Cerita Dewasa : Diana Yang Malang - 1

Cerita Dewasa : Diana Yang Malang - 1 | Diana pulang kerja jalan kaki, jalanan cukup sepi, sementara suara guruh sesekali terdengar. Awan terlihat mendung dilangit malam itu.

Cewek yang tingginya sekitar 170 cm, langsing, kakinya juga jenjang banget (Diana waktu itu pake rok yg rada mini) mempercepat jalannya.

Pukul 20:00 jalanan diluar rumah Diana, sepi jarang ada mobil yang lewat. Penduduk kota sudah tahu akan ada badai besar malam itu. Kelima berandal yang bertubuh kekar itu mengendap-endap memasuki pekarangan rumah. Mereka mau membalas cewek bertampang melankolis itu yang memergoki mereka mencuri minuman keras tadi,dengan melaporkan satpam. Mereka berencana berpesta memperkosa cewek itu habis-habisan sebagai balasannya.

Cerita Dewasa :  Diana Yangg Malang - 1

“Sssstttt…..hati-hati jangan berisik…..ayo sini….” Bisik Emilo sambil memberi aba-aba untuk segera maju bersembunyi dikebun rumah Diana yang penuh semak-semak.

Sementara itu Diana tidak mengetahui kalau dirinya diikuti oleh para berandal sejak sepulang kerja tidak menaruh curiga. Cewek itu menyalakan kran air mandi, lalu menuju kekamarnya. Diana menyalakan lagu disco, sambil melepaskan baju kerjanya.

Di kebun para berandal sudah mulai mengendap- endap sambil menyusun rencana untuk masuk ke dalam rumah. Edi dan Jack mendapat tugas mengawasi jalanan, sedangkan Emilo membuka pintu depan, Joe dan Billie mencari jalan masuk lewat belakang. Pada saat itu secara tidak sengaja Joe melewati jendela kamar Diana yang lagi membuka baju kerjanya. Roknya berada diatas ranjang, sementara Diana yang tubuhnya cuma terbungkus kemeja kerja dan celana dalam sambil berdisco membuka kancing kemejanya. Joe segera memanggil Billie untuk melihat pemandangan itu. Mereka menelan ludah melihat Diana yang meliuk-liuk merangsang menari disco. Ukuran dadanya yang sekitar 36B keliatan jelas banget belahannya ketika cewek itu sudah melepas kemejanya.

“Wow, Joe…LOOK AT HER TITS….aku ingin segera mencicipi tubuhnya….” Bisik Billie tanpa melepaskan padangan matanya menatap tubuh Diana yang hanya mengenakan baju dalam.

“He…he….he…sabar, Bill…nanti kita cicipi sama-sama, sampai pagi!” sahut Joe yang makin bernapsu melihat hal itu.

Beberapa saat kemudian Diana beranjak menuju kekamar mandi. Sementara itu Emilo yang berhasil membuka pintu depan segera memberi aba-aba pada teman-temannya untuk masuk. Para berandal itu sudah memperhitungkan segalanya, mereka mengunci pintu dari dalam sehingga nanti mereka bebas bertindak. Kabel telpon sudah mereka putus, cewek itu tinggal sendirian dan lagi badai yang akan datang sangat menguntungkan rencana mereka. Dengan leluasa mereka masuk ke kamar cewek itu. Jack membuka kulkas, yang lain masuk ke kamar Diana. Edi memeriksa lemari pakaian Diana.

“Hai….lihat apa yang kutemukan!” sambil menunjukkan barang temuannya. Joe segera menyahut celana dalam itu.

“Hmmmmm….mmmm…” Joe mencium celana dalam.
“Ingat aku yang pertama bercinta dengannya!” sahutnya sambil tersenyum penuh arti. Para berandal itu tak sabar membayangkan apa yang akan mereka nikmati. Lalu mereka mengambil posisi untuk bersembunyi.

Diana selesai mandi menuju keruang tengah. Tubuhnya hanya terbalut oleh baju dalam dan kemeja putih, duduk menikmati acara TV kabel. Waktu itu pukul 20:30, cewek itu tidak menaruh curiga bahwa ada orang lain dalam rumahnya. Tiba-tiba dari arah belakang salah seorang berandal maju mendekap tubuhnya. Diana terkejut dan segera berontak melepaskan diri.

“EVER BEEN GANG RAPED BABY? DON’T KNOW WHAT YOU BEEN MESSIN! YOU STILL REMEMBER US DON’T YOU……” ejek Edi.
Diana segera mengenali wajah itu menjadi ketakutan sekali, ia tak menyangka kalau para berandal itu benar-benar melaksanakan ancamannya.

Joe maju menerkamnya tiba-tiba, cewek itu menjerit ketakutan ketika berhasil dipeluk. Ia meronta-ronta dan menendang Joe. Tanpa disadarinya tendangannya mengenai selangkangan Joe membuatnya meringis kesakitan dan melepaskan dekapannya. Diana segera melepaskan diri dan lari menuju pintu depan. Para berandal segera mengejarnya sambil menyorakinya. Dengan sekuat tenaga pintu depan itu berusaha dibuka, tetapi usahanya sia-sia.

“Wooooo……woooooo……ha…ha…ha….ayo sayang, mau lari kemana kamu hah….ayo sini…ha…ha….ha…” Ejek para berandal yang mengejarnya dari belakang. Diana segera dikepung oleh para berandal. Mereka menyoraki ketidak berdayaannya. Diana didesak terus sampai merapat kedinding, Joe yang tadi meringis kesakitan mulai maju. Pada saat cewek itu hampir putus asa, ia berhasil berkelit dari kepungan berandal itu, lolos dan lari menuju ke dapur, Diana bermaksud lari lewat pintu belakang. Para berandal segera mengejarnya lagi. Nasib sial bagi Diana, begitu tangannya berhasil menyentuh gagang pintu, para berandal berhasil menangkapnya kembali. Rambut pirang Diana yang panjangnya sebahu terjambak, sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Aaaahhhh….aammpun…aaah” hiba Diana, sementara para berandal tersenyum sinis memandangnya.
“Sayang…. Kami akan memberimu pengalaman yang tak akan kau lupakan! kau tadi telah merusak acara pesta kami, sekarang kau harus membayarnya dengan tubuhmu yang indah itu……ha…ha..ha…, oya kau juga akan menyesal telah menendang punyaku, akan kujoblos kau sampai mampus! ” Joe maju dari kerumunan temannya.

Diana tak berdaya, rambutnya dijambak sementara tangannya dilipat kebelakang. Dari dapur ia diseret menuju ruang tamu saat itu pukul 20:45. Disana ia dikelilingi oleh kelima berandal sambil didorong-dorong.

“Sayang, kita akan berpesta denganmu!” seru Edi tak sabar sambil mendorong ke arah Billie.
“Ha…..ha…ha…. kau tak akan bisa lolos kali ini….” Ejek Billie sambil mendekap tubuh Diana. Mereka berteriak-teriak membuat Diana makin ketakutan.

“Kemarikan dia Bill….HEY BABE, I BET MY COCK WOULD FEEL REAL GOOD WARPED UP IN YOUR PUSSY!” seru Jack tak sabar, sambil mempraktekkan gaya bercinta penuh napsu. Diana didorong ke arah Jack yang segera merangkul nya dari depan. Mulutnya segera mencari dada cewek itu, sementara pinggulnya bergerak maju mundur seakan sedang bercinta dengannya.

“Wooooo…. Wooooou…..FUCK YOU GIRL, FUCK YOU…..” Jack menggerayangi cewek itu.
“Aaaahhhh…….aaam…punnn….aahhh…..jaa…aa ahhhh!!!” jerit Diana ketakutan.

Tiba-tiba dengan satu sabetan, tangan salah satu berandal merobek kemeja putih Diana, membuat cewek itu terpelanting. Emilo segera mendekap dari belakang. Sekarang tubuh Diana hanya mengenakan BH dan celana dalam saja, membuat mereka makin menjadi-jadi.

“Ah…aahh…aahh!” jerit Diana ketika tangan Emilo yang mendekap tubuhnya dari belakang mulai menggerayangi pahanya yang putih mulus.
“Kita akan memberimu pengalaman yang tak terlupakan, manis…ha…ha…ha…” bisik Emilo.

Para berandal lainnya ikutan beraksi. Tangan Edi meremas remas buah dada Diana. Jack memburu kemaluan Diana, sementara Billie dan Joe buka baju dan celana panjang mereka sambil tertawa sinis. Tubuh para berandal itu terlihat begitu kekar dan berotot.

“HEY, SOMEBODY GET BEHIND THE BITCH AND HOLD HER ARMS, I’M FUCKING HER FIRST!” Joe memberi aba-aba yang langsung disetujui teman-temannya. Cewek itu meronta-ronta di bopong kelima berandal itu keruang tengah.

“Jack, Emilo, kau pegangi tangan dan kakinya, terlentangkan dia di meja ini” perintah Joe.
Lonceng berdentang menunjukkan pukul 21:00. Disana Diana diterlentangkan di atas sebuah meja bundar. Masing-masing tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh para berandal. Sinar lampu diatas meja membuat cewek itu silau, Diana hanya bisa melihat tubuh-tubuh kekar mengerubunginya dan tangan-tangan berotot meraba-raba dadanya, wajah sinis dan suara tawa para berandal mengejek ketidak berdayaannya.

Lidah Joe menelusuri lehernya yang jenjang. Diana berontak berusaha melepaskan diri, tetapi apa daya tenaga seorang cewek dibanding dengan lima laki-laki yang kesetanan. Jack dan Edi memegangi kakinya, sementara tangan kanan dan kiri Diana dipegangi erat-erat oleh Emilo dan Billie. Joe mencumbunya dengan kasar dan penuh napsu, tangannya dengan liar meremas-remas buah dada Diana.

“I CAN SEE THE NIPPLES POKING AT HER BRA!” kata Joe yang langsung disambut oleh tawa para berandal.
“HEY, CUT THAT BRA OFF MAN. WHAT’S WRONG WITH YOU?” sahut Emilo sudah tidak sabar lagi.
“Aaaah…..aaah….ooh…jangan…..aahkh!” jerit Diana ketika dengan satu hentakan kasar tangan Joe merobek BH yang dikenakannya. Para berandal makin seru menyorakinya. Mulut Joe segera melumat buah dada Diana yang sintal, sementara tangan kirinya masih meremas-remas buah dada sebelah kanan Diana. “Aaaaah….aaoooh…..ooooh…aahh …aaaahh…aaahhhhh….” desah Diana mengeliat-liat. Putingnya dijilati penuh napsu oleh lidah Joe.

“Ha….ha….ha…. kau sungguh mengiurkan sayang!” tawa Billie menelan ludah tak sabar ingin segera menikmati gilirannya. Joe sekarang membuka celana dalamnya sendiri, penisnya yang hitam besar 10 inci itu terlihat tegak siap beraksi.

“Kenyal sekali…..ha…ha…ha…”seru Joe sambil menerkam dan mulutnya menciumi buah dada cewek itu dengan buas. Tubuh Diana mengeliat-liat membusur, sementara buah dadanya diremas-remas sampai merah. Lidah Joe menelusuri buah dada Diana, lalu turun ke daerah perut dan menjilati pusarnya. Beberapa saat kemudian sambil tersenyum sinis, mata Joe memelirik kearah paha Diana.

“Oooohhh….jangan…..aaahhhh….” hiba Diana ketakutan tidak berani membayangkan diperkosa oleh kelima berandal kekar dan berotot.

Lalu tangan Joe mulai memelorot celana dalam Diana. Cewek itu berusaha mempertahankannya,
“Ha..ha…ha…percuma kau berontak manis!” ejek Joe ketika Diana berontak sekuat tenaga, tetapi Billie dan Emilo makin erat memegangi tangan Diana, perlahan- lahan celana dalamnya terlepas, rambut kemaluan Diana terlihat ketika celana dalam berwarna pink itu dari pinggul dilorot turun kepahanya dan akhirnya terlepas.

“Cihuuuiiii……Ha…ha…ha….PARTY TIMES… ha…ha…ha….” Teriaknya sambil memutar-putar celana dalam itu, lalu dicium dalam-dalam menikmati aromanya dan dilemparkan kelantai. Mata Joe jelalatan memandangi Diana yang telanjang bulat terlentang diatas meja. Diana lemas karena ketakutan, ia tak berani membayangkan para berandal itu akan ‘menelan tubuhnya ramai-ramai’. Para berandal makin ramai menyorakinya, mata mereka jelalatan memandang setiap lekuk tubuh Diana. Emilo yang tadi memegangi tangan Diana digantikan oleh Billie.

“Oooooh…..aaaahh….am…pun…..aaaah…jang… an…aaahh..” hiba tangis Diana.
“Diam!….THERE’S GOING TO BE A BIG PARTY IN YOUR PUSSY TONIGHT…..Ha…ha…ha…kita lihat siapa yang paling hebat bercinta denganmu!” ejek Emilo mendekati Diana sambil mengeluarkan pisau lipat. Diana ketakutan ketika Emilo memainkan pisau itu diantara buah dadanya sambil tersenyum sinis memandang tubuhnya. Pisau itu bergerak kearah puting susunya dan diputar-putar mengelilingi belahan buah dada Diana yang naik-turun karena napasnya tak beraturan. Hal itu membuat para berandal benar-benar terangsang. Pisau itu terasa dingin di buah dada Diana, lalu pisau itu bergerak kearah perut cewek itu dan turun ke daerah bawah pusar cewek itu. Edi menyeringai penuh arti ketika mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Emilo dengan pisau lipatnya.

“Ayo Milo, cukur sampai habis…..ha…ha…ha…ha…” seru Edi kegirangan.
“Aaaahh…..ohhhh…jangan….aaah….” teriak Diana sambil berontak, tetapi para berandal itu makin mempererat pegangannya, sementara pisau lipat itu dengan buas mulai beraksi mencukur rambut kemaluannya.

“Ha…ha….ha… kesempatan yang langka ini tak akan kami lewat begitu saja. Ayo manis berteriaklah semaumu, tak akan ada yang mendengarmu saat ini.” Ejek Joe sambil menerkam buah dada Diana, diremasnya kuat-kuat membuat cewek itu mengerang kesakitan sementara Emilo mencukur rambut kemaluannya tanpa foam pelicin sehingga Diana merasa perih. Billie, Jack dan Edi yang memegangi kaki dan kedua tangan Diana tertawa melihat cewek itu meronta-ronta. “Aaaaaagggg….aaaaoooohh….ooooohhh…oohh.. .” desah Diana buah dadanya diremas-remas oleh Joe. Suara desahan itu membuat para berandal itu makin terangsang.

Dengan buas pisau Emilo beraksi, dalam beberapa menit saja rambut kemaluan Diana telah tercukur habis. Daerah kulit bawah perut Diana yang tadinya ada rambut kemaluannya terlihat memerah. Emilo tersenyum puas, Joe segera maju sambil mementang kaki cewek itu lebar-lebar, sekarang ia berada diantara pahanya , memandang kemaluan Diana yang terlihat jelas karena rambut disekitar daerah itu habis tercukur.

“Ha…ha…ha…buah dadamu sungguh lezat, NOW I’LL EAT YOUR PUSSY!” kata Joe sambil menjilatkan lidahnya sementara matanya melirik kearah kemaluan Diana.
“Oooooh….lepas…kan….jang…an ..oooOOAAHH!” tangis Diana terhenti ketika Joe mulai menjilatinya. Lidah itu seakan menjulur panjang menjelajahi lorong vagina Diana. Tubuh cewek itu mengelinjang-gelinjang, sementara lidah Joe bergerak seperti cacing menggali lobang.

“Oooooohhhhh…aaaauuuuoooo…oooouuu…aaaah. ..” Desis Diana sementara kepalanya hanya bisa menggeleng ke kiri dan kanan. Tubuh Diana bergetar, tangannya mengepal erat-erat, Emilo menciumi leher dan daerah sekitar ketiak, sambil tangannya mencubit puting susu cewek itu. Jack melepaskan kaki cewek itu, dan ikutan mencumbu perut Diana. Lidah Jack menjilati pusar cewek itu.

“Uuuuuuhhhh….oooouuh…ooohhh…” suara desah Diana makin keras, ketika lidah Joe masuk makin dalam divaginanya.
“Ha…ha…ha….percuma kau berontak sayang, mau tak mau kau akan menikmati pesta ini!” ejek salah satu berandal.
Buah dada Diana memerah dan mengembang karena remasan tangan Emilo.

Joe makin bersemangat, ketika vagina Diana mulai berlendir. Lidah itu menjelajah makin dalam bersamaan dengan pekik desah Diana. Emilo masih mengulum buah dada cewek itu. Putingnya disedot kuat-kuat, membuat cewek itu mengeliat menahan rasa nikmat dan sakit yang bercampur menjadi satu. Tanpa disengaja dari puting buah dada Diana keluar cairan putih seperti susu. Emilo lebih bersemangat lagi menyedoti cairan itu, sementara tangannya meremas-remas buah dada Diana agar keluar lebih banyak.

“Uuuuggghhhh……uuuuuhhhh….uuuhhhh….aaauuuhh hhh….” desis Diana dengan napas tersedak-sedak.
“Ha…ha…ha….ternyata tubuhmu menghianatimukan? Diam-diam kau menikmatinya……BITCH!!!!” ejek Emilo sambil menyedoti buah dada Diana, kanan-kiri.

Lonceng berbunyi menunjukkan pukul 21:30. Rupanya para berandal itu senang bermain-main dengan tubuhnya dan berniat melakukan WARMING-UP sebelum memperkosanya. Diana hanya bisa mengeliat-liat dikerubuti para berandal yang kekar. Lidah Joe dengan lahapnya menjilati vagina Diana. Tidak puas hanya lidah, sekarang jari tangan Joe ikutan beraksi. Jari tengah dan telunjuk Joe masuk di lobang kemaluan cewek itu, diputar-putar seolah-olah mengaduk-aduk vagina Diana, sementara lidahnya ikut menjilati bibir kemaluan Diana.

“Aaaauuuuhhhhh……uuuuuhhh…..aaahhhh” desah cewek itu makin keras, membuat para berandal itu tertawa mengejek ketidak berdayaannya. Jari tangan Joe menusuk masuk dan bermain-main dengan klitorisnya, membuat Diana mengelinjang-gelinjang. Mata Diana terpejam, kepalanya menggeleng ke kiri kanan, Jack menciumi pusarnya, tangan Emilo meremas-remas buah dadanya. Setelah puas bermain-main, Joe mementang kedua kaki Diana.

“Joe mau pakai kondom?” tanya Billie. Joe menolak usul Billie.
“NO WAY….Ha…ha…ha….I WANT TO FEEL SKIN TO SKIN…ok sekarang saatnya manis… NOW LETS SEE JUST HOW TIGHT YOUR CUNT IS!” Joe mengangkat pinggul Diana tinggi-tinggi. Penisnya sekarang digesek-gesekkan disekitar bibir kemaluan Diana berusaha menyibak belahannya. Mata cewek itu terbelalak kaget ketika merasakan kepala penis Joe yang besar dan hangat. Batang penis itu berdenyut-denyut dibibir kemaluannya.

“Ohhh…ohhhh sekarang saatnya!” pikiran Diana melayang jauh ketika Joe mulai beraksi menindih tubuhnya.
“Ayo Joe cumbu dia sampai mampus……Cihuuui!!!” para berandal itu memberi semangat.

Joe merasakan rasa hangat yang mengalir pada kepala batang kemaluannya yang sudah menancap tepat pada pintu gua kenikmatan milik cewek itu. Joe menekan perlahan, seperempat dari bagian kepala kemaluannya mulai terbenam ….Diana menahan napas …. ditekan lebih dalam lagi …. separuh dari bagian kepala kemaluannya melesak masuk …. dengan lebih bertenaga Joe mendesak batang kemaluannya untuk masuk lebih dalam lagi.

“Ayo Joe! sedikit lagi! Masukin saja semua! Biar dia rasain Joe!” Emilo menyoraki Joe sambil meremas-remas buah dada Diana.

“AAAgggh!!!!” Pekik Diana merasakan sesuatu yang menyakitkan dipangkal pahanya ketika seluruh kepala kemaluan Joe sudah terbenam kedalam liang hangat miliknya, dengan satu hentakan yang kuat, penis Joe menyeruak masuk ke dalam vagina Diana membuatnya memekik kesakitan.

Sementara badai diluar mulai turun dengan deras dimulailah pesta perkosaan itu. Diana terlentang diatas meja bundar diruang tengah, tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh Billie dan Edi, buah dadanya dijilati, disedoti oleh Jack dan Emilo, sementara penis Joe mengoyak-koyak vaginanya dengan ganas.

“Aaagh…..aaahh….ooooh….ooohh…” suara rintih Diana seiring dengan gerakan ayunan pinggul Joe yang kuat. Senti demi senti batang kemaluan Joe menelusur masuk menerobos keketatan liang kemaluan Diana yang sudah basah berlendir itu. Setiap ayunan Joe membuat tubuhnya mengelepar kesakitan karena penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam. Suara desahan Diana membuat para berandal itu makin bernapsu menikmati tubuhnya.

“Ayo Joe…..genjot terus sampai mampus….. ha…ha…ha…” seru salah satu berandal.
Joe merasakan begitu ketatnya ujung kemaluannya terjepit di dalam vagina Diana, selang beberapa saat penis itu terhenti menerobos keluar masuk.

“CAN’T SEEM TO GET MY COCK DEEP ENOUGH INTO YOU BABY!” Joe mengatur posisi pinggulnya, “YOU SO DAMN TIGHT!.” kemudian dengan satu hentakan yang kuat membuat batang penis itu hilang tertelan kemaluan Diana.
“AAAaaaaggggkkk!!” suara lolong histeris Diana ketika dengan satu hentakan kuat tanpa masalah penis itu beraksi lagi di liang vagina Diana yang berlendir, rupanya selaput perawan Diana robek.

“Uuuugggghhhh…. SO YOU’RE STILL A VIRGIN? Ha…ha…ha….manis, kau tak akan melupakan pengalaman ini!” ejek Joe, Penis itu dengan mudah menerjang keluar masuk dengan cepat, sementara tubuhnya menghentak hentak barbar diatas Diana yang mendesah-desah tak berdaya. Kemaluan Diana terasa akan robek oleh desakan penis Joe yang menyeruak masuk keluar dalam-dalam seperti membor kilang minyak. Joe melengkuh-lengkuh nikmat, pinggulnya berayun-ayun memompa, penis itu keluar masuk.

Kaki Diana terangkat tinggi diatas meja terayun-ayun seirama gerakan pinggul Joe menghujamkan keluar masuk batang penisnya yang dengan barbar beraksi divaginanya.

Diana berharap ia dapat pingsan saat itu juga supaya tidak merasakan sakit yang tak terlukiskan itu. Para berandal itu menyanyikan lagu “ROW YOUR BOAT”.
“Aaaahhh…aaaahh….ammm….pun….aahh…
aaahh…aaahh….sakit..ahhhhh..aaaahhh….”jerit Diana. Pinggul Joe bergerak seperti pompa. Penis itu keluar masuk seiring desahan Diana.

“Ayo Joe coblos terus, coblos…coblos…woooo…
wooooo BABY….” teriak Emilo sambil menciumi dada cewek itu.

“Delapan puluh delapan……delapan puluh sembilan….sembilan puluh…Ayo…” dengan semangat Edi menghitungi setiap hujaman penis Joe.

“Aaaaahhh….wahhhhaaa….aaaah….uuuuh…
uuugh….” pekik Diana, sementara Joe berayun-ayun diatas tubuhnya. Cewek itu hanya bisa terisak-isak. Suara petir menyambar di sela-sela badai.

“YEAAAHHH. HOW’S IT FEEL, BABE, HOW’S IT FEEL WITH A REAL MAN’S BIG COCK IN YOUR BELLY? OOOOOOOOOOOOO YOU FEEL SO GOOD, SO HOT.” ejek Joe sambil memaksa Diana yang mendesah untuk melihat penisnya mengenjot keluar masuk lorong vaginanya. Diana bisa merasakan setiap inci dari otot dibatang penis Joe bergerak menelusuri lorong kemaluannya.

“Uuuh…uuuh….uuaah…” lengkuh Joe, sudah sekitar setengah jam dia berayun-ayun diatas cewek itu, keringat membasahi tubuh keduanya, tetapi gerakan pinggulnya tetap ganas, penisnya menyodok-sodok dikemaluan Diana, tangannya menggerayangi pahanya dengan liar.

Bersambung .... KLIK Cerita Dewasa : Diana Yang Malang - 2 Disini.

Foto Hot Cerita Dewasa Tante Alexa Januari 2014

Foto Hot Cerita Dewasa Tante Alexa Januari 2014 - Anda akan menikmati sajian dari Tante Alexa. Kategori IGO, Foto, Cerita Dewasa, Ayam Kampus, Cewek Bispak, Cewek Facebook, Model Indonesia, Model Sexy. Semua dirangkum dalam : Koleksi Foto Hot Cerita Dewasa Tante Alexa Januari 2014. Simak di bawah ini.


Inidia Koleksi Foto Hot Cerita Dewasa Tante Alexa Januari 2014


Foto Hot Cerita Dewasa Tante Alexa Januari 2014


Foto Hot Cerita Dewasa Tante Alexa Januari 2014 Berikut:

Foto Hot Cerita Dewasa Tante Alexa Januari 2014

Foto Hot Cerita Dewasa Tante Alexa Januari 2014

Foto Hot Cerita Dewasa Tante Alexa Januari 2014

Foto Hot Cerita Dewasa Tante Alexa Januari 2014

Foto Hot Cerita Dewasa Tante Alexa Januari 2014

KLIK Foto Hot Cerita Dewasa Tante Alexa Januari 2014 di atas, dan temukan Cerita Dewasa Menarik untuk anda Baca.

Foto Hot Cerita Dewasa Tante Alexa Januari 2014 - Tante Alexa.

Inidia Foto Hot Nakal Model Tante Alexa Merayakan Tahun Baru 2014

Inidia Foto Hot Nakal Model Tante Alexa Merayakan Tahun Baru 2014 - Pada kesempatan ini, tepatnya di Tahun Baru 2014, Tante Alexa merayakannya bersama para Model Cantik dan para penggemar Tante Alexa. Silahkan lihat dan nikmati selanjutnya di bawah ini.

Ayam Kampus, IGO, Foto, Model Indonesia, Model Sexy.

Inidia Foto Hot Nakal Model Tante Alexa Merayakan Tahun Baru 2014


Inidia Foto Hot Nakal Model Tante Alexa Merayakan Tahun Baru 2014


Inidia Foto Hot Nakal Model Tante Alexa Merayakan Tahun Baru 2014 Berikut:

Inidia Foto Hot Nakal Model Tante Alexa Merayakan Tahun Baru 2014

Inidia Foto Hot Nakal Model Tante Alexa Merayakan Tahun Baru 2014

Inidia Foto Hot Nakal Model Tante Alexa Merayakan Tahun Baru 2014

Inidia Foto Hot Nakal Model Tante Alexa Merayakan Tahun Baru 2014

Inidia Foto Hot Nakal Model Tante Alexa Merayakan Tahun Baru 2014


Inidia Foto Hot Nakal Model Tante Alexa Merayakan Tahun Baru 2014 - Tante Alexa.

Cerita Dewasa Bercinta Dengan Tante Ken

Cerita Dewasa Bercinta Dengan Tante Ken - Panggil saja namaku Roni. Usiaku saat ini 27 tahun. Dikampungku ada seorang janda berusia 46 tahun, namanya panggil aja Tente Ken. Meski usianya sudah kepala empat dan sudah punya 3 orang anak yang sudah besar-besar, namun tubuhnya masih tetap tampak bagus dan terawat. Tante Ken mempunyai wajah yang cantik dengan rambut sebahu. Kulitnya putih bersih. Selain itu yang membuatku selama ini terpesona adalah payudara tante Ken yang luar biasa montok. Perkiraanku payudaranya berukuran 36C. Ditambah lagi pinggul aduhai yang dimiliki oleh janda cantik itu. Bodi tante Ken yang indah itulah yang membuatku tak dapat menahan birahiku dan selalu berangan-angan bisa menikmati tubuhnya yang padat berisi. Setiap melakukan onani, wajah dan tubuh tetanggaku itu selalu menjadi inspirasiku.

Cerita Dewasa Bercinta Dengan Tante Ken

Pagi itu jam sudah menunjukan angka tujuh. Aku sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Motor aku jalankan pelan keluar dari gerbang rumah. Dikejauhan aku melihat sosok seorang wanita yang berjalan sendirian. Mataku secara reflek terus mengikuti wanita itu. Maklum aja, aku terpesona melihat tubuh wanita itu yang menurutku aduhai, meskipun dari belakang. Pinggul dan pantatnya sungguh membuat jantungku berdesir. Saat itu aku hanya menduga-duga kalau wanita itu adalah tante Ken. Bersamaan dengan itu, celanaku mulai agak sesak karena kontolku mulai tidak bisa diajak kompromi alias ngaceng berat.

Perlahan-lahan motor aku arahkan agak mendekat agar yakin bahwa wanita itu adalah tante Ken.

“Eh tante Ken. Mau kemana tante?”, sapaku.
Tante Ken agak kaget mendengar suaraku. Tapi beliau kemudian tersenyum manis dan membalas sapaanku.
“Ehm.. Kamu Ron. Tante mau ke kantor. Kamu mau ke kampus?”, tante Ken balik bertanya.
“Iya nih tante. Masuk jam delapan. Kalau gitu gimana kalau tante saya anter dulu ke kantor? Kebetulan saya bawa helm satu lagi”, kataku sambil menawarkan jasa dan berharap tante Ken tidak menolak ajakanku.
“Nggak usah deh, nanti kamu terlambat sampai kampus lho.”

Suara tante Ken yang empuk dan lembut sesaat membuat penisku semakin menegang.

“Nggak apa-apa kok tante. Lagian kampus saya kan sebenarnya dekat”, kataku sambil mataku selalu mencuri pandang ke seluruh tubuhnya yang pagi itu mengenakkan bletzer dan celana panjang. Meski tertutup oleh pakaian yang rapi, tapi aku tetap bisa melihat kemontokan payudaranya yang lekukannya tampak jelas.
“Benar nih Roni mau nganterin tante ke kantor? Kalau gitu bolehlah tante bonceng kamu”, kata tante Ken sambil melangkahkan kakinya diboncengan.

Aku sempat agak terkejut karena cara membonceng tante yang seperti itu. Tapi bagaimanapun aku tetap diuntungkan karena punggungku bisa sesekali merasakan empuknya payudara tante yang memang sangat aku kagumi. Apalagi ketika melewati gundukan yang ada di jalan, rasanya buah dada tante semakin tambah menempel di punggungku. Pagi itu tante Ken aku anter sampai ke kantornya. Dan aku segera menuju ke kampus dengan perasaan senang.
Waktu itu hari sabtu. Kebetulan kuliahku libur. Tiba-tiba telepon di sebelah tempat tidurku berdering. Segera saja aku angkat. Dari seberang terdengar suara lembut seorang wanita.

“Bisa bicara dengan Roni?”
“Iya saya sendiri?”, jawabku masih dengan tanda tanya karena merasa asing dengan suara ditelepon.
“Selamat pagi Roni. Ini tante Ken!”, aku benar-benar kaget bercampur aduk.
“Se.. Selamat.. Pa.. Gi tante. Wah tumben nelpon saya. Ada yang bisa saya bantu tante?”, kataku agak gugup.
“Pagi ini kamu ada acara nggak Ron? Kalau nggak ada acara datang ke rumah tante ya. Bisa kan?”, pinta tante Keny dari ujung telepon.

“Eh.. Dengan senang hati tante. Nanti sehabis mandi saya langsung ke tempat tante”, jawabku. Kemudian sambil secara reflek tangan kiriku memegang kontolku yang mulai membesar karena membayangkan tante Ken.
“Baiklah kalau begitu. Aku tunggu ya. Met pagi Roni.. Sampai nanti!” Suara lembut tante Ken yang bagiku sangat menggairahkan itu akhirnya hilang diujung tepelon sana.

Pagi itu aku benar-benar senang mendengar permintaan tante Ken untuk datang ke rumahnya. Dan pikiranku nglantur kemana-mana. Sementara tanganku masih saja mengelus-elus penisku yang makin lama, makin membesar sambil membayangkan jika yang memegang kontolku itu adalah tante Ken. Karena hasratku sudah menggebu, maka segera saja aku lampiaskan birahiku itu dengan onani menggunakan boneka didol montok yang aku beli beberapa bulan yang lalu.
Aku bayangkan aku sedang bersetubuh dengan tante Ken yang sudah telanjang bulat sehingga payudaranya yang montok menunggu untuk dikenyut dan diremas. Mulut dan tanganku segera menyapu seluruh tubuh boneka itu.
“Tante… Tubuhmu indah sekali. Payudaramu montok sekali tante. Aaah.. Ehs.. Ah”, mulutku mulai merancau membayangkan nikmatnya ML dengan tante Ken.

Karena sudah tidak tahan lagi, segera saja batang penisku, kumasukkan ke dalam vagina didol itu. Aku mulai melakukan gerakan naik turun sambil mendekap erat dan menciumi bibir boneka yang aku umpamakan sebagai tante Ken itu dengan penuh nafsu.

“Ehm.. Ehs.. Nikmat sekali sayang..”
Kontolku semakin aku kayuh dengan cepat.
“Tante.. Nikmat sekali memekmu. Aaah.. Punyaku mau keluar sayang..”, mulutku meracau ngomong sendiri.
Akhirnya tak lama kemudian penisku menyemburkan cairan putih kental ke dalam lubang vagina boneka itu. Lemas sudah tubuhku. Setelah beristirahat sejenak, aku kemudian segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan ****** dan tubuhku.

Jarum jam sudah menunjuk ke angka 8 lebih 30 menit. Aku sudah selesai mandi dan berdandan.
“Nah, sekarang saatnya berangkat ke tempat tante Ken. Aku sudah nggak tahan pingin lihat kemolekan tubuhmu dari dekat sayang”, gumamku dalam hati.

Kulangkahkan kakiku menuju rumah tante Ken yang hanya berjarak 100 meter aja dari rumahku. Sampai di rumah janda montok itu, segera saja aku ketuk pintunya.

“Ya, sebentar”, sahut suara seorang wanita dari dalam yang tak lain adalah tante Ken.
Setelah pintu dibuka, mataku benar-benar dimanja oleh tampilan sosok tante Ken yang aduhai dan berdiri persis di hadapanku. Pagi itu tante mengenakan celana street hitam dipadu dengan atasan kaos ketat berwarna merah dengan belahan lehernya yang agak ke bawah. Sehingga nampak jelas belahan yang membatasi kedua payudaranya yang memang montok luar biasa. Tante Ken kemudian mengajakku masuk ke dalam rumahnya dan menutup serta mengunci pintu kamar tamu. Aku sempat dibuat heran dengan apa yang dilakukan janda itu.

“Ada apa sih tante, kok pintunya harus ditutup dan dikunci segala?”, tanyaku penasaran.
Senyuman indah dari bibir sensual tante Ken mengembang sesaat mendengar pertanyaanku.
“Oh, biar aman aja. Kan aku mau ajak kamu ke kamar tengah biar lebih rilek ngobrolnya sambil nonton TV”, jawab tante Ken seraya menggandeng tanganku mengajak ke ruangan tengah.

Sebenarnya sudah sejak di depan pintu tadi penisku tegang karena terangsang oleh penampilan tante Ken. Malahan kali ini tangan halusnya menggenggam tanganku, sehingga kontolku nggak bisa diajak kompromi karena semakin besar aja. Di ruang tengah terhampar karpet biru dan ada dua bantal besar diatasnya. Sementara diatas meja sudah disediakan minuman es sirup berwarna merah. Kami kemudian duduk berdampingan.

“Ayo Ron diminum dulu sirupnya”, kata tante padaku.
Aku kemudian mengambil gelas dan meminumnya.
“Ron. Kamu tahu nggak kenapa aku minta kamu datang ke sini?”, tanya tante Ken sambil tangan kanan beliau memegang pahaku hingga membuatku terkejut dan agak gugup.
“Ehm.. Eng.. Nggak tante”, jawabku.
“Tante sebenarnya butuh teman ngobrol. Maklumlah anak-anak tante sudah jarang sekali pulang karena kerja mereka di luar kota dan harus sering menetap disana. Jadinya ya.. Kamu tahu sendiri kan, tante kesepian. Kira-kira kamu mau nggak jadi teman ngobrol tante? Nggak harus setiap hari kok..!”, kata tente Ken seperti mengiba.
Dalam hati aku senang karena kesempatan untuk bertemu dan berdekatan dengan tante akan terbuka luas. Angan-angan untuk menikmati pemandangan indah dari tubuh janda itu pun tentu akan menjadi kenyataan.
“Kalau sekiranya saya dibutuhkan, ya boleh-boleh aja tante. Justru saya senang bisa ngobrol sama tante. Biar saja juga ada teman. Bahkan setiap hari juga nggak apa kok.”

Tante tersenyum mendengar jawabanku. Akhirnya kami berdua mulai ngobrol tentang apa saja sambil menikmati acara di TV. Enjoi sekali. Apalagi bau wangi yang menguar dari tubuh tante membuat angan-anganku semakin melayang jauh.
“Ron, udara hari ini panas ya? Tante kepanasan nih. Kamu kepanasan nggak?”, tanya tante Ken yang kali ini sedikit manja.

“Ehm.. Iya tante. Panas banget. Padahal kipas anginnya sudah dihidupin”, jawabku sambil sesekali mataku melirik buah dada tante yang agak menyembul, seakan ingin meloncat dari kaos yang menutupinya.
Mata Tante Ken terus menatapku hingga membuatku sedikit grogi, meski sebenarnya birahiku sedang menanjak. Tanpa kuduga, tangan tante memegang kancing bajuku.

“Kalau panas dilepas aja ya Ron, biar cepet adem”, kata tante Ken sembari membuka satu-persatu kancing bajuku, dan melepaskannya hingga aku telanjang dada…
Aku saat itu benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan tante padaku. Dan aku pun hanya bisa diam terbengong-bengong. Aku tambah terheran-heran lagi dengan sikap tente Ken pagi itu yang memintaku untuk membantu melepaskan kaos ketatnya.

“Ron, tolongin tante dong. Lepasin kaos tante. Habis panas sih..”, pinta tante Ken dengan suara yang manja tapi terkesan menggairahkan.

Dengan sedikit gemetaran karena tak menyangka akan pengalaman nyataku ini, aku lepas kaos ketat berwarna merah itu dari tubuh tante Ken. Dan apa yang berikutnya aku lihat sungguh membuat darahku berdesir dan penisku semakin tegang membesar serta jantung berdetak kencang. Payudara tante Ken yang besar tampak nyata di depan mataku, tanpa terbungkus kutang. Dua gunung indah milik janda itu tampak kencang dan padat sekali.

“Kenapa Ron. Kok tiba-tiba diam?”, tanya tante Ken padaku.
“E.. Em.. Nggak apa-apa kok tante”, jawabku spontan sambil menundukkan kepala.
“Ala.. enggak usah pura-pura. Aku tahu kok apa yang sedang kamu pikirkan selama ini. Tante sering memperhatikan kamu. Roni sebenarnya sudah lama pingin ini tante kan?” kata tante sambil meraih kedua tanganku dan meletakkan telapak tanganku di kedua buah dadanya yang montok.

“Ehm.. Tante.. Sa.. Ya.. Ee..”, aku seperti tak mampu menyelesaikan kata-kataku karena gugup. Apalagi tubuh tante Ken semakin merapat ke tubuhku.

“Ron.. Remas susuku ini sayang. Ehm.. Lakukan sesukamu. Nggak usah takut-takut sayang. Aku sudah lama ingin menimati kehangatan dari seorang laki-laki”, rajuk tante Ken sembari menuntun tanganku meremas payudara montoknya.
Sementara kegugupanku sudah mulai dapat dikuasai. Aku semakin memberanikan diri untuk menikmati kesempatan langka yang selama ini hanya ada dalam angan-anganku saja. Dengan nafsu yang membara, susu tante Ken aku remas-remas. Sementara bibirku dan bibirnya saling berpagutan mesra penuh gairah. Entah kapan celanaku dan celana tante lepas, yang pasti saat itu tubuh kami berdua sudah polos tanpa selembar kainpun menempel di tubuh. Permaianan kami semakin panas. Setelah puas memagut bibir tante, mulutku seperti sudah nggak sabar untuk menikmati payudara montoknya.
“Uuhh… Aah…” Tante Ken mendesah-desah tatkala lidahku menjilat-jilat ujung puting susunya yang berbentuk dadu.
Aku permainkan puting susu yang munjung dan menggiurkan itu dengan bebasnya. Sekali-kali putingnya aku gigit hingga membuat Tante Ken menggelinjang merasakan kenikmatan. Sementara tangan kananku mulai menggerayangi “vagina” yang sudah mulai basah. Aku usap-usap bibir vagina tante dengan lembut hingga desahan-desahan menggairahkan semakin keras dari bibirnya.

“Ron.. Nik.. Maat.. Sekali sa.. Yaang.. Uuuhh.. Puasilah tante sayang.. Tubuhku adalah milikmu”, suara itu keluar dari bibir janda montok itu.

Aku menghiraukan ucapan tante karena sedang asyik menikmati tubuh moleknya. Perlahan setelah puas bermain-main dengan payudaranya mulutku mulai kubawa ke bawah menuju vagina tante Ken yang bersih terawat tanpa bulu. Dengan leluasa lidahku mulai menyapu vagina yang sudah basah oleh cairan.

Aku sudah tudak sabar lagi. Batang penisku yang sudah sedari tadi tegak berdiri ingin sekali merasakan jepitan vagina janda cantik nan montok itu. Akhirnya, perlahan kumasukkan batang penisku ke celah-celah vagina. Sementara tangan tante membantu menuntun tongkatku masuk ke jalannya. Kutekan perlahan dan…

“Aaah…”, suara itu keluar dari mulut tante Ken setelah penisku berhasil masuk ke dalam liang senggamanya.
Kupompa penisku dengan gerakan naik turun. Desahan dan erangan yang menggairahkanpun meluncur dari mulut tante yang sudah semakin panas birahinya.

“Aach.. Ach.. Aah.. Terus sayang.. Lebih dalam.. Lagi.. Aah.. Nik.. Mat..”, tante Ken mulai menikmati permainan itu.
Aku terus mengayuh penisku sambil mulutku melumat habis kedua buah dadanya yang montok. Mungkin sudah 20 menitan kami bergumul. Aku merasa sudah hampir tidak tahan lagi. Batang kemaluanku sudah nyaris menyemprotkan cairan sperma.

“Tante.. Punyaku sudah mau keluar..”
“Tahan seb.. Bentar sayang.. Aku jug.. A.. Mau sampai.. Aaach..”, akhirnya tante Ken tidak tahan lagi.
Kamipun mengeluarkan cairan kenikmatan secara hampir bersamaan. Banyak sekali air mani yang aku semprotkan ke dalam liang senggama tante, hingga kemudian kami kecapekan dan berbaring di atas karpet biru.
“Terima kasih Roni. Tante puas dengan permainan ini. Kamu benar-benar jantan. Kamu nggak nyeselkan tidur dengan tante?”, tanya beliau padaku.

Aku tersenyum sambil mencium kening janda itu dengan penuh sayang.

“Aku sangat senang tante. Tidak kusangka tante memberikan kenikmatan ini padaku. Karena sudah lama sekali aku berangan-angan bisa menikmati tubuh tante yang montok ini”
Tante Ken tersenyum senang mendengar jawabanku.

“Roni sayang. Mulai saat ini kamu boleh tidur dengan tante kapan saja, karena tubuh tante sekarang adalah milikmu. Tapi kamu juga janji lho. Kalau tante kepingin… Roni temani tante ya.”, kata tante Ken kemudian.
Aku tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Dan kami pun mulai saling merangsang dan bercinta untuk yang kedua kalinya. Hari itu adalah hari yang tidak pernah bisa aku lupakan. Karena angan-anganku untuk bisa bercinta dengan tante Ken dapat terwujud menjadi kenyataan. Sampai saat ini aku dan tante Ken masih selalu melakukan aktivitas sex dengan berbagai variasi. Dan kami sangat bahagia.

Cerita Dewasa Angin Sejuk Kintamani

Cerita Dewasa Angin Sejuk Kintamani - Siang itu suasana di salah satu SMU negeri di Denpasar sangat hiruk-pikuk oleh ramainya pengumuman bagi siswa kelas 3 yang akan mengakhiri hari terakhir mereka di sekolah tercinta. Salah seorang gadis yang berbaju abu-abu dengan rambut panjang ikut berjubel diantara kerumunan murid-murid lainnya. Dia bernama Udiyani siswa kelas 3 jurusan pariwisata, dengan tinggi yang 169 cm memudahkan bagi dirinya untuk melihat papan pengumuman, tanpa harus berada di kerumunan terdepan.

Cerita Dewasa Angin Sejuk Kintamani

Udiyani adalah pacarku ketika aku masih bekerja di sebuah travel agent di Bali, sebelum aku pindah ke Lombok untuk menjadi pemain musik di cafe. Dengan senyum kemenangan dia mendatangi aku yang sedang berdiri tak jauh dari tempat parkir sepeda motor.

"Mas Adiet.. Aku lulus..," teriaknya sembari memeluk aku.

Yang aku sambut dengan mengulurkan tangan dan mendekapnya erat.

"Syukur deh.. Sayang kamu bisa lulus" ujarku ikut gembira.

Sesuai rencana sebelum acara pengumuman, Udiyani mengajaku ke Kintamani apabila dia lulus. Sebagai ungkapan kegembiraannya atas berhasilnya dia menyelesaikan masa SMU dengan baik.

Tanpa menunggu waktu lagi aku dan Udiyani berangkat ke Kintamani, yang kebetulan siang itu udaranya cukup segar dan memang sebagai lokasi wisata yang menawarkan pemandangan alam pegunungannya, Kintamani selalu sejuk, apalagi menjelang senja dinginnya sampai menusuk tulang.

Dengan mengendarai motor, aku menjalankannya tanpa perlu terburu-buru, karena aku nggak mau melewatkan saat-saat terindah berdua terlewatkan begitu saja. Tangan Udiyani memeluk pinggangku erat, sesekali dia mencumbu belakang telingaku mesra. Tanpa terasa penisku yang berlapiskan celana jeans biru kesukaanku bergerak pelan, menandakan gejolak kelakianku mulai tergoda dengan adanya cumbuan-cumbuan Udiyani yang lembut.

Perjalanan ke Kintamani melewati jalan yang berkelok-kelok, dikanan jalan ada pemandangan danau bedugul yang sangat indah dengan airnya yang jernih, tapi sayang sore itu udaranya agak berkabut, sehingga mengganggu jarak pandang kita.

Aku dan Udiyani memutuskan untuk berhenti sesaat, sambil menikmati udara sore itu di Sebuah cafe kecil di tepian jalan yang pemandangannya langsung menghadap ke Danau Bedugul. Sambil memesan minuman hangat, aku mengeluarkan sebatang rokok kesukaanku dan menyalakannya sesaat, sebelum aku menghisapnya dalam-dalam.

Aku dan Udiyani Duduk memilih duduk di tempat yang agak ke pojok, karena kebetulan juga tempatnya cukup menguntungkan buat menikmati pemandangan ke Danau. Setelah menunggu beberapa saat minuman pesanan kita pun datang. Tanpa menunggu beberapa saat, sebelum pelayan pergi Udiyani sudah terlebih dulu meminumnya hal ini di karenakan udara pegunungan yang berkabut sudah mulai terasa menusuk tulang belulang.

Dengan lembut aku memeluk Udiyani yang nampaknya mulai kedinginan.

"Kamu kedinginan sayang?" Tanyaku

"Iyah nih Mas.." katanya pelan.

Sambil memeluk Udiyani aku membisikan kata-kata mesra.

"Adiet hangatkan yah sayang..!" kataku lembut di belakang telinga.

Udiyani hanya tersenyum manis, tanpa berkomentar sambil mengedipkan matanya tanda setuju. Udara sepertinya sangat mendukung sekali sehingga aku dan Udiyani semakin rapat berpelukan. Ketika ada keheningan sesaat diantara obrolan kita, tak pernah aku melewatkan untuk mengecup bibir Udiyani yang ranum tanpa terpoles lisptick.

"Ohh.. Mas.." desahnya ketika kecupan lembutku mengantarkannya melambung.

Kemesraan kita di cafe tak berlangsung lama, dikarenakan hari mulai menjelang senja. Setelah membayar minuman yang kita pesan, aku menggandeng tangan Udiyani dengan mesra untuk meninggalkan cafe dan mencari penginapan di sekitar Kintamani yang memang sudah dekat dari cafe tersebut.

Tak lama berselang aku menemukan sebuah hotel yang tempatnya begitu cocok menurut kita berdua.
Di Hotel itu tersedia restaurant yang pada malam harinya menyajikan acara live accustic musik.
Sengaja aku memilih Hotel yang ada fasilitasnya seperti itu, karena aku juga pemain musik di cafe yang posisiku di band pemegang rythm sekaligus vokal.

Setelah urusan dengan resepsionist selesai, aku mengajak Udiyani berjalan ke arah kamar. Kamar kami sangat romantis, di depan ada taman dan pancuran air kecil dari sumber mata air sekitar Kintamani dan ada tempat duduknya yang di hiasi lampu temaram. Di dalam kamar aku langsung rebahan di tempat tidur, karena perjalanan kita dari denpasar sedikit melelahkan membuat pegal-pegal di persendian.

"Mas.. Aku mau mandi dulu yah," katanya.

"Ntar keburu kedinginan, sekarang aja mulai terasa nih udaranya," sahutnya lagi.

"Kalau begitu kita sekalian aja mandi bareng," godaku.

"Boleh.. Siapa takut.." tantangnya kemudian.

Dengan berlari kecil aku mengejar Udiyani yang sudah sampai di depan kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, aku langsung membuka kaosku dan hanya mengenakan celana pendek.

"Sayang.. Ini kan hari bahagia kamu setelah kamu lulus" kataku kemudian.

"iya aku tahu itu.. Lantas kenapa sayang?"tanya Udiyani mesra.

"Aku ingin memanjakan kamu dengan cara memandikan kamu mulai dari menggosok seluruh tubuh kamu, menyabuninya dan menyirami dengan shower," kataku lagi.

"Muachh.." seketika Udiyani mengecup bibirku lembut.

"Makasih sayang.. Kamu sudah manjain aku," sahutnya lagi.

Dengan lembut aku mulai membuka seragam SMU Udiyani yang masih dikenakan saat itu. Di mulai dari hemnya aku buka kancing atasnya secara perlahan, sambil aku memandangi wajahnya yang manis serta dengan senyumnya yang penuh pesona. Setelah kancing kedua aku buka, maka terpampanglah keindahan bukit payudaranya yang berukuran 36b itu mencuat keluar kontras dengan branya yang berwarna hitam. Aku menyelesaikannya dengan kancing terakhir, sembari aku mengecup kecil bukit payudaranya yang lembut.

Tinggallah rok abu-abunya yang belum aku sentuh. Sesaat aku mengecup kembali bibirnya yang menantang dengan sorot matanya yang pasrah. Kembali dengan perlahan aku membuka rok Udiyani, yang aku awali dengan menurunkan ziper di belakangnya.

"Srett.." bunyi ziper roknya ketika aku turunkan.

Dengan sekali rengkuh, terlepaslah rok Udiyani menyentuh lantai. Udiyani saat itu mengenakan CD warna hitam juga, yang dikombinasikan renda di pinggir dan di bagian tengahnya, sehingga terpampanglah dengan transparan rerumputan hitam lebat melalui renda Cdnya.

Dengan kedua tangan aku melanjutkam menurunkan CD hitamnya dan terpampanglah pemandangan yang membuat aku menelan ludah beberapa saat dan membuat kelakianku tergoda. Celana pendek yang aku kenakan telah menonjol sebelum aku melucuti pakaiannya, ditambah lagi sekarang dia sudah telanjang bulat di depanku.

Dengan lembut aku mulai menyiramkan air dari shower ke seluruh tubuhnya. Yang aku lanjutkan dengan mulai menyabuni punggungnya, pinggulnya yang bahenol, serta betisnya yang jenjang. Yang membuat Udiyani menggelinjang pelan.

"Ohh.. Mas.." desahnya pelan.

Setelah bagian belakang selesai aku sabuni, tinggallah bagian depan yang membuat kelakianku semakin menggelegak. Aku mulai menggosok bagian lehernya terlebih dahulu, karena aku tahu, bagian ini merupakan bagian yang cukup sensitif di samping bagian sensitif yang lainnya yang ada di tubuh Udiyani.

Perlahan tanganku mulai meraba sedikit demi sedikit leher jenjang nan mulus miliknya, dengan telapak tanganku yang penuh dengan busa sabun. Terkadang terdengar desahan lembut Udiyani yang menikmati setiap gerakan tanganku yang menelusuri permukaan kulit halusnya.

"Ohh.. Mas," desahnya lembut.

Kemudian tanganku bergerak turun ke arah dadanya yang membusung dan licin sembari kembali menuangkan sabun cair di sekitar payudaranya sekaligus ke putingnya yang mulai menonjol keras. Sengaja gerakan tanganku di dadanya sedikit melambat, hal ini aku lakukan sekaligus menyabuni dan merangsang payudaranya secara lembut.

Kembali desahan lembut terdengar olehku.

"Ohh.. Mas.. Teruskan"desahnya dengan mata terpejam.

Setelah cukup bermain di bagian dadanya, kembali tanganku bergerak turun ke arah perutnya yang datar yang hanya beberapa saat lamanya. Dan berakhir di daerah yang berbulu lebat nan hitam, tapi tertata dengan rapi menyerupai bentuk CD. Aku menuangkan sedikit shampoo ke tanganku, kemudian aku lanjutkan dengan menggosok bukit vaginanya dengan lembut. Sesekali tanganku menyentuh clitorisnya lembut yang menimbulkan sensasi tersendiri buat Udiyani.

"Ssshshshshsh.." desisnya pelan.

Tak lama aku lanjutkan untuk menggosok untuk lebih ke bawah lagi yaitu di bagian pangkal pahanya yang mulus dan aku menyelesaikan tugas terakhir memandikannya di bagian betisnya yang bak bulir padi itu. Setelah semua bagian tubuh Udiyani penuh dengan busa sabun, kembali aku menyiraminya dengan gagang shower ke seluruh permukaan tubunya untuk tahap akhir, sebelum aku mencumbu tubuhnya.

"Thanks ya.. Mas.. sudah di manjain," katanya pelan.

"Dengan senang hati kok sayang.. Aku lakukan buat kamu," jawabku mesra.

Kemudian aku memeluk tubuh Udiyani mesra, sembari membimbingya untuk duduk di pinggiran bathtub.
Dan selanjutnya aku nyalakan kran airnya. Sembari menunggu airnya penuh, aku jongkok di depannya yang lagi duduk sembari menaikkan salah satu kakinya di pinggiran bathtub. Lidahku mencumbu seluruh permukaan kakinya yang kemudian aku lanjutkan dengan menghisap lembut jemari kakinya yang lentik dan wangi itu.

Udiyani terpejam menerima perlakuanku yang begitu lembut, sehingga melambungkan nafsunya yang memang sudah sangat terangsang sejak awal. Lidahku begerak naik menelusuri betisnya yang jenjang dan berakhir di pahanya yang mulus. Gerakan lidahku semakin liar namun lembut, setelah sampai di pangkal pahanya. Aku menjulurkan lidahku kembali ke arah lekukan pangkal pahanya dan hal ini berpengaruh sekali untuk tubuh Udiyani menerima rangsangan dariku.

Dengan kedua tanganku aku mulai menyibak vaginanya yang aromanya khas sekali, dan kemudian aku julurkan lidahku yang basah ke permukaan clitorisnya yang mulai menonjol pelan. Kembali tubuh Udiyani mengelinjang pelan penuh kenikmatan menerima perlakuan ini.

"Hekk.. Sshh.. Mas," desahnya tak teratur.

Aku tahu kalau Udiyani begitu menikmati dan suaranya parau namun terdengar cukup sensual. Selanjutnya dengan gerakan mantap aku julurkan lidaku menerobos liang vaginanya yang mulai basah oleh lendir kenikmatan yang keluar dari vaginanya. Tiba-tiba gerakan tangan Udiyani begitu cepat merengkuh belakang kepalaku dan menariknya untuk lebih dalam ke permukaan vaginanya.

"Ohh.. Mas.. Aku mau keluar," teriaknya kecil.

Tanpa berhenti gerakan lidahku terus menerobos semakin ke dalam dan ini menimbulkan sensasi yang lebih hebat untuknya dan di akhiri dengan teriakannya yang panjang.

"Ohh.. Mass.." Udiyani mendesah lembut.

Setelah mencapai orgasmenya yang kesekian kalinya, aku memberikan kesempatan buatnya untuk istirahat sejenak, sambil aku berdiri menutup kran air yang ternyata sudah penuh. Kemudian aku berjalan ke pinggiran bathtub dan duduk disamping Udiyani untuk mencumbunya kembali. Perlahan tubuh Udiyani merosot ke bawah ke arah selangkanganku dan dengan gerakan lembut mulutnya melahap ujung penisku yang memang sudah sangat keras dari permainan awal.

Lidahnya bermain dengan perpaduan hisapan dan liukan ujungnya di rongga mulut miliknya yang mungil. Aku mendesah lembut menerima perlakuannya ini.

"Ohh.. Sayang.. Enak sekali," desahku dengan nafas tertahan.

Selanjutnya dengan lembut aku angkat tubuhnya dan memeluk pinggangnya untuk membelakangiku. Dengan lembut tanganku meremas payudaranya dari belakang dan menarik tubuhnya untuk mengambil posisi duduk. Udiyani melebarkan kakinya sembari jemari tangannya yang lentik memegang batang penisku dan mengarahkannya tepat di lubang vaginanya yang sudah basah oleh lendir. Perlahan Udiyani menurunkan pinggulnya secara lembut, maka melesaklah seluruh batang penisku yang sudah mencapai ereksi maksimal.

"Ohh.. Shhss," desah kami berbarengan.

Setelah penisku menembus bagian dalam vaginanya. Tanganku kembali meremas kedua payudaranya dari belakang dan lidahku menjilati punggungnya yang penuh dengan butir-butir air. Jemari tanganku yang kiri memilin ujung putingnya yang keras dan ini membuat bibirnya mendesah pelan.

"Ssshh.." desahnya penuh erotis.

Sementara tangan kananku menarik wajahnya mendekat ke wajahku. Aku mengulum bibirnya yang masih terbuka menahan nikmat dengan lembut. Udiyani tak tinggal diam dengan menggerakkan pinggulnya memutar seirama dengan gerakan pinggulku yang menghujam vaginanya lebih dalam.

Desahan dan teriakan kecil diantara percintaan kami sesekali terdengar. Dan ini menimbulkan kesan erotis tersendiri buat kita. Setelah beberapa saat lamanya adegan ini berlangsung. Tiba-tiba tubuh Udiyani bergetar dan semakin cepat gerakan pinggulnya.

"Mas.. Aku mau keluar," teriaknya.

"Kita keluarkan bersama sayang.." sahutku

"Aku juga mau keluar nih," timpalku lagi.

Kembali tanganku menarik wajahnya dan mengulum bibirnya dengan lembut. Dan tanganku satunya memilin ujung puting payudaranya. Dengan erat aku memeluk tubuhnya begitu aku merasakan cairan hangat menyirami batang penisku. Dan tak berlangsung lama penisku juga menyemburkan sperma ke dalam rongga vaginanya.

"ohh.. Mass.. Aku keluar," teriaknya bergetar.

"Aku juga.. Sayangg.." dengan nafas tak teratur.

Masih dengan posisi aku memeluk tubuhnya dari belakang aku mengulum bibirnya kembali sampai tetes terakhir spermaku dan di akhiri dengan mengecilnya penisku di dalam vagina Udiayani. Percintaanku dan Udiyani berlangsung kembali setelah acara makan malam di cafe yang malam itu pengunjungnya cukup ramai.

Selama makan malam berlangsung aku memilih meja yang meghadap langsung ke panggung dan ada di deretan tengah agak di ujung. Di atas meja aku nyalakan sebatang lilin untuk menemani makan malam kami. Malam itu semakin berkesan buat Udiyani, karena aku menyumbangkan sebuah lagu karanganku di acara live musik di cafe tersebut untuk dirinya yang sengaja khusus buat dirinya.

Begitulah kisah cintaku yang sampai saat ini aku masih menyimpanya di dalam hati sebagai kenangan yang manis di dalam hidupku.

Inilah Posisi Bercinta Yang Pas Di Pagi Hari

Inilah Posisi Bercinta Yang Pas Di Pagi Hari - Menurut terapis seks Arlene Goldman, PhD , gairah seksual pria berada pada tingkat tertingginya di pagi hari. Kebanyakan pria biasanya bangun tidur dengan ukuran Mr Happy yang lebih besar karena sirkulasi darah ke organ tersebut lebih lancar ketika semalaman dia tidur. Akibatnya, dia akan merasakan ereksi dan ingin segera melepaskannya dengan bercinta bersama pasangannya.

Inilah Posisi Bercinta Yang Pas Di Pagi Hari

Salah satu penyebab gairah seks pria lebih tinggi di pagi hari karena saat bangun tidur, hormon testosteron pada pria meningkat.

"Testosteron merupakan kontributor utama dalam memunculkan hasrat seksual pada pria," jelas Harry Fisch, MD, penulis 'Size Matters' seperti dikutip dari Cosmopolitan. Jika tiba-tiba suami mengajak Anda bercinta di pagi hari, coba sediakan waktu untuk memenuhi hasrat seksualnya itu. Mungkin Anda cenderung enggan bercinta di pagi hari; bau nafas tak sedap, rambut berantakan dan wajah lesu memang bisa mengganggu mood bercinta.

Untuk mendapatkan mood bercinta, segarkan sedikit tubuh Anda dengan memercikkan air ke wajah dan merapikan diri sebentar. Katakan pada pasangan bahwa Anda hanya perlu waktu 30 menit untuk bersiap-siap, seperti membersihkan wajah, menggosok gigi dan merapikan rambut. Setelah selesai, Anda dan pasangan pun siap beraksi.

Pria akan memiliki energi yang lebih banyak untuk bercinta di pagi hari, jadi yang perlu Anda lakukan hanya mengikuti 'alur' bercinta si dia. Pilihlah posisi seks yang mudah dilakukan namun tetap bisa memberi kenikmatan dan kepuasan bagi Anda berdua. Ada tiga posisi seks yang cocok untuk diterapkan saat seks pagi hari, seperti dilansir Menshealth.

1. Spooning
"Spooning merupakan posisi yang ideal untuk seks pagi hari," jelas konselor seks dan penulis 'Till Sex Do Us Part', Trina Read. Tina menambahkan, "Banyak pasangan yang tidur dengan posisi ini. Dia bisa meraba tubuh Anda dengan bebas dan melakukan stimulasi pada klitoris Anda."

Posisi ini memungkinkan Anda untuk lebih santai dan tidak banyak bergerak (karena bangun tidur biasanya membuat tubuh lesu) sementara si dia yang lebih aktif saat bercinta. Anda pun bisa memenuhi kebutuhan seks suami, sekaligus mendapatkan kenikmatan tanpa harus banyak berusaha.

2. Doggy Style
Dengan posisi tersebut pasangan bisa dengan mudah menstimulasi G-spot Anda. Tangan si dia bisa bebas menstimulasi klitoris. Pasangan juga bisa melakukan penetrasi lebih dalam dengan kecepatan yang dapat disesuaikan. Sementara Anda, cukup bertumpu pada lengan dan kaki, dan biarkan si dia yang lebih aktif.

3. Misionaris
Posisi misionaris jadi favorit karena banyak orang menganggap itulah cara bercinta yang sebenarnya. Posisi klasik itu juga membuat Anda dan pasangan bisa terus berdekatan dan berpelukan hangat. Selain itu karena pasangan yang berada di atas, Anda cukup tidur terlentang dan memberi dia kesempatan banyak untuk bereksplorasi dengan tubuh Anda.

Cerita Dewasa Pembantu Lugu Memberi Kepuasan

Cerita Dewasa Pembantu Lugu Memberi Kepuasan - Namanya Tinah, dari Banjarnegara. Suaminya meninggal di Kalimantan tahun kemarin, hampir berbarengan dengan salah satu anaknya juga. Kini satu – satunya anaknya tinggal dengan ibunya di desa. Tinah berwajah cukup manis; lumayan tinggi untuk ukuran perempuan kita; rambut sepundak lebih; hampir seumur adikku. Ia sebagian besar bertugas mengasuh anaknya adikku yang masih di bawah balita, walau juga membantu satu temannya bersih – bersih rumah. Kondisi psikologisnya yang seperti itu membuatnya sering terlihat diam dan kurang dapat memahami apa yang diperintahkan adikku, kasihan memang.Aku termasuk cukup sering berkunjung ke rumah adik. Karena suaminya sering ke luar kota, sehingga aku terkadang diminta untuk menemani atau bila mereka sedang ke luar kota bersama maka aku yang menjaga rumah. Sikapku terhadap Tinah dan temannya biasa saja, tidak ada yang khusus. Mereka pun demikian. Tinah berpakaian biasa – biasa saja bila di rumah adikku. Berkaos dan bercelana selutut, kadang memakai rok. Terkadang kaos yang dipakai Tinah sedikit longgar. Sehingga jika ia menundukkan badan, sedikit terlihat belahan dada bahkan gunung kembarnya yang masih tertutup BH. Wajar jika aku kadang – kadang mataku mencuri – curi kesempatan itu. Ukurannya biasa saja, 32 mungkin.

Cerita Dewasa Pembantu Lugu Memberi Kepuasan

Saat itu aku sedang diminta menjaga rumah adik, karena keluarganya akan pergi hingga sore dan Tinah tinggal di rumah, karena kondisi perutnya yang kurang baik. Menjelang keberangkatan keluarga adik, aku sudah datang di sana.
“Mas..Tinah di rumah, perutnya agak kurang beres. Mis yang tak bawa“, adikku memberi tahu. “Oo..ya“, jawabku. Tak berapa lama mereka telah berangkat. Aku bergegas memasukkan sepeda motor ke dalam rumah. Tinah lalu mengunci pagar. Aku masuk rumah lalu cepat – cepat duduk di depan komputer, browsing, karena suami adikku memasang internet untuk mendukung pekerjaannya. Mengecek email; cari info ini itu dlsb..he3x. 10 menit kemudian Tinah menyajikan segelas es teh untukku. “Makasih ya Tin“, ucapku. “Iya Pak..silakan diminum“, kata Tinah. Pembantu – pembantu adikku memang dibiasakan memanggil “Pak“ pada saudara – saudara majikannya, padahal terdengar sedikit asing di telinga. Tinah lalu kembali ke dapur, aku lalu meminum es tehnya, “Hah..segernya“, cuaca sedikit panas walau agak mendung.
Tinah kembali memasuki ruang keluarga, merapikan mainan – mainan anak adikku. Posisi meja komputer dan mainan yang bertebaran di lantai selisih dua kotak. Semula aku belum ngeh akan hal itu. Semula mataku menatap layar komputer di situs DS. Saat Tinah mulai memasukkan kembali mainan – mainan ke keranjang, baru aku menyadarinya. Sesekali aku meliriknya. “Sedikit putih ternyata anak ini. Bodynya biasa aja sih, langsing dan kayaknya masih padat. Wah..ini gara – gara masuk situs DS jadi mikir macem – macem..hi3x“, pikiranku berkata – kata. Karena jarak kami yang lumayan dekat, maka ketika Tinah bersimpuh di lantai merapikan mainan di keranjang, otomatis kaosnya yang sedikit longgar memperlihatkan sebentuk keindahan yang terbungkus penutup warna biru. Tinah jelas tidak tahu kenakalan mataku yang sedang menatap sebagian keindahan tubuhnya. “Andaikan aku…uhh..ngayal nih“. Tak terasa penisku mulai membesar, “Ke kamar mandi mbetulin posisi penis nih..sambil kencing“. Komputer kutinggal dengan layar bergambar Maria Ozawa sedang disetubuhi di kamar mandi. Aku lalu masuk kamar mandi, membuka jins dan cd lalu mengeluarkan penis. Agak susah juga kencing dengan penis yang sedikit tegang. “Lah..pintu lupa tak tutup“, aku terkejut. “Terlanjur..gak ada orang lain kok“, aku mendinginkan diri.

Aku keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di depan komputer, melanjutkan ngubek – ubek DS. “Cari camilan di meja makan ah..jadi lapar“. Aku mencari apa yang bisa dimakan untuk menemani kesibukan nge – net. “Ada roti sama biskuit nih..asyik“. Roti kusemir mentega dan selai kacang dan diatasnya kulapis dengan selai blueberry, “Hmm..enaknya. Nanti bikin lagi ah..masih banyak rotinya“. Rumah adikku tipe agak kecil, jadi jarak antar ruangan agak dekat. Letak meja makan dengan kamar pembantu hanya 3meter – an. Kulihat dengan ujung mata, Tinah sedang di kamarnya entah beraktifitas apa. Selesai menyelesaikan semiran roti, aku kembali ke ruang keluarga yang melewati kamar pembantu dan kamar mandi mereka. 2detik aku dan Tinah bertatapan mata, tidak ada sesuatu, biasa saja. Kumakan roti sambil n – DS lagi.
Terdengar gemercik air di belakang. Mungkin Tinah sedang mencuci perabotan dapur atau sedang mandi. “Belum ambil air putih nih..“, tak ada maksud apa – apa dengan suara air tersebut. Hanya kebetulan aku belum minum air putih, walau telah ada es teh. Aku ke ruang makan lagi dan mengambil gelas lalu menuju dispenser. Mata dan pikiran hanya tertuju pada air yang mengucur dari dispenser. Baru setelah melewati kamar mandi pembantu ada yang special di sana. ”Lah..pintunya kok sedikit mbuka. Tin lupa dan sedang apa di dalam..moga gak mandi. Bisa dilaporin ngintip aku”. Masih tak terlihat kegiatannya, setelah tangan yang sedang menggapai gayung dan kaki yang diguyurnya baru aku ngeh..Tinah sedang mandi. ”Duhh..kesempatan sangat – sangat langka ini..tapi..kalo dia teriak dan nanti lapor adikku..bisa gawat bin masalah. Berlagak gak liat aja ahh”. Aku menutup pintu kaca ruang makan dan melewati kamar mandi Tinah. Tiba – tiba ”Ahh..ada kecoak..Hush..hush..Aduhh..gimana nih”, terdengar keributan di sana.

”He3x..ternyata dia takut kecoak toh”, aku tersenyum sambil pegang gelas saat melewati kamar mandi.

”Pak..Pak”, Tinah memanggilku. ”Walah..malah panggil aku. Gimana nih”. ”Tolong ambilkan semprotan serangga di gudang ya Pak..cepet ya Pak..atau..”, tidak terdengar lanjutan kalimatnya. Sejak Tinah bersuara, aku sudah berhenti dan diam di dekat pintu kamar mandi. ”Atau..Bapak yang masuk pukul kecoaknya..mumpung masih ada”, lanjutnya. Deg..”Ini..antara khayalan yang jadi nyata dan ketakutan kalo dilaporkan”, aku berpikir. ”Cepet Pak..kecoaknya di dekat kloset. Bapak masuk aja..nggak pa – pa. Nggak saya laporin ke Bapak sama Ibu”, Tinah tahu keraguanku. ”Jangan ah..nanti kalo ada yang tau atau kamu laporin bisa rame”, jawabku. ”Nggak Pak..bener. Aduh..cepet Pak..dia mau pindah lagi”, Tinah kembali meyakinkanku dan meminta aku cepat masuk karena kelihatannya si kecoak mau lari lagi. ”Ya udah kalo gitu. Bentar..ambil sandal dulu”. Sambil tetap menimbang, take it or leave it. Aku menaruh gelas di meja makan lalu mengambil sandal untuk membunuh kecoak nakal itu. Entah rejeki atau kesialan bagiku tentang kemunculannya. ”Aku masuk ya Tin”, masih ragu diriku. ”Masuk aja Pak”, Tinah tetap membujukku. Kubuka pintu kamar mandi sedikit, lalu kuintip letak kecoaknya, belum terlihat. Pintu dibuka lebih lagi oleh Tinah. Kepalanya sedikit terlihat dari balik pintu dan tangannya menunjuk letak kecoak, ”..tuh Pak mau lari lagi”. Aku melihatnya dan mulai masuk. Tinah berdiri di balik pintu dengan menutupi sedikit bagian tubuhnya dengan handuk. Terlihat paha; pundak dan daging susunya. Serta rambut yang diikat di belakang kepalanya, walau hanya sedikit semua. Handuknya menutupi bagian paha ke atas, perut hingga bagian dada, warna biru, yang disangga tangan kirinya. Semua hal itu dari ekor mataku, karena fokusku pada sang kecoak. ”Memang mulus dan cukup putih”, masih sempat aku memikirkannya. Bagaimana tidak, jarak kami hanya 2 – 3 langkah, tidak ada orang lain lagi di rumah.

”Plak..plak”, kecoak pun mati dengan sukses. Aku guyur dengan air agar masuk ke lubang pembuangan. Tanpa memikirkan lebih lanjut, aku lalu melangkah ke luar kamar mandi. ”Terima kasih ya Pak..sudah nolongin”. ”Oh..iya..”, sambil kutatap dia dan Tinah tersenyum. ”Bapak nggak cuci tangan sekalian..di sini saja”, tawar Tinah. ”Wah..ini. Makin bikin dag dig dug”. ”Emm..iya deh”. Aku akan mencuci tangan dengan sabun, yang ternyata posisi tempat sabun ada di belakang tubuh Tinah. Aku menengok ke belakang tubuhnya. Rupanya dia baru sadar, lalu mengambilkan sabun, ”Maaf Pak..ini sabunnya”. Tinah mengulurkan sabun dengan tersenyum. Sabun yang sedikit basah berpindah dan tangan kami mau tidak mau bersentuhan. ”Makasih ya”, ujarku. Aku mencuci tangan dan mengembalikan sabun padanya. ”Bapak nggak..sekalian mandi”, tanya Tinah. ”Waduh..tawaran apa lagi ini. Tambah gawat”. ”Iya..nanti di rumah”. ”Nggak di sini saja Pak?”. ”Kalo di sini yaa di kamar mandi depan”. ”Di kamar mandi ini saja Pak..”. ”Nggaklah..jangan. Di depan aja. Kalo di sini ya habis kamu mandi”. ”Maksud saya..sekalian sekarang sama saya. Hitung – hitung Bapak sudah nolongin saya”. Matanya memohon. Deenngg, sebuah lonceng menggema di kepala. ”Ini ajakan yang membahayakan, juga menyenangkan”, pikirku. ”Bapak nggak usah mikir. Saya nggak akan bilang siapa – siapa. Ya Pak..di sini saja”, dia memahami kekhawatiranku. ”Emm..ya udah kalo kamu yang minta gitu”, jawabku.

Entah mengapa aku merasa canggung saat akan membuka kaosku. Padahal tidak ada orang lain dan juga sesekali ke pijat plus. Aku buka jam tanganku dulu, lalu aku keluar dari kamar mandi dan kuletakkan di meja makan. Posisi Tinah masih tetap di belakang pintu, dengan tangan kanan menahan pintu agar tetap agak terbuka. Kembali ke kamar mandi, kubuka kaosku dan kusampirkan di cantolan yang menempel di tembok. ”Pintunya nggak ditutup aja Tin ?”, tanyaku. Pertanyaanku sesungguhnya tidak memerlukan jawaban, hanya basa basi. “Nggak usah Pak..kan nggak ada siapa – siapa”, jawab Tinah. Lalu kubuka jinsku, kusampirkan pula. Sesaat aku masih ragu melepas kain terakhir penutup tubuhk, cd – ku. “Bapak nggak nglepas celana dalem ?”, tanyanya. “Heh..ya iya”, kujawab dengan nyengir. Penisku sebisa mungkin kutahan tidak mengembang, tapi hanya bisa kutahan mengembang ¼ – nya. Sengaja kutatap matanya saat melepas cd – ku. Mata Tinah sedikit membesar. Kusampirkan juga cd – ku. Lalu dengan tenang Tinah menyampirkan handuk biru yang sedari tadi menutup sebagian tubuhnya. “Duh..pantatnya masih ok. Pinggangnya tidak berlemak. Sabar ya nak..kita liat situasi dulu”, kataku pada sang penis sambil kuelus.

Tinah lalu membalikkan badan. Cegluk, suara ludah yang kutelan. “Uhh..susu yang masih bagus juga. Pentilnya nggak terlalu besar, areolanya juga, warnanya pas..nggak item banget. Perutnya sedikit rata dan..hmm..rambut bawahnya hanya sedikit”. Mau tidak mau, penisku makin mengembang dan itu jelas dilihat Tinah. Kembali sebisa mungkin kutahan perkembangannya. Tinah lalu menggosok gigi dahulu. Karena aku tidak membawa sikat gigi, hanya berkumur dengan obat kumur. “Bapak saya mandiin dulu ya”, kata Tinah. “Terserah kamu”, jawabku sambil tersenyum. Tinah lalu mengambil segayung air, diguyurkan ke badan dari leher dan pundak. Mengambil lagi segayung, diguyurkan ke perut dan punggung ditambah senyum manisnya. Ia lalu meraih sabun, digosokkan ke leher; pundak; dada dan tangan kananku. Dibasahinya sabun dengan diguyur air lalu digosokkan ke tangan kiri; perut; penis; bola – bolaku. “Uhh..gimana bisa nahan penis nggak ngembang”. Bagaimana tidak, saat menggosok penis dan bola – bolaku sengaja digosok dan di urutnya. Ditatapnya senjata kebanggaanku, lalu menatapku dan tersenyum. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum juga. Diambilnya lagi segayung air, sabun dibasahi dan sisanya diguyurkan ke paha dan kaki lalu digosoknya. Sabun kemudian diletakkan di pinggir bak mandi, kemudian mengambil segayung air dan diguyurkan ke badan depanku. Ambil segayung lagi dan diguyurkan lagi, tak lupa senjataku dibersihkan dari sisa – sisa sabun. Sedikit diremas oleh Tinah. Kutahan keinginanku untuk membalas perlakuannya, “biar Tinah yang pegang kendali”.

“Balik badan Pak”, perintahnya. Air diguyurkan ke punggung dan bagian bawah badanku. Digosoknya punggung; pantat; lalu paha dan kaki sisi belakang. Bonusnya, kembali menggosok penis dan bola – bolaku dan meremasnya. “Duh..ni anak. Bikin senewen..sengaja membuat panas aku“. Kembali air mengguyur tubuh belakangku, sebanyak 3x. Dibalikkan badanku lalu mengguyur senjataku, digosok – gosoknya hingga sedikit memerah. Jantungku makin berdebar. “Sudah selesai Pak“, kata Tinah. “Makasih ya Tin“. “Emm..kamu mau tak mandiin juga ?“, kepalang basah, kutawarkan permintaan seperti dia tadi. “Nngg..nggak usah Pak..ngrepoti Bapak“. “Ya nggaklah..jadi imbang kan“. Langsung kuambil segayung air lalu kuguyur ke tubuh depannya. Ia hanya menatapku. Kuambil lagi segayung. Lalu sabun yang tadi tergeletak di pinggir bak mandi kuambil dan aku basahi. Kugosok leher; pundak; dan kedua tangannya. Kubasahi sabun lagi dan kugosokkan ke dada; kedua susu dan pentilnya; serta perut. Kutatap matanya saat kugosok kedua gunungnya yang kumainkan sedikit pentil – pentilnya. Tinah juga menatapku. Matanya mulai sedikit sayu. 1menit – an kumainkan pentil –pentilnya, lalu sedikit kuremas susu kirinya. Bibirnya sedikit membuat huruf o kecil dan “ohh..hhmm“. Kubasahi lagi sabun, dan kugosokkan ke pinggang; paha dan kedua kakinya. Vagina luar hanya kusentuh sedikit dengan sabun, takut perih dan iritasi nanti. Itupun sudah cukup membuat matanya makin meredup. Air segayung lalu kuguyurkan ke tubuhnya 2 – 3x. Kugosok dan kuremas sedikit keras dua gunungnya. Sedikit berguncang. Dua tangan Tinah memegang pinggir bak mandi, mulai erat. Kumainkan lagi pentil – pentilnya.

Aku merundukkan badan dan kukecup pucuk – pucuk bunganya bergantian. Tak perlu lagi ijin darinya. Tangan kiriku mengusap – usap lembut luar vaginanya. “Ouuh Paakk..“, Tinah mulai mendesah. Kukecup bibirnya lembut, “nanti dilanjut lagi“. Matanya seakan bernada protes, tapi Tinah diam saja. Kubalikkan tubuhnya, lalu kuguyur punggungnya sekarang. Sabun kugosokkan ke punggung; pinggang; pantat. Sabun kubasahi lagi lalu kugosokkan ke paha dan kaki bagian belakang. Aku menyusuri tubuh depannya lagi dari pinggang belakangnya. Tinah sedikit menggeliat geli. Kutangkupkan dua tanganku di dua susunya. Aku senang bermain – main di susu yang bagus atau masih ok. Seluruh belakang lehernya aku cium dan kecup, begitu juga dua kupingnya dan kubisikkan ”kamu diam saja ya..cup”. ”Geli Paakk..”, Tinah mendesah lagi. Dua pucuk bunganya makin mengencang dan keras. Aku menyentil – nyentil, kuputar – putar seperti mencari gelombang radio. Dua tangan Tinah mencengkeram paha depanku. ”Aahh..hmmppff”, erangnya. Tangan kananku mengambil segayung air, kuguyur ke tubuh depannya. Kali ini kuusap – usap vagina luarnya dengan tangan kanan, sedang yang kiri tetap di susu kanan Tinah.

Pahaku makin dicengkeramnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan seiring kecupan dan ciumanku di belakang leher dan daun – daun telinganya. Sesekali aku menyentuh bibir dalamnya. Terasa telah menghangat dan sedikit basah. ”Ppaakkk..oohhh”. Tubuhnya mulai menggeliat – geliat. Jari tengah kanan kumasukkan sedikit dan kusentuhkan pada dinding atas vaginanya, sedang jempol kananku kutekan – tekankan di lubang kencingnya.

”Aauugghhh Ppaakkk..eemmmppfff”. Kuku – kuku jemari Tinah terasa menggores dua paha depanku. ”Kenapa Tinah..hmm..kamu sendiri yang memulai kan”, bisikku. Tangan kiriku meraih kepalanya dan kupalingkan ke kanan, dan kutahan lalu kucium dengan nada 2 kecup 1 masukkan lidah. Tinah terkejut, matanya sedikit membesar tapi kemudian ia menikmatinya. Ganti tangan kananku melakukan hal yang sama. Tinah hanya bisa mengeluarkan suara yang tertahan ”nngg..emmppfftt..nnngggg”, begitu berulang. Vagina dalamnya makin hangat dan basah. Secara tiba – tiba kuhentikan lalu kubalikkan badannya menghadapku. Kemudian aku sandarkan tubuhnya di bak mandi. Aku kemudian berjongkok dan mulai mengecupi vaginanya. ”Jjanggann Ppakk..jorok..”, dengan dua tangannya menahan laju kepalaku. Kutatap matanya dan ”sssttt..”, jari telunjuk kanan kuletakkan di bibirnya. Dua tangannya kusandingkan di samping kiri dan kanan tubuhnya.

Kukecup kecil, sekali dua kali. Kemudian lidahku mulai menjulur di pintu kenikmatan kami. Mataku kuarahkan menatapnya. Tinah agak malu rupanya, tetapi ada sedikit senyum di sana. Lidahku makin intens menyerang vagina luar dan dalamnya. ”Ssuuddaahh Pppaakk..aaaddduuuhh..oohhhh”, disertai geliat tubuh yang makin menjadi. Karena tak tahan dengan seranganku, dua tangannya meremas dan sedikit menarik rambut dan kepalalu. Cairan lavanya makin keluar. Dua tanganku mendekap erat buah pantatnya. Jari tengah kiriku sesekali kumasukkan ke vagina dari belakang lalu kesentuhkan dan kutekan sedikit ke anusnya. ”Aammppuuunnn Pppaakkk..oouuuggghh..eeemmmpppfffs
ssuudddaahhh..ooohhhh”, matanya agak membeliak ke atas dan kepala serta rambutku diremasnya kuat. Lava kepuasan dirinya mengalir deras, rasanya gurih sedikit manis. Kudekap erat Tinah dengan kepalaku di vaginanya dan pantatnya kuremas – remas. Kepalaku tetap diusap –usap oleh Tinah

Ia menarik kepalaku dan menciumnya ganas. Lambat laun Tinah dapat belajar dariku. Tangan kanannya meremas dan menarik – narik penisku. ”Panjang ya Pak”, tanya Tinah. ”Biasa kok Tin..pingin ya..”, godaku. ”Aahh Bapak..”, jawabnya dengan memainkan bola – bolaku. Tinah merundukkan tubuhnya lalu tangan kirinya memegang penis dan menciumnya. Mungkin ia belum pernah meng – oral suaminya dulu sebab penisku hanya dicium – cium dan diremas – remas. ”Kamu mau ngemut burungku Tin..kayak ngemut permen lolly ? Tapi kalo belum pernah ya nggak usah..nggak pa – pa”. Tinah menatapku dan kubelai rambutnya. Dengan wajah ragu didekatkannya penisku di bibirnya. Tinah mulai membuka mulut, sedikit demi sedikit penisku memasuki mulutnya. Tinah menatapku lagi, meminta penjelasan langkah selanjutnya. ”Sekarang..kamu maju mundurkan dengan dipegang tanganmu. Yaa..gitu..oohh..hhmm”. Rupanya muridku cepat mengerti penjelasan gurunya. Rambut dan kepalanya kubelai dan kuremas – remas. ”Lalu..lidahmu kamu puter – puter di kepala penis atau di lubang kencing yang bergaris panjang ituuu..yyyahhhh..sssuuudddaahh pppiiinnnttteeerrr kkkaaammuu Tttiinnnn”.

Kuangkat kepalanya dari penisku dan kami berciuman dengan panas. Saling meremas susu; pantat dan kelamin masing – masing. Lalu kubalikkan lagi tubuhnya menghadap bak mandi. Dua tangannya kuletakkan di pinggir bak mandi. Kembali aku bermain – main di gunung Tinah. Penisku yang telah panas dan mengacung sekali kudekatkan ke vaginanya. Kukecup – kecup pundak dan leher belakangnya. Ikat rambutnya aku lepas sehingga dirinya terlihat makin seksi kala menggeliat – geliat dan rambutnya tergerai ke sana kemari. Aku geser – geserkan penis di pintu surgawinya, sengaja aku mempermainkan rangsangan pada Tinah. ”Oohh..Ppaakk..mmaassuukkkiinn..Pppaakkk”, pintanya. ”Kamu mau burungku kumasukkin..hmm.. ?”. ”Iyyyaa..Pppaakkk..aaayyyoo Pppaakk..”, rintihnya makin kencang. Kumasukkan penis pelan – pelan. ”Eemmppff..”, erangnya. Lalu kuhentakkan pelan hingga penisku terasa menyentuh dinding belakang. ”Ooouuggghh..Pppaakkkk..mentok Pppaakk”. Aku menggerakkan tubuh pelan – pelan, kunikmati jepitan dinding – dindingnya yang masih kuat. Dua tanganku tak henti bermain di dadanya. Kumainkan irama di vaginanya dengan hitungan 1 – 2 pelan 3 kuhentakkan dalam – dalam. Lalu tangan kananku meraih kepalanya seperti tadi dan kucium panas bibirnya. Dinding vagina Tinah makin hangat dan banjir sepertinya. Dua tangannya mencengkeram erat pinggir bak mandi.
Sekarang tanpa hitungan, kumasuk keluarkan penis cepat dan kuat.

”Oohh...oohh…hhmmppffftt..”, erang Tinah berulang. Sedang aku sedikit menggeram dan ”oouugghhh..hhmmppff..mpekmu enaknya Tttiinn..”. ”Bbuurrruunnggg Bbbaapppakk jjjuugggaaa”. Jarak pinggangku dan pantat Tinah makin rapat. Tangan kanan kuusap – usapkan di vaginanya. Dalam kamar mandi hanya ada suara tetes air satu – satu serta desah, bunyi beradunya paha dan pantat dan erangan kami. ”Pppaaakkk..sssaaayyyaa mmaaauu..ooohhh..”. ”Tttuunnggguu Tttiiinnn..aaakkkuuu jjjuuggggaa..Di dalam apa di llluuaarrr”, tanyaku. ”Dddaalllammm aajjjaaa Pppaakkkk..oobbaattnyaa mmassihh aaddaa..”, jawab Tinah. Mendengar itu serangan makin kufokuskan. Segala yang ada di tubuhnya aku remas. Dua tangan Tinah tak tahan di pinggir bak mandi dan mencengkeram paha serta pantatku. Bibirku dicarinya lalu ”hhhmmmpppfffttt..”. Pantatku diremas kuat – kuat. Bibirnya dilepas dariku dan ”ooouuggghhh..”, desah Tinah panjang. Lava yang hangat terasa mengaliri penisku yang masih bekerja. Kepalanya tertunduk menghadap air di bak mandi. Kudekap erat tubuh depannya. Kukecup dan kugigit leher belakangnya. Lalu tangan kiriku meraih kepalanya dan kucium dalam – dalam. Dengan satu hentakan dalam kumuntahkan magma berkali – kali. ”Ooouugghhh Tttiinnaahhh..hhhmmm..”. kepalaku tertunduk di pundaknya dengan tangan kiri di susu sedang yang kanan di vaginanya.

Lama kami berposisi seperti itu. ”Makasih ya Tin..kamu baik sekali. Enak banget tubuhmu”, kataku dengan membalikkan badannya dan kucium mesra bibirnya. Penis kumasukkan lagi, masih ingin berlama – lama di hangatnya vagina Tinah. ”Saya yang terima kasih Pak. Sudah lama saya pingin tapi sama orang nggak kenal kan nggak mungkin Pak. Burung Bapak pas di mpek saya”, Tinah menjawab dan mencium bibirku pula. ”Mpekmu masih kuat nyengkeramnya..dan panas”. Kubelai – belai kepalanya, ”kok bisa kamu pingin ngajak main sama aku ? Malah aku yang takut kamu laporin”. Sambil mengusap – usap punggungku, ”Tadi waktu saya bersihin mainan adik, saya liat gambar di komputer. Terus waktu Bapak kencing tadi kan lupa nutup pintu..keliatan burung Bapak yang agak gede pas keluar dari celana”. ”Oo gitu..nakal ya kamu. Bener kamu masih nyimpen obatnya ?”, sambil kucubit pipinya. ”Masih kok Pak..sisa yang dulu”, jawab Tinah. Makin lama terasa penisku yang mengecil. Kucium dalam – dalam lagi bibirnya, ”sekarang..mandi yang beneran”. ”Heeh..iya Pak”, Tinah menjawab sambil tersenyum manis. Ia lalu memelukku erat. Aku membalasnya dengan memeluk erat dan mengusap – usap punggung serta kepalanya.

Cerita Dewasa Yang Tak Terlupakan

Cerita Dewasa Yang Tak Terlupakan - Nama saya adalah Anis. Usiaku sekarang 38 tahun dan berat badan 57 kg serta kulitku berwarna sedikit hitam. Kini aku tinggal bersama seorang istri dengan 3 orang anak di salah sati ibu kota Kabupaten Sulsel, yang masih bestatus kontrakan. Aku menikah dengan seorang gadis dari suku lain di sulsel th. 1990 atas dasar kemauan orangtua kami. Meskipun pernikahanku tidak didasari rasa cinta yang mendalam, namun sebagai pria normal yang bernafsu tinggi, penyaluran sexku adalah utama, yang terbukti dengan lahirnya 3 orang anak dari rahim istriku itu. Ceritanya berawal ketika aku mengirim cerita porno yang tidak sepenuhnya benar ke salah satu situs cerita porno sekitar Bulan Juni tahun lalu.

Cerita Dewasa Yang Tak Terlupakan

Dalam cerita itu, aku sengaja memaparkan kondisi kehidupan rumah tanggaku yang kurang stabil, terutama dari segi keuangan. Aku paparkan bahwa kami tidak mempunyai apa-apa kecuali hanya istri dan 3 orang anak serta modal ketahanan dalam melakukan hubungan sex. Malah aku tawarkan diri kepada wanita siapa saja yang berminat untuk menyewa modalku itu dengan rupiah untuk mencukupi kebutuhan hidupku bersama keluargaku, apalagi waktu itu aku memang sedikit terlilit hutang pada orang lain. Dalam iklan porno yang kukirim tersebut, aku muat juga syarat-syaratnya antara lain bebas usia dan status (boleh yang bersuami asal dijamin aman), siap menyewa tempat/penginapan khusus, siap disetubuhi dengan gaya dan posisi apa saja, siap membayar sejumlah uang jika ia betul-betul mengalami kepuasan batin, siap mencukur rambut khasnya jika memang agak lebat.

Sebaliknya aku berjanji untuk menjilati seluruh tubuhnya dan menggauli sesuai kebutuhannya. Boleh saja menawar sebelum hari H-nya. Pada mulanya aku tidak yakin iklanku itu akan mendapat tanggapan, apalagi biasanya si wanitalah yang seharusnya disewa untuk itu. Namun rejekipun datang. Hanya berselang 4 hari setelah iklan porno itu saya umumkan melalui salah satu situs cerita porno, eh ternyata ada responnya, malah 2 wanita lagi. Aku betul-betul gembira dan bahagia sekaligus jadi tantangan buatku karena aku tidak terlalu yakin sebelumnya dan belum punya persiapan untuk itu. Tapi aku berfikir bahwa sudah terlanjur basah, apa boleh buat harus saya sambut dengan senang hati, apalagi modal sex yang kumiliki tidak kurang sedikitpun. Hanya saja tidak berlebihan sesuai yang mungkin dibayangkan oleh para pembacanya. Respon email yang pertama kali kuterima berinisial Tia_.. @yahoo.com dan saat itu pula saya baca dan membalasnya. Isi emailnya singkat sekali. Ia hanya menulis kalau dirinya tertarik dengan tawaranku dan ingin menyewa dan membelinya sekaligus serta ia minta aku menjawab dan menerangkan ciri-ciri kepribadianku jika aku betul-betul serius. Sedang ia sendiri tidak menyebutkan apa-apa soal dirinya kecuali alamat email.

Besok malamnya saya buka kembali emailku, ternyata berisi dengan nama Tia lagi. Kali ini, sudah agak panjang. Setelah saya baca, aku tahu kalau dia tinggal dalam kotaku, meskipun ia menolak untuk memberitahu alamat rumah dan nomor telponnya. Tapi ia menulis kalau dia adalah Kepala bidang tata usaha di salah satu instansi swasta. Usianya sudah kepala 5 tapi gairah sexnya masih agak tinggi. Suaminya agak lebih tua sedikit dari dirinya tapi super sibuk dengan pekerjaannya di luar rumah selaku wiraswastawan, sehingga hubungannya di atas ranjang tidak rutin dan tidak teratur sesuai yang ia inginkan. Setelah yakain kalau ia betul-betul serius, akupun lalu membalas saat itu pula dan mengutarakan kembali keadaan ekonomi rumah tanggaku yang sebenarnya dan juga sedikit hubunganku dengan istri di atas ranjang. Malah aku minta agar mengirim photo dan no.

HP-nya serta menyebutkan tempat pertemuannya nanti. Sayapun minta agar ia bersumpah dan berjanji untuk menerima akibatnya jika ia hanya mempermainkanku, sebagaimana pula saya siap lakukan (menulis sumpah). Besok malamnya saya kembali buka emailku dan ternyata nama Tia kembali muncul. Setelah saya buka isinya, ternyata Tia sudah melakukan persiapan akhir. Ia menyebutkan penginapan tempat kami ketemu nanti, warna pakaian yang dikenakannya serta hari H-nya. Tinggal menunggu persetujuanku lewat email saja. Entah pengaruh dari mana sehingga aku mulai sedikit gemetar bercampur bahagia, ragu, takut, bimbang dan bersemangat silih berganti sejak saya menerima putusan terakhirnya itu. Bahkan mataku yang tadinya mudah sekali tertidur, tiba-tiba rasa ngantukku sulit sekali dan gairahku untuk cepat-cepat bobo bersama istri semakin menurun.

Mungkin karena peristiwa yang kami hadapi betul-betul istimewa dan luar biasa bersejarah atau karena takut dan malu kalau-kalau kami kepergok nanti oleh teman atau kenalan lainnya, apalagi suami Tia atau keluarganya ataupun karena takut dipermainkan. Yang jelas kenyataan itulah yang saya rasakan saat itu. Sedang mengenai gairah sexku terhadap istri memang sengaja kukurangi sebagai persiapan untuk bertarung dengan wanita yang belum kukenal nama, wajah dan gambarannya sama sekali. Bahkan kemampuannya di atas ranjang bisa-bisa saya KO jika kurang persiapan, sehingga dapat mengecewakan kami berdua seumur hidup. Hari itu hari Sabtu sesuai jadwal yang ia tetapkan, saya bangun cepat sekali yakni sekitar jam 5.00 subuh padahal mataku larut malam baru tertidur. Paling lambat Jam 7.30 pagi, saya sudah harus menunggu di penginapan yang dimaksud karena jadwalnya jam 8.00 pagi, tapi saya tidak mau ia perhatikan lebih dahulu. Karena itu, istriku masih dalam keadaan tidur nyenyak, aku sudah selesai mandi lalu berpakaian yang sedikit rapi dan menyemprotkan farfum. Waktu itu saya mengenakan baju kaos warna ungu dengan celana panjang warna hitam lalu memasukkan ke dalam tas pakaianku 1 pasang pakaian lagi sebagai persiapan bermalam.

Belum saya selesai menutup tasku, istriku tiba-tiba menegur. “Kok cepat sekali persiapan berangkatnya pa’, tidak seperti biasanya?” katanya terheran, sebab malamnya aku memang sudah buat alasan kalau aku mau ketemu orang tua yang tinggal di suatu desa yang agak jauh dari kotaku. Biasanya jam 8.00 pagi baru ada mobil berangkat ke sana. “Kebetulan ma’ saya mau singgah dulu di rumah teman karena katanya ia juga mau ikut jalan-jalan ke kampung, siapa tahu terlambat ke sana, khan bisa ketinggalan mobil” alasanku berbohong tapi masuk akal. Jam 7.00 pagi itu, saya naik becak berangkat ke penginapan tersebut dengan jantung berdebar bercampur takut dan gembira. Jam 7.25 saya sudah masuk ke penginapan itu. Sebelum masuk, saya lihat-lihat dulu kiri kanan kalau-kalau ada wanita agak gemuk mengenakan baju warna abu-abu dengan celana warna biru sesuai informasinya lewat email. Saya sendiri sengaja tidak menyampaikan ciri-ciri pakaian yang kukenakan biar sama-sama sibuk dan bingung mencarinya. Beberapa wanita yang lalu lalang keluar masuk penginapan itu, bahkan banyak yang berdiri di depan costumer servicenya, tapi belum satupun wanita yang kulihat sesuai ciri-ciri yang telah disampaikannya. Aku mau tanya petugas penginapan, tapi aku tidak tahu nama yang akan kutanyakan dan saya juga semakin ragu jangan-jangan ia permainkan aku.

Akhirnya saya beranikan diri saja bertanya ke salah satu petugasnya kalau-kalau ada tadi wanita yang agak gemuk dengan warna pakaian tersebut telah terdaftar sebagai tamu, namun jawabnya belum ada. Saya mencoba mengamati semua wanita yang ada dalam ruang tamu, ternyata ada satu orang yang seolah memperhatikanku dari tadi sambil sedikit tersenyum. Tapi aku tidak yakin kalau wanita itu yang kucari, karena bentuk tubuh, rambut, warna baju dan celananya serta kulitnya tidak ada yang sesuai informasinya. Aku semakin meragukan keseriusannya, apalagi jam dinding yang ada di ruang penginapan itu sudah menunjukkan pukul 8.05 pm. Dalam hatiku kalau sampai lewat 30 menit lagi ia belum juga muncul, aku akan pergi saja meninggalkan penginapan itu dan langsung pulang kampung sesuai janjiku pada istri di rumah.

“De’ cari siapa? sejak tadi saya perhatikan, nampaknya ada yang dicari dan ditunggu yach?” kata seorang wanita yang sejak tadi memperhatikanku “Oh, iya bu’, ada keluarga yang saya cari, katanya ia mau nginap di sini dan jam 8.00 ia sudah tiba di tempat ini, tapi kok sudah lewat jadwal, ia belum juga muncul,” alasanku mengaku sebagai keluarga.

“Mungkin ada halangannya de’ diperjalanan” ucapannya singkat. “Yah mungkin juga atau ia sengaja membohongiku untuk menguji sejauh mana perhatianku padanya” kataku membenarkan. “Tapi, kok ade’ ini nampaknya serius dan penting sekali seolah lama sekali tidak jumpa, emangnya ia dari mana de’?” tanya wanita itu seolah ingin tahu lebih banyak dan nampak penuh perhatian padaku.

“Iya betul, ia baru pulang dari luar Sulawesi dan belum kukenal betul wajahnya, tapi informasinya melalui telpon katanya ia datang sekitar jam 8.00 pagi di penginapan ini dengan perawakan agak gemuk, pakaian berwarna abu-abu-hitam serta rambut panjang,” jelasku menyinggung tanda-tanda yang diberikan oleh wanita yang kutunggu itu.

“Oh yah, ibu ini petugas atau tamu penginapan ini?” tanya aku serius.

“Sama dengan ade’, aku juga menunggu seseorang yang sama sekali belum kukenal nama, alamat, bodi dan wajahnya,” jawabnya sedikit tertawa.

“Jangan-jangan ibu..” tanyaku namun mendadak putus, sebab ia juga tiba-tiba melontarkan kata-kata persis yang kuucapkan (serentak).

“Ha.. Ha.. Ha.., hi.. Hi.. Hi” kami ketawa bersama-sama sambil saling menunjuk karena kami saling yakin kalau apa yang kami cari ternyata sudah dari tadi ketemu, namun berbeda dengan tanda-tandanya. Setelah kami puas tertawa, bahkan saling menunjuk, akhirnya kami sama-sama terdiam sejenak lalu tersenyum sambil saling menatap dengan tatapan yang tajam sekali dan agak lama. Dalam hatiku ternyata wanita ini kelihatannya masih muda, cantik dan jauh beda apa yang kubayangkan. Setelah puas saling tatap, saya tawarkan untuk memesan kamar secepatnya biar nanti dalam kamar baru cerita dan saling tatap sepuasnya. “Ayo, iku aku ke sini” katanya tiba-tiba sambil menarik tanganku dan membawaku naik ke atas terus masuk ke salah satu kamar yang terletak di sudut penginapan itu. Aku ikut saja tanpa kata-kata dan tanpa pikir panjang. Setelah kami berada dalam kamar, ia terus menutup pintunya lalu duduk di tepi sebuah rosban yang agak kecil dan sederhana, bahkan kasurnya biasa-biasa saja, lagi pula cuma satu tempat tidur. Dalam hati kecilku mungkin dari tadi ia sudah pesan khusus ruangan ini dan ia nampaknya sudah tahu keadaan penginapan ini.

“Ayo, dekat sini donk, jangan malu-malu, kita khan sudah sepakat dan sama-sama tahu apa tujuan kita ke sini, lagi pula tidak ada orang lain yang memperhatikan dan melarang kita berbuat apa saja dalam kamar ini, karena kita sudah carter, sudah halal.. Ha.. Ha.. Ha” katanya sambil ketawa, karena aku masih berdiri mengamati gambar-gambar yang tertempel dalam kamar itu. Tanpa sepata katapun, aku ikut bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya. Terus duduk persis di sampingnya lalu saling menatap lagi sambil tersenyum, tapi tiba-tiba tangannya merangkul di leherku dan memelukku erat sekali dan mencium pipiku sejenak, lalu ia mundur ke tembok bersandar dengan kaki melonjong persis menyentuh pantatku.

“Bu’, .. Betul.. ” belum saya selesai bicara, ia langsung memotong,

“Aduuh, mulai saat ini saya mohon jangan lagi dipanggil ibu, panggil saja nama emailku ‘Tia’ oke?” katanya tegas.

“Okelah, bila itu permintaannya, tapi saya tadi mau bilang bahwa impian kita ini betul-betul bisa jadi kenyataan, padahal sebelumnya saya tak pernah yakin ada wanita yang mau mengubris iklanku.. Hi.. Hi,” kataku sambil ketawa dan gelengkan kepala.

“Kita liat aja nantilah, apa betul bisa kita buktikan sesuai komitmen kita semula atau hanya sekedar impian belaka, tapi yang penting kita ketemu dan saya cukup senang dan bahagia, sekalipun kau tidak mampu mewujudkan janjimu semula, aku tetap siap membayar sewanya sesuai tawaranmu di internet. Oh yah, saya panggil apa anda sekarang?” katanya serius dan seolah ingin membesarkan semangatku.

“Terima kasih atas pengertiannya Bu’ eh.. Tia. Panggil saja aku Anis”.

“Oh yah, perlu nggak kita masuk kamar mandi lebih dahulu atau langsung aja ke inti permasalahannya,” tanya tia sambil turun dari rosban. “Saya rasa tidak perlu, kita khan baru saja mandi di rumah, lagi pula parfum yang telah kita semprotkan ke tubuh kita dan diniatkan, nanti menghilang ha.. Ha,” jawabku sambil ketawa.

“Okelah kalau begitu, tapi bagaimana cara masuk ke inti permainan? Apa saya yang aktif atau anda atau sama-sama aja?” tanya Tia serius.

“Gantian atau bersamaan tidak ada masalah, yang penting kita coba saja, dan nanti dengan sendirinya akan dapat disesuaikan” kata saya sambil turun dari tempat tidur dan berdiri berhadap-hadapan. Mula-mula Tia melangkah 1 langkah ke depan sehingga bersentuhan antara ujung kakinya dengan ujung kakiku, lalu merangkulkan kedua tangannya ke leherku, lalu merapatkan badannya ke badanku, lalu mencium pipi, bibir dan leherku, sementara aku terdiam sejenak lalu memeluk pinggulnya dan menyambut bibirnya dengan bibirku, sehingga kami saling berpagutan dan saling merangkul erat hingga puas. Setelah kami saling merangkul dan menjilati apa yang nikmat dijilat pada tubuh kami masing-masing, Tia lalu mengangkat baju kaos yang kupakai dan melepaskannya lewat kepalaku, lalu menjilati seluruh bagian tubuhku yang terbuka, mulai dari dahi sampai ke pusar. Bahkan ia terus melepaskan ikat pinggangku dan menurunkan retsletingku, lalu melorotkan celana panjangku hingga hanya celana color yang melekat di tubuhku. Saya masih terus diam menikmati apa yang diperbuat Tia padaku, meskipun tanganku tetap bergerak mengelus rambut dan telinga Tia. Tia nampaknya sangat pengalaman dalam hal merangsang laki-laki, sehingga nampak tidak kebingungan menghadapiku.

“Nis, maaf yah, untuk yang satu ini saya tidak berani tanpa malu. Boleh nggak saya lepasin juga biar aku lebih leluasa menjamah seluruhnya,” katanya sambil menengadah ke atas melihat wajahku karena ia dalam keadaan jongkok. Saya hanya mengangguk tanpa bersuara. Lalu ia tarik ke bawah pelan-pelan dengan giginya sehingga nafas bahkan bibirnya terasa menyapu penisku yang sejak tadi menegang hingga ke ujung kakiku bahkan seolah ia sengaja menjilatinya. Saat celana dalamku terlepas, ia terus menarikku duduk ke pinggir tempat tidur, lalu menarik kedua kakiku sambil membungkuk lalu menjilati jari-jarinya hingga terasa sedikit basah, geli bercampur nikmat. Aku betul-betul seolah seperti patung dan dipermainkan seenaknya, tapi dalam hatiku biarlah ia aktif duluan nanti sebentar giliranku setelah ia kecapean.

“Ahh.. Uhh.. Hhmm.. Ssstt.. ” lenguhku kegelian dan keenakan ketika lidahnya menyapu pokok pahaku. Pipinya terasa lengket ke tongkatku yang mulai berdenyut. Hangat sekali rasanya, apalagi nampaknya Tia sengaja menggerak-gerakkan pipinya agar aku bisa menikmatinya.

“Anis, enak nggak dijilatin buah pelernya? Tunggu saya jilatin batangnya, tenang saja, aku pasti memuaskanmu sebelum kamu berperan aktif” katanya sambil melihat wajahku. “Iyah.. Yah Tia, eenak sekali sayang, tapi jangan lama-lama di situ yach, aku sedikit geli, pindah-pindah donk, biar kunikmati semua permainan lidahmu” kataku merayu agar ia tidak berhenti. Aku tak berdaya menolak perlakuan Tia, ia tiba-tiba berdiri dan mendorongku ke belakang sehingga aku terbaring di atas tempat tidur dengan kaki tergantung ke bawah. Tia lalu memegang tongkatku dan menggocok-gocoknya sehingga terasa tambah besar dan keras serta berdenyut-denyut.

Tia tak menggerakkan tangannya sejenak mungkin karena ia ingin menikmati denyutan batangku. Setelah itu, Tia membungkuk lalu perlahan ia arahkan tongkatku ke dalam mulutnya lalu dimaju mundurkan mulutnya sehingga pinggulku bergerak ke kiri dan ke kanan sebagai tanda nikmatnya gerakan mulut dan lidah Tia yang berputar-purat di antara selangkanganku. Aku hampir-hampir tidak mampu lagi menahan gejolak cairan yang terasa mulai memaksa mengalir melalui batang kemaluanku. Demikian hebatnya cara memainkan lidah dan mulut Tia terhadap penisku, sehingga saya sering tidak bisa membedakan lubang vagina yang pernah dimasuki penisku yang ukurannya normal itu.

“Ti.. Tia, gantian yach, rasanya jika aku diam terus bisa-bisa aku kalah KO ini. Aku yang harus bereaksi lagi dan Tia harus menerima serangan fajarku, masa saya terus yang diserang” pintaku pada Tia setelah aku mulai merasa mau KO ia perlakukan seperti itu. Dalam hatiku, jika aku melayani terus permainan Tia, aku bisa malu dan ia merasa dikecewakan dari perkataanku dalam email kalau aku bermodalkan ketahanan sex. Karena itu aku harus pakai akal dan tidak boleh terlalu serius menuruti aliran nafsuku. Setelah aku berdiri dalam keadaan telanjang bulat, sementara Tia berdiri di depanku masih berpakaian lengkap, aku lalu membuka kancing baju Tia satu persatu hingga nampak BHnya yang berwarna putih dan tidak kutahu ukurannya tapi tampaknya sedang-sedang saja.

Aku tidak bermain-main lagi dengan BHnya, melainkan aku langsung saja membuka kaitnya dari belakang sehingga aku sempat memeluk dan mencium bibirnya sejenak. Setelah lepas, aku langsung memainkan mulut dan lidahku pada puting susunya yang sedikit padat dan empuk serta terasa agak hangat. Mungkin karena sejak tadi Tia juga teramgsang, sehingga belum lama aku pegang dan isap putingnya, ada terasa manis keluar dari dalamnya. Putingnya indah sekali, warna agak merah kecoklatan tertancap di kedua buah kembar yang putih bersih. Ingin rasanya kutelan semuanya seperti kue Fawa dan seperti bola karet yang digigit sedikit melenting.

“Nis, silahkan aja beraksi sesuai keinginanmu, aku siap terima semuanya,” katanya terus terang. Setelah puas memainkan mulutku di bukit kembarnya itu, lalu kujilati seluruh tubuhnya hingga ke pusar, lalu kubuka kait dan restelin celananya hingga terlepas dari tubuhnya. Tinggallah saat ini celana dalam tipisnya yang berwarna kuning dengan pinggiran yang berbunga-bunga. Aku berlutut mencium dan menjilat sejenak kedua bibir vaginanya dalam keadaan terbungkus. Tapi rasanya sudah basah dan terasa bau khasnya. Mungkin air mazi alias pelicinnya yang keluar sejak tadi. Aku langsung buka saja hingga ia betul-betul telanjang bulat. Setelah kelihatan semua, nampak bulu-bulunya yang baru dicukur sesuai saranku lewat email.

Tapi justru duri-durinya yang agak kasar itu membuatku semakin terangsang. Tanpa persetujuannya, aku langsung dorong tubuhnya ke belakang hingga ia duduk di tepi rosban. Ia mengerti keinginanku. Tanpa aba-aba, kedua pahanya sedikit terbuka sehingga kelentitnya yang sedikit hitam tapi masih indah dan keras serta sedikit mengkilap karena basah itu jelas kelihatan. Bersamaan itu pula ia rebahkan tubuhnya ke kasur dengan kaki terjulang ke bawah. Aku semakin leluasa menjamahnya. Aku menindih tubuhnya yang telanjang, mencium bibir, mulut dan kedua bibir vagina serta kelentitnya, sehingga ia berdesis-desis.

“Nis, aku sudah nggak tahan nih, percepat dikit mainnya, biar cepat selesai ronde pertama, khan masih ada ronde berikutnya, jika perlu kita bermalam di sini aja,” Bisiknya ketika dengan lincah memainkan lidahku ke dalam lubang vaginanya. Ketika kugigit sedikit kelentitnya, ia bergoyang seperti goyangan dangdutnya Inul Daratista sewaktu di panggung.

“Tenang aja sayang, aku pasti memuaskanmu sesuai janjiku. Jika tidak, kamu pasti tidak mau lagi berhubungan sex denganku yah khan?” kataku sambil diam sejenak dan tetap menindih tubuhnya.

“Ayo Nis, masukin cepat penismu itu, aku dari tadi merindukan gerakannya dalam vaginaku.. Hhmm.. Auhh.. Sstt,” pintanya sambil melenguh dan mengangkat pinggulnya sampai menyentuh ujung penisku. Tanpa kuarahkan dan kubuka kedua bibir vaginanya, ujung penisku sudah menancap ke lubang vaginanya yang basah, sehingga desahan nafasnya sulit ia sembunyikan. Penisku masuk ke lubangnya secara perlahan tanpa aku menekannya. Sedikit demi sedikit bergerak masuk hingga hampir amblas semuanya. Itu terjadi karena Tia mengangkat tinggi-tinggi sambil menggoyang pantatnya ke kiri dan ke kanan, apalagi ia melingkarkan kedua kakinya ke pinggangku. Karena aku sendiri sudah tidak tahan berlama-lama, maka secara otomatis pula aku menekan agak keras sehingga batangku amblas seluruhnya dan terdengar suara aneh ‘decik.. Decakk.. Decukk..’ silih berganti dengan suara nafas kami yang terputus putus.

“Uhh.. Aahh.. Hhmm.. Auhh.. Aihh.. Ssstt.. Eee.. Naakk sekali sayang, gocok teruss..” suara Tia terdengar ketika kupercepat gerakan maju mundurku. Rasanya mulai ada kembali desakan cairan hangat dari dalam, namun saya tidak tahu apa hal seperti itu juga dirasakan oleh Tia. Tapi yang jelas tangan Tia selalu bergerak menarik rambut dan pinggangku seolah ia tidak mampu lagi menunggu puncak permainan kami. Untung saja cairanku tertahan karena Tia tiba-tiba menarik tubuhku naik ke ranjang lalu memutar badannya sehingga aku terpaksa tinggal di bawahnya. Dengan gesitnya berputar tanpa melepas ujung penisku dari vaginanya, ia lalu jongkok dan menghentak pantatnya naik turun. Penisku sedikit perih dijepitnya namun nikmatnya lebih besar.

Ketika ia memutar pinggulnya seperti joget ngebornya Inul, aku semakin sulit pertahankan lagi modal sex yang kujanjikan. Kami sama-sama basah kuyub akibat keringat. Bukit kembar Tia bergerak indah sekali ketika ia terengah-engah bagai orang naik kuda lumping. Gerakannya cepat sekali, lalu tiba-tiba ia balikkan tubuhnya sampai aku kembali di atas mengangkanginya tanpa melepaskan sedikitpun penisku dari vaginanya. Aku berusaha menyelesaikan permainan dalam posisi ini. Kupercepat gerakanku dan kuangkat kedua kakinya bersandar ke bahuku lalu kukocok terus vaginanya hingga ia berteriak sedikit histeris.

Bersamaan dengan itu pula aku merasakan cairan hangat yang sejak tadi mau keluar sudah berada dekat ujung penisku. Tiapun terasa agak gemetaran dan merangkulku dengan keras dan sempat menggigit leherku. Aku tahu kalau ia sudah dipuncak orgasme. Aku berusaha menumpahkan spermaku secara bersamaan dalam rahimnya, sebab kutahu persis wanita yang mau mencapai orgasme. Ternyata betul, aku berhasil dan aku tidak takut akan akibatnya karena Tia punya suami dan tidak bakal timbul kecurigaan jika ia hamil lagi setelah beberapa kali melahirkan. Tanpa sepata katapun, kami saling menatap dan tersenyum, lalu tergeletak di kasur dengan telanjang bulat.

Kami tidur pulas sekali. Mungkin karena capek dan puas, apalagi beberapa malam sebelumnya aku kurang tidur. Kami terbangun ketika jam 5.00 tanpa ada rasa lapar padahal kami main sejak jam 9.00 sampai jam 12.00 tadi. Kami hanya pesan makanan melalui petugas penginapan sebab kami takut keluar kamar nantia ada yang kenal kami. Kami sepakat bermalam saja, lagi pula suami Tia lagi keluar kota mengurus bisnisnya dan anak-anaknya tinggal bersama pembantu di rumah dengan alasan ia mau tugas keluar kota bersama dengan pimpinan kantor. Usai mandi, kami lalu menyantap makanan yang telah kami pesan sebelum mandi. Usai makan, kami kembali bertarung dengan posisi dan model sex macam-macam sesuai pengalaman kami masing-masing hingga larut malam lalu kami tertidur dan bangun lagi melanjutkan dengan sisa-sisa modal kekuatan yang masih kami miliki masing-masing. Pembaca yang budiman, tidak sempat kuceritakan secara rinci posisi dan model sex yang kami terapkan sepanjang malam itu, malah sewaktu di kamar mandi, karena rasanya cerita ini sudah terlalu panjang.

Aku berusaha lanjutkan lain waktu, termasuk wanita kedua yang juga berminat menyewa modalku. Bahkan ceritanya lebih seru lagi, karena usianya di atas 60 tahun dan vaginanya tidak berbulu sama sekali. Aku tidak perlu cerita berapa sewa yang kuterima, tapi yang jelas lebih dari yang kuperkirakan, bahkan aku justru ketagihan, sehingga tanpa dibayarpun rasanya aku rela dan memang beberapa kali kami lakukan tanpa minta sewa modal.
Support : Tante Alexa | Tante Alexa | Tante Alexa
Copyright © 2012. Tante Alexa - All Rights Reserved
Template ReCreated by Tante Alexa Published by Tante Alexa
Proudly powered by Blogger