjangan punya siapa,”tanyaku lagi.

“Iiihh…mas Hen..nakal…genit…ganjen…rahasiaa…,”jawab Anna malu.

Menyaksikan Anna yang malu-malu seperti itu, membuatku terangsang kembali, kontolku yang sudah lemas dan masih dalam jepitan lubang vagina Anna, mulai menggeliat kembali.
“Eeeehhh….bangun..lagi…,”Anna kaget merasakan kontolku mulai menegang kembali.

“Hehehehe….minta nambah…nich, habis enak dan legit sich memekmu katanya,” jawabku

“Haah….busyet dach….bisa mati lemas aku disodok-sodok kontolmu itu,”Anna terpekik mendengar jawabanku

Akhirnya pertarungan itu kami lanjutkan kembali dengan Anna yang memegang kendali, kami bertarung sampai kami kelelahan dan baru kami sadari jam saat itu menunjukkan pukul 2.30 dinihari. Akhirnya kamipun tidur berpelukan, dengan Anna yang tidur diatas tubuhku dan kontolku masih dalam jepitan lubang vagina Anna.

Tamat.

Cerita Dewasa : Petualangan Cinta Hendra Tina Yang Nakal

Cerita Dewasa : Petualangan Cinta Hendra Tina Yang Nakal - Pagi ini nampak Hendra sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta, dengan tubuh yang tegap dan rupa yang menawan, keberadaan Hendra di dekat pintu masuk menyedot perhatian para wanita yang sedang berada di Bandara Soekarno-Hatta, berkali-kali para wanita itu melirik kearah Hendra, sementara Hendra tidak menyadari hal tersebut karena dia sibuk dengan memandangi taxi-taxi yang berhenti menurunkan penumpangnya, matanya memandangi setiap penumpang yang turun, tapi yang ditunggunya belum juga datang, sesekali Hendra melihat kearah jam tangannya.


Kira-kira setengah jam kemudian mata Hendra menangkap 2 orang wanita yang turun dari taxi, melihat hal itu Hendra kemudian menghampiri ke 2 wanita tersebut, melihat Hendra menghampiri kea rah mereka, ke 2 wanita itu tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Lama betul kalian, kukira kalian masih tidur,” Hendra menyapa ke 2 wanita tersebut.

“Hehehe…maklum perempuan,”kata salah seorang wanita tersebut.

“Sudah lama, mas,”tanya wanita yang satunya lagi.

“Heeh, udah mau bulukan, gua nungguin kalian nich,”jawab Hendra.

“yee..gak segitunya kali,” sahut ke 2 wanita itu serempak.

“Yuu, kita check-in,”kata Hendra.

Ketiganya berjalan menuju ke pintu masuk Bandara, setelah melewati pemeriksaan Security, mereka menuju ke Counter Check-in, setelah selesai proses check-in mereka menuju kearah ruang tunggu.

“Mas, jam berapa pesawat kita take-off,”tanya salah satu wanita tersebut.

“kira2 1 jam-an lagi,”jawab Hendra

“Hmmm, berarti kita bisa sarapan dulu nich,”lanjut wanita yang tadi bertanya.

“Yup, gua juga mau minum kopi dulu,”lanjut Hendra.

Merekapun menuju ke salah satu resto yang berada di area Bandara, dan langsung memesan makanan dan minuman setelah mereka menghempaskan pantat mereka di kursi resto tersebut.

“Tin, kamu sudah mempersiapkan semuanya?,” tanya Hendra kepada salah satu wanita tersebut.

“Sip, beres semuanya boss,”sahut wanita yang dipanggil Tin.

“Kalau kamu, An,” tanya Hendra ke wanita yang satunya lagi.

“No problem everything under control,”sahut wanita tersebut dengan logat dicadelkan pada saat menyebutkan control.

“busyet, dah, Anna…Anna…sepertinya udah lama yach, gak dibawah yang begituan,”kata Hendro sambil tertawa menanggapi gurauan Anna.

Anna yang mendapatkan ledekan dari Hendra tersebut hanya mencibirkan bibirnya sambil kemudian tersenyum.

“kalau iyach udah lama gak dapat begituan, memangnya bossku yang cakep ini mau ngasih,”balas Anna sambil mengedipkan matanya.

“hahahaha….,”Hendra hanya bisa tertawa menanggapi gurauan Anna tersebut.

“kalau kamu sama, Tin,” tanya Hendra ke wanita yang satunya lagi.

“sama apanya?”wanita tersebut balik bertanya ke Hendra.

“itu yang Anna bilang tadi,”lanjut Hendra.

“yang mana, soalnya Anna kan dari tadi ngoceh melulu,”wanita tersebut kembali bertanya.

“Ah dasar Tina, yang suka bermain dengan kata-kata,”Hendra berkata sambil mencibirkan bibirnya.

“hihihihi…bossku yang ganteng ini bisa juga emosi, aku gak suka bermain dengan kata-kata, tapi aku lebih
suka bermain dengan …. Hihihi,”jawab wanita yang dipanggil Tina sambil mencibirkan bibirnya.

“ternyata kalian berdua sama,”Hendra berkata

“Sama apanya?,” sahut Anna dan Tina berbarengan

“Hehehhe…sama ceweknya,”sahut Hendra

“hhmmmmm,”sahut Anna dan Tina berbarengan

Obrolan mereka terhenti saat pesanan mereka tiba, ketiganyapun terlihat menikmati sarapan pagi mereka.

***********

Hendra adalah seorang manajer pemasaran di sebuah perusahaan di Jakarta, Hendra masih bujangan dan saat ini umurnya sekitar 28 tahun, di kantornya Hendra cukup terkenal dikalangan para wanita, Hendra orangnya sangat supel, ia tidak pernah memandang sebelah mata kepada wanita yang punya tampang pas-pasan, mau jelek atau cantik para wanita itu selalu mendapat perlakuan sama oleh Hendra saat mereka berbicara dengannya.

Tubuhnya yang sekitar 175cm, dengan dada bidang, betul-betul Hendra menjadi dambaan para wanita dikantornya, yang jelek, yang cantik, yang single dan yang sudah bersuamipun selalu senang saat berbincang dengan Hendra, termasuk Anna dan Tina yang kebetulan menjadi bawahannya Hendra, Hendra
selalu membimbing dan membantu mereka dalam hal penjualan, bukan mereka saja seluruh bawahannyapun mendapatkan bantuan yang sama jika mereka meminta tolong kepada Hendra untuk mendampingi mereka dalam hal nego ataupun presentasi.

***********

Anna adalah seorang tenaga penjualan di bawah komando Hendra, sudah 4 tahun Anna menikah tapi sampai saat ini Anna belum dikarunia anak, tubuhnya yang mungil kira-kira 155cm, dengan bagian dada berukuran 34C, dan tonjolan pantat yang cukup besar, Hendra kadang-kadang meledekinya dengan julukan si bebek pada saat Anna berjalan, karena bila Anna berjalan pantatnya selalu bergoyang seperti bebek yang berjalan. Anna yang berwajah cantik dengan diimbangi kulit yang kuning langsat dan mulus membuat mata para lelaki yang menatapnya menelan air liur, seperti saat ini banyak para lelaki yang melirik-lirik kearah Anna untuk menikmati belahan payudaranya. Anna adalah salah satu sales yang paling diandalkan oleh Hendra karena penjualannya yang bagus dan juga karena ia paling mau mendengarkan saran dan kritik dari Hendra. Di usianya yang ke 27 satu tahun lebih muda dari Hendra, Anna terlihat matang dan dewasa, sering ia juga memberikan saran dan kritik kepada Hendra untuk kebaikkan perusahaan.

***********

Tina juga bekerja dibawah naungan Hendra dan termasuk salah satu sales yang juga diandalkan oleh Hendra, berdua dengan Anna mereka selalu silih berganti menjadi top sales, Tina juga selalu mendengarkan saran dan kritik yang dilontarkan oleh Hendra kepada dirinya, perbedaannya dengan Anna adalah Tina masih sendiri dan kulitnya yang berwarna coklat muda, sehingga jika Anna dan Tina berjalan berdua sungguh kontra, Hendra sering meledeki mereka dengan julukan Black & White, tapi kerjasama Anna dan Tina selalu berhasil menggoalkan proyek-proyek yang cukup besar sehingga penjualan mereka berdua selalu jauh diatas rekan-rekan mereka. Usia Tina saat ini baru menginjak 24 tahun, dengan wajah yang manis, sedikit menggoda dan juga dengan postur tubuh yang hanya lebih tinggi sedikit dari dari Anna, mempunyai daya tarik sendiri untuk dipandang, Tina memang tidak mempunyai payudara sebesar Anna, dadanya mempunyai ukuran 32B, tapi tubuhnya lebih ramping dari Anna, dan juga pantatnya Tina tidak sebesar pantat Anna.

***********

Setelah selesai menikmati sarapan mereka, mereka bertiga menuju ke ruang tunggu keberangkatan, untuk menantikan panggilan naik ke pesawat mereka.
Hendra dan kedua anak buahnya ini akan menuju ke Surabaya, untuk pertama kalinya Hendra melakukan perjalanan bisnis ini ditemani oleh anak buahnya, biasanya ia melakukannya sendiri, tapi karena perusahaan mereka mengikuti salah satu pameran yang diselenggarakan di Surabaya, oleh karena itu Hendra mengajak anak buahnya untuk mendampinginya di pameran tersebut, sengaja Hendra mengajak top salesnya untuk mendampingi dengan harapan penjualannya di pameran tersebut akan membuahkan hasil.

Setibanya di Bandara Juanda di Surabaya, mereka dijemput oleh mobil jemputan dari dalah satu hotel bintang lima yang berada di Surabaya, ketiganya memberikan KTP mereka kepada receptionist hotel sesaat
mereka tiba di hotel tersebut.

Setelah mendapatkan kunci, dengan dibantu oleh bell-boy mereka menuju ke kamar masing-masing, kamar
mereka semua berada dalam satu lantai, dan secara kebetulan kamar Hendra bersebelahan dengan kamar Anna dan Tina, jadi posisi kamar Hendra diapit oleh kamar Tina dan Anna.

Setelah merapikan bawaan mereka, mereka bertiga menuju ke area pameran yang memang diadakan di hotel
tersebut, merekapun mempersiapkan plot pameran mereka, tanpa terasa waktupun berlalu dengan cepat, tugas mempersiapkan plot pameran merekapun selesai, Hendra melihat jam di tangannya saat itu waktu menunjukkan pukul 15.00 sore, kemudian ia mengajak Anna dan Tina untuk makan siang di restoran yang ada di hotel itu, selesai makan siang mereka bertigapun beranjak kekamar masing-masing untuk beristirahat.

Hendrapun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tangannya meraih remote TV di samping tempat tidurnya lalu di pilihnya salah satu saluran TV lokal, saat matanya menatap TV, Hendra baru menyadari bahwa kamarnya mempunyai pintu yang berhubungan dengan kamarnya Anna, menyadari hal itu segera matanyapun beralih kesamping tempat tidurnya dan ia juga mengetahui bahwa kamarnya juga berhubungan dengan kamar Tina, dalam hatinya membatin ternyata kamarnya bukan hanya diapit oleh oleh kamar Anna dan Tina tapi juga saling berhubungan, ternyata kamar mereka biasanya selalu digunakan oleh para keluarga yang menginap yang memudahkan untuk mengontrol anak2 mereka.

Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat, jam di tangannya menunjukkan pukul 16.30 sore, setelah mengambil keputusan untuk berenang Hendrapun segera melucuti seluruh pakaiannya dan mengenakan celana renang yang memang ia bawa, Hendra selalu membawa pakaian renangnya bila melakukan perjalanan bisnis karena renang menurutnya selalu dapat meredakan ketegangan otot-ototnya sehabis pertemuan-pertemuan bisnisnya.

Dengan mengenakan jubah mandinya untuk menutupi tubuhnya yang hanya berbalut celana renang saja, Hendrapun beranjak menuju kolam renang hotel yang berada di lantai 4, kolam renang hotel tersebut memang berada di lantai 4 tetapi letaknya di luar, setibanya di kolam renang yang saat itu memang sepi tidak ada penghuni hotel satupun yang berenang, dan tidak ada satupun pelayan hotel yang berada di kolam renang.

Setelah melakukan sedikit pemanasan, Hendra lalu mulai berenang mengelilingi kolam renang tersebut, kolam renang tersebut memang tidak terlalu panjang sehingga Hendra berenang mengelilinginya, Hendra yang sedang asyik menikmati air kolam itu tidak menyadari saat terlihat sesosok tubuh yang berbalut jubah mandi sedang menghampiri kolam renang tersebut, Hendra baru menyadari kehadiran sosok tubuh itu saat ia sedang beristirahat di pinggiran kolam renang tersebut, dan saat kedua matanya ditutup oleh kedua belah tangan sosok tubuh itu.

Hendra terkejut saat kedua tangan tersebut menutup matanya, Hendra berusaha melepaskan kedua tangan yang menutupi matanya dan ia membalikkan badannya untuk mengetahui si empunya tangan yang iseng,

“iseng betul kamu, Tin,”Hendra berkata setelah mengetahui si empunya tangan itu adalah Tina,

“hihihihi…habisnya berenang pake acara ngelamun sich,”jawab Tina geli.

“kamu mau ngapain?,”tanya Hendra

“Yach si Boss pake nanya lagi, orang ke sini yach mau berenang dong masa mau nongkrong,”jawab Tina tersenyum sambil menanggalkan jubah mandinya.

Mata Hendra tidak berkedip saat melihat tubuh Tina yang hanya mengenakan bikini, kemaluannya mulai menggeliat, Hendra melihat kedua payudara Tina yang tidak terlalu besar itu masih mengkal, nampaknya jarang di sentuh oleh tangan lelaki, sementara bikini berwarna putih yang dikenakan Tina sungguh kontras denganw arna kulit Tina yang coklat muda itu, bentuk tubuhnya yang ramping betul-betul pemandangan yang bisa membangkitkan gairah lelaki yang menatapnya.

“Eh…pak Hen, sudah-sudah itu matanya, iihh..serem kaya mau nerkam aja, hihihi,” kata Tina saat ia menyadari mata Hendra yang tidak berkedip saat menatapi tubuhnya.

“Eh..eh…eh…siapa yang ….,”jawab Hendra terbata-bata.

“Hihihihi…mau gak ngaku, iihh…,”Tina berkata sambil melangkahkan kaki memasuki kolam renang.

Hendra hanya dapat terdiam malu karena ketahuan, tapi tubuh Tina yang indah dan sexy itu sangat sayang untuk dilepaskan oleh kedua matanya, sesekali ia mencuri-curi pandang untuk melihat bongkahan payudara Tina, saat itu Tinapun sudah berada disampingnya, dan sebetulnya Tina sudah mengagumi tubuh Hendra yang tegap dan mempunyai dada yang bidang, Tina membayangkan seandainya tubuh itu mendekapnya erat-erat, alangkah indahnya dunia ini.

Mereka berdua berdiri berdampingan di pinggir kolam renang, sudut mata Tina melirik ke tubuh Hendra dan
Tina melihat tonjolan di balik celana renang Hendra, air kolam renang yang sedang tenang itu tidak dapat menutupi tonjolan di selangkangan Hendra apalagi ketinggian air di pinggiran kolam tersebut hanyalah sebatas pinggang Hendra, Tina tersenyum melihat hal itu.

“Pak…ayo kita berenang lagi,” ajak Tina memecahkan kesunyian.

“Eh..eh…ayoo…tapi kita berenangnya memutari kolam renang ini,”jawab Hendra

Kemudian Hendra mendahului berenang yang lalu diikuti oleh Tina, keduanya berenang memutari kolam renang tersebut, setelah 4 putaran Tina kemudian berhenti di salah satu sudut yang ada tangga-tangganya, sementara Hendra tidak mengetahui bahwa saat itu Tina sudah berhenti berenang, ia masih terus melanjutkan putarannya.

Saat itu Tina yang sedang beristirahat dengan duduk di tangga sementara tubuhnya masih terendam di dalam kolam, dengan kedua sikunya bertumpu di anak tangga dan tubuhnya sedikit rebah, melihat Hendra yang saat itu melintas di tempat ia beristirahat, Hendra masih asyik berenang memutari kolam renang tanpa menyadari bahwa Tina sudah tidak berada di belakangnya lagi, timbul niat iseng Tina, kemudian Tinapun menunggu kedatangan Hendra melintas di tempat istirahatnya tersebut.

Tempat istirahat Tina yang memang agak tersembunyi tidak terlihat dari arah jalur Hendra berenang dan juga tidak terlihat dari arah manapun apalagi dengan banyaknya pepohonan yang berada di pinggiran kolam renang, saat itu Hendra yang masih asyik berenang mulai melewati tempat istirahat Tina, Tina yang melihat Hendra sedang berenang melintasi tempatnya dengan tersenyum nakal, Tina menerkam punggung Hendra, kedua tangannya dengan sigap segera memeluk leher Hendra, Hendra yang mendapatkan terkaman itupun terkejut dibuatnya, tubuhnya tenggelam kedalam kolam renang, untungnya daerah tersebut tidaklah terlalu dalam hanya setinggi pinggang Hendra, tapi serangan mendadak Tina cukup membuat Hendra gelagapan mencoba untuk berdiri, apalagi kedua kaki Tina yang menggaet pinggangnya, cukup membuat Hendra kesulitan untuk berdiri.

“Gila…uhuk..uhuk…Tin, mau bikin gua mampus yach,”Seru Hendra terbatuk-batuk saat ia berhasil berdiri.

“hihihihi…masa segitu aja tenggelam..kan cetek,”bisik Tina sambil ketawa geli di telinga Hendra.
Hendra yang merasakan nafas Tina di telinganya jadi merinding, dan juga ia merasakan payudara Tina menempel erat di punggungnya, kemaluannya perlahan-lahan mulai menggeliat.

“Ayo..turun…Tin, seperti anak kecil aja, nemplok di punggungku,”kata Hendra sedikit terengah-engah entah
karena masih kaget atau karena nafsu birahinya yang mulai terangsang.

“Gak mau aaahhh…mau di gendong,”jawab Tina manja, sambil tubuhnya naik turun seolah-olah anak kecil yang lagi ngambek minta digendong.

Hendra merasakan payudara Tina menggeser-geser punggungnya, nafsu birahinya semakin menjadi, kemaluannya semakin mengeras, tonjolan di celana renangnya semakin terlihat nyata, hal ini dirasakan oleh Tina yang saat itu kakinya sedang mengait pinggang Hendra, kedua kakinya yang melingkar itu merasakan sesuatu yang keras di selangkangan Hendra, Tinapun tersenyum mengetahui bahwa batang kemaluan Hendra sudah menegang.

“Ayoo…mundur…ccckkkk….cckkkk…,”Tina berkata seolah-olah ia sedang menaiki kuda, tubuhnya dengan sengaja semakin ia tempelkan ke tubuh Hendra.

“Memangnya gua kuda yach…pake…ckck segala,”Hendra meradang sambil merasakan lesakan payudara Tina dipunggungnya yang semakin menempel dengan erat.

Saat posisi tubuh Hendra sudah berada dekat dengan anak tangga, Tinapun melepaskan kaitan tangan dan kakinya, kemudian ia duduk sambil sedikit merebahkan tubuhnya bertumpu dengan kedua sikunya disamping kiri dan kanan tubuhnya, posisinya seolah-olah menantang Hendra untuk menerkamnya, sementara itu Hendra yang merasakan kaitan tangan dan kaki Tina lepas membalikkan tubuhnya dan melihat tubuh Tina yang sedang duduk dan agak sedikit rebah serta payudaranya yang membusung kedepan seolah-olah menantang untuk di remas-remas, Hendrapun menelan air liurnya melihat semua itu, kemaluannya semakin menegang, celana renangnya hampir tidak dapat menutupi geliat batang kemaluannya, Tina melihat kepala kontolnya Hendra sedikit menyembul dari celana renangnya.

“Hihihihihi…pak Hen, malu tuch si otongnya nyembul,”Tina tertawa genit.

“Gara-gara kamu nich, punyaku jadi mau keluar, ayo kamu harus tanggung jawab,”jawab Hendra yang menyadari kepala kontolnya mencoba keluar dari jepitannya.

“hihihihi…enak aja…masa gara-garaku…dia-nya aja yang ganjen,”sahut Tina sambil meleletkan lidahnya.

“eh..jelas-jelas gara-gara kamu, yang nemplok di punggungku, pake gesekin teteknya ke punggungku, jadi aja si otongku bangun, sekarang ayo tanggung jawab,”Hendra berkata sambil menghampiri Tina yang sedang duduk itu, sehingga selangkangannya tepat berada di hadapan Tina.

“Hhmmmm….hihihihihihi…ya udah salahku..dech…maaf…tapi jangan terlalu dekat begini dong, tuch si otongnya tambah kelihatan dech, sepertinya si otongnya minta keluar tuch….hihihihihi…,”kata Tina sambil tertawa geli melihat kepala kontolnya Hendra yang tersembul dari celana renangnya seolah-olah minta keluar.

“Biarin biar tambah kelihatan sama kamu, suruh siapa si otong lagi tidur kok disuruh bangun,”sahut Hendra sambil tetap tidak bergeming dari posisi berdirinya.

“Hihihihi…pak Hen, genit ach… iiihhh.. masa gak malu si otongnya kelihatan, kan aku udah minta maaf…,”kata Tina sambil tetap tertawa geli, tangan kanan Tina berusaha menutupi kedua matanya agar tidak melihat kepala kontolnya Hendra yang sedang menyembul itu.

Tapi dengan cepat Hendra meraih tangan Tina tersebut agar tidak bisa menutupi wajahnya, begitu pula dengan tangan kiri Tina yang mencoba menggantikan tangan kanannya untuk menutupi wajahnya, kedua tangan Tina sekarang berada dalam cengkraman Hendra, sehingga membuat tubuh Tina yang tadinya sedikit rebahan menjadi tertarik kedepan sehingga kepala Tinapun tepat sekali berhadapan dengan selangkangan Hendra, sementara itu Tina yang sedikit kaget dengan gerakan Hendra, ia agak sedikit terkejut, apalagi sekarang ini jarak antara bibirnya dengan kepala kontolnya Hendra sangat dekat sekali, nafsu birahinya semakin meninggi, nafasnya memburu, Tina yang sudah terangsang saat payudaranya bergesekan dengan punggung Hendra, semakin terangsang dengan semakin dekatnya Tina melihat kepala kontolnya Hendra itu.

“pak..Hen…aaahhh…pak..ini si otongnya sudah terlalu dekat dengan bibirku…mundur…pak..nanti ada yang lihat..,”kata Tina dengan nafas yang memburu.

“heeh..suruh siapa kamu kasih bangun naga yang sedang tertidur, gak ada orang yang lihat, hehehehe…tempat ini gak terlihat dari arah manapun kecuali kalau ada yang berenang…,”Hendra menjawab sambil tetap memegangi kedua tangan Tina.

“iiihhh..pak Hen, ngotot…memangnya mau di apain si otongnya, hihihi…gimana kalau kujilatin aja yach,”sahut Tina genit sambil lidahnya mulai menjulur kearah kepala kontolnya Hendra.

Hendra sama sekali tidak menyangka Tina akan berani menjilati kepala kontolnya, padahal kalau tadi Tina masih menolak untuk bertanggung jawab, ia akan melepaskan pegangannya di kedua tangan Tina, tapi Hendra menikmati jilatan-jilatan Tina di kepala kontolnya, matanya merem melek menikmati jilatan Tina tersebut, kedua tangannya tidak memegangi tangan Tina lagi tapi meremas-remas rambut Tina, Tina yang kedua tangannya terlepas semakin bertambah nakal, ikatan celana renang Hendra dilepaskannya kemudian batang kemaluan Hendra dikeluarkan dari celana renangnya sehingga batang kemaluan Hendra terpampang seluruhnya, di jilati batang kemaluan tersebut sambil kadang-kadang mulutnya menyelomoti batang kemaluan Hendra tersebut, tentu saja tingkah Tina ini semakin membuat Hendra terangsang, kontolnya semakin mengeras.

“Ooghhh… Tin…. ooooooghhh… enaaakk… selomotanmu enaaakk…Tin,”Hendra mengerang lirih.

“Hhhmmm…sslrrrppp…hhhmmmm…ssslrrrrrpp…kontolmu besar pak Hen,”Tina bergumam sambil tetap mengulum-ngulum kontolnya Hendra.

Hendrapun tidak mau diam saja menerima serangan Tina di kemaluannya, tangan kanannya mulai menyerang payudara Tina, kedua payudara Tina bergantian diremas-remasnya, kedua putingnya pun silih bergantian dipilin-pilin oleh jemari Hendra, nafsu birahi Tinapun semakin bertambah, nafasnya semakin memburu, selomotannya semakin bertambah gila, tapi Hendra tidak mau kontolnya menyemburkan sperma hanya dengan selomotan Tina saja tapi ia juga ingin merasakan lubang vagina Tina menjepit kontolnya, dan juga karena posisi mereka yang saat ini sedang berada di kolam renang, maka Hendra segera menghentikan Tina yang sedang menyelomoti kontolnya dengan penuh nafsu.

“Sssstttt…Tin, kita lanjutkan dikamar saja….gak bebas disini…tar ada yang lihat,” kata Hendra sambil menarik kontolnya dari cengkraman tangan dan mulut Tina.

“Iiihhh..pak Hen…nanggung, kita lanjutkan disini ajah, hitung-hitung sport jantung juga…hihihihi…kalau ada yang lihat paling juga pengen ikutan…,”Tina berkata dengan genit sambil membetulkan bikini bagian atasnya yang tadi terkuak karena ulah tangan Hendra yang beraksi di payudaranya.

Kemudian keduanya segera beranjak meninggalkan kolam renang tersebut, sambil tidak lupa mengenakan jubah mandi mereka, di dalam lift keduanya berciuman dengan penuh nafsu, lidah mereka saling menari-nari bergantian didalam rongga mulut mereka berdua, ciuman nafsu mereka terpaksa berhenti saat lift berhenti di lantai dimana kamar mereka berada.

Setelah mereka berada di kamar Hendra dan Hendrapun mengunci pintu kamar, Hendra kemudian dengan penuh nafsu mulai mencumbu Tina, mulut mereka berpagutan dengan penuh nafsu, nafas keduanya memburu, lidah keduanyapun silih berganti menari di rongga mulut mereka, air liur mereka telah menjadi satu, jubah mandi yang menutupi tubuh mereka sudah tergeletak di lantai, kedua tangan Hendra mulai meremas-remas payudara Tina, dan kedua putingnya pun tidak luput dari serangan Hendra, desahan-desahan Tina terdengar saat mulut mereka berpagutan dengan erat, tubuh Tina menggelinjang merasakan geli saat kedua payudaranya di remas-remas oleh Hendra.

“hhhhmmmm…ssslrrppp….hhhmmmm….sllrrrppp….,”desah Tina.

Tinapun tidak mau pasrah menerima serangan Hendra, kedua tangannya mulai merayap mengarah ke selangkangan Hendra, kontolnya Hendrapun dikeluarkan dari bekapan celana renangnya, tangan kanan meremas-remas dan mengocok-ngocok batang tersebut, sementara tangan kirinya meremas-remas biji pelernya, Hendrapun mendesah keenakan akibat permainan tangan Tina, iapun semakin bernafsu menciumi Tina dan meremas-remas kedua payudara Tina.

“hhhmmmmm….sslrrrppp…hhmmm…sslrrrppp,”Hendrapun mendesah.

Sambil menikmati remasan-remasan tangan Tina di kemaluannya, kedua tangannyapun semakin gencar melancarkan serangan di kedua payudara Tina, tubuh Tina yang bersandar di tembokpun semakin menggelinjang kegelian mendapat serangan gencar Hendra, tapi kedua tangannya tidak mau melepaskan genggamannya di kemaluan Hendra, tangannyapun semakin aktif mengocok-ngocok kontolnya Hendra tersebut, remasan-remasan tangannya di biji pelernyapun semakin gencar, kedua insan yang sedang dilanda birahi ini saling serang.

Mulut Hendra mulai beralih menelusuri leher Tina, jilatan-jilatan Hendra di lehernya membuat Tina semakin menggelinjang antara geli dan enak, sementara tangan Hendra mulai merayap turun kebawah, bikini Tina mulai dilucutinya, tali temali yang mengikat bikini di sebelah kiri dan kanan pinggulnya dilepaskannya, sehingga bikini tersebut meluncur turun ke lantai, tangan kanannya langsung mengarah ke bibir vagina dan kelentitnya Tina, Hendra merasakan vagina Tina sudah basah akibat nafsu birahinya yang menggelegak, tangannya mulai aktif mengelus-ngelus itilnya Tina, Tinapun mengerang dan merintih keenakan.

“Ooohhhh….pak Hen, …Ooohhh… terus… terus…elus itilku…hisap..hisap..tetekku.. oohhh…pak Hen…..hhhmmm…. oooohhh,”Tina merintih-rintih keenakan akibat ulah tangan Hendra di itilnya ditambah dengan serangan mulut Hendra dipayudaranya.

Tangan Tinapun terlepas saat Hendra mulai menciumi dan menjilati payudaranya, posisi tubuh Hendra yang agak sedikit membungkuk mengakibatkan hal tersebut, dengan terlepasnya batang kemaluan Hendra dari genggaman tangannya, Tina hanya bisa menerima dan menikmati serangan Hendra di payudara dan kemaluannya.

Hendra semakin gencar menciumi, menjilati dan menghisap-hisap kedua buah payudara Tina bergantian kiri dan kanan, kedua putingnyapun tak luput dari serangan Hendra, yang kiri ia hisap dan jilati yang kanan ia pilin-pilin dengan jemari tangannya, dan saat yang kanan ia jilati dan hisap-hisap giliran yang kiri mendapatkan pilinan dari jemari tangannya, kemudian Hendra menambahi serangannya dengan mengelus-elus kelentit dan bibir vagina Tina, Tinapun semakin merintih-rintih keenakan.

“Oooohhh….sssshhhh…aaachhh…pak Hen, teruss…pak Hen, oooohhh… sssshhh …puaskan aku…ooohhh…pak Hen….ssshhhh…aaaachhhh…,”Tina merintih-rintih keenakan.

Remasan tangan kiri Hendra di payudara kanannya dan ditingkahi dengan pilinan-pilinan di putingnya, disertai dengan hisapan-hisapan mulut Hendra yang menyerang payudara sebelah kirinya, ditambah dengan serangan tangan kanan Hendra yang bermain di kelentitnya, membuat vagina Tina semakin basah oleh cairan birahinya, tangan Hendrapun menjadi basah oleh cairan birahi Tina itu, Hendrapun mulai melesakkan jari tengahnya kedalam rongga vagina Tina, aksi Hendra membuat Tina sedikit terhenyak, jari tengah Hendra mulai menekan bagian dalam yang vagina Tina yang terletak dibelakang kelentit Tina sementara jempolnya mengelus-ngelus kelentitnya, Tina semakin meradang karena nafsu birahinya yang semakin memuncak, vaginanya semakin basah dan mulai membanjiri tangan Hendra.

“ssshhhh… aaahhhh….ssshhh…aaahhh…sshhh…aaahhh….paakk…Heeeenn n ,” erangan Tina semakin menjadi.

“Ssshhh…sudah…sudah…pak Hen…aakuu…gak kuat lagi…cepat..masukin kontolmu yang besar …pak…memekku…pengen ngerasain….kontolmu..itu… ooohhh..pak…jangan siksa..aku…aaachhh…pak…cepat.tusuk aku…,”Tina merintih-rintih.

Tinapun melepaskan diri dari serangan Hendra, dengan cepat ditariknya batang kemaluan Hendra sambil berjalan kearah tempat tidur lalu Tina merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, Hendra yang ditarik kontolnya itu terpaksa mengikuti gerakan Tina, Tina yang sudah tidak sabar ingin merasakan lesakan batang kemaluan Hendra segera mengarahkan batang kemaluan tersebut ke lubang vaginanya, dioles-oleskannya batang kemaluan Hendra di bibir vaginanya, Hendra menggigil saat kontolnya bersentuhan dengan itil dan bibir vagina Tina, Tinapun lalu menyelipkan kepala kemaluan Hendra di bibir vaginanya,

Sleeeepppp… kepala kontolnya Hendrapun terjepit di lubang vagina Tina.

“Ooooohhhh….pak Hen…tekaann..kontolmu…cepat..pak Hen..aku ingin merasakan memekku disodok-sodok..kontolmu yang besar itu…..,”erang Tina yang menyuruh Hendra untuk melesakkan kontolnya kedalam lubang senggamanya.

Tanpa menunggu Tina mengulangi permintaannya Hendra mulai mendorong masuk kontolnya kedalam rongga persenggamaan Tina, Tina terhenyak saat batang kemaluan Hendra mulai melesak masuk kedalam lubang senggamanya,

Bleeeesssss……

“Aaaaghhhh….kontolmu besaar sekaliii…pak Hen, ooohhhh..pelaaannn….aaaghhh. robek memekku….,”Tina
menjerit merasakan sakit pada lubang vaginanya.

“memekku memang udah robek….Tin, kamu bukan perawankan?,”Hendra bertanya

“Bukaannn…tapi kontolmu pak Hen, besar sekali…aaaaghhh…punya pacarku..tidak sebesar punyamu…oooghhhh…pelan..pelann…pak Hen,”Tina menjawab sambil merintih.

Bleeeessss…. Kembali Hendra mendorong kontolnya masuk lebih dalam kelubang vagina Tina

“Pak Heeennn…oooghhhh..memekku…sakit…kontolmu sich besar sekali… aacchh. Pak Hen… sakiiittt tapi enaaakkk...,”Tina kembali merintih.

Hendra mendorong lebih dalam kontolnya ke dalam lubang senggama Tina,

Bleeesssss…… kontolnya Hendra sudah separuhnya masuk di dalam lubang memek Tina.

Tinapun semakin merintih kesakitan dan keenakan merasakan memeknya yang penuh oleh kontolnya Hendra.
Hendra merasakan sempitnya lubang vagina Tina yang menejpit sangat erat pada kontolnya, ia juga merasakan dinding lubang vagina Tina berdenyut-denyut dengan kuat.

Hendra mendiamkan sebentar kontolnya dalam jepitan lubang vagina Tina, tubuh Tina ia rengkuh dalam pelukannya, bibirnya memagut bibir Tina dengan penuh nafsu yang disambut oleh Tina juga dengan penuh nafsu, lidah Hendra menyeruak masuk ke dalam rongga mulut Tina, mencari lidah Tina, lidah keduanya saling bertautan dan saling bersentuhan, sambil asyik berciuman, Hendra mulai mendorong masuk lagi kontolnya kedalam lubang vagina Tina.

Bleesssssss…… dan Bleeeesssssss…..

Hentakan terakhir Hendra berhasil membenamkan seluruh kontolnya tenggelam dalam lubang senggama Tina, membuat mata Tina membelalak sehingga hanya matanya nampak putihnya saja, Tinapun menggigit bibir Hendra menahan sakit akibat lesakan kontolnya Hendra di lubang memeknya.

“Hhhmmmm….hhhmmmm….hhhmmmmm…hhhmmmmm…,”Tina bergumam antara sakit dan enak sambil mengigit bibir Hendra.

Tina membuka kakinya lebar-lebar untuk mengurangi sakitnya dan kemudian kedua kakinya itu ia kaitkan dibelakang pinggang Hendra, sementara itu Hendra mulai menarik perlahan-lahan kontolnya dari jepitan lubang memek Tina, dan melesakkannya lagi perlahan-lahan,

Ssssrrrtttt…. Bleessss…. Sssrrrrtttt… bleesssss… sssrrttttt…bleeesss..

Gerakan keluar masuk kontolnya Hendra sangat perlahan-lahan akibat peretnya memek Tina, Hendra merasakan betul kuatnya cengkraman dinding vagina Tina, perlahan tapi pasti gerakan keluar masuk kontolnya itu mulai sedikit lancar akibat semakin banyaknya getah bening yang keluar dari memek Tina dan dari kontolnya, yang membuat kontolnya semakin gampang keluar masuk di lubang memek Tina.

Tinapun mulai dapat lebih menikmati genjotan-genjotan Hendra, memeknya sudah dapat menyesuaikan dengan besarnya batang kemaluan Hendra, dari mulutnya yang masih asyik berciuman dengan Hendra mulai keluar erangan-erangan keenakan.

“Hhhmmm… ssslrppp… pak Hen…kontolmu,...ssslrpp…hhmmm..enak…besar… hhmmm…ssslrrpp….puaskan aku…ooohhh…hhmmm sslrrrppp..,’ Tina mengerang-ngerang.

“Oooghh…hhmmm…ssslrrrppp…memekmu sempit sekali…ssslllrrppp… peret… kontolku ssslrrrppp…. Kaya diremas-remas….hhhmmm…,”Hendrapun mengerang keenakan.

Batang kemaluan Hendra semakin gencar keluar masuk di lubang memek Tina, terlihat bibir memek Tina ikut keluar masuk seiring dengan keluar masuk kontolnya Hendra, tangan Tinapun semakin kuat mencengkram punggung Hendra saat menikmati persetubuhan ini. Erangan keenakan keduanyapun semakin sering terdengar,

“Pak…Hen….oooohhh…puaskan aku….ooohhhh….aaacchhh….pak Hen…akkkuu. Mau keluar…pak Hen….ooh… enaknya dientot kamu….kontolmu besar sekali… pak Hen….tekan yang dalam….ooohhh..pak Hen….tekaaannnn yang dalammm… pak… aaakuu…mau keluar…,”Tina mengerang-ngerang merasakan puncak kenikmatannya yang hamper ia capai.

“Sebentar…aaku…juga mau keluaar…kita barengann ooogghhhh…enaknya memekmu ini…Tin, ooooghhh…peret….seret…aaagghhhh…. aaakuu….mau.. keluar …Tinaaaaaa….oooghhhh,”Hendrapun mengerang keenakan.

Dan,

Cccrreeeetttt….. sssssrrrrr…. Ccreeeettt… ssssrrrr… creeeettt…. Sssrrrrrr…

Hampir bersamaan kedua kemaluan mereka saling menyemprotkan lahar kenikmatannya, Hendra merasakan semburan hangat pada batang kemaluannya sementara Tina merasakan terjangan hangat sperma pada dinding ujung rahimnya.

Hendra mendiamkan batang kemaluannya dalam genggaman lubang memek Tina, sampai batang kemaluannya meneteskan tetes terakhir spermanya, sambil menciumi Tina dengan lembut dan mesra yang dibalas dengan pagutan dan ciuman lembut oleh Tina yang juga sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan persetubuhan mereka, perlahan-lahan kontolnya Hendra mulai menciut dan terlepas dengan sendirinya dari jepitan memek Tina seiring dengan itu terlihat aliran lahar putih mulai mengalir keluar dari lubang memek Tina.
Hendra membaringkan tubuhnya disamping tubuh Tina sambil tersenyum puas, begitupula dengan Tina diwajahnya terukir senyum puas.

Pertarungan mereka berlanjut sampai subuh, berbagai gaya mereka coba, mereka berdua berhasil merengkuh kepuasan berkali-kali, sampai tubuh mereka lemas.

Tamat

Cerita Dewasa : Novi yang Cantik

Cerita Dewasa : Novi yang Cantik - Sekarang saya kuliah di perguruan tinggi swasta di Bandung. Pengalaman ini saya alami 1 tahun yang lalu tepatnya Oktober 2001.

Saya termasuk anak yang pandai bergaul. Tapi sayang kebanyakan teman saya di kuliahan rata-rata pria. Hal ini dikarenakan pacar saya 1 kelas dengan aku. Jadi sulit untuk melihat kesana dan kesini. Saya pacaran pacar saya (sebut saja namanya Ina) saat itu hampir 5 tahun, tapi sekarang kita udah putus.

Cerita Dewasa : Novi yang Cantik

Kami pacaran dari SMU, dan hubungan suami-istri sudah sering kami lakukan.
Hingga suatu saat pada bulan september saya bertemu dengan teman lama di sma dan satu kuliahan dengan saya. Sebut saja namanya Novi. Saat smu novi termasuk anak yang paling cantik di sekolah. Suatu kebanggaan bagi kaum pria jika berhasil berteman apalagi menjadi pacarnya. Tapi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi temannya. Dalam berteman ia selalu memilih-milih, apalagi dalam menjadi pacar. Saat itu pun aku tidak berhasil menjadi temannya.
Wajar jika dia tidak mau berteman dengan ku karena aku hanya cowok biasa yang mempunyai tampang biasa juga.

Novi adalah cewek idola disekolah kami. Hampir semua anak dari kelas 1-3 mengenal dia. Dia termasuk anak orang kaya dan pintar. Kalau dibilang ukuran tubuhnya hampir mendekati sempurna ditambah dengan adanya tahi lalat di bawah bibir. Bibirnya tipis dan ukuran dadanya pun ditaksir kira-kira 34B. ditambah dengan badannya yang ideal dan kulitnya yang kuning bersih.

Kejadian ini terjadi pada awal september, saat saya bersama dengan Ina hendak makan siang di belakang kampus. Tidak sengaja kami berdua berpapasan dengan Novi. Kami pun senyum duluan dan sesudah itu dibalas dengan senyuman dan ucapan oleh Novi. “Masih awet yah dari sma”? katanya. Kami hanya membalas ucapan dia dengan senyuman saja. Melihat body nya yang aduhai membuat saya ingin memiliki dia, tapi mana mungkin pikir ku.

Keesokan harinya saya terlambat kuliah dan tidak diijinkan masuk oleh dosen, karena saya terlambar lebih dari 15 menit. Dengan kesal saya memaki-maki dosen dalam hati, karena jarak dari rumah ke kuliahan cukup jauh. Tidak sengaja ketika turun dari tangga saya melihat Novi sedang duduk di teras sendirian. Saat itu saya memberanikan diri untuk menyapa dia, mumpung gak ada Ina. Saya langsung duduk disebelah Novi dan berkata, “ga ada kuliah vi”? tanyaku. Novi langsung menjawab “ga ada dosen tuh”? “kamu sendirian, mana Ina”? tanya dia. “ga ada, aku sendirian”. Saat itu ga sengaja aku ngelihat ke bagian dadanya sebentar. Ya ampun, antara kancing atas dan bawahnya sedikit kebuka dan kelihatan bentuk dadanya yang kuning bersih. Saat itu aku langsung melihat mukanya lagi sambil jantung ini berdetak lebih keras, dan kamipun melanjutkan pembicaraan kira-kira 1/2 jam lamanya.

Setelah itu saya masuk kuliah jam 09.30. Di dalam kelas saya tidak bisa kosentrasi belajar, pikiran selalu tertuju pada muka dan dada Novi yang kenyal. Dalam hati ku berfikir, gimana caranya tuk dapatin Novi dan bodinya. Selama 1 jam aku berfikir terus, dan aku mulai dapat ide tuk deketin dia. Setelah itu kususun rencana serapi mungkin agar gak kelihatan kalo semua itu sudah aku atur.

Pulang kuliah gak sengaja aku ketemu dengan Novi. Dia sedang melihat papan pengumuman. Aku diam sebentar karena ku akui aku juga grogi setengah mati. Setelah agak tenang sedikit aku mulai mendekati dia. “Hei, lagi ngapain?” tanyaku. “hei, ketemu lagi, lagi liat pengumuman nih.” Jawab dia. “eh vi, tau gak jalan pasir pogor dimana?” tanyaku. Sebenarnya aku sudah tahu dimana jalan pogor itu. Sengaja aku pilih jalan itu karena jalan pasir pogor melewati rumahnya dulu.

“Kalo ga salah di deket Ciwastra deh? Emang mo ngapain kesana?” jawab dia. Wah kena juga nih, pikir ku. “mo ketemu temen aku di sana, Cuma ga tau jalannya kemana. Kalo ga salah rumah kamu di daerah Ciwastra kan?” pancing aku. “iya, emang kenapa?” “Anterin donk kesana, ntar aku anter balik dech ke rumah kamu”. “gimana yah, soalnya temenku ada yang mo nganterin balik, tapi ya udah dech aku ngomong bentar ama temen aku, kamu tunggu aja di kopma yah?” jawab dia. Wuihh, rencana ku berhasil nih.

Tidak sampai 10 menit Novi menghampiri ku yang sedang duduk bersama temenku. “ayo, mau balik sekarang?” dengan gesit aku berdiri dan pergi bersamanya. Temanku hanya bengong, karena tidak menyangka aku akan jalan bareng ama Novi. Kami pergi menuju tempat parkir mobil, karena aku saat itu memakai mobil Feroza.

Di tengah perjalanan kami hanya berbicara mengenai masa sma dan mengenai ina. Tapi setiap pembicaraan mengarah pada Ina, aku selalu bilang kalo aku sudah putus dari Ina. Dan aku bilang ama Novi supaya jangan ungkit-ungkit masalah Ina lagi. Mobil sengaja kuperlambat supaya aku dapat bicara lebih lama dengan dia. Dan saat itu, kancing baju atasnya terbuka dan dia duduk sambil miring ke pintu mobil. Sehingga kelihatanlah BH nya yang berwarna hitam. Aduh ma, ucapku. Ngga terasa kontolku sudah mengeras. Ku coba diam sejenak, karena kalau salah sedikit sikapku maka gagal juga tuk dapetin bodinya.

Setelah ditunjukin jalan pasir pogor, aku pun mengantarnya balik. Sesampai nya didepan pintu rumah yang lumayan mewah, ia berkata sambil tersenyum. “makasih yah, dah mo nganterin. Mo masuk dulu ga ke rumah?” wah kesempatan nih pikirku. Tapi rencana sih harus tetap kujalanin. “ga deh vi, makasih. Lain kali aja yah, aku mesti ke pasir pogor lagi nih. Oh ya, besok balik jam berapa? Bareng yuk?” pancing aku. “Besok aku balik jam 9.30, ya udah kalo mau nganterin tungguin di papan pengumuman besok yah?” wah, rencana pertama aku sukses nih. Tinggal jalanin rencana ke 2.

Besoknya aku sudah stand by di papan pengumuman. Dan tak lama kemudian novi datang menghampiriku. “mo nganterin lagi nih, kalo mau sekarang aja”, tanyanya. “ayo dech sekarang aja”. Jawabku. Dalam hati ini juga deg-degan banget. Bukan karena mau jalan ama Novi, tapi takut ketahuan ama Ina. Wah bisa berabe nih urusan kalo ketahuan. Akhirnya kamipun pulang samaan. Di tengah perjalanan pulang kami ngobrol sampai terbahak-bahak. Memang aku pintar untuk membuat orang lain ketawa, dan kuakui itulah kelebihan ku dalam menaklukan hati wanita. Ditengah tawa kami akupun mulai bertanya kesukaan dia? Saat itu terpikir oleh ku untuk mengajak dia berenang, karena dengan berenanglah aku dapat melihat bodinya secara langsung. Memang Novi selama di smu tidak pernah 1 kali pun ikut pelajaran berenang, entah kenapa? “mau kemana lagi ntar habis nganterin aku?” “Aku mau berenang nih vi, kamu bisa berenang gak?” pancing aku. “gak bisa nih” jawab dia.

“Ya udah, kamu mau berenang samaan ga ama aku, ntar aku ajarin dech” jawab aku. “tapi aku gak punya baju renang, soalnya aku gak suka renang sih”! Katanya. “yah kamu cari dulu donk, ntar kalo ga ada kan beda urusannya lagi, jadi besok jam 2 sore yah?” tanyaku. “iya deh jam 2 sore jemput aku di rumah yah” jawabnya. Sesudah itu aku anterin dia balik kerumahnya. Sesudah itu aku hanya tertawa kecil dan menggumam, “udah kena perangkap aku nih, tinggal rencana ke 3 nih besok. Wah, udah kebayang bentuk dadanya, pahanya dan sentuhan tangannya saat aku ajarin dia berenang besok, terlebih tangannya di tumbuhin bulu-bulu halus”.

Besoknya kamipun pergi berenang samaan ke pemandian Cipaku. Saat ganti baju aku sudah membayangkan bentuk dadanya, pahanya yang putih dan lain-lainlah pikiran ku saat itu. Saat ketemu hati ku langsung berdetak lebih kencang, karena Novi yang ada di depanku sekarang sedang memakai baju renang. Dan dadanya mulai kelihatan sedikit menyembul ditambah dengan pahanya yang indah banget. Suerr, kontolku saat itu langsung tegang terlebih dia menggandeng tanganku menuju tempat penyimpanan tas di samping kolam renang.

Sesudah itu aku pun langsung masuk ke kolam renang dan disusul oleh dia. Dan saat itu mulai aku mengajari dia sebatas aku bisa. Saat memegang tangannya terasa jantung berdetak lebih cepat. Tangannya halus banget. Ditambah senyuman bibirnya yang tipis dan merah. Hampir 1/2 jam aku mengajari dia berenang. Tapi kontol ini masih tegang terus. Pada saat aku sedang mengajari dia berenang tak senggaja dia menyenggol batang kemaluanku karena saat itu aku sedang mengajari dia gaya katak. Aku malu banget, karena takut dipikir novi, belom apa-apa sudah tegang duluan. Tapi aku coba buang pikiran itu jauh-jauh.

Saat itu aku sudah tidak bisa mengendalikan diri lagi. Dengan sengaja saat dia hampir tenggelam sengaja aku peluk dan dekatkan kontolku di depan atau di belakang dia. Dan dengan sengaja juga aku mencoba agar tanganku sekali-kali mengenai dadanya dia. Rencana ku berhasil, kami semakin akrab saja. Tapi aku ngga tahu, apa mungkin ia suka ama aku, atau hanya sebatas teman. Kami berenang hampir 2 jam.

Sesudah itu aku terlebih dahulu mengajaknya pulang karena hari hampir malem jam 6 malam. Kami makan di hoka-hoka bento yang ada di jalan setia budi. Dan dalam perjalanan pulang pun kami masih tertawa bersama. Dalam hatiku berkata, sebentar lagi kamu masuk dalam pelukan ku vi! Sesampainya di rumah novi, ia mengajak aku masuk supaya minum the dahulu. Kesempatan ini tidak ku sia-siakan lagi. Inilah rencana akhirku. Aku masuk dan duduk disebelah dia sambil posisi 1/2 tidur. 15 menit kami mengobrol. Otak ku berputar terus saat kami ngobrol bersama. Dalam pikiran ku, gimana aku dapat menyentuh dia, sedangkan dari novi tidak ada sinyal sama sekali pada ku.

Sampai pukul 7.20 aku masih terdiam. Sampai suatu saat Novi bertanya padaku. “maaf yah kalo ini nyakitin kamu, cuma aku mau nanya. Kenapa kamu kok bisa sampai putus dari Ina, kan dia orang nya baik banget”. Wah dengan pertanyaan itu aku mulai dapat ide lagi. “ga tau deh vi, aku juga bingung. Aku ngerasa kita ngga cocok lagi dech”. Kataku. Dengan perasaan sedih aku coba genggam tangan dia sambil berkata,”tapi kamu jangan bilang siapa-siapa kalo aku sama Ina udah putus yah, please..” Ya ampun aku deg-degan banget saat itu, tapi aku coba bersikap tenang. Dia cuma diam saat aku pegang tangannya. “Tenang aja kok, aku bisa jaga rahasia”.

Nafsu ku sudah nggak terkendali lagi, terlebih ruang tamu saat itu terutup rapat. Dan saat itu penghuni rumah yang lain sedang asik nonton TV. Tanganku saat itu sedang mengenggam tangannya. Dan perlahan lahan aku mengusap bulu halus yang ada di tangannya dan mengusapnya perlahan-lahan sambikl berkata, “kamu cantik banget vi, aku seneng banget bisa samaan ama kamu”. Perlahan kulihat gerakan tangan, muka dan kakinya dia. Ternyata dia sudah gelisah. Merasa ada jawaban aku meneruskan elusanku, sambil kucoba dekatkan bibirku ke bibirnya dia. Senggaja aku mengecup secara perlahan dan lembut dan diiringi desahan nafas perlahan. Memang aku pintar dalam merangsang cewek, karena aku sudah pengalaman dari Ina.
Sesudah kukecup bibirnya secara perlahan dia memejamkamkan mata dan terasa getaran kakinya yang mulai gelisah.

Perlahan kukecup bibir lagi. rupanya kali ini ciuman ku berbalas juga. ia balik mencium ku dengan lembut. perlahan ku lepas ciuman ku di bibirnya dan bergerak menuju lehernya. walaupun aku sudah terangsang banget tapi aku masih bisa berfikir apa yang mesti aku lakukan lagi tuk dapetin body nya. ciumanku bergerilya disekitar leher dan dekat telinga. terdengar nafasnya yang sudah memburu. Perlahan-lahan tanganku memegang pipinya secara lembut, lehernya dan mencoba memegang toketnya yang aduhai. aku usap toket novi dari luar baju. ia masih diam dengan mata tertutup. dengan perlahan tanganku masuk ke dalam bajunya lewat bawah dan tanganku mulai mengenai BH nya. ku coba angkat sedikit BHnya secara perlahan-lahan. dan terasa saat itu toket Novi sudah dalam genggamanku. kuusap dan kepelintir putingnya secara perlahan. saat itu juga kucoba tangan yang satu lagi tuk membuka kancing bajunya. setelah kubuka bajunya terlihatlah Bh yang berwarna hitam, dengan gunung kembar yang indah banget dibaliknya. saat itu nafsu ku sudah tidak terkontrol lagi. kontolku sudah ngaceng banget.

Tapi aku belum puas sebelum melihat memeknya. kucoba tuk buka rok nya secara perlahan, dan terlihat pula gundukan daging di balik celana dalam hitamnya. aku terdiam sebentar karena tidak menyangka novi cewek yang cantik banget, dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendekatinya kini sudah bugil di depan mataku.
“Aghh.. kamu kok gini sih an” desahnya. aku cuma tersenyum puas. dan kucoba tuk menarik tangannya ke arah kontolku. dan memang sudah sengaja sleting celanaku sudag aku buka. dan merosotlah celanaku. rupanya novi sudah bernafsu banget. diangkatnya bajuku dan di lepaskannya celan dalamku.

Kini matanya sudah terbuka dan melihat kontolku yang lumayan gede. “ihh.. gede banget yang kamu an”? aku coba bangkit berdiri agar dia mau mengulum kontolku. “kamu mau cium kontolku kan”? tanpa menunggu komando lagi kepala novi ku arahkan ke kontolku yang sudah keras banget. diciumnya perlahan-lahan kontolku dan dijilatinnya kontolku. “muahh.. mchh..” terdengar bunyi dari mulutnya yang tipis. “terus vi.. achh.. terus.. enak banget loh .., kamu pinter banget vi.. achh..”

Pikiranku sudah tidak dapat kukontrol lagi. 15 menit sudah berlalu. dan perlahan ku angkat tubuhnya ke atas sofa ruang tamu dan kutidurkan. kucium lehernya terus turun ke menuju susunya yang kenyal dan indah. “gilaa banget nih cewe bodynya, susunya, pantatnya yang kenyal, terlebih bulu-bulu yang lumayan banyak dan halus”. gumamku dalam hati”. kucium toketnya yang lumayan besar dan kenyal. “muachh.. muachh.. ” “aduh an.. terusin.. achh..” dia mengerang terus. sambil ku jilatin toketnya, tangan kananku perlahan-lahan menuju memeknya. Astaga.. basahh banget nih.. terus ku elus dengan lembut dan ku belai klitorisnya yang sudah mencuat.

“Achh.. euhh..” ia mengerang keenakan. perlahan ciumanku turun kebawah vaginanya. ku jilatin memeknya yang basah. mhh.. mhhachh.. dia menarik kepalaku dan mengejang. “acchh an, kayanya aku mau kencing nih..” “kencingin aja vi, itu bukan kencing kok yang mo keluar, itu namanya mau orgasme..” “achh an, ennaak banget nih.., ahh.. terusin sayang kata nya”. aku tersenyum kecil saat ia memanggilku dengan kata sayang. “hahaha.. kamu udah masuk dalam genggamanku sekarang vi..” kataku dalam hati. “achh.. terusin an.. terusin yah sayang.. katanya”. kujilatin memeknya terus dan teruss.. “ohh indahnya memekmu vi. beruntung banget aku bisa dapetin memek dari cewek secantik kamu” kataku dalam hati. kali ini ia merapatkan kakinya dan kembali mengejang. ahh.. an kayanya aku mau keluar lagi nihh.. achh..”

“Keluarin aja semuanya sayang.. terus keluarin aja..” kataku. setelah kurasa cukup, mulai ku arahkan kontolku yang sudah keras dan panas ke memeknya novi. “tahan bentar yach kalo sakit.. ntar juga nggak sakit lagi kok..” kataku pada novi. kumasukan kontolku perlahan-lahan ke memeknya. achh .. erangku karena kontolku masih agak susah masuknya. maklumlah memek perawan pertama kali pasti susah simasukinnya. “achh.. ohh.. masukin langsung aja dech an..” pintanya. “kamu ngga akan nyesel vi..? “ga akan kok, aku rela ama kamu diambilnya”. “Achh.. terus.. ” dengan sedikit kekuatan kutekan kontolku makin kedalam. dan kini sudah masuk semua kontolku kedalamnya. “ohh.. hangat banget memeknya..” “aduh sakit an.. akhh..”

Terasa darah segar keluar dari vaginanya dan membasahi bajunya yang memang sudah sengaja kusimpan dibawah pantatnya. “ya ampunn.. banyak banget darahnya nih..” gumamku dalam hati. tak perduli dengan darah yang mengucur aku enjot dia perlahan-lahan, dan kelama-lamaan maikin kencang. “achh.. ohh.. ahh.. terusin an.. makin lama makin enak nih..achh.. genjotanku makin ku percepat lagi. achh ..ohh enak banget.. terusin yahh..” hampir 15 menit aku menggumuli dia. perlahan-lahan ku genjot dia secara pelan dan pelan. sehingga dia bisa menikmatinya. “pelan-pelan aja yah vi, biar aku bisa cium toket kamu”.

Sambil menggesek-gesek kontolku kedalam vaginanya. kucium perlahan-lahan puting toketnya. kuatru perlahan-lahan gesekan ku. dan tak lama kemudian terdengar ia mengerang dan mengejang. “achh.. kaya ada yang mau keluar nih.. achh.. aduh mau keluar nihh..” “kembali kuatur gesekanku secara perlahan agar ia bisa keluar”. dan benar saja sebentar kemudian dia mengalami orgasme untuk ke 2 kalinya. “achh.. achh.. ohh.. mau keluar nih.. ann..achh..”

Novi sudah mengalami orgasme sedang aku sebentar lagi mau keluar. setelah kurasa cukup maka kupercepat gerakan kontolku ke memeknya dia. “achh.. mau keluar lagi nih an.. achh..” “bentar lagi aku juga mau keluar nih vi.. ahh” erangku. “keluarin didalem aja yah ann.. achh..”

Walaupun dia sudah bersedia menerima sperma ku di vaginanya, tapi aku tidak sebodoh itu, aku masih ga mau terikat oleh dia. dengan menambah kecepatan aku terus mengenjot dia semakin cepat. “achh.. aku mau keluar nihh.. kamu mau minum sperma ku kan.. achh.” “kenapa gak dikeluarin di dalam aja sih, ya udah ga pa pa kok di mulut ku juga.” “achh.. terusinn.. ann aku juga
mau keluar lagi nih..achh..” “aku juga mau keluar nih vi..” dan saat itu kamipun keluar bersamaan. “achh.. kuangkat langsung kontolku yang sudah hampir menyemburkan sperma.. achh ..kukocokan kontolku ke arah mulut dan dadanya dia. “croot..crott.. spermaku membasahi mulut dan susunya”. “achh..srepp.. enak banget sperma kamu an.. cape banget nih.. liat tuh badanku sampe keringatan semua.” aku hanya tersenyum dan berkata. “tapi enak kan..” kubersihkan cairan spermaku dengan tissue nya. dan ia pun pergi kekamar mandi tuk membersihkan badannya. achh.. lega banget hatiku setelah dapetin cewek yang pernah menjadi idola di smu dulu. Setelah novi membersihkan badannya sayapun minta ijin pulang dulu karena jam sudah pukul 8.50. ntar bapanya bisa curiga lagi.

kejadian ini terus berulang-ulang sampai saat saya masih mengetik cerita ini. Walaupun antara kami sampai sekarang belum ada status pacaran, melainkan hanya teman biasa.

tamat..!!!
Support : Tante Alexa | Tante Alexa | Tante Alexa
Copyright © 2012. Tante Alexa - All Rights Reserved
Template ReCreated by Tante Alexa Published by Tante Alexa
Proudly powered by Blogger