Intip Selangkangan Tante Sri Rahayu Saat Ngangkang

Intip Selangkangan Tante Sri Rahayu Saat Ngangkang - Ketika sedang santai dan menyendiri, Tante Sri Rahayu suka ngangkang dan memperlihatkan selangkangannya. Kadang online di kamar dan show kepada pecinta dan fans-fansnya. Seperti Foto di bawah ini. Dia pose ngangkang sengangkangnya. Coba deh Intip Selangkangan Tante Sri Rahayu Saat Ngangkang yah...

Intip Selangkangan Tante Sri Rahayu Saat Ngangkang

Intip Selangkangan Tante Sri Rahayu Saat Ngangkang

Intip Selangkangan Tante Sri Rahayu Saat Ngangkang Berikutnya:

Intip Selangkangan Tante Sri Rahayu Saat Ngangkang

Sabar dulu yah... nanti Fotonya ditambah deh... muachhhhhhhhhhhhhhhhhh


Intip Selangkangan Tante Sri Rahayu Saat Ngangkang by Tante Alexa.

Kumpulan ID Wechat ABG Tante Girang Hot dan Sexy

Kumpulan ID Wechat ABG Tante Girang Hot dan Sexy - Sebelumnya kamu sudah mendapatkan PIN BB ABG dan Tante, kini Tante Alexa mau berbagi lagi mengenai ID Wechat. Mau ID WECHAT ABG atau Tante Girang. Plus suka yang nakal dan hot-hot gitu say... Tenang yah... Tante Alexa akan berbagi deh untuk kamu sebagai teman curhat dan bisa juga jadi pasangan kamu dalam dunia maya. Simak deh beberapa Kumpulan ID Wechat ABG Tante Girang Hot dan Sexy di bawah ini.

Kumpulan ID Wechat ABG Tante Girang Hot dan Sexy


Klik Spoiler dibawah ini untuk menemukan Kumpulan ID Wechat ABG Tante Girang Hot dan Sexy spesial / khusus untuk anda.

Kumpulan ID Wechat ABG Tante Girang Hot dan Sexy Berikutnya:


ID: Linda_chelupechy

ID: Intanparmasari

ID: VitraHdy

ID: VinaIrene

ID: Mieke savira

ID: Chilla_wiranata

ID: NoviaRahmasari

ID: MilaFebrian

ID: Karolinayuni

ID: Angelademerice

ID: MelthaHasmi

ID: Anha053

ID: Mhegamustika

ID: fitryasafitri

ID: imhaasaputri:

ID: NurFajriahAliGani

ID: ulfi_s

ID: Arniyanti_Nhiio

ID: hildayanti

ID: belanovyndya

ID: anugrahlestaribuana

ID: asri_pilice

ID: Unyuunyudoubled

ID: SheilaFitria

ID: Agnesia13

ID: firdayantiandriani

ID: Dianadeindria

ID: ladyladyan

ID: Linda_HN

ID: vhy_vii

ID: rezky_zoldiack

ID: Evie_Munanty

ID: Nuri_na

ID: chychy_cieechy

ID: Lhyra_Manjaa

ID: Evhy_287

ID: efhy_chiimpa

ID: novacilvia

ID: Mitha Aprilia Ramlan

ID: nurfaniz

ID: Aisyah

ID: haznhy_jelleph

ID: Ana_Dewi


Itulah Kumpulan ID Wechat ABG Tante Girang Hot dan Sexy yang bisa Tante Alexa berikan untuk kalian. Semuanya itu adalah Teman-teman Tante Alexa.

Kumpulan PIN BB ABG Tante Girang Hot dan Sexy

Kumpulan PIN BB ABG Tante Girang Hot dan Sexy - Mau PIN BB ABG atau Tante Girang. Plus suka yang nakal dan hot-hot gitu say... Tenang yah... Tante Alexa akan berbagi deh untuk kamu sebagai teman curhat dan bisa juga jadi pasangan kamu dalam dunia maya. Simak deh beberapa Kumpulan PIN BB ABG Tante Girang Hot dan Sexy di bawah ini.

Kumpulan PIN BB ABG Tante Girang Hot dan Sexy

Klik Spoiler dibawah ini untuk menemukan Kumpulan PIN BB ABG Tante Girang Hot dan Sexy spesial / khusus untuk anda.

Kumpulan PIN BB ABG Tante Girang Hot dan Sexy Berikutnya:


Pin:29826acc Melda

Pin:22BA1779 Hilda

Pin:25ECFA39 Amel

Pin:21b3d3ea Angel

Pin:23afc38c Nina ifriani

Pin:28DA56C0 Desy

Pin:25ECFA39 Tamara

Pin:25F8C866 Dewi

Pin:2A80E686 Renny

Pin:23afc38c anita

Pin:21b3d3ea Phupuet

Pin:29EDC895 Angel

Pin:23afc38c ida maria

Pin:29EDC895 Cantik

Pin:2A1E100C Juve

Pin:28DA56C0 Asri cintia

Pin:23afc38c Nadia

Pin:25ecfa39 Vina

Pin:22BA1779 Sherli

Pin:29826acc Cica

Pin:3258A294 Defi


Itulah Kumpulan PIN BB ABG Tante Girang Hot dan Sexy yang bisa Tante Alexa berikan untuk kalian. Semuanya itu adalah Teman-teman Tante Alexa.

Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 4

Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 4 | Ternyata Ayah sama sekali tidak menghiraukan jeritanku agar beliau menyutubuhiku dengan sedikit lembut. Seakan sudah lupa daratan, Ayah malah semakin buas bermain di kemaluanku. Aku hanya dapat memejamkan mata serta menggigit pelan bibirku untuk menahan rasa sakit yang timbul dari dalam vaginaku. Lambat laun rasa sakit yang kurasakan mulai hilang dan berganti dengan nikmat yang luar biasa.

Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 4

“Ayaaahh…!! Aaaaaahhh… Teruuus Yaaaah…!! Enaaaaak… Aaaaaah…” desahku yang mulai dapat beradaptasi dengan permainan kasar Ayah.

Aku sungguh tidak kuasa untuk menahan rintihan setiap kali Ayah menggerakkan pantatnya ke arah vaginaku. Gesekan demi gesekan penis Ayah pada dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku terangsang. Pinggulku juga ikut menggeliat-geliat menikmati tusukan-tusukan dari penis Ayah. Dapat aku lihat bagaimana batang penis tersebut keluar masuk vaginaku. Bahkan aku selalu menahan nafas ketika penis milik Ayah masuk ke dalam kemaluanku yang hampir tidak dapat menampung ukurannya yang besar itu.

“Oooohh… Enaaaaak bangeeet Teeeeh…!! Aaaaah… Aaaaaah…” kata Ayah di sela-sela persetubuhan kami.

“Teteeh jugaa ngerasaaa enaaaak Yaah…! Teruuus Yaaah…!! Nikmatiiin Teteeeeh semaaauu Ayaaah…!” aku berteriak sangat kencang tanpa memikirkan kalau suaraku bisa saja terdengar oleh orang lain.

Ayah kemudian menempelkan kedua tangannya di dadaku lalu meremas-remas payudaraku. Aku dapat merasakan putingku semakin mengeras. Sodokan penis Ayah yang liar ditambah dengan remasan pada kedua payudaraku tentu saja membuatku semakin menjerit-jerit.

“Aaaaah… Aaaaahhh… Teruuuuus Yaaah…!! Puasiiin Teteeeh… Aaaahhh…” jeritku seiring dengan irama persetubuhan kami.

Kuakui Ayah sangat berpengalaman dalam hal ini walaupun memang tidak banyak variasi yang dilakukan oleh beliau. Makanya aku juga tidak heran kalau sekarang kedua orang tuaku sudah memiliki 4 orang anak. Namun akhirnya kali ini aku juga dapat merasakan kenikmatan seperti yang pernah dialami oleh Ibuku.

“Ayaaaaaah…! Ooooohh… Teteeeeh keluaaaaaar…!!” aku melenguh kencang melepaskan segala perasaan nikmat yang kurasa.

Tidak lama kemudian aku dapat merasakan cukup banyak cairan vaginaku mengalir keluar dengan cepat. Vaginaku yang sudah basah berulangkali diterobos oleh penis Ayah. Tidak jarang payudaraku diremas-remas dan putingku dihisap. Mungkin karena sudah merasa bosan dengan posisi ini, Ayah lalu membalikkan tubuhku hingga sekarang aku bertumpu dengan kedua lututku. Aku yang masih lemas hanya dapat mengikuti saja kemauan Ayahku.

Dari arah belakang Ayah kembali menusuk vaginaku. Tentu saja posisi seperti ini membuat sodokan Ayah terasa semakin dalam dan nikmat. Dengan penis yang masih menusuk di dalam vaginaku, Ayah mencium lembut leherku. Ayah membuatku semakin terangsang dengan memegang-megang kedua payudaraku.

“Ooooohh… Ssssshhh… Aaaaaaaahh…” aku mendesah-desah meresapi permainan ini.

Permainan Ayah membuatku semakin terhanyut karena beliau memulai sodokannya dengan genjotan-genjotan pelan, namun lama-kelamaan terasa kencang dan kasar sampai tubuhku berguncang dengan hebatnya. Gesekan penis Ayah dengan dinding vaginaku seperti menimbulkan getaran-getaran listrik yang membuat birahiku kembali bangkit. Aku ikut menggoyangkan pantatku sehingga terdengar suara badan kami beradu.

“Teruuus Teh…!! Iyaaaa… Goyangiiin pantaaat kamuuu…!” kata Ayah sambil mempercepat dorongan penisnya.

Suara tempat tidur yang ikut bergoyang bercampur dengan erangan kami berdua. Tidak lama kemudian aku kembali orgasme! Aku merasa lelah sekali karena selain baru saja mencapai orgasme untuk yang keempat kalinya, tubuhku pun mengeluarkan banyak sekali keringat.

Lututku seketika lemas sehingga kini aku berada dalam posisi tengkurap di ranjang. Posisi tersebut membuat Ayah semakin beringas. Aku memberikan ruang dengan mengangkat pantatku sedikit ke atas. Ayah semakin kuat menekan penisnya hingga tubuhku semakin terhentak-hentak tidak karuan. Sementara itu, dapat kurasakan penis Ayah mulai berdenyut-denyut kencang tanda beliau sudah akan mencapai orgasme.

Benar seperti dugaanku, beberapa saat kemudian Ayah mengerang “Ooohh… Ayaah udaah mauuu keluaaar Teeeh…!!”

“Jangaaaan keluaariin di daleeem Yaaah…!! Mmmmhh… Aaaaahh !” jawabku karena takut hamil oleh Ayahku sendiri.

Namun tidak seperti perkiraanku bahwa Ayah akan mengeluarkan spermanya di dalam vaginaku, dengan terburu-buru beliau justru mencabut penisnya. Kemudian sambil membalikkan tubuhku, Ayah mengocok-ngocok penisnya sendiri hingga spermanya keluar dengan deras sampai membasahi bagian perut dan dadaku. Sungguh pemandangan yang aneh melihat seorang Ayah mengocok-ngocok penisnya di depan anaknya sendiri.

Ayah lalu menyuruhku membersihkan sisa sperma pada penisnya. Dengan senang hati aku menjilati penis tersebut sampai bersih. Setelah itu Ayah menjatuhkan tubuhnya di sebelah kananku. Harus kuakui sungguh hebat untuk pria seusia Ayah masih memiliki stamina yang cukup kuat dan dapat membuatku orgasme hingga berkali-kali.

“Heeeh… Heeeeh… Te-teteh ja-jangan bilang siapa-siapa yah…” kata Ayah dengan nafas yang tersengal-sengal.

“Pasti dong Yah…!” jawabku yakin karena aku juga tidak ingin hal ini sampai diketahui oleh orang lain, terutama Ibu.

Di saat sedang mengistirahatkan tubuh kami yang lelah dan penuh keringat, sempat terlintas di pikiranku kalau beliau tidaklah seperti orang-orang yang pernah menikmati tubuhku sebelumnya. Saat orang-orang tersebut, termasuk juga adik laki-lakiku, ingin sekali memuntahkan sperma mereka di dalam vaginaku, Ayah justru lebih memilih untuk mengeluarkannya di dalam mulutku. Mungkin Ayah masih memakai akal sehatnya karena takut apabila nanti beliau akan memiliki cucu yang berasal dari spermanya sendiri.

Sejak hari itu pula, baik di waktu siang maupun malam hari, aku dan Ayah selalu mencari kepuasan bersama saat di dalam rumah hanya ada kami berdua atau ketika keluargaku yang lain sedang terlelap.

Selesai.

Ikuti Terus Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 1 - 2 - 3 - 4

Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 3

Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 3 | Sambil terus mengulum penis Ayah, tanganku juga ikut mengocok batangnya ataupun memijat buah zakarnya. Kurang lebih 15 menit penis Ayah berada di dalam mulutku, akhirnya beliau tidak dapat menahan untuk segera mengeluarkan spermanya. Tanpa sadar Ayahku menggerakkan pinggulnya lebih cepat sehingga membuatku kelabakan.

Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 3

“Ayaaah pengeeeen keluaaaar Teeeeh…!! Aaaaaaah… Teruuuus…!!” teriak Ayah dengan nafas memburu karena sudah ingin mencapai orgasme.

‘Creeeeett… Creeeeeettt… Creeeeeeettt…’ tidak lama kemudian keluarlah sperma Ayah dengan sangat deras ke dalam mulutku.

“Teeeeeh…!! Teteeeeeeeh…!!! Aaaaaaah…!!!” Ayah berteriak-teriak tidak terkendali seperti orang kesetanan.

Sungguh hangat rasanya ketika sperma Ayah menyirami mulut dan tenggorokanku dengan derasnya. Walaupun jumlah sperma milik Ayah sangat banyak serta beraroma tidak sedap, dengan menahan mual aku tetap berusaha menelannya hingga tidak tersisa sedikitpun.

Memang melakukan oral seks sudah seperti bakat terpendamku, sehingga pasanganku pasti sangat menikmatinya. Adik laki-lakiku adalah salah satu orang yang sangat ketagihan dengan hisapanku. Penis Ayah semakin menyusut di dalam mulutku ketika semburan spermanya sudah mulai terasa melemah hingga akhirnya berhenti sama sekali.

Namun sepertinya Ayah masih belum terlihat puas karena nampak dari penisnya yang masih tegang. Ayah hanya menarik penisnya dari mulutku lalu duduk. Aku memanfaatkan waktu ini untuk beristirahat sebentar karena beliau sendiri katanya butuh waktu beberapa menit untuk mengumpulkan spermanya. Aku dan Ayah menghimpun kembali tenaga yang cukup terkuras.

Baru beristirahat sebentar nafsu Ayah sudah sudah bangkit lagi “Teh lanjutin lagi yuk…” pinta beliau.

Ayah lalu memintaku untuk naik ke atas wajahnya sehingga kini kami berada dalam posisi saling menjilati kemaluan pasangan masing-masing. Tanpa perlu diperintah lagi, aku membungkukkan tubuhku dan meraih penis milik Ayah lalu kukocok perlahan sambil menjilatinya. Kugerakkan lidahku menelusuri batang penis Ayah sekaligus buah zakarnya. Jilatanku lalu naik lagi ke ujungnya dimana aku mulai membuka mulut siap untuk menelannya lagi.

Tinggi badanku dengan Ayah yang tidak berbeda jauh, membuat kami nyaman berada dalam posisi ini. Untuk beberapa saat hanya suara desah nafas dan jilatan saja yang terdengar di dalam ruangan ini.

“Enak ya Teh? Sluuuurp… Mmmmmh…” tanyanya sambil terus menjilat-jilat vaginaku.

“Iyaaaah… Enaaaaak bangeeeet Yaaah…!! Oooooh…” berulangkali aku melenguh dan mendesah dibuatnya.

Terus terang gaya ini jelas jauh lebih nikmat dari sebelumnya karena aku juga dapat ikut merasakan di oral oleh Ayah. Sementara aku merasakan jari Ayah menggantikan tugas lidahnya untuk bermain di vaginaku. Jari tersebut kemudian membuat gerakan memutar di dalam liang vaginaku. Tidak sampai di situ saja, jari Ayah tadi dimasukkannya lebih dalam ke vaginaku sedangkan jari-jarinya yang lain mengelus-elus klitorisku.

Dan satu hal yang membuatku semakin melayang adalah saat lidah Ayah juga turut menjilati vaginaku. Sungguh suatu sensasi yang hebat sampai pinggulku turut bergoyang menikmatinya dan sekaligus semakin membuatku bersemangat mengulum penis milik Ayah.

“Yaaah…! Teteeh udaah nggaaak tahaaan…!” kataku sambil berhenti mengulum penis Ayah.

“Sluurp… Sabaaar Teeeh… Tahaaan duluuu…! Kitaa keluaaar barengaaan…!!” ucap Ayah yang tetap menjilati vaginaku.

“Akkkhhhhh… Teteeeeh keluar…!!” karena sudah tidak kuat lagi akhirnya vaginaku kembali mengeluarkan cairan.

Akibat merasa sangat lelah karena sudah mencapai orgasme dua kali, kali ini aku yang merobohkan tubuh di sebelah Ayah. Sementara Ayah yang mungkin masih merasa tanggung karena belum mencapai klimaks lagi mulai berdiri di depanku. Matanya dengan tajam memandang ke arah kemaluanku. Aku juga dapat mendengar nafas Ayah demikian memburu karena birahi beliau yang belum terlampiaskan seluruhnya.

“Yah nanti dulu… Teteh masih capek nih…” pintaku karena sudah mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Ayah saat ini.

Ayah yang seakan tidak memperdulikan kondisiku, mengambil posisi tepat di atas tubuhku sambil mencium bibirku dengan ganas. Kemudian Ayah mengarahkan penisnya yang masih berlumuran air liur ke liang vaginaku. Aku sungguh tegang ketika melihat penis Ayah menempel di vaginaku dan mencoba untuk masuk. Walaupun aku memang sudah tidak perawan lagi, namun penis Ayah terlihat kesulitan menjebol vaginaku yang masih sempit.

“Aaaaaaah… Ayaaaaaaah…!!” aku merintih ketika kepala penis milik Ayah menggesek-gesek klitorisku.

Supaya lebih memudahkan aksi Ayah, aku pun mulai membuka kedua pahaku lebar-lebar. Melihat reaksiku, Ayah semakin berusaha menekan penis beliau ke dalam vaginaku. Perlahan namun pasti penis tersebut mulai dapat masuk menembus selaput dinding vaginaku walau baru setengahnya saja. Dengan tidak mengenal kata menyerah, Ayah terus mendorong penisnya hingga benda yang kira-kira berukuran 18 cm itu mulai tenggelam di dalam lubang vaginaku.

“Aaaaaahh… Ayaaaaahhh…!!!! Aaaaaaaaahhhh…” aku memekik panjang ketika dengan tiba-tiba Ayah menghujamkan penisnya dengan kuat.

“Yaaah…!! Aaaaaah… Pelaaan-pelaaaaan…!! Oooohh… Aaaaaah…” teriakku merasa kesakitan ketika penis Ayah mulai keluar masuk vaginaku tanpa kendali.

Bersambung... Klik Disini Selanjutnya

Ikuti Terus Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 1 - 2 - 3 - 4

Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 2

Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 2 | Tetapi Ayah yang sudah dikuasai hawa nafsu tidak menanggapi perkataanku sama sekali. Saat ini aku tidaklah seperti seorang putri kecil lagi bagi Ayah, melainkan sebagai objek pelampiasan nafsu birahinya. Sambil menindih tubuhku, bibirku diciuminya lagi. Tidak lama kemudian handuk yang melilit di tubuhku disingkapkannya, sehingga tubuhku kini dalam keadaan tanpa penutup sama sekali.

Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 2

“Badan Teteh harum bangeeet…” bisik Ayah mesra.

Ayah tidak puas-puasnya memandang dan menciumi tubuhku. Apalagi kulit putih halus yang membalut tubuhku semakin meningkatkan hawa nafsunya. Sehingga begitu pandangannya mengarah ke payudaraku, tangan Ayah mulai membelainya. Jari-jari kasarnya menjepit dan meremas-remas putingku, perlahan namun sama nikmatnya dengan remasan yang kuat dan keras.

“Mmmmmmh…” aku mendesah nikmat.

Sementara tangan Ayah mulai mengelus-elus pahaku yang mulus dan putih. Kedua putingku kemudian dikulumnya bergantian antara kiri dan kanan.

“Yaaaah… Ooooohh…” desahku lagi ketika kumis tipis milik Ayah menggesek dadaku.

“Ayah sayang kamu Teh…” kata Ayah sambil memandangku, kali ini dengan tatapan yang sangat aneh.

“Yaaah… Teee… Mmmm…” belum selesai aku berbicara bibir Ayah kembali mengulum bibirku.

Sewaktu Ayah mencium bibirku dengan memasukkan lidahnya, aku tidak tinggal diam. Dengan panasnya kami saling beradu lidah. Ayah sungguh pintar membuatku terhanyut sehingga saat ini aku sudah tidak memikirkan lagi bahwa perbuatan yang sedang kulakukan adalah sebuah dosa besar. Yang dapat kulakukan saat itu adalah memalingkan wajah ke samping karena merasa malu dapat terangsang oleh permainan Ayah kandungku sendiri.

Tidak puas hanya bermain dengan bibir dan payudaraku saja, kini bibir Ayah mulai turun ke perut dan berhenti di vaginaku. Aku semakin terangsang ketika bibir Ayah mencium bibir vaginaku. Lidah Ayah kemudian mencoba untuk menerobos masuk ke dalam. Aku juga dapat merasakan hembusan nafas Ayah menerpa vagina bagian luarku yang semakin menambah sensasi nikmat.

“Aaaaaaaah… Ayaaaaaaaah…!!!” aku mendesah kencang ketika lidah Ayah mengenai klitorisku.

Perlahan kedua kakiku mulai melebar karena rangsangan dari lidah Ayah yang sedang memainkan klitorisku. Tubuhku terasa ingin terbang ketika merasakan jari-jari Ayah ikut bermain di dalam vaginaku. Aku dapat merasakan permukaan vaginaku mulai basah pada bagian belahannya, bukan hanya karena air liur Ayah, namun juga karena rangsangan yang terus-menerus diberikan oleh beliau.

Setelah beberapa lama aku pun mulai memiliki keberanian untuk melihat ke bawah dimana selangkanganku sedang dijilati dan dihisap-hisap oleh Ayahku. Sungguh lihai mulut serta lidah Ayah menyedot dan juga menjilati vaginaku sampai membuat kakiku mengejang hebat. Lidah Ayah bergerak lincah, kadang dengan gerakan lambat, kadang cepat bahkan terkadang sampai menjilat memutari vaginaku.

Akibatnya beberapa menit kemudian tubuhku mulai mengejang, lalu aku dapat merasakan dari dalam vaginaku ada sesuatu yang mengalir dengan kuat dan siap untuk dikeluarkan.

“Oooohh… Teteeeeh keluaaaar Yaaaah…!! Ooooooohh…” aku mengerang panjang dalam orgasme pertamaku ini.

Kemudian Ayah dengan sengaja menghentikan jilatannya untuk mengamati lendir vaginaku yang keluar dalam jumlah banyak sehingga sampai menetes ke tempat tidur. Sebuah senyum mesum terpancar pada wajah tua beliau. Sepertinya Ayah senang sekali karena berhasil membuat putri kandungnya mencapai puncak kenikmatan untuk pertama kalinya.

“Sluurp… Enaak bangeet cairannya Teteh… Hhmmm… Jauh lebih enaak dari Ibu kamu…” kata Ayah sambil menikmati sisa cairan yang masih menempel di vaginaku.

Sesaat kemudian Ayah mulai membuka seluruh pakaiannya yang masih dalam keadaan lengkap seperti ketika beliau pergi tadi, hingga kini kami berdua sudah dalam keadaan telanjang. Ayah lalu mengambil posisi berlutut di sebelahku lalu mengarahkan tanganku ke batang penisnya. Merinding juga aku melihat batang kemaluan Ayah yang sangat besar dan masih terlihat perkasa.

Dengan mata sedikit terpejam aku mulai memegang batang penis Ayah dengan tangan kananku. Namun karena ukuran penis Ayah sangat panjang, maka tangan kecilku ini hanya mampu menggenggam hingga setengahnya saja. Perlahan aku meremas-remas penis tersebut sebelum mulai mengocoknya. Sesekali aku membuat gerakan memutar yang membuat Ayah menggelinjang nikmat.

“Ooooh… Enaaaaak Teeeeh…!!” kata Ayah ketika aku mengocok penisnya itu dengan lebih cepat.

Ketika wajahku sudah berada tepat di depan penis Ayah, dengan perlahan kujilati seluruh penisnya dengan lidahku. Mulai dari ujung kepalanya yang berwarna kemerahan, hingga batangnya yang kekar. Sesekali cairan bening yang keluar dari penis Ayah juga aku jilati hingga bersih.

“Iseepiiin doong Teeeh…” perintah Ayah.

Mungkin karena Ayah sudah tidak dapat tahan lagi dengan perlakuanku terhadap penisnya, dengan tidak sabar beliau mengarahkannya ke mulutku hingga akhirnya aku pun mulai mengulum penis tersebut.

“Iyaaaaaah… Teruuuss…!! Ooooooh… Enaaaaaaaaak…!!!” teriak Ayahku.

Karena aku sudah cukup berpengalaman dalam melakukan oral seks, Ayahku jadi sangat menikmati hisapanku. Penis Ayah yang berukuran besar keluar masuk di dalam mulutku. Sesekali aku menghisap penisnya dengan kuat sekaligus menggigitnya pelan. Kedua tangan Ayah juga tidak tinggal diam dan ikut bermain pada kedua putingku.

Aku terus bekerja keras mengulum dan memainkan lidahku pada batang penis Ayah yang terasa sesak di mulutku. Benda itu bergetar setiap kali lidahku menyapu kepalanya. Ayahku yang semakin merasa keenakan menggerakkan pinggulnya ke depan dan belakang secara perlahan seolah-olah seperti sedang bersetubuh.

“Mmmmhh… Kamuu jagooo bangeeet ngiseepnya Teeeh…!!” puji Ayah sambil mengelus rambutku.

“Sluuurpp… Hhhmmmm… Sluuuuurpp…” dipuji seperti itu membuat aku semakin bersemangat menghisap penis milik Ayah.

“Uuuuhh… Enaaak bangeeeet Teeh… Te-teruus gituiiiin… Iyaaaah… Mmmmm…” Ayah mengerang sambil memegangi kepalaku.

Bersambung... Klik Disini Selanjutnya

Ikuti Terus Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 1 - 2 - 3 - 4

Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 1

Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 1 | Seperti yang pernah aku ceritakan pada kisah sebelumnya, aku sudah sangat sering berhubungan badan dengan adik laki-lakiku. Namun kali ini aku melakukannya dengan anggota keluargaku yang lain, yaitu Ayah kandungku sendiri! Aku sadar kalau perbuatan ini sangat salah. Tetapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi, karena kini sudah tidak ada yang dapat aku lakukan untuk dapat merubah semuanya. Seperti kata pepatah ‘Nasi sudah menjadi bubur’.

Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 1

Mungkin ada yang masih ingat kalau aku adalah gadis keturunan Betawi dan Sunda? Ayahku memang berasal dari Jakarta. Walaupun perawakan Ayahku tidak tinggi besar, namun karena wajah beliau yang tegas, orang lain menjadi segan dengannya. Apalagi saat kumis Ayah masih sengaja dibiarkan tumbuh panjang yang tentu saja membuatnya menjadi terlihat semakin seram. Beberapa komentar dari mantan pacar maupun teman-temanku yang sudah pernah melihat Ayah membuatku semakin yakin kalau beliau cukup menakutkan.

Sudah sekitar 2 bulan ini aku tidak bekerja lagi karena di kantorku sedang ada pengurangan karyawan. Setelah berhenti bekerja, aku hanya mengisi waktu luangku dengan melamar pekerjaan serta membantu Ibu di rumah. Sementara itu sekitar 2 minggu lagi aku juga berencana akan segera melangsungkan pernikahan dengan pacarku yang sekarang. Tentu saja hal ini membuatku cukup sibuk sehingga aku tidak terlalu mengambil pusing lagi memikirkan sulitnya mencari pekerjaan.

Hari itu hanya ada aku di rumah, Ayahku sedang ada urusan penting, sedangkan Ibu pergi berbelanja kebutuhan pokok. Begitu juga dengan adik-adikku, ada yang sedang kerja maupun kuliah. Karena cuaca hari itu cukup panas aku memutuskan untuk mandi. Dengan segera aku mengambil handuk dari kamarku lalu menuju ke kamar mandi. Setelah melepas pakaian yang menempel satu-persatu, aku mulai membersihkan seluruh permukaan tubuhku hingga kembali harum dan segar.

Kira-kira setengah jam aku berada di kamar mandi. Karena tidak ada orang lain lagi di rumah, dengan hanya mengenakan handuk aku segera menuju ke kamar tidur untuk berganti pakaian. Namun baru berjalan beberapa langkah, samar-samar aku mendengar suara pintu depan diketuk oleh seseorang.

‘Tok… Tok… Tok…’ terdengar lagi suara ketukan tetapi kali ini lebih keras.

“Aduh… Siapa sih?” tanyaku dalam hati.

“Teh bukain pintunya…! Ini Ayah…!” terdengar suara pria yang ternyata adalah Ayahku.

Karena belum sempat berganti pakaian, dengan hanya masih memakai handuk aku langsung membukakan pintu untuk Ayahku.

“Kok cepet sih pulangnya Yah?” tanyaku heran ketika aku sudah membukakan pintu.

“Udah selesai kok urusannya…” jelas Ayah singkat.

“Oh gitu? Ya udah Ayah istirahat dulu sana…” kataku sambil menutup pintu lalu menguncinya kembali.

Setelah yakin pintu depan sudah dalam keadaan terkunci, aku pun segera beranjak ke kamar untuk berganti pakaian karena takut masuk angin. Ketika sudah berada di kamar aku mengambil pakaian dari dalam lemari. Baru saja aku bersiap untuk melepas handukku, tiba-tiba saja terdengar suara pintu kamarku dibuka. Tentu saja aku kaget karena ketika membalikkan tubuh rupanya Ayahku sudah berada di dalam kamar.

“Ayah kok masuk nggak ketok pintu dulu sih!?” aku setengah membentak ke Ayahku.

“Ma-maaf Teh… Ayah cuma mau tanya Ibu udah pulang apa belum?” tanya Ayah yang kemudian langsung duduk di atas tempat tidurku.

Tidak biasanya Ayah masuk ke kamarku dengan tiba-tiba, apalagi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Akhirnya handuk yang tadinya sudah siap untuk kulepas, aku kencangkan lagi ikatannya.

“Belum Yah…” jawabku seadanya.

“Kok tumben sih belum pulang?” tanya Ayah yang kali ini sambil memandangi tubuhku.

“Nggak tau deh… Emangnya kenapa sih Yah? Baru ditinggal sebentar udah kangen aja sama Ibu…” kataku bercanda.

“Hehehe… Bisa aja anak Ayah yang satu ini…” Ayah tertawa mendengar ucapanku.

Namun setelah percakapan itu suasana menjadi sepi. Bukan karena tidak tahu harus berbicara apa, tetapi keberadaan aku dan Ayah di kamar ini. Selain karena hanya ada kami berdua, kondisi tubuhku yang masih memakai handuk juga menambah ketidaknyamanan di dalam ruangan ini.

“Teh… Sini duduk di sebelah Ayah…” tiba-tiba Ayahku berkata sambil menunjuk tempat di sebelahnya.

Tanpa ada perasaan curiga sama sekali, aku pun menuruti permintaan Ayah karena merasa beliau ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting denganku.

“Teh… Sebentar lagi kan kamu nikah…” kata Ayah serius.

“Iya Yah…! Ayah seneng kan Teteh akhirnya nikah?” tanyaku memotong perkataan Ayah.

“Ayah seneng kok Teh… Tapi sebenernya Ayah sedikit nggak rela kalo anak kesayangan Ayah diambil orang lain…” lanjut Ayah dengan raut wajah sedih.

“Ya ampun…! Ayah tenang aja deh… Teteh tuh milik Ayah dan akan seterusnya kayak gitu kok…” jawabku berusaha menenangkan Ayah.

“Ka-kalo begitu… Te-teteh mau kan bersetubuh sama Ayah?” tanya Ayahku dengan terbata-bata.

“A-ayaah…!! Ayah ngomong apa sih!?” aku sungguh marah sekaligus bingung mendengar permintaan Ayah barusan.

“Teh… Ayah sayang Teteh… Sebelum kamu nikah, Ayah pengen banget bisa bersetubuh sama kamu…” ucap Ayah yang membuatku yakin kalau aku tidak salah dengar.

“…………” tenggorokanku terasa seperti tersendat dan tidak dapat berkata apa-apa lagi.

Seolah tidak ingin menunggu jawaban dariku, tangan kanan Ayah mulai memegang daguku. Sementara tangannya yang sebelah lagi menggenggam tanganku, yang masih dalam keadaan memegang handuk, dengan penuh kehangatan. Ayah mengangkat daguku hingga kepalaku menengadah tepat ke arah wajahnya. Kulihat pancaran kedua mata Ayah begitu penuh kasih sayang, namun bukan seperti tatapan sayang orangtua kepada anaknya, melainkan layaknya seorang pria memandangi kekasihnya.

Aku hanya diam saja diperlakukan seperti ini. Belum sempat aku berpikir atau berbuat sesuatu, tiba tiba wajah Ayah sudah berada sangat dekat dengan wajahku hingga membuatku menahan nafas. Kepalanya perlahan turun dan mengecup bibirku. Cukup lama Ayah mengulum bibir mungilku. Perlahan tetapi pasti, aku mulai gelisah. Birahiku mulai naik. Tanpa kusadari kuikuti saja kemauan Ayahku ini.

“Aaaaah…” aku mendesah sangat pelan sehingga nyaris tidak terdengar.

Setelah beberapa lama, kini aku antara pasrah dan menikmati cumbuan ini. Tiba-tiba saja bibirku diciumi Ayah dengan nafsu. Aku sudah tak bisa berpikir jernih lagi. Dengan memejamkan mata, aku langsung membalas ciuman Ayahku dengan liar. Kami berdua pun saling bertukar ludah dengan panas.

Nafsu birahiku mulai tidak dapat tertahan ketika tangan kiri Ayah menyentuh payudaraku dan melakukan remasan lembut. Tidak hanya bibirku yang dijamah bibir Ayah. Leher mulusku pun tidak luput dari sentuhan Ayah. Bibir tersebut kemudian beranjak naik ke telingaku. Jantungku berdetak kencang dan wajahku terasa panas.

“Mmmmh… Yaaaaah…” desahku ketika lidah Ayah mulai bermain di belakang telingaku.

Ayah kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur tempat tidurku agar posisiku dapat lebih nyaman.

“Yaah jangaaaaan…! Na-nantiii ketauaaan Ibuuu…!” aku mencoba untuk menolak keinginan Ayah walaupun di dalam hati aku juga sangat menginginkannya.

Bersambung... Klik Disini Selanjutnya

Ikuti Terus Kisah Tita Sebelum Pernikahan - Cerita 1 - 2 - 3 - 4

Cerita Dewasa: Lia, Asyiknya Bercinta Rame-Rame Bagian 2

Cerita Dewasa: Lia, Asyiknya Bercinta Rame-Rame Bagian 2 - Begitu mulutnya terbuka, masuklah batang penis Doni yang tegang itu sedikit demi sedikit. Lia mulai merasakan nikmatnya mengemut penis Doni dengan memaju-mundurkan kepala sesuai gerakan tangan Doni di rambutnya.

Cerita Dewasa: Lia, Asyiknya Bercinta Rame-Rame Bagian 2

"Ayo isep dan jilat sepuasmu..!" perintah Doni lagi yang segera diikuti Lia dengan menjilati sepanjang batang penisnya yang divariasi dengan mengemut kepala penisnya.

Sambil terus menghisap, Lia merasakan ada sesuatu di bawah selangkangannya. Ternyata kepala Ferry sudah menengadah di antara kedua paha Lia dengan posisi badannya berada di bawah ranjang. Bibir dan lidah Ferry mulai beraksi dengan buasnya di vagina Lia. Yang membuat Lia semakin histeris adalah ketika aku menyambut goyangan-goyangan pantatnya yang mencuat ke atas dengan menyapukan lidahku ke belahan pantat Lia dengan sesekali menusukkan ujung lidahku ke lubang pantatnya.

Tanganku pun tidak mau tinggal diam, maju ke depan meremas-remas buah dadanya yang menggantung. Lengkaplah sudah bagian-bagian sentra kenikmatannya diserang habis-habisan. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan indah ini. Kutarik kepalaku dari pantatnya, dan kugantikan dengan menusukkan penisku ke vaginanya dari belakang. Dan untuk mempermudah genjotanku, ferry memindahkan kepalanya dari selangkangan Lia ke bawah buah dadanya yang menggantung, dan mulai menggeluti puting Lia dengan mulutnya.

Bersamaan dengan semakin cepatnya gerakan maju-mundur penis Doni di mulut Lia, kupercepat juga sodokan penisku ke lubang vaginanya sambil mencengkeram keras pinggulnya. Sampailah pada erangan keras Lia diikuti dengan mengejangnya tubuhnya tanda mencapai puncak. Terasa hangatnya cairan di lubang vagina Lia yang diikuti dengan kencangnya otot-otot di situ yang menjepit penisku.

Tanpa istirahat, Doni yang lalu mencabut penisnya dari mulut Lia, membaringkan dirinya dan menarik tubuh mulus Lia ke atasnya, hingga posisinya jadi berjongkok dengan vaginanya yang tepat berada di atas penis Doni yang masih tegak berdiri. Sesaat kemudian, terbenamlah penis Doni bersamaan dengan diturunkannya tubuh Lia. Erangan Lia terdengar cukup keras merasakan nikmat, dan semakin memacunya untuk mempercepat pompaan pada penis Doni.

Sementara itu, Ferry yang menunggu giliran mengambil inisiatif dengan berdiri di samping Lia, dan memasukkan penisnya ke mulut Lia dengan memutar sedikit kepalanya. Vagina dan mulut Lia kembali bekerja keras memompa, sementara aku juga tidak tinggal diam dengan menarik kedua tangan Lia ke belakang, lalu menjilat-jilat puting di buah dada kirinya yang terguncang-guncang seirama naik-turunnya tubuhnya.

Rupanya Doni mencapai puncaknya lebih cepat. Ia menekan tubuhnya ke atas yang diimbangi Lia dengan menahan ke bawah. Ferry yang sudah tidak tahan penisnya dilumat, langsung mengambil inisiatif dengan mendorong tubuh Lia ke samping hingga merebah di ranjang. Kedua tangan Lia direntangkan ke atas, hingga berpegangan pada ujung tiang ranjang, lalu kedua kakinya direntangkan, dan Ferry ambil posisi di antara kedua paha Lia. Vagina Lia yang terbuka langsung dihujam oleh penis Ferry yang masih basah bekas lidah Lia. Ferry mulai menyodokkan penisnya dengan lembut yang membuat Lia mengerang dan berusaha mengimbangi dengan memutar-mutar pinggulnya.

Sementara itu, Doni yang berada di samping Ferry membantu merangsang Lia dengan menciumi, menjilat, dan mengulum jari-jari kaki Lia yang mulus itu. Bibir sensual Lia yang terus mengerang itu membuatku tidak tahan melihatnya. Aku bergerak maju dan kukangkangi wajahnya, hingga penisku yang masih tegang berada tepat di depan mulutnya. Kuangkat sedikit kepalanya dan kudorong masuk penisku. Lia pun menyambut dengan ganas perlakuanku ini. Dihisap dan dikulumnya penisku dengan bibir dan lidahnya.

Genjotan penis Ferry semakin cepat di bawah yang membuat Lia menggelinjang hebat.
"Mmmh.. mmph.. mmph..," teriak Lia tertahan penisku di mulutnya bersamaan dengan melengkungnya tubuh Lia ke atas.
Lia telah mencapai puncaknya bersamaan dengan Ferry.
"Tunggu, aku juga mau keluar..!" kataku lagi sambil melepas penisku dari mulutnya dan mengocok penisku di depan bibirnya yang sengaja dibukanya lebar.
"Aaagghh..!" erangku yang bersamaan dengan semprotan maniku ke wajah dan mulut Lia.

Tak hanya itu, waktu semprotanku berhenti, langsung dikulumnya penisku lagi dalam-dalam yang membuatku terasa ngilu tapi nikmat sekali. Akhirnya kami berempat merebah jadi satu di ranjang dengan perasaan puas yang mendalam. Yang jelas kami semua merasakan 'asyiknya rame-rame', mirip dengan slogan iklan rokok di TV.

TAMAT

Sebelumnya ... KLIK DISINI Cerita Dewasa: Lia, Asyiknya Bercinta Rame-Rame Bagian 1

Cerita Dewasa: Lia, Asyiknya Bercinta Rame-Rame Bagian 1

Cerita Dewasa: Lia, Asyiknya Bercinta Rame-Rame Bagian 1 - Lia sedang duduk menyelesaikan ceritanya di komputer waktu aku, Doni dan Ferry datang ke kamarnya. Tiba-tiba kami bertiga sudah ada di samping dan di belakangnya sambil ikut membaca ceritanya di monitor.

Cerita Dewasa: Lia, Asyiknya Bercinta Rame-Rame Bagian 1

"Wah, ceritamu bikin horny loh..!" kataku yang diiyakan juga oleh Doni dan Ferry.
Yang membuat Lia kaget, Ferry dan Doni yang berdiri di samping kiri-kanannya membaca monitor sambil mengusap-usap celana bagian depannya yang nampak makin lama makin menonjol. Lia semakin kaget lagi sewaktu mereka secara bersamaan tiba-tiba membuka celana sekaligus CD-nya ke bawah, sehingga di kanan-kiri Lia muncul dua benda panjang menjulur ke depan. Rupanya mereka sudah tidak tahan membayangkan cerita di komputer Lia, apalagi melihat penampilan Lia malam itu yang hanya berdaster transparan.

"Tuh kan, jadi keras nih punyaku.., ayo pegang..!" kata Doni sambil menarik tangan Lia dan ditempelkannya di batang penisnya sekaligus penis Ferry.
"Eh, ngapain nih pada..?" tanya Lia sambil agak meronta.
"Udah deh, pegang aja..!" kata Doni yang tiba-tiba menyusupkan tangannya ke daster Lia bagian atas terus ke bawah hingga menyentuh gundukan buah dadanya yang tak ber-BH itu.

Lia langsung menggeliat merasakan usapan tangan Doni pada bagian sensitifnya yang menimbulkan sensasi tersendiri, sehingga Lia tidak lagi meronta dan malah menikmati genggaman tangannya pada batang penis Ferry dan Doni. Ferry pun tidak mau kalah, tangannya ikut masuk menggerayangi buah dada yang kiri sambil memilin-milin lembut puting Lia yang semakin mengeras.
"Aaah.., sshh..," desahnya merasakan kenikmatan sambil tangannya terus menggenggam dan sesekali mengocok batang penis mereka.

Mereka serentak menghentikan kegiatannya, dan menyuruh Lia berdiri dari kursi menuju ke ranjangnya. Daster Lia yang sudah tidak karuan menyangga tubuhnya langsung terlepas bersamaan dengan tangan Ferry yang menarik cepat tali dasternya. Sambil memegangi tangan Lia, kini mereka dapat bebas melihat kemulusan tubuhnya yang tinggal berbalut CD mini itu.

Lia disuruh berhenti di dekat ranjangnya, dimana aku sudah duduk menunggu, duduk di pinggir ranjangnya tanpa busana. Lia semakin pasrah sambil berdiri waktu Ferry dan Doni merentangkan kedua tangannya, dan mulai menciumi dari mulai ujung jari hingga ke lengan bagian atas. Bulu-bulu halus Lia langsung berdiri menerima perlakuan ini. Kecupan dan permainan lidah Ferry dan Doni di sepanjang kulit tangan Lia membuatnya seperti terbang melayang. Rintihannya semakin menggila sewaktu mereka menaikkan tangan Lia ke atas dan menyusupkan bibir-bibir mereka ke ketiaknya.

Jilatan-jilatan Ferry dan Doni yang belum pernah Lia rasakan sebelumnya itu, membuat Lia menggelinjang kegelian penuh rangsangan. Kepalanya yang menengadah ke atas langsung disambut dengan ciuman Doni di samping leher dan telinganya, sementara Ferry meneruskan jelajahan bibir dan lidahnya yang liar ke samping pinggang Lia. Sementara tangannya di atas memegang kepala Doni yang asyik menyusuri telinga dan tengkuknya, aku berdiri dari ranjang dan tak kusia-siakan buah dadanya yang membusung itu dengan kukecup lembut di sekitarnya. Putingnya yang mencuat kujilat, kukulum dan kuhisap bergantian yang membuat tubuhnya bergetar hebat menahan nikmat.

Desahan dan erangannya yang semakin mengeras tidak terdengar lagi, karena tiba-tiba Doni membungkam mulut Lia dengan mulutnya yang liar sambil memiringkan kepala Lia. Mau tidak mau Lia melayani permainan bibir dan lidah Doni yang menari-nari di dalam rongga mulutnya.
"Mmph.. mmph..," erangnya di tengah hebatnya serangan kami bertiga.

Sementara itu Ferry sudah berada di bawah tubuh Lia yang asyik menciumi belakang batang kakinya mulai dari paha, betis hingga tumit kakinya. Tangan Ferry yang tadinya meremas-remas pantat Lia, tiba-tiba begitu cepat turun ke bawah bersamaan dengan CD-nya, hingga akhirnya tak sehelai benang pun menempel di tubuh Lia. Pemandangan indah gundukan vagina Lia tidak kusia-siakan dengan bibirku yang sudah turun dari melumat buah dadanya menjadi ke perutnya.

Setelah puas memutar-mutarkan lidahku di seputar perut dan pusarnya, aku kembali duduk di pinggir ranjang dengan posisi wajahku berhadapan dengan vagina Lia. Tanganku kemudian menarik pinggulnya lebih mendekat ke arah wajahku, dan bibirku langsung mengecup gundukan vagina Lia dengan lembut yang membuatnya menggeliat merasakan sensasinya.

Tidak puas dengan itu, makin kuturunkan tubuhku ke bawah dengan posisi berlutut. Tanganku kemudian merenggangkan kakinya, hingga vagina Lia terbuka bebas menggantung di depan wajahku. Tidak lama kemudian kubenamkan wajahku ke selangkangan Lia yang kemudian diikuti oleh usapan lidah Ferry di seputar pipi pantatnya. Lia semakin hebat menggelinjang, apalagi sewaktu aku sudah mulai menjilat dan mengisap klitorisnya dari bawah yang membuat vaginanya semakin basah.

Lia sudah tidak tahan dan mencoba meronta, tapi kami malah semakin menggila. Tubuh Lia kami dorong ke ranjang, dan kusuruh menungging di pinggir ranjang dengan posisi kakinya menggantung. Doni naik ke ranjang dan berlutut di depannya dengan penisnya yang mengarah ke wajah Lia. Tangan Doni kemudian memegang rambut Lia dan menengadahkan kepalnya.

"Buka mulutmu..!" perintah Doni yang segera diikuti, karena memang Lia sudah horny sekali, dan ingin melakukan apa saja.

Bersambung... KLIK DISINI Cerita Dewasa: Lia, Asyiknya Bercinta Rame-Rame Bagian 2
Support : Tante Alexa | Tante Alexa | Tante Alexa
Copyright © 2012. Tante Alexa - All Rights Reserved
Template ReCreated by Tante Alexa Published by Tante Alexa
Proudly powered by Blogger