Cerita Dewasa : Petualangan Cinta Hendra Tina Yang Nakal

Cerita Dewasa : Petualangan Cinta Hendra Tina Yang Nakal - Pagi ini nampak Hendra sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta, dengan tubuh yang tegap dan rupa yang menawan, keberadaan Hendra di dekat pintu masuk menyedot perhatian para wanita yang sedang berada di Bandara Soekarno-Hatta, berkali-kali para wanita itu melirik kearah Hendra, sementara Hendra tidak menyadari hal tersebut karena dia sibuk dengan memandangi taxi-taxi yang berhenti menurunkan penumpangnya, matanya memandangi setiap penumpang yang turun, tapi yang ditunggunya belum juga datang, sesekali Hendra melihat kearah jam tangannya.


Kira-kira setengah jam kemudian mata Hendra menangkap 2 orang wanita yang turun dari taxi, melihat hal itu Hendra kemudian menghampiri ke 2 wanita tersebut, melihat Hendra menghampiri kea rah mereka, ke 2 wanita itu tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Lama betul kalian, kukira kalian masih tidur,” Hendra menyapa ke 2 wanita tersebut.

“Hehehe…maklum perempuan,”kata salah seorang wanita tersebut.

“Sudah lama, mas,”tanya wanita yang satunya lagi.

“Heeh, udah mau bulukan, gua nungguin kalian nich,”jawab Hendra.

“yee..gak segitunya kali,” sahut ke 2 wanita itu serempak.

“Yuu, kita check-in,”kata Hendra.

Ketiganya berjalan menuju ke pintu masuk Bandara, setelah melewati pemeriksaan Security, mereka menuju ke Counter Check-in, setelah selesai proses check-in mereka menuju kearah ruang tunggu.

“Mas, jam berapa pesawat kita take-off,”tanya salah satu wanita tersebut.

“kira2 1 jam-an lagi,”jawab Hendra

“Hmmm, berarti kita bisa sarapan dulu nich,”lanjut wanita yang tadi bertanya.

“Yup, gua juga mau minum kopi dulu,”lanjut Hendra.

Merekapun menuju ke salah satu resto yang berada di area Bandara, dan langsung memesan makanan dan minuman setelah mereka menghempaskan pantat mereka di kursi resto tersebut.

“Tin, kamu sudah mempersiapkan semuanya?,” tanya Hendra kepada salah satu wanita tersebut.

“Sip, beres semuanya boss,”sahut wanita yang dipanggil Tin.

“Kalau kamu, An,” tanya Hendra ke wanita yang satunya lagi.

“No problem everything under control,”sahut wanita tersebut dengan logat dicadelkan pada saat menyebutkan control.

“busyet, dah, Anna…Anna…sepertinya udah lama yach, gak dibawah yang begituan,”kata Hendro sambil tertawa menanggapi gurauan Anna.

Anna yang mendapatkan ledekan dari Hendra tersebut hanya mencibirkan bibirnya sambil kemudian tersenyum.

“kalau iyach udah lama gak dapat begituan, memangnya bossku yang cakep ini mau ngasih,”balas Anna sambil mengedipkan matanya.

“hahahaha….,”Hendra hanya bisa tertawa menanggapi gurauan Anna tersebut.

“kalau kamu sama, Tin,” tanya Hendra ke wanita yang satunya lagi.

“sama apanya?”wanita tersebut balik bertanya ke Hendra.

“itu yang Anna bilang tadi,”lanjut Hendra.

“yang mana, soalnya Anna kan dari tadi ngoceh melulu,”wanita tersebut kembali bertanya.

“Ah dasar Tina, yang suka bermain dengan kata-kata,”Hendra berkata sambil mencibirkan bibirnya.

“hihihihi…bossku yang ganteng ini bisa juga emosi, aku gak suka bermain dengan kata-kata, tapi aku lebih
suka bermain dengan …. Hihihi,”jawab wanita yang dipanggil Tina sambil mencibirkan bibirnya.

“ternyata kalian berdua sama,”Hendra berkata

“Sama apanya?,” sahut Anna dan Tina berbarengan

“Hehehhe…sama ceweknya,”sahut Hendra

“hhmmmmm,”sahut Anna dan Tina berbarengan

Obrolan mereka terhenti saat pesanan mereka tiba, ketiganyapun terlihat menikmati sarapan pagi mereka.

***********

Hendra adalah seorang manajer pemasaran di sebuah perusahaan di Jakarta, Hendra masih bujangan dan saat ini umurnya sekitar 28 tahun, di kantornya Hendra cukup terkenal dikalangan para wanita, Hendra orangnya sangat supel, ia tidak pernah memandang sebelah mata kepada wanita yang punya tampang pas-pasan, mau jelek atau cantik para wanita itu selalu mendapat perlakuan sama oleh Hendra saat mereka berbicara dengannya.

Tubuhnya yang sekitar 175cm, dengan dada bidang, betul-betul Hendra menjadi dambaan para wanita dikantornya, yang jelek, yang cantik, yang single dan yang sudah bersuamipun selalu senang saat berbincang dengan Hendra, termasuk Anna dan Tina yang kebetulan menjadi bawahannya Hendra, Hendra
selalu membimbing dan membantu mereka dalam hal penjualan, bukan mereka saja seluruh bawahannyapun mendapatkan bantuan yang sama jika mereka meminta tolong kepada Hendra untuk mendampingi mereka dalam hal nego ataupun presentasi.

***********

Anna adalah seorang tenaga penjualan di bawah komando Hendra, sudah 4 tahun Anna menikah tapi sampai saat ini Anna belum dikarunia anak, tubuhnya yang mungil kira-kira 155cm, dengan bagian dada berukuran 34C, dan tonjolan pantat yang cukup besar, Hendra kadang-kadang meledekinya dengan julukan si bebek pada saat Anna berjalan, karena bila Anna berjalan pantatnya selalu bergoyang seperti bebek yang berjalan. Anna yang berwajah cantik dengan diimbangi kulit yang kuning langsat dan mulus membuat mata para lelaki yang menatapnya menelan air liur, seperti saat ini banyak para lelaki yang melirik-lirik kearah Anna untuk menikmati belahan payudaranya. Anna adalah salah satu sales yang paling diandalkan oleh Hendra karena penjualannya yang bagus dan juga karena ia paling mau mendengarkan saran dan kritik dari Hendra. Di usianya yang ke 27 satu tahun lebih muda dari Hendra, Anna terlihat matang dan dewasa, sering ia juga memberikan saran dan kritik kepada Hendra untuk kebaikkan perusahaan.

***********

Tina juga bekerja dibawah naungan Hendra dan termasuk salah satu sales yang juga diandalkan oleh Hendra, berdua dengan Anna mereka selalu silih berganti menjadi top sales, Tina juga selalu mendengarkan saran dan kritik yang dilontarkan oleh Hendra kepada dirinya, perbedaannya dengan Anna adalah Tina masih sendiri dan kulitnya yang berwarna coklat muda, sehingga jika Anna dan Tina berjalan berdua sungguh kontra, Hendra sering meledeki mereka dengan julukan Black & White, tapi kerjasama Anna dan Tina selalu berhasil menggoalkan proyek-proyek yang cukup besar sehingga penjualan mereka berdua selalu jauh diatas rekan-rekan mereka. Usia Tina saat ini baru menginjak 24 tahun, dengan wajah yang manis, sedikit menggoda dan juga dengan postur tubuh yang hanya lebih tinggi sedikit dari dari Anna, mempunyai daya tarik sendiri untuk dipandang, Tina memang tidak mempunyai payudara sebesar Anna, dadanya mempunyai ukuran 32B, tapi tubuhnya lebih ramping dari Anna, dan juga pantatnya Tina tidak sebesar pantat Anna.

***********

Setelah selesai menikmati sarapan mereka, mereka bertiga menuju ke ruang tunggu keberangkatan, untuk menantikan panggilan naik ke pesawat mereka.
Hendra dan kedua anak buahnya ini akan menuju ke Surabaya, untuk pertama kalinya Hendra melakukan perjalanan bisnis ini ditemani oleh anak buahnya, biasanya ia melakukannya sendiri, tapi karena perusahaan mereka mengikuti salah satu pameran yang diselenggarakan di Surabaya, oleh karena itu Hendra mengajak anak buahnya untuk mendampinginya di pameran tersebut, sengaja Hendra mengajak top salesnya untuk mendampingi dengan harapan penjualannya di pameran tersebut akan membuahkan hasil.

Setibanya di Bandara Juanda di Surabaya, mereka dijemput oleh mobil jemputan dari dalah satu hotel bintang lima yang berada di Surabaya, ketiganya memberikan KTP mereka kepada receptionist hotel sesaat
mereka tiba di hotel tersebut.

Setelah mendapatkan kunci, dengan dibantu oleh bell-boy mereka menuju ke kamar masing-masing, kamar
mereka semua berada dalam satu lantai, dan secara kebetulan kamar Hendra bersebelahan dengan kamar Anna dan Tina, jadi posisi kamar Hendra diapit oleh kamar Tina dan Anna.

Setelah merapikan bawaan mereka, mereka bertiga menuju ke area pameran yang memang diadakan di hotel
tersebut, merekapun mempersiapkan plot pameran mereka, tanpa terasa waktupun berlalu dengan cepat, tugas mempersiapkan plot pameran merekapun selesai, Hendra melihat jam di tangannya saat itu waktu menunjukkan pukul 15.00 sore, kemudian ia mengajak Anna dan Tina untuk makan siang di restoran yang ada di hotel itu, selesai makan siang mereka bertigapun beranjak kekamar masing-masing untuk beristirahat.

Hendrapun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tangannya meraih remote TV di samping tempat tidurnya lalu di pilihnya salah satu saluran TV lokal, saat matanya menatap TV, Hendra baru menyadari bahwa kamarnya mempunyai pintu yang berhubungan dengan kamarnya Anna, menyadari hal itu segera matanyapun beralih kesamping tempat tidurnya dan ia juga mengetahui bahwa kamarnya juga berhubungan dengan kamar Tina, dalam hatinya membatin ternyata kamarnya bukan hanya diapit oleh oleh kamar Anna dan Tina tapi juga saling berhubungan, ternyata kamar mereka biasanya selalu digunakan oleh para keluarga yang menginap yang memudahkan untuk mengontrol anak2 mereka.

Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat, jam di tangannya menunjukkan pukul 16.30 sore, setelah mengambil keputusan untuk berenang Hendrapun segera melucuti seluruh pakaiannya dan mengenakan celana renang yang memang ia bawa, Hendra selalu membawa pakaian renangnya bila melakukan perjalanan bisnis karena renang menurutnya selalu dapat meredakan ketegangan otot-ototnya sehabis pertemuan-pertemuan bisnisnya.

Dengan mengenakan jubah mandinya untuk menutupi tubuhnya yang hanya berbalut celana renang saja, Hendrapun beranjak menuju kolam renang hotel yang berada di lantai 4, kolam renang hotel tersebut memang berada di lantai 4 tetapi letaknya di luar, setibanya di kolam renang yang saat itu memang sepi tidak ada penghuni hotel satupun yang berenang, dan tidak ada satupun pelayan hotel yang berada di kolam renang.

Setelah melakukan sedikit pemanasan, Hendra lalu mulai berenang mengelilingi kolam renang tersebut, kolam renang tersebut memang tidak terlalu panjang sehingga Hendra berenang mengelilinginya, Hendra yang sedang asyik menikmati air kolam itu tidak menyadari saat terlihat sesosok tubuh yang berbalut jubah mandi sedang menghampiri kolam renang tersebut, Hendra baru menyadari kehadiran sosok tubuh itu saat ia sedang beristirahat di pinggiran kolam renang tersebut, dan saat kedua matanya ditutup oleh kedua belah tangan sosok tubuh itu.

Hendra terkejut saat kedua tangan tersebut menutup matanya, Hendra berusaha melepaskan kedua tangan yang menutupi matanya dan ia membalikkan badannya untuk mengetahui si empunya tangan yang iseng,

“iseng betul kamu, Tin,”Hendra berkata setelah mengetahui si empunya tangan itu adalah Tina,

“hihihihi…habisnya berenang pake acara ngelamun sich,”jawab Tina geli.

“kamu mau ngapain?,”tanya Hendra

“Yach si Boss pake nanya lagi, orang ke sini yach mau berenang dong masa mau nongkrong,”jawab Tina tersenyum sambil menanggalkan jubah mandinya.

Mata Hendra tidak berkedip saat melihat tubuh Tina yang hanya mengenakan bikini, kemaluannya mulai menggeliat, Hendra melihat kedua payudara Tina yang tidak terlalu besar itu masih mengkal, nampaknya jarang di sentuh oleh tangan lelaki, sementara bikini berwarna putih yang dikenakan Tina sungguh kontras denganw arna kulit Tina yang coklat muda itu, bentuk tubuhnya yang ramping betul-betul pemandangan yang bisa membangkitkan gairah lelaki yang menatapnya.

“Eh…pak Hen, sudah-sudah itu matanya, iihh..serem kaya mau nerkam aja, hihihi,” kata Tina saat ia menyadari mata Hendra yang tidak berkedip saat menatapi tubuhnya.

“Eh..eh…eh…siapa yang ….,”jawab Hendra terbata-bata.

“Hihihihi…mau gak ngaku, iihh…,”Tina berkata sambil melangkahkan kaki memasuki kolam renang.

Hendra hanya dapat terdiam malu karena ketahuan, tapi tubuh Tina yang indah dan sexy itu sangat sayang untuk dilepaskan oleh kedua matanya, sesekali ia mencuri-curi pandang untuk melihat bongkahan payudara Tina, saat itu Tinapun sudah berada disampingnya, dan sebetulnya Tina sudah mengagumi tubuh Hendra yang tegap dan mempunyai dada yang bidang, Tina membayangkan seandainya tubuh itu mendekapnya erat-erat, alangkah indahnya dunia ini.

Mereka berdua berdiri berdampingan di pinggir kolam renang, sudut mata Tina melirik ke tubuh Hendra dan
Tina melihat tonjolan di balik celana renang Hendra, air kolam renang yang sedang tenang itu tidak dapat menutupi tonjolan di selangkangan Hendra apalagi ketinggian air di pinggiran kolam tersebut hanyalah sebatas pinggang Hendra, Tina tersenyum melihat hal itu.

“Pak…ayo kita berenang lagi,” ajak Tina memecahkan kesunyian.

“Eh..eh…ayoo…tapi kita berenangnya memutari kolam renang ini,”jawab Hendra

Kemudian Hendra mendahului berenang yang lalu diikuti oleh Tina, keduanya berenang memutari kolam renang tersebut, setelah 4 putaran Tina kemudian berhenti di salah satu sudut yang ada tangga-tangganya, sementara Hendra tidak mengetahui bahwa saat itu Tina sudah berhenti berenang, ia masih terus melanjutkan putarannya.

Saat itu Tina yang sedang beristirahat dengan duduk di tangga sementara tubuhnya masih terendam di dalam kolam, dengan kedua sikunya bertumpu di anak tangga dan tubuhnya sedikit rebah, melihat Hendra yang saat itu melintas di tempat ia beristirahat, Hendra masih asyik berenang memutari kolam renang tanpa menyadari bahwa Tina sudah tidak berada di belakangnya lagi, timbul niat iseng Tina, kemudian Tinapun menunggu kedatangan Hendra melintas di tempat istirahatnya tersebut.

Tempat istirahat Tina yang memang agak tersembunyi tidak terlihat dari arah jalur Hendra berenang dan juga tidak terlihat dari arah manapun apalagi dengan banyaknya pepohonan yang berada di pinggiran kolam renang, saat itu Hendra yang masih asyik berenang mulai melewati tempat istirahat Tina, Tina yang melihat Hendra sedang berenang melintasi tempatnya dengan tersenyum nakal, Tina menerkam punggung Hendra, kedua tangannya dengan sigap segera memeluk leher Hendra, Hendra yang mendapatkan terkaman itupun terkejut dibuatnya, tubuhnya tenggelam kedalam kolam renang, untungnya daerah tersebut tidaklah terlalu dalam hanya setinggi pinggang Hendra, tapi serangan mendadak Tina cukup membuat Hendra gelagapan mencoba untuk berdiri, apalagi kedua kaki Tina yang menggaet pinggangnya, cukup membuat Hendra kesulitan untuk berdiri.

“Gila…uhuk..uhuk…Tin, mau bikin gua mampus yach,”Seru Hendra terbatuk-batuk saat ia berhasil berdiri.

“hihihihi…masa segitu aja tenggelam..kan cetek,”bisik Tina sambil ketawa geli di telinga Hendra.
Hendra yang merasakan nafas Tina di telinganya jadi merinding, dan juga ia merasakan payudara Tina menempel erat di punggungnya, kemaluannya perlahan-lahan mulai menggeliat.

“Ayo..turun…Tin, seperti anak kecil aja, nemplok di punggungku,”kata Hendra sedikit terengah-engah entah
karena masih kaget atau karena nafsu birahinya yang mulai terangsang.

“Gak mau aaahhh…mau di gendong,”jawab Tina manja, sambil tubuhnya naik turun seolah-olah anak kecil yang lagi ngambek minta digendong.

Hendra merasakan payudara Tina menggeser-geser punggungnya, nafsu birahinya semakin menjadi, kemaluannya semakin mengeras, tonjolan di celana renangnya semakin terlihat nyata, hal ini dirasakan oleh Tina yang saat itu kakinya sedang mengait pinggang Hendra, kedua kakinya yang melingkar itu merasakan sesuatu yang keras di selangkangan Hendra, Tinapun tersenyum mengetahui bahwa batang kemaluan Hendra sudah menegang.

“Ayoo…mundur…ccckkkk….cckkkk…,”Tina berkata seolah-olah ia sedang menaiki kuda, tubuhnya dengan sengaja semakin ia tempelkan ke tubuh Hendra.

“Memangnya gua kuda yach…pake…ckck segala,”Hendra meradang sambil merasakan lesakan payudara Tina dipunggungnya yang semakin menempel dengan erat.

Saat posisi tubuh Hendra sudah berada dekat dengan anak tangga, Tinapun melepaskan kaitan tangan dan kakinya, kemudian ia duduk sambil sedikit merebahkan tubuhnya bertumpu dengan kedua sikunya disamping kiri dan kanan tubuhnya, posisinya seolah-olah menantang Hendra untuk menerkamnya, sementara itu Hendra yang merasakan kaitan tangan dan kaki Tina lepas membalikkan tubuhnya dan melihat tubuh Tina yang sedang duduk dan agak sedikit rebah serta payudaranya yang membusung kedepan seolah-olah menantang untuk di remas-remas, Hendrapun menelan air liurnya melihat semua itu, kemaluannya semakin menegang, celana renangnya hampir tidak dapat menutupi geliat batang kemaluannya, Tina melihat kepala kontolnya Hendra sedikit menyembul dari celana renangnya.

“Hihihihihi…pak Hen, malu tuch si otongnya nyembul,”Tina tertawa genit.

“Gara-gara kamu nich, punyaku jadi mau keluar, ayo kamu harus tanggung jawab,”jawab Hendra yang menyadari kepala kontolnya mencoba keluar dari jepitannya.

“hihihihi…enak aja…masa gara-garaku…dia-nya aja yang ganjen,”sahut Tina sambil meleletkan lidahnya.

“eh..jelas-jelas gara-gara kamu, yang nemplok di punggungku, pake gesekin teteknya ke punggungku, jadi aja si otongku bangun, sekarang ayo tanggung jawab,”Hendra berkata sambil menghampiri Tina yang sedang duduk itu, sehingga selangkangannya tepat berada di hadapan Tina.

“Hhmmmm….hihihihihihi…ya udah salahku..dech…maaf…tapi jangan terlalu dekat begini dong, tuch si otongnya tambah kelihatan dech, sepertinya si otongnya minta keluar tuch….hihihihihi…,”kata Tina sambil tertawa geli melihat kepala kontolnya Hendra yang tersembul dari celana renangnya seolah-olah minta keluar.

“Biarin biar tambah kelihatan sama kamu, suruh siapa si otong lagi tidur kok disuruh bangun,”sahut Hendra sambil tetap tidak bergeming dari posisi berdirinya.

“Hihihihi…pak Hen, genit ach… iiihhh.. masa gak malu si otongnya kelihatan, kan aku udah minta maaf…,”kata Tina sambil tetap tertawa geli, tangan kanan Tina berusaha menutupi kedua matanya agar tidak melihat kepala kontolnya Hendra yang sedang menyembul itu.

Tapi dengan cepat Hendra meraih tangan Tina tersebut agar tidak bisa menutupi wajahnya, begitu pula dengan tangan kiri Tina yang mencoba menggantikan tangan kanannya untuk menutupi wajahnya, kedua tangan Tina sekarang berada dalam cengkraman Hendra, sehingga membuat tubuh Tina yang tadinya sedikit rebahan menjadi tertarik kedepan sehingga kepala Tinapun tepat sekali berhadapan dengan selangkangan Hendra, sementara itu Tina yang sedikit kaget dengan gerakan Hendra, ia agak sedikit terkejut, apalagi sekarang ini jarak antara bibirnya dengan kepala kontolnya Hendra sangat dekat sekali, nafsu birahinya semakin meninggi, nafasnya memburu, Tina yang sudah terangsang saat payudaranya bergesekan dengan punggung Hendra, semakin terangsang dengan semakin dekatnya Tina melihat kepala kontolnya Hendra itu.

“pak..Hen…aaahhh…pak..ini si otongnya sudah terlalu dekat dengan bibirku…mundur…pak..nanti ada yang lihat..,”kata Tina dengan nafas yang memburu.

“heeh..suruh siapa kamu kasih bangun naga yang sedang tertidur, gak ada orang yang lihat, hehehehe…tempat ini gak terlihat dari arah manapun kecuali kalau ada yang berenang…,”Hendra menjawab sambil tetap memegangi kedua tangan Tina.

“iiihhh..pak Hen, ngotot…memangnya mau di apain si otongnya, hihihi…gimana kalau kujilatin aja yach,”sahut Tina genit sambil lidahnya mulai menjulur kearah kepala kontolnya Hendra.

Hendra sama sekali tidak menyangka Tina akan berani menjilati kepala kontolnya, padahal kalau tadi Tina masih menolak untuk bertanggung jawab, ia akan melepaskan pegangannya di kedua tangan Tina, tapi Hendra menikmati jilatan-jilatan Tina di kepala kontolnya, matanya merem melek menikmati jilatan Tina tersebut, kedua tangannya tidak memegangi tangan Tina lagi tapi meremas-remas rambut Tina, Tina yang kedua tangannya terlepas semakin bertambah nakal, ikatan celana renang Hendra dilepaskannya kemudian batang kemaluan Hendra dikeluarkan dari celana renangnya sehingga batang kemaluan Hendra terpampang seluruhnya, di jilati batang kemaluan tersebut sambil kadang-kadang mulutnya menyelomoti batang kemaluan Hendra tersebut, tentu saja tingkah Tina ini semakin membuat Hendra terangsang, kontolnya semakin mengeras.

“Ooghhh… Tin…. ooooooghhh… enaaakk… selomotanmu enaaakk…Tin,”Hendra mengerang lirih.

“Hhhmmm…sslrrrppp…hhhmmmm…ssslrrrrrpp…kontolmu besar pak Hen,”Tina bergumam sambil tetap mengulum-ngulum kontolnya Hendra.

Hendrapun tidak mau diam saja menerima serangan Tina di kemaluannya, tangan kanannya mulai menyerang payudara Tina, kedua payudara Tina bergantian diremas-remasnya, kedua putingnya pun silih bergantian dipilin-pilin oleh jemari Hendra, nafsu birahi Tinapun semakin bertambah, nafasnya semakin memburu, selomotannya semakin bertambah gila, tapi Hendra tidak mau kontolnya menyemburkan sperma hanya dengan selomotan Tina saja tapi ia juga ingin merasakan lubang vagina Tina menjepit kontolnya, dan juga karena posisi mereka yang saat ini sedang berada di kolam renang, maka Hendra segera menghentikan Tina yang sedang menyelomoti kontolnya dengan penuh nafsu.

“Sssstttt…Tin, kita lanjutkan dikamar saja….gak bebas disini…tar ada yang lihat,” kata Hendra sambil menarik kontolnya dari cengkraman tangan dan mulut Tina.

“Iiihhh..pak Hen…nanggung, kita lanjutkan disini ajah, hitung-hitung sport jantung juga…hihihihi…kalau ada yang lihat paling juga pengen ikutan…,”Tina berkata dengan genit sambil membetulkan bikini bagian atasnya yang tadi terkuak karena ulah tangan Hendra yang beraksi di payudaranya.

Kemudian keduanya segera beranjak meninggalkan kolam renang tersebut, sambil tidak lupa mengenakan jubah mandi mereka, di dalam lift keduanya berciuman dengan penuh nafsu, lidah mereka saling menari-nari bergantian didalam rongga mulut mereka berdua, ciuman nafsu mereka terpaksa berhenti saat lift berhenti di lantai dimana kamar mereka berada.

Setelah mereka berada di kamar Hendra dan Hendrapun mengunci pintu kamar, Hendra kemudian dengan penuh nafsu mulai mencumbu Tina, mulut mereka berpagutan dengan penuh nafsu, nafas keduanya memburu, lidah keduanyapun silih berganti menari di rongga mulut mereka, air liur mereka telah menjadi satu, jubah mandi yang menutupi tubuh mereka sudah tergeletak di lantai, kedua tangan Hendra mulai meremas-remas payudara Tina, dan kedua putingnya pun tidak luput dari serangan Hendra, desahan-desahan Tina terdengar saat mulut mereka berpagutan dengan erat, tubuh Tina menggelinjang merasakan geli saat kedua payudaranya di remas-remas oleh Hendra.

“hhhhmmmm…ssslrrppp….hhhmmmm….sllrrrppp….,”desah Tina.

Tinapun tidak mau pasrah menerima serangan Hendra, kedua tangannya mulai merayap mengarah ke selangkangan Hendra, kontolnya Hendrapun dikeluarkan dari bekapan celana renangnya, tangan kanan meremas-remas dan mengocok-ngocok batang tersebut, sementara tangan kirinya meremas-remas biji pelernya, Hendrapun mendesah keenakan akibat permainan tangan Tina, iapun semakin bernafsu menciumi Tina dan meremas-remas kedua payudara Tina.

“hhhmmmmm….sslrrrppp…hhmmm…sslrrrppp,”Hendrapun mendesah.

Sambil menikmati remasan-remasan tangan Tina di kemaluannya, kedua tangannyapun semakin gencar melancarkan serangan di kedua payudara Tina, tubuh Tina yang bersandar di tembokpun semakin menggelinjang kegelian mendapat serangan gencar Hendra, tapi kedua tangannya tidak mau melepaskan genggamannya di kemaluan Hendra, tangannyapun semakin aktif mengocok-ngocok kontolnya Hendra tersebut, remasan-remasan tangannya di biji pelernyapun semakin gencar, kedua insan yang sedang dilanda birahi ini saling serang.

Mulut Hendra mulai beralih menelusuri leher Tina, jilatan-jilatan Hendra di lehernya membuat Tina semakin menggelinjang antara geli dan enak, sementara tangan Hendra mulai merayap turun kebawah, bikini Tina mulai dilucutinya, tali temali yang mengikat bikini di sebelah kiri dan kanan pinggulnya dilepaskannya, sehingga bikini tersebut meluncur turun ke lantai, tangan kanannya langsung mengarah ke bibir vagina dan kelentitnya Tina, Hendra merasakan vagina Tina sudah basah akibat nafsu birahinya yang menggelegak, tangannya mulai aktif mengelus-ngelus itilnya Tina, Tinapun mengerang dan merintih keenakan.

“Ooohhhh….pak Hen, …Ooohhh… terus… terus…elus itilku…hisap..hisap..tetekku.. oohhh…pak Hen…..hhhmmm…. oooohhh,”Tina merintih-rintih keenakan akibat ulah tangan Hendra di itilnya ditambah dengan serangan mulut Hendra dipayudaranya.

Tangan Tinapun terlepas saat Hendra mulai menciumi dan menjilati payudaranya, posisi tubuh Hendra yang agak sedikit membungkuk mengakibatkan hal tersebut, dengan terlepasnya batang kemaluan Hendra dari genggaman tangannya, Tina hanya bisa menerima dan menikmati serangan Hendra di payudara dan kemaluannya.

Hendra semakin gencar menciumi, menjilati dan menghisap-hisap kedua buah payudara Tina bergantian kiri dan kanan, kedua putingnyapun tak luput dari serangan Hendra, yang kiri ia hisap dan jilati yang kanan ia pilin-pilin dengan jemari tangannya, dan saat yang kanan ia jilati dan hisap-hisap giliran yang kiri mendapatkan pilinan dari jemari tangannya, kemudian Hendra menambahi serangannya dengan mengelus-elus kelentit dan bibir vagina Tina, Tinapun semakin merintih-rintih keenakan.

“Oooohhh….sssshhhh…aaachhh…pak Hen, teruss…pak Hen, oooohhh… sssshhh …puaskan aku…ooohhh…pak Hen….ssshhhh…aaaachhhh…,”Tina merintih-rintih keenakan.

Remasan tangan kiri Hendra di payudara kanannya dan ditingkahi dengan pilinan-pilinan di putingnya, disertai dengan hisapan-hisapan mulut Hendra yang menyerang payudara sebelah kirinya, ditambah dengan serangan tangan kanan Hendra yang bermain di kelentitnya, membuat vagina Tina semakin basah oleh cairan birahinya, tangan Hendrapun menjadi basah oleh cairan birahi Tina itu, Hendrapun mulai melesakkan jari tengahnya kedalam rongga vagina Tina, aksi Hendra membuat Tina sedikit terhenyak, jari tengah Hendra mulai menekan bagian dalam yang vagina Tina yang terletak dibelakang kelentit Tina sementara jempolnya mengelus-ngelus kelentitnya, Tina semakin meradang karena nafsu birahinya yang semakin memuncak, vaginanya semakin basah dan mulai membanjiri tangan Hendra.

“ssshhhh… aaahhhh….ssshhh…aaahhh…sshhh…aaahhh….paakk…Heeeenn n ,” erangan Tina semakin menjadi.

“Ssshhh…sudah…sudah…pak Hen…aakuu…gak kuat lagi…cepat..masukin kontolmu yang besar …pak…memekku…pengen ngerasain….kontolmu..itu… ooohhh..pak…jangan siksa..aku…aaachhh…pak…cepat.tusuk aku…,”Tina merintih-rintih.

Tinapun melepaskan diri dari serangan Hendra, dengan cepat ditariknya batang kemaluan Hendra sambil berjalan kearah tempat tidur lalu Tina merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, Hendra yang ditarik kontolnya itu terpaksa mengikuti gerakan Tina, Tina yang sudah tidak sabar ingin merasakan lesakan batang kemaluan Hendra segera mengarahkan batang kemaluan tersebut ke lubang vaginanya, dioles-oleskannya batang kemaluan Hendra di bibir vaginanya, Hendra menggigil saat kontolnya bersentuhan dengan itil dan bibir vagina Tina, Tinapun lalu menyelipkan kepala kemaluan Hendra di bibir vaginanya,

Sleeeepppp… kepala kontolnya Hendrapun terjepit di lubang vagina Tina.

“Ooooohhhh….pak Hen…tekaann..kontolmu…cepat..pak Hen..aku ingin merasakan memekku disodok-sodok..kontolmu yang besar itu…..,”erang Tina yang menyuruh Hendra untuk melesakkan kontolnya kedalam lubang senggamanya.

Tanpa menunggu Tina mengulangi permintaannya Hendra mulai mendorong masuk kontolnya kedalam rongga persenggamaan Tina, Tina terhenyak saat batang kemaluan Hendra mulai melesak masuk kedalam lubang senggamanya,

Bleeeesssss……

“Aaaaghhhh….kontolmu besaar sekaliii…pak Hen, ooohhhh..pelaaannn….aaaghhh. robek memekku….,”Tina
menjerit merasakan sakit pada lubang vaginanya.

“memekku memang udah robek….Tin, kamu bukan perawankan?,”Hendra bertanya

“Bukaannn…tapi kontolmu pak Hen, besar sekali…aaaaghhh…punya pacarku..tidak sebesar punyamu…oooghhhh…pelan..pelann…pak Hen,”Tina menjawab sambil merintih.

Bleeeessss…. Kembali Hendra mendorong kontolnya masuk lebih dalam kelubang vagina Tina

“Pak Heeennn…oooghhhh..memekku…sakit…kontolmu sich besar sekali… aacchh. Pak Hen… sakiiittt tapi enaaakkk...,”Tina kembali merintih.

Hendra mendorong lebih dalam kontolnya ke dalam lubang senggama Tina,

Bleeesssss…… kontolnya Hendra sudah separuhnya masuk di dalam lubang memek Tina.

Tinapun semakin merintih kesakitan dan keenakan merasakan memeknya yang penuh oleh kontolnya Hendra.
Hendra merasakan sempitnya lubang vagina Tina yang menejpit sangat erat pada kontolnya, ia juga merasakan dinding lubang vagina Tina berdenyut-denyut dengan kuat.

Hendra mendiamkan sebentar kontolnya dalam jepitan lubang vagina Tina, tubuh Tina ia rengkuh dalam pelukannya, bibirnya memagut bibir Tina dengan penuh nafsu yang disambut oleh Tina juga dengan penuh nafsu, lidah Hendra menyeruak masuk ke dalam rongga mulut Tina, mencari lidah Tina, lidah keduanya saling bertautan dan saling bersentuhan, sambil asyik berciuman, Hendra mulai mendorong masuk lagi kontolnya kedalam lubang vagina Tina.

Bleesssssss…… dan Bleeeesssssss…..

Hentakan terakhir Hendra berhasil membenamkan seluruh kontolnya tenggelam dalam lubang senggama Tina, membuat mata Tina membelalak sehingga hanya matanya nampak putihnya saja, Tinapun menggigit bibir Hendra menahan sakit akibat lesakan kontolnya Hendra di lubang memeknya.

“Hhhmmmm….hhhmmmm….hhhmmmmm…hhhmmmmm…,”Tina bergumam antara sakit dan enak sambil mengigit bibir Hendra.

Tina membuka kakinya lebar-lebar untuk mengurangi sakitnya dan kemudian kedua kakinya itu ia kaitkan dibelakang pinggang Hendra, sementara itu Hendra mulai menarik perlahan-lahan kontolnya dari jepitan lubang memek Tina, dan melesakkannya lagi perlahan-lahan,

Ssssrrrtttt…. Bleessss…. Sssrrrrtttt… bleesssss… sssrrttttt…bleeesss..

Gerakan keluar masuk kontolnya Hendra sangat perlahan-lahan akibat peretnya memek Tina, Hendra merasakan betul kuatnya cengkraman dinding vagina Tina, perlahan tapi pasti gerakan keluar masuk kontolnya itu mulai sedikit lancar akibat semakin banyaknya getah bening yang keluar dari memek Tina dan dari kontolnya, yang membuat kontolnya semakin gampang keluar masuk di lubang memek Tina.

Tinapun mulai dapat lebih menikmati genjotan-genjotan Hendra, memeknya sudah dapat menyesuaikan dengan besarnya batang kemaluan Hendra, dari mulutnya yang masih asyik berciuman dengan Hendra mulai keluar erangan-erangan keenakan.

“Hhhmmm… ssslrppp… pak Hen…kontolmu,...ssslrpp…hhmmm..enak…besar… hhmmm…ssslrrpp….puaskan aku…ooohhh…hhmmm sslrrrppp..,’ Tina mengerang-ngerang.

“Oooghh…hhmmm…ssslrrrppp…memekmu sempit sekali…ssslllrrppp… peret… kontolku ssslrrrppp…. Kaya diremas-remas….hhhmmm…,”Hendrapun mengerang keenakan.

Batang kemaluan Hendra semakin gencar keluar masuk di lubang memek Tina, terlihat bibir memek Tina ikut keluar masuk seiring dengan keluar masuk kontolnya Hendra, tangan Tinapun semakin kuat mencengkram punggung Hendra saat menikmati persetubuhan ini. Erangan keenakan keduanyapun semakin sering terdengar,

“Pak…Hen….oooohhh…puaskan aku….ooohhhh….aaacchhh….pak Hen…akkkuu. Mau keluar…pak Hen….ooh… enaknya dientot kamu….kontolmu besar sekali… pak Hen….tekan yang dalam….ooohhh..pak Hen….tekaaannnn yang dalammm… pak… aaakuu…mau keluar…,”Tina mengerang-ngerang merasakan puncak kenikmatannya yang hamper ia capai.

“Sebentar…aaku…juga mau keluaar…kita barengann ooogghhhh…enaknya memekmu ini…Tin, ooooghhh…peret….seret…aaagghhhh…. aaakuu….mau.. keluar …Tinaaaaaa….oooghhhh,”Hendrapun mengerang keenakan.

Dan,

Cccrreeeetttt….. sssssrrrrr…. Ccreeeettt… ssssrrrr… creeeettt…. Sssrrrrrr…

Hampir bersamaan kedua kemaluan mereka saling menyemprotkan lahar kenikmatannya, Hendra merasakan semburan hangat pada batang kemaluannya sementara Tina merasakan terjangan hangat sperma pada dinding ujung rahimnya.

Hendra mendiamkan batang kemaluannya dalam genggaman lubang memek Tina, sampai batang kemaluannya meneteskan tetes terakhir spermanya, sambil menciumi Tina dengan lembut dan mesra yang dibalas dengan pagutan dan ciuman lembut oleh Tina yang juga sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan persetubuhan mereka, perlahan-lahan kontolnya Hendra mulai menciut dan terlepas dengan sendirinya dari jepitan memek Tina seiring dengan itu terlihat aliran lahar putih mulai mengalir keluar dari lubang memek Tina.
Hendra membaringkan tubuhnya disamping tubuh Tina sambil tersenyum puas, begitupula dengan Tina diwajahnya terukir senyum puas.

Pertarungan mereka berlanjut sampai subuh, berbagai gaya mereka coba, mereka berdua berhasil merengkuh kepuasan berkali-kali, sampai tubuh mereka lemas.

Tamat

Cerita Dewasa : Novi yang Cantik

Cerita Dewasa : Novi yang Cantik - Sekarang saya kuliah di perguruan tinggi swasta di Bandung. Pengalaman ini saya alami 1 tahun yang lalu tepatnya Oktober 2001.

Saya termasuk anak yang pandai bergaul. Tapi sayang kebanyakan teman saya di kuliahan rata-rata pria. Hal ini dikarenakan pacar saya 1 kelas dengan aku. Jadi sulit untuk melihat kesana dan kesini. Saya pacaran pacar saya (sebut saja namanya Ina) saat itu hampir 5 tahun, tapi sekarang kita udah putus.

Cerita Dewasa : Novi yang Cantik

Kami pacaran dari SMU, dan hubungan suami-istri sudah sering kami lakukan.
Hingga suatu saat pada bulan september saya bertemu dengan teman lama di sma dan satu kuliahan dengan saya. Sebut saja namanya Novi. Saat smu novi termasuk anak yang paling cantik di sekolah. Suatu kebanggaan bagi kaum pria jika berhasil berteman apalagi menjadi pacarnya. Tapi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi temannya. Dalam berteman ia selalu memilih-milih, apalagi dalam menjadi pacar. Saat itu pun aku tidak berhasil menjadi temannya.
Wajar jika dia tidak mau berteman dengan ku karena aku hanya cowok biasa yang mempunyai tampang biasa juga.

Novi adalah cewek idola disekolah kami. Hampir semua anak dari kelas 1-3 mengenal dia. Dia termasuk anak orang kaya dan pintar. Kalau dibilang ukuran tubuhnya hampir mendekati sempurna ditambah dengan adanya tahi lalat di bawah bibir. Bibirnya tipis dan ukuran dadanya pun ditaksir kira-kira 34B. ditambah dengan badannya yang ideal dan kulitnya yang kuning bersih.

Kejadian ini terjadi pada awal september, saat saya bersama dengan Ina hendak makan siang di belakang kampus. Tidak sengaja kami berdua berpapasan dengan Novi. Kami pun senyum duluan dan sesudah itu dibalas dengan senyuman dan ucapan oleh Novi. “Masih awet yah dari sma”? katanya. Kami hanya membalas ucapan dia dengan senyuman saja. Melihat body nya yang aduhai membuat saya ingin memiliki dia, tapi mana mungkin pikir ku.

Keesokan harinya saya terlambat kuliah dan tidak diijinkan masuk oleh dosen, karena saya terlambar lebih dari 15 menit. Dengan kesal saya memaki-maki dosen dalam hati, karena jarak dari rumah ke kuliahan cukup jauh. Tidak sengaja ketika turun dari tangga saya melihat Novi sedang duduk di teras sendirian. Saat itu saya memberanikan diri untuk menyapa dia, mumpung gak ada Ina. Saya langsung duduk disebelah Novi dan berkata, “ga ada kuliah vi”? tanyaku. Novi langsung menjawab “ga ada dosen tuh”? “kamu sendirian, mana Ina”? tanya dia. “ga ada, aku sendirian”. Saat itu ga sengaja aku ngelihat ke bagian dadanya sebentar. Ya ampun, antara kancing atas dan bawahnya sedikit kebuka dan kelihatan bentuk dadanya yang kuning bersih. Saat itu aku langsung melihat mukanya lagi sambil jantung ini berdetak lebih keras, dan kamipun melanjutkan pembicaraan kira-kira 1/2 jam lamanya.

Setelah itu saya masuk kuliah jam 09.30. Di dalam kelas saya tidak bisa kosentrasi belajar, pikiran selalu tertuju pada muka dan dada Novi yang kenyal. Dalam hati ku berfikir, gimana caranya tuk dapatin Novi dan bodinya. Selama 1 jam aku berfikir terus, dan aku mulai dapat ide tuk deketin dia. Setelah itu kususun rencana serapi mungkin agar gak kelihatan kalo semua itu sudah aku atur.

Pulang kuliah gak sengaja aku ketemu dengan Novi. Dia sedang melihat papan pengumuman. Aku diam sebentar karena ku akui aku juga grogi setengah mati. Setelah agak tenang sedikit aku mulai mendekati dia. “Hei, lagi ngapain?” tanyaku. “hei, ketemu lagi, lagi liat pengumuman nih.” Jawab dia. “eh vi, tau gak jalan pasir pogor dimana?” tanyaku. Sebenarnya aku sudah tahu dimana jalan pogor itu. Sengaja aku pilih jalan itu karena jalan pasir pogor melewati rumahnya dulu.

“Kalo ga salah di deket Ciwastra deh? Emang mo ngapain kesana?” jawab dia. Wah kena juga nih, pikir ku. “mo ketemu temen aku di sana, Cuma ga tau jalannya kemana. Kalo ga salah rumah kamu di daerah Ciwastra kan?” pancing aku. “iya, emang kenapa?” “Anterin donk kesana, ntar aku anter balik dech ke rumah kamu”. “gimana yah, soalnya temenku ada yang mo nganterin balik, tapi ya udah dech aku ngomong bentar ama temen aku, kamu tunggu aja di kopma yah?” jawab dia. Wuihh, rencana ku berhasil nih.

Tidak sampai 10 menit Novi menghampiri ku yang sedang duduk bersama temenku. “ayo, mau balik sekarang?” dengan gesit aku berdiri dan pergi bersamanya. Temanku hanya bengong, karena tidak menyangka aku akan jalan bareng ama Novi. Kami pergi menuju tempat parkir mobil, karena aku saat itu memakai mobil Feroza.

Di tengah perjalanan kami hanya berbicara mengenai masa sma dan mengenai ina. Tapi setiap pembicaraan mengarah pada Ina, aku selalu bilang kalo aku sudah putus dari Ina. Dan aku bilang ama Novi supaya jangan ungkit-ungkit masalah Ina lagi. Mobil sengaja kuperlambat supaya aku dapat bicara lebih lama dengan dia. Dan saat itu, kancing baju atasnya terbuka dan dia duduk sambil miring ke pintu mobil. Sehingga kelihatanlah BH nya yang berwarna hitam. Aduh ma, ucapku. Ngga terasa kontolku sudah mengeras. Ku coba diam sejenak, karena kalau salah sedikit sikapku maka gagal juga tuk dapetin bodinya.

Setelah ditunjukin jalan pasir pogor, aku pun mengantarnya balik. Sesampai nya didepan pintu rumah yang lumayan mewah, ia berkata sambil tersenyum. “makasih yah, dah mo nganterin. Mo masuk dulu ga ke rumah?” wah kesempatan nih pikirku. Tapi rencana sih harus tetap kujalanin. “ga deh vi, makasih. Lain kali aja yah, aku mesti ke pasir pogor lagi nih. Oh ya, besok balik jam berapa? Bareng yuk?” pancing aku. “Besok aku balik jam 9.30, ya udah kalo mau nganterin tungguin di papan pengumuman besok yah?” wah, rencana pertama aku sukses nih. Tinggal jalanin rencana ke 2.

Besoknya aku sudah stand by di papan pengumuman. Dan tak lama kemudian novi datang menghampiriku. “mo nganterin lagi nih, kalo mau sekarang aja”, tanyanya. “ayo dech sekarang aja”. Jawabku. Dalam hati ini juga deg-degan banget. Bukan karena mau jalan ama Novi, tapi takut ketahuan ama Ina. Wah bisa berabe nih urusan kalo ketahuan. Akhirnya kamipun pulang samaan. Di tengah perjalanan pulang kami ngobrol sampai terbahak-bahak. Memang aku pintar untuk membuat orang lain ketawa, dan kuakui itulah kelebihan ku dalam menaklukan hati wanita. Ditengah tawa kami akupun mulai bertanya kesukaan dia? Saat itu terpikir oleh ku untuk mengajak dia berenang, karena dengan berenanglah aku dapat melihat bodinya secara langsung. Memang Novi selama di smu tidak pernah 1 kali pun ikut pelajaran berenang, entah kenapa? “mau kemana lagi ntar habis nganterin aku?” “Aku mau berenang nih vi, kamu bisa berenang gak?” pancing aku. “gak bisa nih” jawab dia.

“Ya udah, kamu mau berenang samaan ga ama aku, ntar aku ajarin dech” jawab aku. “tapi aku gak punya baju renang, soalnya aku gak suka renang sih”! Katanya. “yah kamu cari dulu donk, ntar kalo ga ada kan beda urusannya lagi, jadi besok jam 2 sore yah?” tanyaku. “iya deh jam 2 sore jemput aku di rumah yah” jawabnya. Sesudah itu aku anterin dia balik kerumahnya. Sesudah itu aku hanya tertawa kecil dan menggumam, “udah kena perangkap aku nih, tinggal rencana ke 3 nih besok. Wah, udah kebayang bentuk dadanya, pahanya dan sentuhan tangannya saat aku ajarin dia berenang besok, terlebih tangannya di tumbuhin bulu-bulu halus”.

Besoknya kamipun pergi berenang samaan ke pemandian Cipaku. Saat ganti baju aku sudah membayangkan bentuk dadanya, pahanya yang putih dan lain-lainlah pikiran ku saat itu. Saat ketemu hati ku langsung berdetak lebih kencang, karena Novi yang ada di depanku sekarang sedang memakai baju renang. Dan dadanya mulai kelihatan sedikit menyembul ditambah dengan pahanya yang indah banget. Suerr, kontolku saat itu langsung tegang terlebih dia menggandeng tanganku menuju tempat penyimpanan tas di samping kolam renang.

Sesudah itu aku pun langsung masuk ke kolam renang dan disusul oleh dia. Dan saat itu mulai aku mengajari dia sebatas aku bisa. Saat memegang tangannya terasa jantung berdetak lebih cepat. Tangannya halus banget. Ditambah senyuman bibirnya yang tipis dan merah. Hampir 1/2 jam aku mengajari dia berenang. Tapi kontol ini masih tegang terus. Pada saat aku sedang mengajari dia berenang tak senggaja dia menyenggol batang kemaluanku karena saat itu aku sedang mengajari dia gaya katak. Aku malu banget, karena takut dipikir novi, belom apa-apa sudah tegang duluan. Tapi aku coba buang pikiran itu jauh-jauh.

Saat itu aku sudah tidak bisa mengendalikan diri lagi. Dengan sengaja saat dia hampir tenggelam sengaja aku peluk dan dekatkan kontolku di depan atau di belakang dia. Dan dengan sengaja juga aku mencoba agar tanganku sekali-kali mengenai dadanya dia. Rencana ku berhasil, kami semakin akrab saja. Tapi aku ngga tahu, apa mungkin ia suka ama aku, atau hanya sebatas teman. Kami berenang hampir 2 jam.

Sesudah itu aku terlebih dahulu mengajaknya pulang karena hari hampir malem jam 6 malam. Kami makan di hoka-hoka bento yang ada di jalan setia budi. Dan dalam perjalanan pulang pun kami masih tertawa bersama. Dalam hatiku berkata, sebentar lagi kamu masuk dalam pelukan ku vi! Sesampainya di rumah novi, ia mengajak aku masuk supaya minum the dahulu. Kesempatan ini tidak ku sia-siakan lagi. Inilah rencana akhirku. Aku masuk dan duduk disebelah dia sambil posisi 1/2 tidur. 15 menit kami mengobrol. Otak ku berputar terus saat kami ngobrol bersama. Dalam pikiran ku, gimana aku dapat menyentuh dia, sedangkan dari novi tidak ada sinyal sama sekali pada ku.

Sampai pukul 7.20 aku masih terdiam. Sampai suatu saat Novi bertanya padaku. “maaf yah kalo ini nyakitin kamu, cuma aku mau nanya. Kenapa kamu kok bisa sampai putus dari Ina, kan dia orang nya baik banget”. Wah dengan pertanyaan itu aku mulai dapat ide lagi. “ga tau deh vi, aku juga bingung. Aku ngerasa kita ngga cocok lagi dech”. Kataku. Dengan perasaan sedih aku coba genggam tangan dia sambil berkata,”tapi kamu jangan bilang siapa-siapa kalo aku sama Ina udah putus yah, please..” Ya ampun aku deg-degan banget saat itu, tapi aku coba bersikap tenang. Dia cuma diam saat aku pegang tangannya. “Tenang aja kok, aku bisa jaga rahasia”.

Nafsu ku sudah nggak terkendali lagi, terlebih ruang tamu saat itu terutup rapat. Dan saat itu penghuni rumah yang lain sedang asik nonton TV. Tanganku saat itu sedang mengenggam tangannya. Dan perlahan lahan aku mengusap bulu halus yang ada di tangannya dan mengusapnya perlahan-lahan sambikl berkata, “kamu cantik banget vi, aku seneng banget bisa samaan ama kamu”. Perlahan kulihat gerakan tangan, muka dan kakinya dia. Ternyata dia sudah gelisah. Merasa ada jawaban aku meneruskan elusanku, sambil kucoba dekatkan bibirku ke bibirnya dia. Senggaja aku mengecup secara perlahan dan lembut dan diiringi desahan nafas perlahan. Memang aku pintar dalam merangsang cewek, karena aku sudah pengalaman dari Ina.
Sesudah kukecup bibirnya secara perlahan dia memejamkamkan mata dan terasa getaran kakinya yang mulai gelisah.

Perlahan kukecup bibir lagi. rupanya kali ini ciuman ku berbalas juga. ia balik mencium ku dengan lembut. perlahan ku lepas ciuman ku di bibirnya dan bergerak menuju lehernya. walaupun aku sudah terangsang banget tapi aku masih bisa berfikir apa yang mesti aku lakukan lagi tuk dapetin body nya. ciumanku bergerilya disekitar leher dan dekat telinga. terdengar nafasnya yang sudah memburu. Perlahan-lahan tanganku memegang pipinya secara lembut, lehernya dan mencoba memegang toketnya yang aduhai. aku usap toket novi dari luar baju. ia masih diam dengan mata tertutup. dengan perlahan tanganku masuk ke dalam bajunya lewat bawah dan tanganku mulai mengenai BH nya. ku coba angkat sedikit BHnya secara perlahan-lahan. dan terasa saat itu toket Novi sudah dalam genggamanku. kuusap dan kepelintir putingnya secara perlahan. saat itu juga kucoba tangan yang satu lagi tuk membuka kancing bajunya. setelah kubuka bajunya terlihatlah Bh yang berwarna hitam, dengan gunung kembar yang indah banget dibaliknya. saat itu nafsu ku sudah tidak terkontrol lagi. kontolku sudah ngaceng banget.

Tapi aku belum puas sebelum melihat memeknya. kucoba tuk buka rok nya secara perlahan, dan terlihat pula gundukan daging di balik celana dalam hitamnya. aku terdiam sebentar karena tidak menyangka novi cewek yang cantik banget, dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendekatinya kini sudah bugil di depan mataku.
“Aghh.. kamu kok gini sih an” desahnya. aku cuma tersenyum puas. dan kucoba tuk menarik tangannya ke arah kontolku. dan memang sudah sengaja sleting celanaku sudag aku buka. dan merosotlah celanaku. rupanya novi sudah bernafsu banget. diangkatnya bajuku dan di lepaskannya celan dalamku.

Kini matanya sudah terbuka dan melihat kontolku yang lumayan gede. “ihh.. gede banget yang kamu an”? aku coba bangkit berdiri agar dia mau mengulum kontolku. “kamu mau cium kontolku kan”? tanpa menunggu komando lagi kepala novi ku arahkan ke kontolku yang sudah keras banget. diciumnya perlahan-lahan kontolku dan dijilatinnya kontolku. “muahh.. mchh..” terdengar bunyi dari mulutnya yang tipis. “terus vi.. achh.. terus.. enak banget loh .., kamu pinter banget vi.. achh..”

Pikiranku sudah tidak dapat kukontrol lagi. 15 menit sudah berlalu. dan perlahan ku angkat tubuhnya ke atas sofa ruang tamu dan kutidurkan. kucium lehernya terus turun ke menuju susunya yang kenyal dan indah. “gilaa banget nih cewe bodynya, susunya, pantatnya yang kenyal, terlebih bulu-bulu yang lumayan banyak dan halus”. gumamku dalam hati”. kucium toketnya yang lumayan besar dan kenyal. “muachh.. muachh.. ” “aduh an.. terusin.. achh..” dia mengerang terus. sambil ku jilatin toketnya, tangan kananku perlahan-lahan menuju memeknya. Astaga.. basahh banget nih.. terus ku elus dengan lembut dan ku belai klitorisnya yang sudah mencuat.

“Achh.. euhh..” ia mengerang keenakan. perlahan ciumanku turun kebawah vaginanya. ku jilatin memeknya yang basah. mhh.. mhhachh.. dia menarik kepalaku dan mengejang. “acchh an, kayanya aku mau kencing nih..” “kencingin aja vi, itu bukan kencing kok yang mo keluar, itu namanya mau orgasme..” “achh an, ennaak banget nih.., ahh.. terusin sayang kata nya”. aku tersenyum kecil saat ia memanggilku dengan kata sayang. “hahaha.. kamu udah masuk dalam genggamanku sekarang vi..” kataku dalam hati. “achh.. terusin an.. terusin yah sayang.. katanya”. kujilatin memeknya terus dan teruss.. “ohh indahnya memekmu vi. beruntung banget aku bisa dapetin memek dari cewek secantik kamu” kataku dalam hati. kali ini ia merapatkan kakinya dan kembali mengejang. ahh.. an kayanya aku mau keluar lagi nihh.. achh..”

“Keluarin aja semuanya sayang.. terus keluarin aja..” kataku. setelah kurasa cukup, mulai ku arahkan kontolku yang sudah keras dan panas ke memeknya novi. “tahan bentar yach kalo sakit.. ntar juga nggak sakit lagi kok..” kataku pada novi. kumasukan kontolku perlahan-lahan ke memeknya. achh .. erangku karena kontolku masih agak susah masuknya. maklumlah memek perawan pertama kali pasti susah simasukinnya. “achh.. ohh.. masukin langsung aja dech an..” pintanya. “kamu ngga akan nyesel vi..? “ga akan kok, aku rela ama kamu diambilnya”. “Achh.. terus.. ” dengan sedikit kekuatan kutekan kontolku makin kedalam. dan kini sudah masuk semua kontolku kedalamnya. “ohh.. hangat banget memeknya..” “aduh sakit an.. akhh..”

Terasa darah segar keluar dari vaginanya dan membasahi bajunya yang memang sudah sengaja kusimpan dibawah pantatnya. “ya ampunn.. banyak banget darahnya nih..” gumamku dalam hati. tak perduli dengan darah yang mengucur aku enjot dia perlahan-lahan, dan kelama-lamaan maikin kencang. “achh.. ohh.. ahh.. terusin an.. makin lama makin enak nih..achh.. genjotanku makin ku percepat lagi. achh ..ohh enak banget.. terusin yahh..” hampir 15 menit aku menggumuli dia. perlahan-lahan ku genjot dia secara pelan dan pelan. sehingga dia bisa menikmatinya. “pelan-pelan aja yah vi, biar aku bisa cium toket kamu”.

Sambil menggesek-gesek kontolku kedalam vaginanya. kucium perlahan-lahan puting toketnya. kuatru perlahan-lahan gesekan ku. dan tak lama kemudian terdengar ia mengerang dan mengejang. “achh.. kaya ada yang mau keluar nih.. achh.. aduh mau keluar nihh..” “kembali kuatur gesekanku secara perlahan agar ia bisa keluar”. dan benar saja sebentar kemudian dia mengalami orgasme untuk ke 2 kalinya. “achh.. achh.. ohh.. mau keluar nih.. ann..achh..”

Novi sudah mengalami orgasme sedang aku sebentar lagi mau keluar. setelah kurasa cukup maka kupercepat gerakan kontolku ke memeknya dia. “achh.. mau keluar lagi nih an.. achh..” “bentar lagi aku juga mau keluar nih vi.. ahh” erangku. “keluarin didalem aja yah ann.. achh..”

Walaupun dia sudah bersedia menerima sperma ku di vaginanya, tapi aku tidak sebodoh itu, aku masih ga mau terikat oleh dia. dengan menambah kecepatan aku terus mengenjot dia semakin cepat. “achh.. aku mau keluar nihh.. kamu mau minum sperma ku kan.. achh.” “kenapa gak dikeluarin di dalam aja sih, ya udah ga pa pa kok di mulut ku juga.” “achh.. terusinn.. ann aku juga
mau keluar lagi nih..achh..” “aku juga mau keluar nih vi..” dan saat itu kamipun keluar bersamaan. “achh.. kuangkat langsung kontolku yang sudah hampir menyemburkan sperma.. achh ..kukocokan kontolku ke arah mulut dan dadanya dia. “croot..crott.. spermaku membasahi mulut dan susunya”. “achh..srepp.. enak banget sperma kamu an.. cape banget nih.. liat tuh badanku sampe keringatan semua.” aku hanya tersenyum dan berkata. “tapi enak kan..” kubersihkan cairan spermaku dengan tissue nya. dan ia pun pergi kekamar mandi tuk membersihkan badannya. achh.. lega banget hatiku setelah dapetin cewek yang pernah menjadi idola di smu dulu. Setelah novi membersihkan badannya sayapun minta ijin pulang dulu karena jam sudah pukul 8.50. ntar bapanya bisa curiga lagi.

kejadian ini terus berulang-ulang sampai saat saya masih mengetik cerita ini. Walaupun antara kami sampai sekarang belum ada status pacaran, melainkan hanya teman biasa.

tamat..!!!

Cerita Dewasa : Dewi - Doni, Anak Tirinya

Cerita Dewasa : Dewi - Doni, Anak Tirinya - Jam di dinding menunjukkan pukul 10 pagi, Dewi baru saja beranjak bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandinya yang terletak didalam kamar tidurnya, setelah menggosok gigi dan mencuci mukanya, iapun keluar dari kamar tidurnya menuju kedapur untuk membuat sarapan.

Cerita Dewasa : Dewi - Doni, Anak Tirinya

Setibanya di dapur Dewi melihat Doni anak tirinya sedang membuat kopi, saat itu Doni hanya memakai celana boxer saja, Dewipun menyapa Doni sesaat ia berada disamping Doni.

“Kamu tidak sekolah, Don??” Dewi bertanya.

“Eh, mami, mami lupa yach!!, kan kemarin hari terakhir aku ujian, jadi hari ini libur sampai pengumuman hasil ujian,” jawab Doni.

“baru bangun mih??, Doni balik bertanya, “mau kubuatkan kopi”

“Heeh, boleh tuch, “ jawab Dewi.

Dewi memperhatikan tubuh anak tirinya ini, Doni mempunyai tubuh yang sangat atletis, dadanya bidang dan berotot, Dewi tahu Doni sering sekali berolahraga, tingginya sekitar 180 cm, berbeda dengan ayahnya yang pendek, dari samping Dewi mengagumi tubuh anak tirinya ini, saat pandangan mata Dewi jatuh di boxer Doni, ia melihat tonjolan di celana boxer Doni, melihat itu Dewi menelan ludahnya, dan ia tahu bahwa Doni saat ini tidak mengenakan celana dalamnya dan kontolnya sedang tegang-tegangnya, dari balik celana boxernya Dewi tahu juga bahwa Doni mempunyai kontol yang besar dan panjang.

“Mih, nich kopinya,” Doni berkata.

“Eehh..iyach, makasih, Don!” sahut Dewi.

Doni tidak mengetahui bahwa dari tadi mamihnya memandangi tonjolan di celananya dengan penuh nafsu.

“Papih, kapan pulang, mih??” Doni bertanya

“Masih lama,” Dewi menjawab.

“Ooohh, aku kekamar dulu yach, mih!” lanjut Doni, “mo chatting dulu ama temenku”

“Heeh, “ Dewi mengiyakan.

Seperginya Doni, Dewi merasakan lubang senggamanya berdenyut-denyut, ingin merasakan kembali sodokan-sodokan kontol-kontol yang besar, sambil menikmati kopinya, tangan kanannya mulai mengelus-elus vaginanya, sementara pikirannya membayangkan pemandangan tadi, membayangkan seandainya kontol Doni dielus-eluskan di itilnya dan dibibir memeknya. Batinnya menjerit memanggil nama Doni sambil merasakan sentuhan tangannya di memek dan itilnya, lubang senggamanya mulai basah karena gelora birahinya yang mulai bangkit, Dewi sendiri merasa heran sendiri kenapa sekarang ini birahinya cepat sekali terangsang, sekarang ini Dewi merasa selalu kehausan ingin dipuaskan, libido seksnya semakin meninggi dibandingkan dengan sebelum ia pernah mendapatkan kepuasan dari suaminya.

Semakin lama elusan tangannya semakin cepat, gairahnya semakin memuncak, lubang senggamanya semakin gatal ingin digaruk kontol besar, gairah birahinya ingin cepat dipuaskan, batinnya berkecamuk antara ingin dientot oleh Doni merasakan kontol Doni mengaduk-aduk lubang senggamanya dengan ketakutan seandainya Doni tidak mau lalu melaporkan hal itu ke papihnya atas kelakuan dia.

Tapi nampaknya nafsu birahinya yang menang, akhirnya Dewi melangkah menuju kamar anak tirinya, sesampainya didepan pintu kamar Doni, dengan perlahan-lahan Dewi membuka pintu kamar Doni, Dewi terkejut melihat pemandangan di depan matanya, Dewi melihat Doni sedang telanjang dan duduk diatas karpet membelakangi pintu, sementara kedua telinga Doni tertutup oleh earphone dan dilayar komputer Dewi melihat adegan seks, rupanya Doni sedang menonton film BF, dan Dewi juga melihat Doni sedang mengelus-elus kontolnya yang sudah ngaceng, melihat ini semua membuat birahi Dewi semakin memuncak, Dewipun melangkah masuk kekamar Doni lalu menutup pintunya, didekatinya Doni dari arah belakang, Doni yang sedang asyik tidak mengetahui bahwa Mamihnya sedang menyaksikan perbuatannya itu.

Setelah menanggalkan dasternya, Dewi kemudian mendekati Doni, dipeluknya tubuh Doni, diciuminya tengkuk dan telinga Doni, kedua payudaranya ia tempelkan dipunggung Doni, sambil berbisik,

“Doonn,.. sini mamih bantuin,” Dewi mendesah lirih sambil tangan kanannya meraih kontol Doni lalu mengelus-elusnya.

“Eehh…Mih, oouughh…ssshhhh…aachhh” Doni terperanjat kaget akan perbuatan Dewi, tapi ia menikmati sentuhan tangan Dewi yang halus di kontolnya, kagetnya hilang berganti dengan kenikmatan.

Aksi Dewi semakin bertambah, dari tengkuk dan telinga ciumannya menjalar kedepan kedada Doni, dijilatinya kedua puting Doni bergantian, sementara tangannya semakin gencar mengelus-elus kontol Doni, membuat Doni semakin mengerang keenakan, lenguhan-lenguhan kenikmatan keluar dari mulut Doni, Dewi lalu mendorong tubuh Doni sehingga telentang diatas karpet, ciuman dan jilatan Dewi semakin menggila dari dada turun keperut, dari perut turun ke selangkangan Doni, Doni semakin menggelinjang mendapatkan serangan Dewi, tubuh Doni melenting menikmati jilatan Dewi ditubuhnya.

“Aaghhhh….Miiihh, eenaaakkkkk….Aaaaaggghh” Doni mengerang keenakan ketika kontolnya dijilati dan dikulum-kulum oleh Dewi.

Sllrrppp….sssllrrpppp….. Dewi asyik menjilati dan mengulum-ngulum kontol Doni.

“Miihhh, aakkuu gak taahhaann…ouughh..aakkuu..mau keluaar nich..ooughh” Doni merintih.

Mendengar Doni mau keluar Dewi semakin cepat mengulum-ngulum kontol Doni, tak lama kemudian,

Creettt…creeettt..cccreeettt…kontol Doni menyemburkan lahar kenikmatannya didalam mulut Dewi.

“Ougghh..” Dewi tersedak akibat tembakan sperma dari kontol Doni

“Gleekkk..ssllrppp….gleekkk..sslrrppp” terdengar Dewi menelan sperma Doni sambil menghisap-hisap kontol Doni, membuat Doni semakin merem-melek, kontolnya mengedut-ngedut semakin kencang.

Sesaat kemudian kontol Doni berhenti mengedut-ngedut, Dewipun puas mendapatkan sperma perjaka, dan Dewi kaget melihat bahwa kontol Doni tetap keras meskipun barusan telah mengeluarkan sperma, Dewi tidak merasakan kontol Doni yang sedang dalam genggamannya akan mengecil.

“kamu puas, Don” Dewi bertanya lirih.

“Iyach, Mih, “ Doni menjawab

“kamu masih pengen khan,” kembali Dewi bertanya

“heeh” Doni mendesah

Kemudian Dewi berjongkok diatas tubuh Doni, kontol Doni ia arahkan kelubang memeknya yang sudah basah dari tadi. Dioles-oleskannya kepala kontol Doni di itilnya, Dewi merasakan geli-geli nikmat saat itilnya tersentuh oleh kepala kontol Doni, sementara Doni sendiri menggelinjang kegelian saat kepala kontolnya menyentuh itil mamihnya, belum pernah Doni merasakan sensasi seperti ini, biasanya kontolnya itu ia kocok sendiri kalau lagi tegang karena nonton BF, jadi Doni belum pernah merasakan kontolnya itu bersentuhan dengan itil apalagi sampai merasakan dijepit memek.

Setelah puas mengoles-ngoleskan kontol Doni, Dewi mulai menyelipkan kepala kontol Doni dibelahan memeknya, Dewi melenguh saat kepala kontol Doni mulai terjepit dilubang senggamanya, Dewi merasakan lubang senggamanya penuh sesak oleh kepala kontol Doni, perlahan-lahan Dewi mulai menurunkan pantatnya,

Sleepp…Bleeessss….

“Uuugghhh….” Dewi melenguh saat kontol Doni mulai menerobos masuk dalam lubang senggamanya,

“Doni sayang, kontolmu besar sekali, sesak memekku dibuatnya,” lanjut Dewi sambil mulai menekan pantatnya lagi.

Bleeesss…..

“aaagghhh….Mih, sempit sekali memekmu,” Doni mengerang merasakan kontolnya yang terjepit erat oleh memek Dewi.

“bukan memekku yang sempit sayang, tapi kontolmu yang besar, ooohhhhh, enak sekali kontolmu ini,” Dewi mengerang manja, sambil menekan lagi pantatnya kebawah perlahan-lahan,

Bleesss….bleessss…..

Dan,

“Uuuugghhhh….,” Dewi menjerit lirih, saat kepala kontol Doni menyentuh dinding rahimnya,
Sensasi nikmat yang Dewi rasakan kali ini berbeda dengan sensasi nikmat yang pernah ia dapatkan sebelumnya, lubang senggamanya betul-betul penuh sesak oleh jejalan kontol Doni, ini membuat dinding vaginanya berkedut-kedut sendiri, sementara Doni merasakan batang kontolnya seperti dipijat-pijat oleh dinding vagina Dewi, yang membuat ia merem melek.

Kemudian Dewi mulai mengangkat turunkan pantatnya perlahan-lahan, tangannya bertumpu di dada Doni, Dewi merasakan batang kontol Doni menggesek dengan erat dinding vaginanya, memeknya yang sudah basah tidak terlalu berpengaruh karena besarnya kontol Doni, gesekan-gesekan didinding vaginanya sangat terasa ketat sekali, Donipun merasakan yang sama, apalagi persetubuhan ini adalah kali pertama buat Doni, Doni merasakan perbedaan yang sangat besar antara gesekan tangan dia dibandingkan dengan gesekan memek mamih tirinya ini.

Keduanya mulai melenguh, mendesah dan merintih menikmati persetubuhan ini, gerakan naik turun Dewi semakin lancar seiring semakin membasahnya lubang kenikmatannya, cairan-cairan kenikmatan dari kedua kemaluan mereka semakin banyak, sehingga memudahkan pergeseran kelamin mereka.

Keirngat mulai mengalir dari kedua tubuh mereka, goyangan Dewi yang semakin cepat membuat kedua bukit payudaranya bergoyang naik turun, pemandangan ini membuat Doni semakin bernafsu, Donipun bangkit dari posisi telentangnya, dipeluknya tubuh Dewi, mulutnya bergantian menghisap-hisap kedua payudara Dewi, membuat puting susu Dewi semakin mengeras, perbuatan Doni merubah gaya naik turun Dewi menjadi maju mundur, kuluman dan hisapan Doni di kedua payudaranya membuat Dewi semakin bernafsu, lenguhan-lenguhan kenikmatannya semakin terdengar.

Dengan posisi duduk seperti ini itil Dewi lebih sering bersentuhan dengan batang kontol Doni, sehingga menambah sensasi kenikmatan Dewi semakin menjadi, gerakan maju mundur Dewi bertambah cepat, mengimbangi kuluman dan hisapan Doni dikedua payudaranya. Kedua tangan Doni yang tadinya hanya memeluk Dewi, mulai beraksi juga, Doni mulai meremas-remas kedua bongkah pantat Dewi, sambil meremas-remas Donipun membantu menekan pantat Dewi bertepatan dengan gerakan maju Dewi, sehingga membuat kontolnya masuk lebih dalam kedalam memek Dewi, aksi Doni ini membuat Dewi mengerang karena sodokan kontol Doni didinding rahimnya semakin terasa.

“Aaagghhh…ssshhhh….ooouucchhhh…terussss..Doon, yaachhh..hisaaappp..teeetekku,”erang Dewi.

“Hhmmmm…sssllrrppp…hhmmmhhmm..ssssllrppp,” Doni mengiyakan permintaan mamihnya.

“Yaaacchh… teeekaaann…paantatkuu…ooucchhh…aaaagghhh…,” lagi-lagi Dewi mengerang saat Doni menekan pantatnya membantu gerakan majunya.

Tak lama kemudian,

“Miiihhhh, hhmmmhh…sssllrpp….aaakkkuu..ssslrpp….mauu..keluaar r..laaagiiii..,” Doni melenguh, sambil mulutnya tetap menghisap-hisap tetek Dewi.

“Taaahhaan…sebeentaarrr..ssaaayaang….kita saamaaan…keeluarnya,” jawab Dewi.

“Slllllrrrpppp….aaaaacchh…aaaaakkkuuu tiddak..ssslrpppppp…” Doni melenguh lagi dan,

Creeetttt…..creeetttt….cccreeeetttt..

Kontol Doni menembakkan spermanya dalam lubang senggama Dewi,

“Aaagghhhhh….miiihhh…aaaku kelluaaar…meemek mamihhh enaaakk sekaliii…aaaagghhh..,” Doni mengerang keenakan saat kontolnya memuntahkan sperma dilubang kemaluan Dewi.

Dewi merasakan semburan hangat didinding rahimnya, dan Dewi juga merasakan kontol Doni berdenyut-denyut, merasakan ini semua Dewi semakin mempercepat gerakannya, iapun mendorong tubuh Doni sehingga telentang lagi, dipeluknya tubuh Doni, bibirnya memagut bibir Doni yang, pantatnya digerakkan naik turun dengan cepat, nampaknya Dewi tidak mau kehilangan kesempatan untuk merengkuh kenikmatannya.

“Hmmmhhh….sslllrpp….hhmmmhh…ssllrppp….,” rintihan nikmat keluar dari kedua mulut Dewi dan Doni yang sedang berpagutan.

Tak lama kemudian, gerakan Dewi semakin tidak beraturan dan bertambah cepat, lalu dengan sekali hentakkan Dewi menekan pantatnya dalam-dalam,

“Aaaggghhh….Dooonnn…mamiihhh keluaaar jugaaaa..ooohhhh..eenak kontol besaaarmu ini,” Dewi melenguh.

Ssssrrrr….sssssrrrrr…..sssssrrrr…… lubang senggama Dewi menyemburkan lahar kenikmatan yang menyirami batang kontol Doni.

Doni merasakan pijatan-pijatan kuat dibatang kontolnya, saat lubang vagina Dewi memuntahkan lahar kenikmatannya.

Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatannya, Dewi menciumi Doni dengan mesra, keduanya berpagutan dengan mesra, beberapa saat kemudian setelah gairah nafsu mereka mereda, Dewi mengangkat pantatnya, kontol Doni yang mulai mengecilpun terlepas dari jepitan memeknya, Nampak kontol Doni mengkilat oleh sperma dan cairan kenikmatan dari memeknya, Dewipun merebahkan tubuhnya disamping Doni.

“Makasih yach, sayang, kamu telah memberikan Mamih kepuasan,” Dewi berkata sambil mengecup pipi Doni.

“Aku juga, Mih, “ kata Doni sambil memeluk Dewi dan memberikan kecupan ringan dibibir Dewi.

Keduanya kemudian berpelukan sambil memejamkan mata mereka, di bibir mereka tersungging senyum kepuasan.

Cerita Dewasa : Dewi dan Dokter Kandungan

Cerita Dewasa : Dewi dan Dokter Kandungan - Malam itu terlihat Dewi sedang berada disebuah tempat praktek Dokter Kandungan, setelah kejadian-kejadian yang dialaminya dengan Andi dan Sugito (baca: Dewi-Andi & Dewi-Sugito). Dewi takut suatu saat nanti dirinya hamil karena sperma laki-laki lain, dan kalau nanti ia sampai hamil pasti suaminya akan mengetahui perbuatannya bersenggama dengan orang lain.

Cerita Dewasa : Dewi dan Dokter Kandungan

Hari ini kebetulan suaminya sedang pergi keluar kota selama 2 minggu, Dewi yang memang sedang menunggu waktu yang tepat untuk mendatangi dokter kandungan, akhirnya memutuskan untuk mendatangi tempat praktek dokter kandungan, ia ingin cepat-cepat berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk memastikan alat kontrasepsi apa yang cocok untuk dia, karena Dewi ingin segera merasakan kepuasan bersenggama kembali, hampir lebih dari 2 minggu, Dewi tidak dapat menikmati sodokan-sodokan kontol-kontol perkasa yang dapat memberikan kepuasan kepada dirinya, karena ia takut akan hamil.

“bu Dewi,”

Dewi mendengar namanya dipanggil.

“Yach, betul,” Dewi menjawab, dan menengok kearah siempunya suara yang ternyata suster di tempat praktek ini.

“Sekarang giliran ibu,” kata suster tersebut, “mari ikut saya, bu.!!”

“Oh..yach,” jawab Dewi, sambil berdiri dan mengikuti suster itu menuju keruangan praktek.

Dewi baru menyadari tempat praktek dokter kandungan yang tadi lumayan penuh dengan pasien, sekarang telah kosong, Dewi menyadari bahwa ia adalah pasien terakhir.

“Dok, ini ibu Dewi pasien terakhir kita malam ini,” Kata suster itu kepada lelaki yang berada didalam ruangan praktek itu

Dalam hati Dewi membatin,”masih muda nih dokter, dan wajahnya lumayan ganteng,” Dewi memperkirakan dokter ini seumuran dia.

“Malam, dok,” Dewi menyapa si dokter.

“Malam, juga Bu! Silahkan duduk bu! Apa yang bisa saya bantu??,” si dokter menjawab sambil bertanya dan mempersilahkan Dewi duduk.

Sebelum sempat Dewi menjawab pertanyaan sang dokter, ia mendengar si suster berkata,” Dok, ibu Dewikan pasien terakhir, dan saya kebetulan ada keperluan keluarga, boleh saya pulang lebih dulu,”

“Oh..ok, “ jawab si dokter sambil beranjak dari tempat duduknya.

“Sebentar yach bu,” kata si dokter ke Dewi, lalu dokter itu keluar dari ruangan mengikuti si suster.

Tak lama kemudian dokter itu kembali dan berkata kepada Dewi,” maaf yach bu, soalnya saya harus mengunci pintu depan, kalau tidak nanti ada orang dating lagi untuk berobat atau berkonsultasi, padahal ibu Dewi-kan pasien saya terakhir apalagi suster saya sudah pulang”

“Oh..gak apa-apa kok,” balas Dewi

“Nach, sekarang apa keluhan ibu, mudah-mudahan saya bisa bantu,” tanya si dokter.

“Begini dok, saya ingin memakai alat kontrasepsi, tapi saya tidak mau kalau suami saya itu memekai kondom, jadi kira-kira alat kontrasepsi apa yang bagus untuk saya,” Dewi menjelaskan maksud tujuannya datang ketempat praktek ini.

“Oh itu, memang ibu dan suami sudah tidak berkeinginan untuk mempunyai anak lagi, ngomong-ngomong sudah punya berapa anak?” tanya sang dokter lagi.

“yach begitulah, saat ini kami mempunyai satu anak, “ jawab Dewi sedikit berbohong, karena tidak mungkin ia menjelaskan kedokter bahwa ia ingin lebih puas dalam menikmati kontol-kontol perkasa tanpa takut akan hamil.

“Baru satu?? Memang tidak berkeinginan nambah, bu??” si dokter memastikan.

“Hmmhh…betul,” Dewi menjawab sambil tersenyum.

“Lalu ibu mau yang sementara atau selamanya,” tanya sidokter.

“maksudnya??” Dewi balik bertanya.

“Begini loh, Bu!. Kalau sementara saya sarankan ibu untuk menggunakan spiral, tapi kalau ibu dan suami ingin untuk selamanya tidak mempunyai anak lagi, yach! Saya menyarankan ibu untuk disteril, maksud saya saluran indung telur ibu harus saya tutup rapat, jadi kalau ibu berhubungan dengan suami, sperma suami ibu tidak dapat lagi menerobos kesaluran indung telur ibu, dengan begitu saya jamin tidak ada satupun indung telur ibu yang dapat dibuahi oleh sperma suami ibu,” jelas sang dokter panjang lebar.

“Ooohhh…begitu,” gumam Dewi,” Kalau gitu saya pilih yang sementara saja, siapa tahu nanti kita ingin mempunyai anak”

“Ibu mengambil keputusan yang tepat, nach sekarang ibu silahkan berbaring disana, saya akan mempersiapkan peralatannya,” kata si dokter sambil menunjuk kearah ranjang.

“Bajunya dan CDnya tolong dilepas, Bu!!, terus ibu kenakan ini” lanjut sidokter sambil memberikan jubah berwarna biru muda.

“wah, bu!! terbalik pakai jubahnya,” dokter itu berkata sambil tersenyum saat melihat Dewi mengenakan jubah itu dengan bagian yang terbukanya berada didepan.

“Bagian yang terbukanya itu untuk dibelakang, kalau ibu pakai seperti itu nanti saya gak akan selesai-selesai memasang alat kontrasepsinya, karena mata saya akan melihat kedada ibu terus,” lanjut sidokter sambil bercanda ke Dewi.

“Ohhh…he..he..dokter bisa aja,” Dewi tersipu malu mendengar guyonan si dokter, sambil membetulkan jubah tersebut, kemudian iapun berbaring diranjang.

Dewi bingung melihat ranjang tersebut karena panjang ranjang tersebut tidak sepanjang ranjang-ranjang yang biasa ada ditempat-tempat praktek dokter, panjang ranjang ini hanya sampai sebatas pantatnya saja, sehingga kedua kakinya terjuntai kebawah, Dewipun melihat adanya keanehan dengan ranjang ini, dimana disamping kiri dan kanan kedua kakinya ada bantalan cekung dan letaknya lebih tinggi dari ranjangnya.

Setelah selesaimempersiapkan peralatannya, sang dokter menghampiri ranjang tersebut, melihat posisi rebahan Dewi diatas ranjang, dokter itupun tersenyum simpul,

“Ibu, baru pertama kali yach datang kedokter kandungan??,” tanya sidokter tersenyum.

Tanpa menunggu jawaban Dewi, sang dokterpun mulai mengangkat kaki Dewi satu persatu dan menempatkan dibantalan cekung yang berada disamping kiri kanan kaki Dewi itu, perbuatan sidokter membuat Dewi terhenyak, Dewi tahu dengan posisinya dimana kedua kakinya terangkat dan terbuka lebar ini, kemaluannya akan Nampak jelas didepan sidokter, mukanyapun menjadi merah karena menahan malu, melihat Dewi yang tersipu-sipu malu dan wajahnya menjadi merah, sidokter hanya tersimpul dan diapun merasa yakin sekali bahwa ini adalah kunjungan yang pertama Dewi ke dokter kandungan.

“Maaf, yach, Bu,” sidokter berkata saat jari jemarinya mulai menyentuh bibir vagina Dewi.

“Hhmmmhh….,” Dewi hanya bisa mengangguk, karena menahan malu dan perasaan yang aneh saat jari-jari sidokter menyentuh bibir vaginanya.

Kedua jari tangan kiri sidokter mencoba untuk sedikit membuka lubang vagina Dewi dari sebelah atas, sehingga kelentit Dewi tersentuh oleh telapak tangan sidokter, sementara tangan kanan sidokter mencoba untuk memasukkan peralatan hampir seperti corong, agak lumayan lama sidokter berkutat untuk memasukkan alat itu kelubang vagina Dewi, sementara Dewi merasakan geli yang aneh dan nikmat saat kelentitnya tergesek-gesek oleh tangan sidokter, akibatnya gelora birahi Dewi mulai bangkit, memeknya mulai basah.

“Ouugghhh…..ssshhhh,” Dewi menjerit lirih saat merasakan alat yang seperti corong berdiameter 3cm terbenam di dalam lubang senggamanya, pantatnya terangkat sedikit, kedua tangannya mencengkram pinggiran ranjang dengan erat.

“Maaf..bu.!! sakit…!! Tahan sebentar yach, saya akan mulai memasang spiralnya,” kata sidokter.

Si dokter merasa heran dengan kondisi lubang vagina Dewi yang masih sempit ini, dalam hatinya ia berkata, “gila nich ibu, udah keluar satu anak, tapi masih sempit begini, sepertinya juga jarang dipakai oleh suaminya,”, sambil tangannya memijat-mijat pelan kedua belah bibir vagina Dewi dengan tujuan untuk membuat rileks otot-otot vagina Dewi, saat ia sedang memijat-mijat itu dari corong kacanya itu ia melihat lubang vagina Dewi yang berwarna merah muda itu berkedut-kedut, belum pernah selama ia praktek melhat kejadian ini, karena sudah berpengalaman ia mengetahui bahwa tebakannya itu betul, memek Dewi jarang dipakai oleh suaminya, karena hanya dengan alat yang teronggok diam saja memek Dewi sudah basah.

“Hhhhmmmm…sssshhhh….hhhmmmm…..ssshhhh..” Dewi merintih lirih menikmati pijatan-pijatan lembut dibibir vaginanya dan merasakan sumpalan alat dilubang senggamanya.

Mendengar lirihan Dewi, sidokter semakin yakin dengan tebakannya itu, dalam hatinya membatin,”kalau kuentot mau tidak yach ini ibu???, atau malah nanti dia marah??..”

Setelah melihat cengkraman dinding vagina Dewi dialatnya mulai mengendur, sidokterpun mulai mengambil spiral berbentuk T dan penjepitnya, lalu melalui corong tadi ia mulai memasukkan spiral tersebut menggunakan penjepit, karena corong itu terbuat dari kaca ia bisa melihat keadaan didalam lubang vagina Dewi, setelah tepat disasaran, iapun sedikit menekan penjepitnya kemudian ia melepaskan jepitan di spiral tersebut dan menarik keluar jepitannya, sambil memegangi kedua bibir vagina Dewi, sidokter memastikan spiral tersebut terpasang dengan benar, kemudian dengan perlahan-lahan corong itu ia tarik keluar dari lubang vagina Dewi, gesekan yang ditimbulkannya membuat Dewi mengerang lirih.
Setelah terlepas, sidokter kembali memijat-mijat vagina Dewi, sebetulnya pijatan-pijatan itu tidak perlu dilakukan, dan belum pernah ia lakukan selama ia praktek, saat ini ia lakukan karena ia terangsang dengan bentuk vagina Dewi, dalam hatinya ia juga merasa heran kenapa saat ini ia terangsang ingin melakukan persetubuhan dengan pasiennya. Dewi sendiri yang dari tadi birahinya sudah bergejolak, merasakan pijatan-pijatan lembut yang saat ini sedang dilakukan oleh sang dokter semakin membuat birahinya membara, erangan-erangannya semakin sering terdengar, tubuhnyapun menggelinjang-gelinjang karena geli dan nikmat.

“Oh..baru pijatan tangannya saja sudah membuatku melayang-layang, apalagi kalau dia sodok aku dengan kontolnya, Oh gila betul rangsangan ini,” Dewi berkata dalam hatinya.

Tangan Dewi yang tadi sedang mencengkram ranjang mulai beralih kepayudaranya sendiri, dari balik jubahnya iapun mulai meremas-remas kedua bukit kembarnya, merasa kurang puas karena terhalang oleh BH dan jubah yang masih menutupi tubuhnya, Dewi kemudian melucuti semuanya sehingga sekarang Dewi telanjang bulat didepan sang dokter, tangannya kembali meremas-remas kedua bukit kembarnya itu, mulutnya mendesis-desis menandakan Dewi sedang menikmati semua itu.

Sang Dokter yang melihat aksi Dewi melucuti jubah dan Bhnya serta aksi remasan tangan Dewi dikedua bukit kembarnya itu tersenyum simpul, “nampaknya ia mulai terangsang dengan pijatan-pijatanku,”, lalu tanpa menghentikan pijatannya, ia pun mulai menciumi kelentit Dewi yang mulai terlihat dan mengeras, tidak hanya diciumi saja, tapi ia jilati dan hisap-hisap kelentit Dewi yang membuat Dewi semakin menggelinjang merasakan kenikmatan permainan lidah sidokter, aksi sidokter semakin menggila, jari tengah salah satu tangan yang sedang memijat-mijat itu mulai menerobos lubang kenikmatan Dewi, dengan gerakan perlahan-lahan sidokter mulai mengeluar-masukkan jari tangannya itu, akibatnya lubang vagina Dewi semakin basah, erangan-erangan Dewipun semakin sering terdengar. Pantatnya semakin sering terangkat seolah menyambut sodokan jari tangan sidokter, kepalanya bergoyang kekiri kekanan, tubuhnya kadang-kadang melenting, Dewi betul-betul menikmati serangan-serangan sang dokter dikemaluannya.

“Ouughhhh….dddoookkk….eenaaaakkk…aakhhuuu…mau..kel luaarr…ssshhh…aagghhhh..”Dewi merintih-rintih kenikmatan.


Ssssrr……ssssrrrr….ssssrrrr…… memek Dewi memuntahkan lahar kenikmatannya.

Tubuh Dewi mengejang, sang dokter merasakan hangatnya air kenikmatan Dewi yang membasahi jari tangannya.

“Enak, Bu!!,” tanya sidokter.

“Iyaachh…”Dewi menjawab dengan nafas yang masih tersengal-sengal, matanya terpejam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja ia rengkuh.

Tanpa buang waktu lebih lama lagi, sang dokterpun mulai melucuti seluruh pakaiannya, sehingga sekarang iapun telanjang bulat, Nampak kontolnya sudah berdiri dengan tegak, ukurannya lumayan besar dan panjang, diapun mulai mengelus-eluskan kontolnya dibibir vagina Dewi, membuat Dewi menggelinjang, dengan pelan-pelan sang dokterpun menyelipkan kepala kontolnya di lubang memek Dewi, setelah merasa tepat disasaran sang dokterpun mulai melesakkan kontolnya kedalam lubang memek Dewi, setahap demi setahap.

Sleeepp….bleeessss….bleessss…..

Kontol sang dokter mulai terbenam seluruhnya dalam lubang kemaluan Dewi, Dewi yang merasakan kontol dokter itu mulai memasuki lubang senggamanya, mendesis lirih. Hatinya membatin,”lumayan besar juga kontolnya, tapi tidak sebesar punyanya pak Sugito”.

“Ssshhh….aaaaghhhh..dook…kontolmu besar juga…. sssshhhh….puaskan aku dengan kontolmu ssshhhh…”desis Dewi.

Dengan perlahan-lahan Sang dokter mulai mengeluar-masukkan kontolnya didalam lubang senggama Dewi, kedua tangannya berpegangan dipaha Dewi, lama-lama gerakan maju-mundur sang dokter semakin cepat, keringatpun mulai mengalir dikedua tubuh mereka, udara dingin didalam ruangan praktek karena AC tidak menghalangi keluarnya keringat mereka. Erangan Dewi dan sang dokter semakin terdengar, lenguhan-lenguhan nikmat keluar dari kedua mulut mereka.

“Ouughhh…dookkk…teeruusss…ssooddokkk .memekkuuuu…dengaaannn kkonttolmu..ituuu… aaaggghhhh…” Dewi mengerang kenikmatan menikmati sodokan kontol sang dokter di lubang senggamanya.

“Hhhhmmmm…aaaaghhh…memekmuuu…benaaarr-benaar..sseeemmpitt enaaakkk… oouughhh … koontooolllkuuu…teerjeppiitt…bbeetulll… “ Sang Dokterpun melenguh keenakan merasakan jepitan dinding vagina Dewi dibatang kontolnya..

“Teekkaaannn…lebih daaalllaamm…dookk.. yaaahh..begituu..ssshhhhh…oouughhh…,” rintih Dewi meminta sang dokter untuk menekan lebih dalam, yang dituruti oleh sang dokter, dengan hentakan-hentakan yang lebih dalam, hingga kontolnya terbenam sampai pangkalnya saat sang dokter mendorong masuk kontolnya.

Tak lama kemudian nampak gerakan sang dokter bertambah cepat dan mulai tak beraturan, sementara itu tubuh Dewipun semakin sering terlihat melenting dan pantatnya semakin sering terangkat berbarengan dengan sodokan kontol sang dokter, lenguhan dan erangan mereka bertambah kencang terdengar dan saling bersahutan, nampaknya kedua insan ini akan merengkuh puncak kenikmatan persetubuhan mereka.

“Ouughhh…doookkk…aaaakkkkuuu…kkeeelluuarrr,” Dewi mengerang tubuhnya melenting.

“Akkkhhuuu…juuggaaa…mmaaauuu….ooouugghhhh..” sang dokterpun melenguh, dan menekan dalam-dalam kontolnya didalam lubang senggama Dewi, lalu terdiam.

Creeetttt…..ssssrrrr…..ccrreeeettt…..ssssrrrr…..

Kedua kemaluan mereka akhirnya memuntahkan lahar kenikmatan berbarengan, sand dokter merasakan batang kontolnya tersiram oleh hangatnya lendir kenikmatan Dewi dan ia juga merasakan dinding vagina Dewi berkedut-kedut meremas-remas batang kontolnya, Dewi sendiri merasakan dinding rahimnya tersemprot oleh cairan hangat sperma sang dokter dan Dewi sendiri merasakan pada dinding vaginanya batang kontol sang dokter berdenyut-denyut.

Kemudian sang dokter mencabut batang kontolnya dari jepitan vagina Dewi setelah ia merasakan remasan-remasan dinding vagina Dewi berhenti dan kontolnya mulai mengecil, saat kontolnya tercabut dari lubang kenikmatan Dewi, terlihat olehnya cairan spermanya bercampur dengan lendir kenikmatan Dewi mulai mengalir perlahan dan menetes jatuh keatas lantai.

Setelah nafas mereka kembali normal, mereka mengenakan pakaian mereka kembali, kemudian sang dokter memberi tahu Dewi bahwa spiral yang ia pasang itu bisa bertahan untuk 5 tahun, tetapi alangkah bagusnya setiap 3-6 bulan sekali harus diperiksa, untuk memastikan letaknya tidak berubah atau lebih parahnya terlepas. Dewi mengangguk tanda mengerti dalam hati Dewi berkata ,”pasti aku akan balik lagi, untuk menikmati sodokan-sodokan kontolmu lagi,”

Sebelumpulang Dewi bertanya berapa biaya yang harus dibayar olehnya, yang dijawab oleh dokter itu dengan senyuman dan kecupan ringan dibibir Dewi, gratis!!! bisiknya

Dewipun pulang dengan tersenyum simpul, dalam hatinya ia membatin bertambah satu lagi koleksi kontol yang bisa membuat puasku, yang bisa menghilangkan dahaga batinku. Dan sekarang ia tidak akan takut hamil bila melakukan persetubuhan dengan siapapun.

Cerita Dewasa : Dewi Bercinta Dengan Satpam perumahannya

Cerita Dewasa : Dewi Bercinta Dengan Satpam perumahannya - Semenjak kejadian malam itu, Dewi yang tadinya seorang istri yang menerima keadaan dan tidak pernah mengetahui bahwa bersetubuh itu sangat nikmat berubah menjadi Dewi yang ingin dipuaskan setiap kali bersetubuh, tetapi suaminya tidak pernah dapat memuaskan Dewi seperti biasanya, suaminya selalu keluar duluan pada saat Dewi baru mulai terangsang, setelah itu suaminya langsung tertidur tanpa memperdulikan lagi keadaan istrinya. Hal ini membuat Dewi ingin selalu mencari lagi laki-laki seperti Andi yang dapat memuaskan hasrat birahinya.

Cerita Dewasa : Dewi Bercinta Dengan Satpam perumahannya

Seperti malam itu setelah melakukan hubungan suami istri, suaminya langsung terlelap, sementara Dewi merasa tersiksa karena birahinya tidak terlampiaskan, memeknya terasa gatal ingin merasakan sodokan-sodokan kontol.

Dengan penuh kesal Dewi beranjak dari tempat tidurnya lalu ia menuju kedapur untuk mengambil segelas air, sambil memegang gelas air minum Dewi beralih menuju keteras depan, kemudian Dewi duduk disofa yang ada diteras.

Saat Dewi sedang duduk merenung didalam kegelapan malam, Dewi melihat sesosok tubuh dari kejauhan sedang berjalan mendekati rumahnya, setelah dekat Dewi mengetahui sesosok tubuh itu adalah seorang Satpam diperumahan dimana ia tinggal, nampaknya Satpam ini sedang menjalankan tugasnya berkeliling komplek yang bersistem cluster ini.

Melihat sosok tubuh Satpam itu yang kekar Dewi tertarik dan birahinya yang belum terlampiaskan berkobar kembali. Tanpa banyak pikir Dewi melambaikan tangannya kearah satpam itu, si satpam yang mengetahui dirinya dipanggil segera menghampiri Dewi.

“Selamat malam, bu” dengan sopan satpam itu menyapa.

Dewi memperhatikan nama Satpam itu diseragamnya lalu membalas sapaannya,” malem pak Sugito, “

Sementara itu mata Sugito tak berkedip menatap tubuh Dewi yang terbalut daster tipis dan disinari oleh lampu teras sehingga membuat tubuh Dewi yang sexy terbayang dengan jelas, membuat birahi Sugito bergolak, perlahan-lahan pentungan diselangkangannya menegang, membuat celana satpamnya menggelembung, semua ini tidak terlepas dari mata Dewi yang memang dari tadi sudah mulai mencuri-curi pandang kearah selangkangan Sugito.

“Adaaa…aapaaa..bu,” tanya Sugito dengan sedikit terbata-bata karena menahan nafsu birahinya yang menggelegak.

Dimatanya terlihat kedua bukit kembar Dewi yang menonjol dan kedua putingnya yang berwarna merah muda tercetak dengan jelas dibalik dasternya, sementara pandangan matanya melihat diselangkangan Dewi bayangan hitam dari balik dasternya, dalam harinya membatin nyonya ini tidak pakai apa-apa lagi dibalik dasternya, Sugitopun menelan air liurnya, ingin rasanya ia menerkam tubuh Dewi ini dan menggenjotnya, tapi pikiran jernihnya masih berjalan karena statusnya yang sebagai satpam dikomplek perumahan ini, bisa-bisa kehilangan pekerjaannya kalau ia melakukan pikirannya itu.

“Bapak, bisa tolongin saya?” tanya Dewi.

“Apaa..yang bisa saya bantu …bu?” Sugito berbalik tanya, suaranya bergetar menandakan Sugito sedang dipenuhi oleh nafsu birahinya.

“Sini, pak. Ikutin saya, yach,” kata Dewi tersenyum.

Dewipun melangkah menuju kedalam rumahnya diikuti oleh Sugito yang masih bingung dan semakin bernafsu, Sugito melihat bongkahan pantat Dewi yang tercetak karena tanpa Dewi sadari dasternya terjepit oleh belahan pantatnya saat ia duduk tadi, Sugito merasakan kontolnya tambah mengeras.

Setelah menutup pintu depan dan menguncinya, Dewi melangkah menuju kekamar tidur tamu yang tidak terlalu berjauhan dengan ruang tamu, Sugito masih mengikutinya dengan penuh tanda tanya, hatinya membatin apa yang dibutuhkan oleh nyonya muda ini dari dirinya, sesampainya didalam kamar tidur, Dewi langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.

“Saya, butuh bantuan bapak untuk muasin saya,” Dewi berkata sambil tangannya mulai meraih kemeja seragam satpam Sugito, dan mulai membukai kancingnya satu persatu dengan sangat cekatan.

Setelah kemeja Sugito terlepas, tangan Dewi beralih kecelana Sugito, celana Sugito dengan cepat telah terbuka, lalu Dewi menurunkan celana seragam itu kebawah, tapi Dewi agak kesulitan menanggalkan celana itu karena terhalang oleh sepatu Satpam Sugito.

“Pak, lepaskan sepatunya dong,” kata Dewi.

Sugito yang masih belum lepas kagetnya karena mendengan perkataan Dewi tadi dan perbuatan Dewi yang melucuti pakaiaannya, mengikuti perintah Dewi dengan melepaskan sepatunya, sekarang Sugito hanya mengenakan celana dalamnya saja, tonjolan dibalik celana dalamnya membuat Dewi semakin bernafsu, dengan bernafsu ditariknya kebawah celana dalam Sugito sehingga kontol Sugito terangguk-angguk dengan gagahnya, Dewi terbelalak melihat kontol Sugito yang lebih panjang dan besar dari punya Andi, apalagi kalau dibandingkan dengan punya suaminya, sambil menurunkan celana dalam Sugito Dewipun berjongkok didepan Sugito dan kontol Sugito yang berdiri dengan tegak itu mulai dijilatinya, dari mulai ujung kepalanya sampai kepelernya, sambil kadang-kadang ditingkahi dengan kuluman-kuluman dan hisapan hisapan lembut, membuat Sugito yang masih seperti bermimpi ini mendesah-desah keenakan, batin Sugito masih belum mempercayai apa yang terjadi ini, tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya bahwa kontolnya akan dijilati dan dikulum-kulum oleh wanita secantik dan sesexy Dewi apalagi wanita ini termasuk dari golongan yang terhormat, yang secara tidak langsung adalah yang membayar gajinya.

“Oughh…aaaahhhh….sshhhhh…aaaghhhh…buuu….uueennaaak kk…tennaaan…oougghh…” Sugito mengerang keenakan, menikmati kontolnya yang sedang dikaraoke oleh Dewi.

“hhhmmm…ssshhsss…sssllrrppp…ssssllrppp…hhhhmmm..ko ntolmu besar sekali,” Dewi bergumam sambil tetap asyik mengulum dan menjilati pentungan Sugito, tangan kirinya asyik memegangi pentungan Sugito, sementara tangan kanannya asyik mengelus-elus memek dan kelentitnya.

Sugitopun akhirnya tidak mau diam saja, kedua tangannya mulai meremas-remas kedua bukit kembar Dewi yang masih tertutup daster, remasan-remasan kasarnya mulai membuat Dewi menggelinjang kegelian, Dewipun merasakan lubang vaginanya semakin basah, Dewipun menghentikan aksinya, kemudian ia berdiri lalu mulai melepaskan dasternya sehingga sekarang Dewi telanjang bulat didepan Sugito, mata Sugito terbelalak melihat keindahan tubuh Dewi, betul-betul ia seperti bermimpi, tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa dia akan melihat tubuh Dewi telanjang apalagi akan menikmatinya seperti saat sekarang ini.

Setelah melepaskan dasternya Dewi merebahkan tubuhnya diranjang, kemudian Dewipun mulai mengangkangkan kedua belah kakiknya, sehingga lubang kenikmatannya yang berwarna merah terpampang dihadapan Sugito.

“Ayo pak, beri aku kepuasan,” Dewi berkata sambil tangannya mengelus-elus kelentit dan lubang vaginanya.

Mendengar permintaan Dewi itu, Sugito tersenyum lalu menghampiri Dewi yang sudah terlentang menantikan sodokan pentungan satpamnya. Diusap-usapkannya kepala kontolnya dibelahan vagina dan dikelentit Dewi, membuat Dewi menggelinjang kegelian, hasrat birahinya semakin bertambah bergelora, nafasnya semakin memburu.

“Oughhh….paaakk….jaaanggaannn….dielussss-elusss..sssshh..aagchhhh…mmaasuukkiin……. kememekku…paakkk…ooughhh…aakuuu…tidak taahan lagi…ceepaat…paakk…akuu..ingin merasakan kontolmuuu…yang besaaarr itu…’” Dewi mengerang menyuruh Sugito untuk cepat memasukkan kontolnya kedalam memeknya.

Dengan perlahan-lahan Sugito mulai menyelipkan kepala kontolnya dibelahan memek Dewi, setelah itu dengan perlahan-lahan Sugito mulai menekan kontolnya, kontol Sugito mulai melesak kedalam lubang senggama Dewi perlahan-lahan, Dewi mengejang merasakan kontol Sugito yang besar melesak kedalam lubang vaginanya, ia merasakan agak sedikit sakit karena besarnya kontol Sugito dan karena untuk pertama kalinya juga vaginanya diterobos oleh kontol besar.

Kontol Sugito perlahan-lahan mulai terbenam didalam lubang senggama Dewi, setelah lebih dari setengah dari panjang batang kontolnya terbenam didalam memek Dewi, Sugito mulai mengangkat kedua belah kaki Dewi, kemudian kedua kaki Dewi ditekan kearah tubuh Dewi sendiri, sehingga lutut Dewi hampir menyentuh dada Dewi sendiri, dengan posisi seperti itu Sugito lalu menghentakkan kontolnya sekaligus, sehingga seluruh batang kontolnya terbenam dalam memek Dewi, sentakan Sugito membuat Dewi terhenyak dan menahan nafas, Dewi merasa memeknya seperti robek, tak lama berselang Sugito mulai memaju-mundurkan kontolnya dengan perlahan karena tadi saat ia menghentakkan kontolnya ia melihat Dewi meringis menahan sakit.

Lama-lama rasa sakit dilubang memeknya mulai hilang terganti dengan rasa nikmat yang sangat melebihi kenikmatan yang ia rasakan bersama Andi, nampaknya Sugito sangat berpengalaman dalam urusan ngentot dan memuaskan wanita. Desahan, erangan dan lenguhan kenikmatan semakin sering keluar dari mulut Dewi dan Sugito, keduanya betul-betul merasakan kenikmatan duniawi yang belum pernah dialami oleh mereka selama ini, Dewi memang belum pernah merasakan sensasi bersetubuh seperti sekarang ini, Dewi merasakan lubang senggamanya penuh sesak oleh jejalan kontol Sugito, seluruh area sensitif didalam lubang senggamanya tersentuh oleh gesekan-gesekan kontol Sugito, sementara Sugito sendiri belum pernah merasakan tubuh mulus dan putih dan lubang vagina yang sempit seperti yang dimiliki oleh Dewi, apalagi keharuman tubuh Dewi yang menambah hasrat birahinya.

“Ouughh..paakk..kontolmuuu…besaaarr…sekaaliii..pen uh memekkuuu..dibuatnyaa…” Dewi mengerang-erang kenikmatan menikmati sodokon-sodokan kontol Sugito.

“Buuu…aaaghhh…memeekk…ibuuu…juuugaa…seemppit…sekaa lliii…”erang Sugito keenakan menikmati jepitan memek Dewi dibatang kontolnya.

“teruusss…paakk….puaasskkaan..aakhhuu…sshhh..aaach h….eenaakkk…ooughhh…”Dewi mendesah-desah, sementara tubuhnya mengejang-ejang menikmati sodokan-sodokan Sugito.

Kadang-kadang Dewi mengangkat pinggulnya menyambut kedatangan kontol Sugito, mengakibatkan kontol Sugito terbenam lebih dalam, dan menyentuh dinding rahimnya. Gelinjangan tubuh Dewi menikmati persetubuhan ini semakin menjadi-jadi saat Sugito mulai menciumi leher Dewi yang jenjang dan jilatan-jilatan dikedua belah telinga Dewi, membuat sensasi persetubuhan ini semakin menjadi-jadi. Kedua bibir mereka pun kadang-kadang berpagutan dengan penuh nafsu, kedua lidah mereka saling bertautan.

Tiba-tiba tubuh Dewi mengejang sementara tangannya meremas-remas rambut Sugito, kedua kakinya mengait pinggul Sugito, pinggulnya terangkat menyambut sodokan Sugito, merasakan ini Sugito pun semakin mempercepat sodokan-sodokannya,.

“Ouuggg..paakkk….eenaakk…sekaaalii….ooughhh…aakhhu u…mmauuu..keluuaaar..aaachhh..” Dewi mengerang, tubuhnya mengejang menyambut puncak birahinya yang akan tercapai.

“Agghhh…buuu…akhuuu…jughaaa,….mmaauu…kellluar….oou ghhh….”Sugitopun mengerang bersamaan dengan erangan Dewi.

Creeetttt….sssrrrrr…...creeeet……ssssrrrr…cccreeett t…..ssrrr

Dewi dan Sugito berbarengan menggapai puncak kenikmatan dari persetubuhan mereka ini, kedua kemaluan merekapun berbalasan memuntahkan lahar kenikmatannya, mereka berdua merasakan kedutan-kedutan kemaluan pasangan masing-masing dan semburan-semburan hangat dari lahar kenikmatan mereka.

Setelah tetes terakhir dari lahar kenikmatan mereka keluar, Sugito perlahan-lahan mulai menarik kontolnnya yang sudah mulai mengecil, dari lubang senggama Dewi nampak mengalir cairan putih bercampur dengan lendir bening, menetes kekain sprei.

“Terimakasih pak, bapak telah memberikan saya kepuasan,” Dewi berkata kepada Sugito masih dengan nafas yang memburu.

“Sama-sama, Bu..kalau nanti ibu butuh bantuan saya lagi, ibu bisa panggil saya lagi,” jawab Sugito sambil menawarkan bantuannya lagi.

Dibalas dengan senyuman oleh Dewi, kemudian kedua insane ini kembali mengenakan pakaian mereka kembali, setelah selesai Dewi mengantar Sugito kepintu dan memberikan kecupan dipipi Sugito sambil mengucapkan terimakasih lagi, setelah itu Dewi mengunci pintu dan menuju kekamar tidurnya.

Cerita Dewasa : Dewi – Andi, Anak Buah Suaminya

Cerita Dewasa : Dewi – Andi, Anak Buah Suaminya - Malam itu Dewi terlihat sedang menonton TV diruangan keluarga dengan hanya mengenakan daster warna putih berbahan satin, Dewi terlihat cantik dan sexy mengenakan daster itu, belahan payudaranya yang putih dan mulus terlihat jelas sekali karena daster satu talinya itu berbentuk V, sementara dibalik dasternya Dewi tidak mengenakan BH dan CD, kedua putingnya yang berwana merah mudapun terlihat menonjol di dasternya itu sementara bayangan hitam yang tipis diselangkangannya terbayang dengan jelas.

Cerita Dewasa : Dewi – Andi, Anak Buah Suaminya

Dewi memang masih muda umurnya sekarang ini baru 30tahun, dia menikah dengan suaminya pada saat ia berumur 20, sementara suaminya seorang duda beranak satu berumur 40tahun. Anak tirinya Doni sekarang ini berumur 18tahun. Sampai saat ini Dewi belum dapat memberikan keturunan kepada suaminya, mungkin ini yang membuat tubuh Dewi tetap sexy terutama kedua buah payudaranya yang masih kencang.

Hari ini suaminya memang pulang terlambat karena harus menjamu tamunya dan Doni sendiri menginap dirumah temannya, saat ini Dewi sendirian dirumah.

Malam semakin larut, hawa dingin karena hujan dan kesepian tanpa ada yang menemani ngobrol membuat Dewi mulai mengantuk, tanpa terasa Dewi mulai tertidur diatas sofa.

Jam didinding mulai menunjukkan tepat jam 1, sementara Dewi yang terlelap dalam tidurnya tidak menyadari daster yang menutupi tubuhnya sudah tidak menutupi tubuhnya secara sempurna, tali dasternya sudah tidak dipundaknya melainkan sudah berada ditangannya, ini membuat kedua payudaranya terlihat dengan jelas, sementara dibagian bawah sudah terangkat sehingga lembah kenikmatannya yang tertutupi oleh rambut hitampun terlihat dengan jelas.

Saat itu diluar Nampak sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Dewi, dari dalam mobil turun seorang pemuda berbadan atletis, pemuda ini kemudian membuka pintu belakang mobil, si pemudapun terlihat memasukkan setengah badannya kedalam mobil, selang tak lama si pemuda dengan agak setengah menyeret membantu keluar seorang pria setengah baya dalam kondisi mabuk sekali, setelah pria setengah baya itu berada diluar mobil, pemuda itu mulai memapah pria tersebut kearah pintu rumah Dewi sambil tak lupa menutup pintu mobil dan menguncinya.

Sampai didepan pintu, pemuda itu mengeluarkan kunci pintu dan membuka pintu itu sambil tetap memapah pria tersebut, sesampainya didalam pemuda itu tak lupa menutup pintu rumah dan menguncinya kembali, kemudian pemuda itu memapah pria tersebut menuju kamar tidur, saat berjalan menuju kamar tidur pemuda itu menghentikan langkahnya diruangan keluarga, matanya terbelalak melihat pemandangan yang membangkitkan birahi, dia melihat kedua payudara Dewi yang putih dan mulus juga lembah kenikmatannya yang tertutupi oleh rambut hitam, melihat itu semua sipemudapun menelan air liurnya berkali-kali sementara, bagian bawah tubuhnya perlahan-lahan mulai begrerak.

Tanpa membuang waktu lagi pemuda itu dengan cepat memapah tubuh bossnya yang mabuk berat kearah kamar tidur, yang memang tidak terlalu berjauhan dengan ruang keluarga, setelah merabhkan tubuh bossnya dan membuka sepatunya, pemuda itu keluar dari ruang tidur dan menutup pintunya, kemudian dia kembali menuju keruangan keluarga dimana Dewi masih terlelap dalam tidurnya, sesampainya didepan Dewi tanpa membuang waktu lagi pemuda itu mulai melepaskan baju, sepatu, celana dan celana dalamnya, sehingga tubuh atletisnya tidak mengenakan sehelai benangpun. Tampak kontol pemuda itu sudah berdiri dengan tegak sekali.

Perlahan-lahan pemuda itu mulai duduk disamping Dewi, kedua tangannya mulai meremas-remas kedua payudara Dewi, dengan penuh nafsu pemuda itu mulai menjilati putting susu Dewi dan kadang-kadang ditimpali dengan hisapan-hisapan, mulut bekerja tanganpun tidak mau ketinggalan, tangan yang satu meremas-remas payudara Dewi, dan yang satunya mulai mengelus-elus lembah kenikmatan Dewi, saat tangannya mulai menyentuh vagina Dewi, dia merasakan Vagina Dewi sudah basah, nampaknya Dewi sedang bermimpi dientot, kemudian pemuda itu mulai memasukkan jari tengahnya kedalam lubang Dewi yang sudah basah itu, dengan gerakan perlahan-lahan dikeluar masukkan jarinya itu dimemek Dewi. Seluruh aksinya itu membuat Dewi mulai mendesah keenakan, entah karena akibat aksi sipemuda atau karena dia sedang menikmati mimpinya.

Setelah merasakan memek Dewi semakin basah pemuda itu kemudian mengeluarkan jari tangannya, lalu ia mulai mengangkangkan kedua kaki Dewi dan mengarahkan kontolnya kememek Dewi, dengan perlahan-lahan sipemuda mulai mendesakkan kontolnya kelubang memek Dewi, sipemuda tidak mau terburu-buru memasukkan kontolnya dia takut Dewi terbangun, perlahan-lahan batang kontol sipemuda mulai masuk kedalam lubang memek Dewi, ia merasakan memek Dewi sangat sempit sekali, nampaknya memek Dewi jarang dipakai atau kemaluan suaminya kecil sehingga lubang memek Dewi masih sempit, sedikit demi sedikit kontolnya mulai terbenam dilubang memek Dewi, dengan gerakan perlahan sipemuda mulai menurunkan tubuhnya sehingga posisinya mulai menindih tubuh Dewi dan kedua tangannya mulai diselipkan ketubuh Dewi.

Sambil memeluk tubuh Dewi dengan cukup erat dan bibirnya mulai mengulum bibir Dewi, sipemuda membenamkan kontolnya dalam-dalam kedalam lubang memek Dewi, akibat gerakan itu Dewi tersentak dan terbangun dari tidurnya, matanya terbelalak saat melihat wajah sipemuda, tapi Dewi tidak bisa berteriak karena mulutnya sedang dilumat oleh sipemuda, Dewi merasakan bukan hanya mulutnya saja yand sedang dilumat tapi memeknya pun sedang disumpal oleh kontol sipemuda ini, dan Dewi mulai merasakan sipemuda menggerakkan kontolnya dilubang memeknya.

Bless…sleep…bleess…sleppp…bleess….sleeeppp..

Terlihat Mata Dewi yang tadinya terbelalak karena kaget perlahan-lahan mulai meredup sayu, nampaknya Dewi mulai merasakan kenikmatan dientot oleh sipemuda, Dewi mengenali sipemuda sebagai Andi salah seorang bawahan suaminya, yang dia tidak mengerti bagaimana Andi bisa masuk kedalam rumahnya dan bagaimana Andi bisa dengan bebasnya memasukkan kontolnya kedalam lubang memeknya, tetapi Dewi tidak mau berpikir banyak tentang hal itu yang ada dalam benaknya sekarang ini adalah menikmati sodokan kontol Andi.

“hmmhh….hhhmmmhhh….hhmmmhhhh” terdengar desahan dari mulut Dewi yang masih dilumat oleh Andi, karena AndI takut kalau ia lepaskan lumatannya Dewi akan berteriak.

Mata Dewi mulai merem melek menikmati sodokan-sodokan kontol Andi yang besar kalau dibandingkan dengan suaminya, melihat Dewi mulai menikmati entotannya Andi mulai berani melepaskan lumatan dibibir Dewi dan mulai menjilati leher dan telinga Dewi, aksinya ini semakin membuat desahan-desahan Dewi semakin menjadi.

“Ouuhhh……ssshhhhh…..aaahhhhh….Annddiiii…..kontoool llmuuuu…eenaakk sekali dan besar sshhhh…aaahhhh…” Dewi mendesah kenikmatan menikmati entotan Andi.

“Hmmhhhh…..slrrppp…..hmmmm….memek ibu juga eenaaakkk…oohhhh….sslrrpppp….seempiitt sekali … ooohhhh….slllrrpppp…..” Andi melenguh keenakan merasakan memek Dewi yang masih sempit sambil tetap menghisap-hisap payudara Dewi.

Dewi merasakan kenikmatan duniawi yang belum pernah ia alami sebelumnya, selama pernikahannya dengan suaminya belum pernah dia merasakan nikmatnya dientot, selama ini suaminya selalu mencapai kepuasan terlebih dahulu, sementara ia sendiri belum mencapai kepuasan, jangankan untuk mencapai klimaks, untuk merasakan keenakan saja Dewi belum pernah merasakannya, berbeda dengan saat ini saat memeknya disodok-sodok oleh kontol Andi yang memang dalam ukuran saja lebih besar dan lebih panjang dari punya suaminya, apalagi Andi masih muda.

Kedua insan ini sudah tidak ingat apa-apa lagi selain menikmati persetubuhan mereka yang semakin menggila, Andi semakin cepat mengeluar masukkan kontolnya didalam lubang memek Dewi yang semakin basah, sementara Dewi sendiri dengan semangat 45 menggoyangkan pantatnya mengimbangi gerakan Andi, keringat sudah mengalir dari kedua tubuh mereka.

“Ouughhh … Andi ….teruussss….ooughhh… enaaakkkk….sekaalliii….oughhhh….tekaaaann yang dalam, Oughhh….puaskaannn…akuuuu…..yaaahhh,…aaaahhhh”. Lenguhan Dewi semakin menjadi.

Andi mengikuti kemauan Dewi dengan menekan lebih dalam kontolnya dilubang memek Dewi, ia merasakan ujung kepala kontolnya menyentuh bagian paling dalam memek Dewi.

“Aaagghhh…akuuu..sudah tidak tahan laaagiiii…ouugghhhh…Anddiiiiii……aku mau keluar…ough enaaaaakkkk sekali kontollmuuuu…..aaaagghhhhhh…..Andi ….akuuu…keluaaarrrrr……… aaaaghhhhhhh.” Dewi mengerang.

Srrr…..cccreeet….ssssrrrrr…….. akhirnya Dewi mencapai puncak kenikmatannya, tubuhnya mengejang saat ia mencapai kepuasannya, vaginanya berdenyut-denyut saat mengeluarkan lahar kenikmatannya, Andi sendiri merasakan vagina Dewi seperti meremas-remas kontolnya, Andipun lalu menekan lebih dalam kontolnya dan membiarkan kontolnya terbenam sebentar didalam lubang memek Dewi.

Dewi memeluk erat-erat Andi, sementara kakinya ia kaitkan dengan erat dibelakang pinggul Andi, sehingga kontolnya Andi semakin terbenam dimemeknya, beberapa saat kemudian Dewi melepaskan pelukan dan kaitan kakinya ditubuh Andi, sementara diwajahnya terpancar kepuasan.

“Andi kamu betul-betul hebat, selama ini belum pernah saya mengalami nikmatnya mengentot,” Dewi berbisik ditelinga Andi.

“Saya juga merasa enak ngentot ibu, memek ibu sangat sempit. “ Andi menimpali bisikan Dewi, sambil dengan perlahan-lahan mulai memaju mundurkan lagi kontolnya.

“Hmmm…aahh..kamu belum keluar.” Dewi bertanya, karena ia merasakan kontol Andi masih keras. “Hmm..aku pikir kamu sudah selesai”.

“Belum, ibu masih mau lagi?” tanya Andi.

“Hmmm…memang kamu bisa buat aku puas lagi.” Dewi balik bertanya.

“He..he..kita coba saja, apa saya bisa buat ibu puas lagi atau tidak.” Jawab Andi sambil mulai mempercepat gerakannya, sementara tangannya mulai meremas-remas kedua bukit payudara Dewi.

“Kita tukar posisi, biar aku yang menggenjot kontolmu, sekarang kamu duduk.” Dewi menimpalinya, karena ia sendiri tidak mau membuang kesempatan ini.

Andi kemudian menarik tubuh Dewi tanpa melepaskan kontolnya dari lubang memek Dewi, dengan sedikit berputar Andipun lalu duduk disofa, sementara posisi Dewi sekarang sudah dipangkuannya, dengan posisi ini Andi lebih leluasa untuk bermain di susunya Dewi, kedua tangannya dengan penuh nafsu meremas-remas kedua bukit kembar Dewi, mulutnyapun ikutan beraksi, kedua putting susu Dewi bergiliran dijilati dan dikulum serta dihisap-hisap oleh Dewi, aksi Andi ini perlahan-lahan mulai membangkitkan kembali birahi Dewi, dengan perlahan-lahan Dewi mulai menaikturunkan pinggulnya, gesekan-gesekan kontol Andi didinding memeknya membuat birahinya kembali memuncak dengan cepat.

“Ouuughhh….Andiiiii……hiisaaaapppp….tteeeteeekkku…. .ooughhhh…yyaaachhh….begitu… aaaghhhh… kontolmu enak sekaaaliii…” Dewi mengerang sambil mempercepat gerakan naik turunnya.

“Klo mau keluar kamuuuuu….kkassiih…tahuuu…yaachhhh…..” Dewi berbisik di telinga Andi.

“Hmmhhh…ssslllrpppp…..hhmmmmhh….ok…..aaaagghhhhh., …….” Andi menjawab sambil tetap menghisap-hisap tetek Dewi.

Sleeppp…..blesss…sleeppp….bleesss….slleeepppp….ble essss….. kontol Andi terlihat keluar masuk dalam lubang memek Dewi dengan cepatnya, karena Dewi pinggul Dewi naik turun dengan cepat.

Dewi betul-betul menikmati persetubuhannya ini, gerakkannya semakin cepat dan semakin tak beraturan, lenguhan-lenguhan kenikmatan mereka berduapun semakin kerap terdengar, menikmati persetubuhan ini mereka berdua lupa dengan status mereka, dalam pikiran mereka hanya satu bagaimana mencapai kepuasan persetubuhan ini.

“Ouughhh…Andiiiiii……akkuuuu….mauuuuu,……keellluuaaa rrr…lagi…oooohhhhh….aaaagghhh enaaaakkkkk sssekkaaaaallliiii…..kontolmuuuu…” Dewi mengerang saat ia merasa bahwa ia akan mencapai lagi puncak kenikmatannya.

Sementara itu Andi juga merasa bahwa ia akan mencapai puncak kenikmatannya, Andipun membantu Dewi yang akan mencapai puncak kenikmatannya dengan memegang pinggul Dewi dan membantu menggerakkan pinggul Dewi naik turun dengan cepat.

“Ouuughhhhh…Buuu….aaakkkuuuu jugaaa…mau kelluaaaarrr…..aaaagghhhhhh….. memek ibuuuu… enaaakkk sekaaalliiiii……ooougghhhh….buuuu…aku gak taaahhaaannn…laagi.” Andipun mengerang merasakan puncak orgasmenya yang sudah diujung kepala kontolnya.

Creeetttt….creeeettt….sssrrr…..ccreeettt……..

Kontol Andi menyemprotkan airmaninya didalam lubang memek Dewi, berbarengan dengan memek Dewi menyemprotkan lahar kenikmatannya, Dewi merasakan hangatnya sperma Andi didinding lubang memeknya, sementara Andi merasakan hangat dibatang kontolnya karena disiram oleh lahar kenikmatan Dewi.

Keduanya berpelukan dengan erat menikmati saat-saat terakhir puncak kenikmatan dari persetubuhan mereka, kedua bibir mereka berpagutan dengan mesra, Dewi sendiri dengan perlahan-lahan menggoyangkan pinggulnya menikmati sisa-sisa kenikmatan dari kontol Andi.

Tak lama berselang Dewi beranjak dari pangkuan Andi, dari lubang memeknya terlihat cairan putih mulai mengalir perlahan, sementara kontol Andi yang mulai mengkerut tampak mengkilat karena cairan kenikmatan Dewi, keduanya kemudian beranjak menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah membersihkan diri keduanya kembali keruangan keluarga dan mulai mengenakan pakaian mereka, lalu Andi berpamitan pulang, ditimpali oleh Dewi dengan kecupan mesra dibibirnya, dan bisikan mesra ditelinganya, “ Terimakasih yach, atas malam yang indah ini”

Dibalas oleh Andi dengan senyuman dan kata-kata yang menggoda,” Kalau ibu ingin kenikmatan lagi, hubungi saya saja”

Dewipun tersenyum atas godaan Andi ini,” Pasti, “

Setelah Andi pulang, Dewi menuju kamar tidurnya, malam ini Dewi tidur dengan lelap dimulutnya terukir senyum kepuasan.
Support : Tante Alexa | Tante Alexa | Tante Alexa
Copyright © 2012. Tante Alexa - All Rights Reserved
Template ReCreated by Tante Alexa Published by Tante Alexa
Proudly powered by Blogger