Foto Hot Model Seksi Posisi Telungkup

TANTE ALEXA - Foto Hot Model Seksi Posisi Telungkup. Sayang... teman-teman Tante Alexa kadang-kadang aneh lo. Coba bayangkan deh, kok mau-maunya mereka di Foto Seksi, Hot bahkan Nakal posisi Telungkup atau tidur. Apa gak kasihan yah dadanya yang montok bahenol bila di pegang menggairahkan itu. Hmm... mending kamu deh di bawah si model seksi hot nan cantik itu. Kan kamu bisa sambil pencet kanan pencet kiri juga meremas-remasnya biar keenakan. Ya gak sih sayang...

Inilah Foto Hot Model Seksi Posisi Telungkup

Foto Hot Model Seksi Posisi Telungkup

Foto Hot Model Seksi Posisi Telungkup

Foto Hot Model Seksi Posisi Telungkup

Foto Hot Model Seksi Posisi Telungkup

Foto Hot Model Seksi Posisi Telungkup

Itulah Foto Hot Model Seksi Posisi Telungkup, by Tante Alexa.

Foto Hot Model Seksi Memperlihatkan Buah Dadanya

TANTE ALEXA - Foto Hot Model Seksi Memperlihatkan Buah Dadanya. Kembali teman-teman Tante Alexa yang berprofesi Model khusus pria dewasa ditampilkan disini. Sama juga tujuannya agar kamu tetap betaj dan senang juga bahagia. Ya sudah... kamu lihat saja yah. Diantara mereka suka nongol di Majalah Pria Dewasa Ibukota.

Inilah Foto Hot Model Seksi Memperlihatkan Buah Dadanya

Foto Hot Model Seksi Memperlihatkan Buah Dadanya

Foto Hot Model Seksi Memperlihatkan Buah DadanyaFoto Hot Model Seksi Memperlihatkan Buah Dadanya


Foto Hot Model Seksi Memperlihatkan Buah Dadanya, by Tante Alexa.

Cewek-Cewek Ini Hobby Nunjukin Pantat Montok

TANTE ALEXA - Cewek-Cewek Ini Hobby Nunjukin Pantat Montok. Tidak tahu tujuannya apa, yang jelas mereka-mereka ini suka sekali pamer pantatnya. Lihat saja Cewek-cewek di bawah ini. Baik itu ABG, tante-tante, sama aja. Tapi kamu suka kan melihatnya....

Inilah Foto Hot Cewek-Cewek Ini Hobby Nunjukin Pantat Montok

Cewek-Cewek Ini Hobby Nunjukin Pantat Montok
Cewek SPG pamerin pantatnya

Cewek-Cewek Ini Hobby Nunjukin Pantat Montok
Tidur saja pake nunjukin pantatnya.

Cewek-Cewek Ini Hobby Nunjukin Pantat Montok
Tante Seksi ini pose nunjukin pantatnya.

Itulah Cewek-Cewek Ini Hobby Nunjukin Pantat Montok. By Tante Alexa.

Foto Ayam Kampus Mejeng di Facebook

TANTE ALEXA - Foto Ayam Kampus Mejeng di Facebook. Sayang.... tahu gak sih kamu... kalao saat ini banyak bangat bertebaran Ayam Kampus. Padahal kan si Oom da pelihara banyak Ayam di belakang rumah. Masih aja seliweran kemana-mana. Anehnya nih... keluarnya suka malam-malam... Dasar Ayam Kampus doyannya juga Oom-oom... Capek deh sayang....

Lihat aja deh sayang Foto Ayam Kampus Mejeng di Facebook di bawah ini. Kamu pilih-pilih deh satu atau dua Ayamnya...ehh Ayam Kampusnya.

Inilah Foto Ayam Kampus Mejeng di Facebook

Foto Ayam Kampus Mejeng di Facebook

Foto Ayam Kampus Mejeng di Facebook

Foto Ayam Kampus Mejeng di Facebook

Foto Ayam Kampus Mejeng di Facebook

Foto Ayam Kampus Mejeng di Facebook

Foto Ayam Kampus Mejeng di Facebook by Tante Alexa.

Foto Tante-Tante Siap Menemanimu

TANTE ALEXA - Foto Tante-Tante Siap Menemanimu. Kamu jangan pernah kesepian ya sayang, karena tante selalu bersamamu. Meskipun Tante Alexa jauh... kamu akan ditemani oleh teman-teman tante yang seksi dan bahenol. Oleh karena itu, silahkan kamu lihat di bawah ini yah...

Inilah Foto Tante-Tante Siap Menemanimu

Foto Tante-Tante Siap Menemanimu

Foto Tante-Tante Siap Menemanimu

Foto Tante-Tante Siap Menemanimu

Foto Tante-Tante Siap Menemanimu by Tante Alexa.

Foto Tante Girang Sahabat Alexa

TANTE ALEXA - Foto Tante Girang Sahabat Alexa. Sahabat tante alexa ada dimana-mana. Bahkan dari kalangan manapun. Salah satunya adalah model-model cantik dan seksi di bawah ini. Ini Tante Alexa kasih ke kamu agar kamu senang dan bahagia. Biasalah, kamu kan jarang-jarang melihat model-model seksi teman tante.

Inilah Foto Tante Girang Sahabat Alexa

Foto Tante Girang Sahabat Alexa

Foto Tante Girang Sahabat AlexaFoto Tante Girang Sahabat Alexa


Foto Tante Girang Sahabat AlexaFoto Tante Girang Sahabat Alexa


Foto Tante Girang Sahabat Alexa by Tante Alexa.

Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

TANTE ALEXA - Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks. Nama akun facebooknya Ocha Queen. Dia suka mengajak orang untuk phone seks. Masalah itu akun milik Ocha sendiri atau bukan yah. Kali-kali aja akun facebook untuk menipu. Tapi bagi yang penasaran, silahkan aja deh cari di Facebook dengan Keyword OCHA QUEEN. Fotonya seperti di bawah ini.

Inilah Foto Seksi Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

Itulah Foto Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks, by Tante Alexa.

Cerita Dewasa : Kekasihku Permata Hatiku

TANTE ALEXA - Cerita Dewasa : Kekasihku Permata Hatiku. Katakanlah aku Fadly. Aku adalah laki-laki hampir setengah abad yang kuno. Masa mudaku kuhabiskan dengan menjadi aktivis dan aku pun memegang sebuah yayasan sebagai pengurus tetap. Aku menikah dengan istri yang kuno juga dan anakku sudah besar bahkan sudah ada yang kuliah dan bekerja. Aku sering mengajar (utusan yayasanku tentu saja). Banyak muridku dan kenalanku, aku pun sering berpergian ke segala penjuru tanah air. Begitu banyak wanita yang kutemui tetapi tidak pernah terlintas untuk melirik ke wanita lain.

Cerita Dewasa : Kekasihku Permata Hatiku
Sampai suatu hari, aku menemui seorang peserta di kelasku berwajah manis, kulit coklat tua, bertubuh tegap, memiliki payudara besar dan pantat yang kencang (belakangan aku tahu dia memang bekas olahragawati). Yang menjadi perhatianku adalah dia alim dan kalem serta serius sekali mengikuti pelajaran dan memang di akhir kursus dia menduduki ranking pertama di kelasnya dan nilai tertinggi selama 15 tahun pendidikan ini dilaksanakan. Dua tahun tidak kudengar kabarnya, sampai suatu saat kuketahui bahwa tulisan di buletin dengan nama "Dhei" yang selalu kuikuti adalah dia. Dan yang lebih kaget lagi ketika kami memerlukan seorang pengurus pusat yang kosong, 3 orang mengusulkan dia. Singkatnya, jadilah dia pengurus dan 2 tahun kemudian dia menikah serta memiliki seorang anak balita. Kami sering bersama-sama dan sering ke luar kota bersama (suaminya bekerja di kota lain) dan lama kelamaan kami bagaikan 2 orang sahabat, padahal usianya 15 tahun lebih muda. Kami saling berbagi cerita sampai akhirnya masalah sexualitas. Kukatakan padanya bahwa aku sering gagal dalam bercinta karena aku "peltu" (nempel metu), ejakulasi dini. Mendengar itu dia hanya tersenyum. Mungkin karena tekanan pekerjaanku dan banyaknya problem, aku merasa sudah 10 tahun menjadi "peltu".

Suatu hari di kota B, pengurus lain sudah tidur, kami masih mengobrol. Kulihat dia agak pincang, rupanya terkilir dan terlalu lelah. Kucoba mengurutnya sedikit di kamarnya, memang sakit luar biasa. Dhei sosok agak tomboy, gemar t-shirt dan celana pendek sewaktu santai. Setelah mengurut kakinya, dia melanjutkan bekerja dengan note-book sambil menonton TV, aku pun merasa ngantuk dan tanpa kusadari aku tertidur di kasurnya. Aku terbangun hampir 2 jam kemudian dengan posisi telungkup dan tanganku melingkar di pinggang Dhei (saat itu dia sudah di sampingku duduk menonton TV). Ketika tahu aku terbangun, dia menggodaku, "Mas Mas, maaf yang punya badan belum pulang kampung." Kami pun tertawa, tiba-tiba entah setan apa, aku duduk di sampingnya dan langsung kutarik wajahnya dan kukecup keningnya, perlahan-lahan turun ke bibirnya. Dhei membalas mengulum bibirku dengan lembut. Langsung darahku bergejolak karena aku ini cuma manusia kuno, berciuman pun jarang.

Dhei membuka celanaku perlahan-lahan dan dia pun membuka celananya. Kami masih sama-sama mengenakan t-shirt. Tiba-tiba aku teringat dengan "peltu"-ku dan benar saja, ketika penisku menempel pahanya, aku sudah mau meledak hingga akhirnya keluar dalam waktu hanya berciuman 2 menit. Betapa kecewanya aku, mungkin juga dia. Padahal penisku tidak kecil, diameter 3 cm, panjang 17 cm. Kusembunyikan wajahku di samping wajahnya (saat itu aku masih di atasnya), namun Dhei berkata sambil memelukku, "Mas, kita coba lagi yah, kapan-kapan, dalam suasana yang lebih rileks."

Tiga bulan kami tidak pernah membicarakan hal itu, hanya saja dia kelihatan ceria dan sering mencuri cium kepadaku. Aku senang melihat semangatnya, sampai suatu hari tiba saatnya kami harus ke luar kota lagi. Acara di sana 2 malam, tapi Dhei mengajakku untuk tinggal lebih lama dengan tanggungan sendiri tentunya. Dengan segala alasan, kami pun berpisah dengan rombongan. Dhei memilih hotel baik dan berbintang. Begitu kami sudah rileks di kamar, dia mengajakku untuk mandi sama-sama. Darahku mulai bergejolak lagi. Aku tidak pernah mandi dengan istriku kecuali ia menyekaku 1 kali waktu aku sakit. Aku disuruhnya ke kamar mandi lebih dahulu, setelah hampir 10 menit baru dia menyusul. Bagaikan memandikan seorang bayi, dia membersihkan setiap celah yang ada di tubuhku dan menyuruhku menggosok gigi. Dhei pun melakukan hal yang sama. Kurasakan penisku sudah menantang dan sudah ingin meledak lagi. Tetapi Dhei tidak menyentuhnya atau melakukan apapun yang bersifat merangsang. Seperti acuh tak acuh saja.

Keluar dari kamar mandi, aku terkejut karena sprei sudah diganti dengan bahan seperti perlak bahkan dilapisi lagi sebuah plastik yang diberi karet sudutnya seperti sprei agar bisa disangkutkan di kasur. Aku langsung bertanya, "Eyik, kamu mau bikin apa sama Mas?" Dhei hanya tersenyum dan berkata, "Mau bikin Mas Ai santai. Jangan khawatir, Eyik nggak akan bikin sakit, kok." Dhei mematikan AC dan membuka jendela (kami di lantai 11). Lalu aku direbahkannya, dia mengambil cream yang bila terkena air berbusa seperti sabun. Di samping tempat tidur sudah ada botol mineral 600 ML sebanyak 4 botol. Digosok-gosokkannya cream yang sudah terkena air ke tubuhku dan tubuhnya bagian depan. Aku hanya bertanya-tanya saja melihatnya.

Mulailah dia memijit dadaku dengan posisi berlutut di sampingku. Perlahan-lahan dikecupnya bibirku dan disedotnya dengan lembut bibirku. Caranya menyedot khas sekali, dengan bibir dalamnya dengan sedikit dimonyongkan bibirnya, tapi rasanya menggelitik sekali. Dimasukkannya lidahnya ke liang telingaku dan mengulum serta menyedot daun telingaku. "Mmmhh.." hanya itu saja yang keluar dari mulutku. Tiba-tiba, kedua lututnya diletakkan di samping tubuhku, dan Dhei memijit tubuh depanku dengan tubuhnya. Oh, aku merasakan kenikmatan awal. Dia melakukan gerakan bergesekan tubuh ke atas ke bawah (karena kami sama-sama dilumuri cream tadi), dan dia melumat bibirku. Payudaranya yang besar dan kenyal terasa sekali di dadaku. Baru saja aku hendak membalas melumat bibirnya, tiba-tiba Dhei berputar dan kini di hadapanku adalah bulu-bulu vaginanya. Disanggahnya tubuhnya dengan lututnya, sementara mulutnya sudah menghisap kemaluanku dan tangannya mengurut pahaku. Aku mulai mengerang karena penisku kejang dan mau meledak, rupanya Dhei mengetahui itu dan dikocoknya penisku dengan mulutnya sampai aku menjerit kecil dan orgasme. Dihisapnya sampai tidak setetespun tersisa.

Baru kusadari bahwa ini pengalaman pertamaku di usia setengah abad penisku dihisap. Dhei berdiri menggosok cream ke punggungnya dan meletakkan telapak kakiku di atas kasur serta memintaku menaikkan pinggulku. Kuturuti saja dan kejutan baru, dia meluncur ke bawah tubuhku dalam keadaan telungkup. Pantatnya me-massage-ku dari bawah, digoyangkannya dengan eksotik sekali. Punggungku seperti tidak bertulang lagi. Tangannya dilingkarkan ke tanganku ke atas kepala kami beberapa saat. Kemudian dilingkarkannya kakinya ke kakiku, dengan gerakan cepat, kami berbalik. Sekarang aku yang telungkup, dia di punggungku. Diraihnya sebotol air mineral, diteteskannya perlahan ke sela pantatku, maksudnya untuk dibersihkan. Setelah itu, "Ohh, Eyik.." dia memijat sela-sela pantatku dengan lidahnya, memijat lubang anusku sampai di bijiku. Dijilatinya balik ke atas. Disedotinya perlahan-lahan ke bawah, dan ke atas lagi. Spermaku berhamburan tidak tertahankan lagi di atas sprei plastik.

Lalu dia memintaku untuk berposisi menungging, dan dia meluncur lagi dari bawahku, kini dalam posisi berhadap-hadapan. Dengan suatu gerakan, kepala penisku (yang sudah tegang lagi), berada di bibir vaginanya. Naluri laki-lakiku datang dan langsung kugoyangkan pantatku sehingga penisku keluar masuk di vaginanya. Aku benar-benar menikmati dan tidak cepat orgasme lagi. Tiba-tiba didorongnya aku sedikit dan penisku keluar, dengan gerakan cepat aku ditolaknya ke kiri dan dia bergerak ke kananku. Kini kami berposisi melintang di tempat tidur, dalam keadaan 69, aku masih di atas. Aku sempat kehilangan kesadaran beberapa detik ketika kurasakan penisku sudah dijilati dan dihisapnya, sedangkan lututku sudah menyangga tubuhku. Aku tidak pernah menjilat vagina sebelumnya, tapi sekali itu, aku benar-benar buas memangsa vaginanya dan kudengar dia pun mendesah sambil mengangkat pinggulnya. Ternyata aku suka sekali rasa vaginanya. Klitorisnya yang kecil tapi menantang enak untuk digoda dengan lidahku. Kelihatannya Dhei mulai mengejang, dan perlahan-lahan dibaliknya tubuhku dan dia duduk di atas perutku. Diarahkannya penisku ke dalam vaginanya dan kami pun bercinta.

Diusapnya dadaku dengan air mineral, kemudian dengan keahlian menyedotnya, disedotinya puting susuku lembut dan bergantian. Tidak kusangka, ternyata ada rangsangan lain karena kukira puting laki-laki bukan penghantar rangsangan. "Mmmhh, Eyik.. geli sekali," itu saja yang kukatakan. Kuminta ia agar di bawah, dan gantian aku yang mengusap payudaranya dengan air mineral. Setelah itu kujilati dan kusedoti perlahan-lahan, dia mengerang dan dengan suara lirih sambil kami masih bercinta,
"Mas Ai nggak marah Eyik giniin?"
"Tentu saja tidak sayang, Mas bahkan nggak percaya bisa begini."
Suaraku semakin lirih dan ngos-ngosan. Dhei mulai mengejang dan mengerang, tapi katanya,
"Aku mau kita keluar sama-sama, Mas.. Eyik tahan-tahanin, ya?"
Akhirnya kami pun keluar bersamaan dan kami benar-benar letih. Kuusap dadanya, kekecup bibirnya. Tidak terasa kami sudah bermain-main selama 3 jam dan sejak sore itu, aku merasa kembali sebagai pejantan. Selama 3 hari 2 malam di sana, kami bercinta sekitar 10 kali.

Tidak terasa 1 tahun telah berlalu. Saat ini Dhei sedang berada di negeri Paman Sam karena dikirim kursus oleh kantornya selama 3 bulan dan baru berjalan 2 bulan. Aku sudah mulai uring-uringan karena kami biasa berhubungan sex minimal 5 kali seminggu. Dhei tidak pernah menanggapi e-mailku yang bernada porno kepadanya, jawabannya hanya seputar kursus dan tempat-tempat yang dikunjunginya. Aku mulai kesal dan karena usiaku yang sudah terbilang tidak muda lagi, aku pun merasa Dhei mulai meninggalkanku. Aku tidak pernah berhasil berhubungan sex dengan istriku, masalah "peltu" selalu terjadi lagi, padahal selalu berhasil dengan Dhei. Tibalah hari di mana aku sudah kesal luar biasa dan kutelepon Dhei dengan marah-marah, menuduhnya yang tidak-tidak, dan kukatakan bahwa aku tidak lagi mencintainya, dan sebagainya, padahal dia sedang di tengah diskusi. Dengan mesra dia menjawab, "Eyik tetap milik Mas, Eyik tetap sayang Mas, Eyik cuma sibuk." Spontan kuteriaki dia, "Bohong!" sambil kubanting teleponku.

Sekitar pukul 09.30 keesokan harinya, stafku mengantar seorang kurir yang katanya ada kiriman harus kuterima langsung. Punggung si kurir masih kelihatan meninggalkan ruangan, aku sudah berteriak gembira karena kekasihku mengirimi tiket dan tertulis, "Masih mau jemput Eyik pulang?" Luar biasa girang, dan segera kutelepon lagi dia. Baru sebut hallo dan "Ticket.." dia langsung menjawab, "Katakan lagi kalau Mas sudah tidak cinta Eyik.." Dan kami pun tertawa. Sudah 1 jam kutunggu dia di airport di negeri Paman Sam, sampai aku tertidur di bangkunya ketika sebuah kecupan hangat kurasakan di bibirku. Kekasihku sudah di hadapanku dengan sweater warna-warni dan topi warna cerah senada yang memberi kesan manis pada wajahnya. Tanpa pikir panjang kulumat habis bibirnya karena aku begitu merindukannya sampai dengan sedikit memaksa dia mengajakku ke mobil sewaannya.

Apartemen yang disewanya hanya memiliki 1 kamar tidur dengan 1 kamar mandi di kamar dan ruang tengah yang bersambung dengan dapur serta 1 toilet untuk tamu di dekat pintu masuk. Apartemen kecil tapi kelihatan ekslusive. Kulihat masakan yang sudah dingin. Rupanya pagi-pagi sekali dia sudah masak, dan pergi untuk menghadiri diskusi, makanya terlambat menjemputku. Sambil memanaskan makanan, kami mengobrol dan dia menanyakan kabar keluargaku dan anaknya (aku memang setiap hari mampir ke rumahnya untuk menengok anaknya). Selesai menyantap makanan yang lezat, seperti biasa dia memintaku untuk mandi. Aku pun memintanya untuk memandikanku. Disiapkannya air hangat di bak berendam dan kemudian pakaianku dilepaskan satu persatu.

Kerinduanku tak terbendungkan lagi. Langsung kulepas juga pakaiannya dan kudorong dia ke dinding kamar mandi. Kucium wajahnya, lehernya, puting susunya kugigit sampai dia merintih kesakitan. Kulumat-lumat payudaranya dan turun terus ke perutnya sambil terus kujilati dan kugigit. Aku masuk ke bak berendam yang bentuknya bulat dan merebahkan kepalaku ke pinggirannya sambil menarik tubuhnya. Dhei mengerti dan dia membuka kakinya sambil setengah berjongkok dan meletakkan vaginanya di atas mulutku untuk kujilati. Mendengar desahannya, semakin kubenamkan wajahku di antara selangkangannya. Kujilati klitorisnya sambil kusedot. Dhei meremas rambutku dan menarik berlawanan arah seolah-olah ingin melepaskannya, tapi aku semakin kuat menghisap vaginanya sampai akhirnya tubuhnya bergetar kuat dan kulepaskan karena dia sudah orgasme dan sudah habis kusedot cairannya. Belum puas kulampiaskan rinduku, dengan kasar dia kusetubuhi di dalam air. Air bak bergelombang dan sedikit luber karena goyangan tubuhku yang hot dan Dhei mengerang mesra sampai kami mencapai orgasme.

Selesai mandi, aku rebahan di tempat tidur. Diselimutinya dan dipijit-pijit punggungku. Kami masih sama-sama bugil dan dalam sekejap aku terlelap, letih karena perjalanan panjang. Aku terbangun 3 jam kemudian dan mencium harum kopi di meja samping tempat tidur. Rokokku pun ada di sana. Wajah manis itu sudah di hadapanku dengan t-shirt tipis dan celana pendek. Kukatakan kerinduanku dan Dhei menjawabku, "Mas Ai, selama kita di apartemen, Mas Ai tidak perlu pakaian karena badan Mas tidak akan kering". Aku masih memikirkan kata-katanya, Dhei mengambil sebuah toples berisi madu dengan pipet kecil yang unik. Dia mulai menanggalkan pakaiannya. Suhu di luar berkisar 12A,Az C, tetapi penghangat di kamar bekerja baik, sehingga aku merasa hangat walaupun tidak berpakaian seharian. Aku dimintanya telungkup, dan kurasakan punggungku ditetesi madu. Dibentuknya dua garis lurus dari bahuku sampai ke pergelangan kakiku. Setelah itu, madu itu dijilatinya mulai dari kaki perlahan-lahan ke atas.

Sambil menindihku, dikulumnya daun telingaku. Kurasakan bulu-buluku berdiri dan penisku mulai bereaksi. Kemudian direnggangkannya pantatku dan ditetesi beberapa tetes madu di sela-selanya untuk dijilatinya juga. Oh, permainan baru yang menyenangkan. Setelah selesai dengan punggungku, aku ditelentangkan. Kini badan bagian depanku ditetesi madu, seputar putingku, perut, pangkal paha, penis, sampai jari kakiku. Perlahan-lahan dikulumnya jari kakiku lalu naik ke paha. Langsung ke perut dan putingku. Dibersihkannya dengan lidahnya sampai ketika kusentuh tidak ada lagi bekas-bekas lengket. Ketiakku yang berbulu tidak begitu lebat juga dijilatinya sampai aku mengerang menahan geli bercampur nikmat. Aku hanya menutup mataku karena kegelianku.

Kini dia turun ke pangkal paha. Dipijatnya dengan lidahnya dan dikulumnya bijiku. Lalu perlahan-lahan dikulumnya penisku. Dijilat dan dikulum kepalanya bergantian sampai akhirnya dimasukkan total ke mulutnya. Lembut sekali bibirnya. Aku memang heran dengannya, Dhei selalu cool, masih muda tetapi tidak pernah menunjukkan bahwa dia menggebu-gebu. Tetapi permainannya, lebih lihai dari yang kutonton di film-film blue.

Dalam keadaan penis tegak menantang, Dhei mengajakku turun ke karpet dan menyandarkanku di tempat tidur. Kini Dhei di atasku memasukkan penisku ke vaginanya. Payudaranya yang besar di hadapanku dan sangat mengundang. Langsung kupegang kedua tangannya dan kuletakkan di balik pantatnya sehingga dadanya lebih membusung. Sambil naik-turun, payudaranya kuciumi dan kuhisap serta kugigit kecil dan kuremas-remas. Dhei mendesah dan menggigit bibirnya. Ketika aku sudah sangat tegang, tiba-tiba Dhei naik ke tempat tidur dalam posisi merangkak. Tanpa pikir panjang langsung kumasukkan penisku ke vaginanya tetapi ternyata dilepaskannya dan dimasukkan ke dalam anusnya. Aku bingung bercampur aduk, apalagi yang diinginkan sekarang, pikirku. Ternyata, enak sekali bermain dengan anusnya yang masih kencang. Cukup lama sampai aku rasa ada yang mendorong dengan cepat di penisku. Seketika itu juga Dhei berlutut menghadap penisku dan membuka mulutnya. Spermaku langsung menyembur ke mulutnya dan membasahi dagu serta dadanya dan aku pun terkulai.

Sekitar 15 menit kemudian, Dhei mengajakku bilas. Dibilasinya tubuhku dan penisku. Setelah itu dia menggandengku ke arah dapur (kami masih bugil). Meja dapurnya terbuat dari batu dan permanen. Dhei duduk di atas meja dan aku duduk di kursi. Diletakkannya kakinya di atas kedua pahaku. Melihat posisinya, penisku pun langsung bereaksi. Kuhisap lagi payudaranya. Kumain-mainkan dengan lidahku cukup lama. Dia memelukku dan sesekali membungkuk mengulum telingaku. Nafasnya mulai memburu membuat dadanya semakin busung naik-turun. Lalu kakinya kuangkat dan kulipat, kuletakkan di atas meja menempel dengan pantatnya. Kini giliran vaginanya yang kulumat-lumat dan kusedot cairannya. Penisku mengeras lagi. Melihat Dhei meronta kenikmatan, langsung aku berdiri dan kutindih perlahan tubuhnya. Tangannya meraih penisku dan dikocok pelan-pelan sambil dimasukkan ke vaginanya. Kami bercinta lagi di dapur dengan hot dan sama-sama mengerang lebih berisik. Kali ini kami lepas erangan kami dan kerinduan kami dengan berbagai posisi di meja dapur dan tidak terasa sudah hampir tengah malam ketika kami sama-sama meledak dan mandi keringat. Aku bahagia karena sanggup bertahan lebih dari 1 jam.

Dua puluh hari kutemani Dhei di sana sampai selesai kursusnya. Aku benar-benar heran melihat Dhei, kursus, mengerjakan tugas, belajar dan bercinta, tidur hanya 4 jam. Belum lagi berbelanja, memasak dan mencuci pakaian kami. Sesekali Dhei berenang, di apartemennya ada kolam renang. Entah dari mana tenaga yang dimilikinya, seperti tidak kenal lelah dan selalu bersemangat. Aku selalu di dekatnya dan kuamati apa yang dimakannya. Memang makanan sehat semua. Tepat 14 hari di sana, kuhitung kami sudah bercinta sebanyak 70 kali dan sisa 6 hari berikutnya, sudah tidak kuhitung lagi. Kini hubungan kami sudah berjalan 3 tahun, Dhei adalah kekasihku dan permata hatiku yang sangat kucintai. Dhei telah menumbuhkan kepercayaan bahwa aku tidak punya kekurangan soal sex dan aku pun berharap dapat tetap memilikinya walaupun dengan cara seperti ini.

Cerita Dewasa : Guruku Liar Sekali

TANTE ALEXA - Cerita Dewasa : Guruku Liar Sekali. Ini pengalaman kencan seksku sebelum aku mengenal internet, tepatnya ketika aku masih duduk di bangku SMA. Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih menginjak 19-20 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak. Tepatnya, Mbak Yani. Mau tahu ceritanya?

*****

Cerita Dewasa : Guruku Liar Sekali
Sore itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku diminta datang ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan listrik rumahnya yang rusak.

"Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani," ujar anak SD tetangga Mbak Yani.

Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu, kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan rumah tangganya. Yang jelas, semenjak dia mengajaku melukis pergi ke lereng gunung dan making love di semak-semak hutan, Mbak Yani makin sering mengajakku pergi. Dan sore ini dia memintaku datang ke rumahnya lagi.

Tanpa banyak pikir aku langsung berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Maklum, rumahnya terbilang cukup jauh, sekitar 5km dari rumahku. Setibanya di rumah Mbak Yani, suasana sepi. Keluarganya tampaknya sedang pergi. Betul, ketika aku mengetuk pintu, hanya Mbak Yani yang tampak.

"Ayo, cepet masuk. Semua keluargaku sedang pergi menghadiri acara hajatan saudara di luar kota," sambut Mbak Yani sambil menggandeng tangganku.

Darahku mendesir ketika membuntuti lamngkah Mbak Yani. Betapa tidak, pakaian yang dikenakan luar biasa sexy, hanya sejenis daster pendek hingga tonjolan payudara dan pahanya terasa menggoda.

"Anu, Bud.. Listrik rumahku mati melulu. Mungkin ada ada kabel yang konslet. Tolong betulin, ya.. Kau tak keberatan kan," pinta Mbak Yani kemudian.

Tanpa banyak basa-basi Mbak Yani menggandengku masuk ke ruang tengah, kemudian masuk ke sebuah kamar.

"Nah saya curiga jaringan di kamar ini yang rusak. Buruan kau teliti ya. Nanti keburu mahrib."

Aku hanya menuruti segala permintaannya. Setelah merunut jaringan kabel, akhirnya aku memutuskan untuk memanjat atap kamar melalui ranjang. Tapi aku tidak tahu persis, kamar itu tempat tidur siapa. Yang jelas, aku sangat yakin itu bukan kamarnya bapak-ibunya. Celakanya, ketika aku menelusuri kabel-kabel, aku belum menemukan kabel yang lecet. Semuanya beres. Kemudian aku pindah ke kamar sebelah. Aku juga tak bisa menemukan kabel yang lecet. Kemudian pindah ke kamar lain lagi, sampai akhirnya aku harus meneliti kamar tidur Mbak Yani sendiri, sebuah kamar yang dipenuhi dengan aneka lukisan sensual. Celakanya lagi, ketika hari telah gelap, aku belum bisa menemukan kabel yang rusak. Akibatnya, rumah Mbak Yani tetap gelap total. Dan aku hanya mengandalkan bantuan sebuah senter serta lilin kecil yang dinyalakan Mbak Yani.

Lebih celaka lagi, tiba-tiba hujan deras mengguyur seantero kota. Tidak-bisa tidak, aku harus berhenti. Maunya aku ingin melanjutkan pekerjaan itu besok pagi.

"Wah, maaf Mbak aku tak bisa menemukan kabel yang rusak. Ku pikir, kabel bagian puncak atap rumah yang kurang beres. Jadi besok aku harus bawa tangga khusus," jelasku sambil melangkah keluar kamar.
"Yah, tak apa-apa. Tapi sorry yah. Aku.. Merepotkanmu," balas Mbak Yanti, "Itu es tehnya diminum dulu."

Sementara menunggu hujan reda, kami berdua bercakap-cakap berdua di ruang tengah. Cukup banyak cerita-cerita masalah pribadi yang kami tukar, termasuk hubunganku dengan Mbak Yani selama ini. Mbak Yani juga tidak ketinggalan menanyakan soal puisi indah tulisannya yang dia kirimkan padaku lewat kado ulang tahunku beberapa bulan lalu.

Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu nada percakapan kami berubah mesra dan menjurus ke arah yang menggairahkan jiwa. Bahkan, Mbak Yani tak segan-segan membelai wajahku, mengelus telingku dan seterusnya. Tak sadar, tubuh kami berdua jadi berhimpitan hingga menimbulkan rangsangan yang cukup berarti untukku. Apalagi setelah dadaku menempel erat pada payudaranya yang berukuran tidak begitu besar namun bentuknya indah dan kencang. Dan tak ayal lagi, penisku pun mulai berdiri mengencang. Aku tak sadar, bahwa aku sudah terangsang oleh guru sekolahku sendiri! Namun hawa nafsu birahi yang mulai melandaku sepertinya mengalahkan akal sehatku. Mbak Yani sendiri juga tampaknya memiliki pikiran yang saja. Ia tidak henti-hentinya mengulumi bibirku dengan nafsunya.

Akhirnya, nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Sementara bibirku dan Mbak Yani masih tetap saling memagut, tanganku mulai menggerayangi tubuh guru sekolahku itu. Kujamah gundukan daging kembar yang menghiasi dengan indahnya dada Mbak Yani yang masih berpakaian lengkap. Dengan segera kuremas-remas bagian tubuh yang sensitif tersebut.

"Aaah.. Budi.. Aah.." Mbak Yani mulai melenguh kenikmatan. Bibirnya masih tetap melahap bibirku.

Mengetahui Mbak Yani tidak menghalangiku, aku semakin berani. Remasan-remasan tanganku pada payudaranya semakin menjadi-jadi. Sungguh suatu kenikmatan yang baru pertama kali kualami meremas-remas benda kembar indah nan kenyal milik guru sekolahku itu. Melalui kain blus yang dikenakan Mbak Yani kuusap-usap ujung payudaranya yang begitu menggiurkan itu. Tubuh Mbak Yani mulai bergerak menggelinjang.

"Uuuhh.. Mbak.." Aku mendesah saat merasakan ada jamahan yang mendarat di selangkanganku.

Penisku pun bertambah menegang akibat sentuhan tangan Mbak Yani ini, membuatku bagian selangkangan celana panjangku tampak begitu menonjol. Mbak Yani juga merasakannya, membuatnya semakin bernafsu meremas-remas penisku itu dari balik celana panjangku. Nafsu birahi yang menggelora nampaknya semakin menenggelamkan kami berdua, sehingga membuat kami melupakan hubungan kami sebagai guru-murid.

"Aaauuhh.. Bud.. Uuuh.." Mbak Yani mendesis-desis dengan Yanirnya karena remasan-remasan tanganku di payudaranya bukannya berhenti, malah semakin merajalela. Matanya terpejam merasa kenikmatan yang begitu menghebat.

Tanganku mulai membuka satu persatu kancing blus Mbak Yani dari yang paling atas hingga kancing terakhir. Lalu Mbak Yani sendiri yang menanggalkan blus yang dikenakannya itu. Aku terpana sesaat melihat tubuh guru sekolahku itu yang putih dan mulus dengan payudaranya yang membulat dan bertengger dengan begitu indahnya di dadanya yang masih tertutup beha katun berwarna krem kekuningan. Tetapi aku segera tersadar, bahwa pemandangan amboi di hadapannya itu memang tersedia untukku, terlepas itu milik guru sekolahku sendiri.

Tidak ingin membuang-buang waktu, bibirku berhenti menciumi bibir Mbak Yani dan mulai bergerak ke bawah. Kucium dan kujilati leher jenjang Mbak Yani, membuatnya menggerinjal-gerinjal sambil merintih kecil. Sementara itu, tanganku kuselipkan ke balik beha Mbak Yani sehingga menungkupi seluruh permukaan payudara sebelah kanannya. Puting susunya yang tinggi dan mulai mengeras begitu menggelitik telapak tanganku. Segera kuelus-elus puting susu yang indah itu dengan telapak tanganku. Kepala Mbak Yani tersentak menghadap ke atas sambil memejamkan matanya. Tidak puas dengan itu, ibu jari dan telunjukku memilin-milin puting susu Mbak Yani yang langsung saja menjadi sangat keras. Memang baru kali ini aku menggeluti tubuh indah seorang wanita. Namun memang insting kelelakianku membuatku seakan-akan sudah mahir melakukannya.

"Uhh.. Hmm ahh.." Mbak Yani tidak dapat menahan desahan-desahan nafsunya.

Segala gelitikan jari-jemariku yang dirasakan oleh payudara dan puting susunya dengan bertubi-tubi, membuat nafsu birahinya semakin membulak-bulak.

Kupegang tali pengikat beha Mbak Yani lalu kuturunkan ke bawah. Kemudian beha itu kupelorotkan ke bawah sampai ke perut Mbak Yani. Puting susu Mbak Yani yang sudah begitu mengeras itu langsung mencelat dan mencuat dengan indahnya di depanku. Aku langsung saja melahap puting susu yang sangat menggiurkan itu. Kusedot-sedot puting susu Mbak Yani. Kuingat masa kecilku dulu saat masih menyusu pada payudara ibuku. Bedanya, tentu saja payudara guru sekolahku ini belum dapat mengeluarkan air susu. Mbak Yani menggeliat-geliat akibat rasa nikmat yang begitu melanda kalbunya. Lidahku dengan mahirnya, tak ayal menggelitiki puting susunya sehingga pentil yang sensitif itu melenting ke kiri dan ke kanan terkena hajaran lidahku.

"Oooh. Buud' desahan Mbak Yani semakin lama bertambah keras. Untung saja rumahnya sedang sepi dan letaknya memang agak berjauhan dari rumah yang paling dekat, sehingga tidak mungkin ada orang yang mendengarnya.

Belum puas dengan payudara dan puting susu Mbak Yani yang sebelah kiri, yang sudah basah berlumuran air liurku, mulutku kini pindah merambah bukit membusung sebelah kanan. Apa yang kuperbuat pada belahan indah sebelah kiri tadi, kuperbuat pula pada yang sebelah kanan ini. Payudara sebelah kanan milik guru sekolahku yang membulat indah itu tak luput menerima jelajahan mulutku dengan lidahnya yang bergerak-gerak dengan Yanirnya. Kukulum ujung payudara Mbak Yani. Lalu kujilati dan kugelitiki puting susunya yang tinggi. Puting susu itu juga sama melenting ke kiri dan ke kanan, seperti halnya puting susu payudaranya yang sebelah kiri tadi. Mbak Yani pun semakin merintih-rintih karena merasakan geli dan nikmat yang menjadi-jadi berbaur menjadi satu padu. Seperti tengah minum soft drink dengan memakai sedotan plastik, kuseruput puting susu guru sekolahku itu.

"Aaahh.. Hmm.." Mbak Yani menjerit panjang.

Lidahku tetap tak henti-hentinya menjilati puting susu Mbak Yani yang sudah demikian kerasnya. Sementara itu tanganku mulai bergerak ke arah bawah. Kubuka retsleting celana jeans yang Mbak Yani kenakan. Kemudian dengan sedikit dibantunya sambil tetap merem-melek, kutanggalkan celana jeans itu ke bawah hingga ke mata kaki. Tubuh bagian bawah Mbak Yani sekarang hanya dilindungi oleh selembar celana dalam dengan bahan dan warna yang seragam dengan behanya. Meskipun begitu, tetap dapat kulihat warna kehitaman samar-samar di bagian selangkangannya.

Ditunjang oleh nafsu birahi yang semakin menjulang tinggi, tanpa berpikir panjang lagi, kulepas pula kain satu-satunya yang masih menutupi tubuh Mbak Yani yang memang sintal itu. Dan akhirnya tubuh mulus guru sekolahku itu pun terhampar bugil di depanku, siap untuk kunikmati.

Tak ayal, jari tengahku mulai menjamah bibir vagina Mbak Yani di selangkangannya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis kehitaman walaupun belum begitu banyak. Kutelusuri sekujur permukaan bibir vagina itu secara melingkar berulang-ulang dengan lembutnya. Tubuh Mbak Yani yang masih terduduk di sofa melengkung ke atas dibuatnya, sehingga payudaranya semakin membusung menjulang tinggi, yang masih tetap dilahap oleh mulut dan bibirku dengan tanpa henti.

"Ooohh..

Jari tengahku itu berhenti pada gundukan daging kecil berwarna kemerahan yang terletak di bibir vagina Mbak Yani yang mulai dibasahi cairan-cairan bening. Mula-mula kuusap-usap daging kecil yang bernama klitoris ini dengan perlahan-lahan. Lama-kelamaan kunaikkan temponya, sehingga usapan-usapan tersebut sekarang sudah menjadi gelitikan, bahkan tak lama kemudian bertambah lagi intensitasnya menjadi sentilan. Klitoris Mbak Yani yang bertambah merah akibat sentuhan jariku yang bagaikan sudah profesional, membuat tubuh pemiliknya itu semakin menggerinjal-gerinjal tak tentu arahnya.

Melihat Mbak Yani yang tampak semakin merangsang, aku menambah kecepatan gelitikanku pada klitorisnya. Dan akibatnya, klitoris Mbak Yani mulai membengkak. Sementara vaginanya pun semakin dibanjiri oleh cairan-cairan kenikmatan yang terus mengalir dari dalam lubang keramat yang masih sempit itu.

Puas menjelajahi klitoris Mbak Yani, jari tengahku mulai merangsek masuk perlahan-lahan ke dalam vagina guru sekolahku itu. Setahap demi setahap kumasukkan jariku ke dalam vaginanya. Mula-mula sebatas ruas jari yang pertama. Dengan susah payah memang, sebab vagina Mbak Yani memang masih teramat sempit. Kemudian perlahan-lahan jariku kutusukkan lebih dalam lagi. Pada saat setengah jariku sudah amblas ke dalam vagina Mbak Yani, terasa ada hambatan. Seperti adanya selaput yang cukup lentur.

"Hmm.. Bud.."

Mbak Yani merintih kecil seraya meringis seperti menahan rasa sakit. Saat itu juga, aku langsung sadar, bahwa yang menghambat penetrasi jari tengahku ke dalam vagina Mbak Yani adalah selaput daranya yang masih utuh. Ternyata guru sekolahku satu-satunya itu masih perawan. Baru aku tahu, ternyata sebandel-bandelnya Mbak Yani, ternyata guru sekolahku itu masih sanggup memelihara kehormatannya. Aku sedikit salut padanya. Dan untuk menghargainya, aku memutuskan tidak akan melanjutkan perbuatanku itu.

"Bud.. Jangan berhenti.." tanya Mbak Yani dengan nafas terengah-engah.
"Mbak, Mbak kan masih perawan. Nanti kalau aku terusin kan Mbak bisa.."

Mbak Yani malah menjulurkan tangannya menggapai selangkanganku. Begitu tangannya menyentuh ujung penisku yang masih ada di dalam celana pendek yang kupakai, penisku yang tadinya sudah mengecil, sontak langsung bergerak mengeras kembali. Ternyata sentuhan lembut tangannya itu berhasil membuatku terangsang kembali, membuatku tidak dapat membantah apapun lagi, bahkan aku seperti melupakan apa-apa yang kukatakan barusan.

Dengan secepat kilat, Mbak Yani memegang kolor celana pendekku itu, lalu dengan sigap pula celanaku itu dilucutinya sebatas lutut. Yang tersisa hanya celana dalamku. Mata Mbak Yani tampak berbinar-binar menyaksikan onggokan yang cukup besar di selangkanganku. Diremas-remasnya penisku dengan tangannya, membuat penisku itu semakin bertambah keras dan bertambah panjang. Kutaksir panjangnya sekarang sudah bertambah dua kali lipat semula. Bukan main! Semua ini akibat rangsangan yang kuterima dari guru sekolahku itu sedemikian hebatnya.

"Mbak.. Aku buka dulu ya," tanyaku sambil menanggalkan celana dalamku.

Penisku yang sudah begitu tegangnya seperti meloncat keluar begitu penutupnya terlepas.

"Aw!" Mbak Yani menjerit kaget melihat penisku yang begitu menjulang dan siap tempur.

Namun kemudian ia meraih penisku itu dan perlahan-lahan ia menggosok-gosok batang 'meriam'-ku itu, sehingga membuat otot-otot yang mengitarinya bertambah jelas kelihatan dan batang penisku itu pun menjadi laksana tonggak yang kokoh dan siap menghujam siapa saja yang menghalanginya. Kemudian Mbak Yani menarik penisku dan membimbingnya menuju selangkangannya sendiri. Diarahkannya penisku itu tepat ke arah lubang vaginanya.

Sekilas, aku seperti sadar. Astaga! Mbak Yani kan guru sekolahku sendiri! Apa jadinya nanti jika aku sampai menyetubuhinya? Apa kata orang-orang nanti mengetahui aku berhubungan seks dengan guru sekolahku sendiri? Akhirnya aku memutuskan tidak akan melakukan penetrasi lebih jauh ke dalam vagina Mbak Yani. Kutempelkan ujung penisku ke bibir vagina Mbak Yani, lalu kuputar-putar mengelilingi bibir gua tersebut. Mbak Yani menggerinjal-gerinjal merasakan sensasi yang demikian hebatnya serta tidak ada duanya di dunia ini.

"Aaahh.. Uuuhh.." Mbak Yani mendesah-desah dengan Yanirnya sewaktu aku sengaja menyentuhkan penisku pada klitorisnya yang kemerahan dan kini kembali membengkak. Sementara bibirku masih belum puas-puasnya berpetualang di payudara Mbak Yani itu dengan puting susunya yang menggairahkan. Terlihat payudara guru sekolahku itu dan daerah sekitarnya basah kuyup terkena jilatan dan lumatanku yang begitu menggila, sehingga tampak mengkilap.

Aku perlahan-lahan mulai memasukkan batang penisku ke dalam lubang vagina Mbak Yani. Sengaja aku tidak mau langsung menusukkannya. Sebab jika sampai kebablasan, bukan tidak mungkin dapat mengoyak selaput daranya. Aku tidak mau melakukan perbuatan itu, sebab bagaimanapun juga Mbak Yani adalah guru sekolahku, darah dagingku sendiri!

Mbak Yani mengejan ketika kusodokkan penisku lebih dalam lagi ke dalam vaginanya. Sewaktu kira-kira penisku amblas hampir setengahnya, ujung 'tonggak'-ku itu ternyata telah tertahan oleh selaput dara Mbak Yani, sehingga membuatku menghentikan hujaman penisku itu. Segera saja kutarik penisku perlahan-lahan dari liang surgawi milik guru sekolahku itu. Gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku dengan dinding lorong vagina Mbak Yani membuatku meringis-ringis menahan rasa nikmat yang yang tak terhingga. Baru kali ini aku merasakan sensasi seperti ini. Lalu, kembali kutusukkan penisku ke dalam vagina Mbak Yani sampai sebatas selaput daranya lagi dan kutarik lagi sampai hampir keluar seluruhnya.

Begitu terus kulakukan berulang-ulang memasukkan dan mengeluarkan setengah batang penisku ke dalam vagina Mbak Yani. Dan temponya pun semakin lama semakin kupercepat. Gesekan-gesekan batang penisku dengan Yaning vagina Mbak Yani semakin menggila. Rasanya tidak ada lagi di dunia ini yang dapat menandingi kenikmatan yang sedang kurasakan dalam permainan cintaku dengan guru sekolahku sendiri ini. Kenikmatan yang pertama dengan kenikmatan berikutnya, disambung dengan kenikmatan selanjutnya lagi, saling susul-menyusul tanpa henti.

Tampaknya setan mulai merajalela di otakku seiring dengan intensitas gesekan-gesekan yang terjadi di dalam vagina Mbak Yani yang semakin tinggi. Kenikmatan tiada taranya yang serasa tidak kesudahan, bahkan semakin menjadi-jadi membuat aku dan Mbak Yani menjadi lupa segala-galanya. Aku pun melupakan semua komitmenku tadi.

Dalam suatu kali saat penisku tengah menyodok vagina Mbak Yani, aku tidak menghentikan hujamanku itu sebatas selaput daranya seperti biasa, namun malah meneruskannya dengan cukup keras dan cepat, sehingga batang penisku amblas seluruhnya dalam vagina Mbak Yani. Vaginanya yang amat sempit itu berdenyut-denyut menjepit batang penisku yang tenggelam sepenuhnya.

Mbak Yani menjerit cukup keras kesakitan. Tetapi aku tidak menghiraukannya. Sebaliknya aku semakin bernafsu untuk memompa penisku itu semakin dalam dan semakin cepat lagi penetrasi di dalam vagina Mbak Yani. Tampaknya rasa sakit yang dialami guru sekolahku itu tidak membuat aku mengurungkan perbuatan setanku. Bahkan genjotan penisku ke dalam lubang vaginanya semakin menggila. Kurasakan, semakin cepat aku memompa penisku, semakin hebat pula gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku itu dengan dinding vagina Mbak Yani, dan semakin tiada tandingannya kenikmatan yang kurasakan.

Hujaman-hujaman penisku ke dalam vagina Mbak Yani terus-menerus terjadi sambung-menyambung. Bahkan tambah lama bertambah tinggi temponya. Mbak Yani tidak sanggup berbuat apa-apa lagi kecuali hanya menjerit-jerit tidak karuan. Rupa-rupanya setan telah menguasai jiwa kami berdua, sehingga kami terhanyut dalam perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh dua guru dan murid.

"Aaah.. Budi.. Aaahh.." Mbak Yani menjerit panjang.

Tampaknya ia sudah seakan-akan terbang melayang sampai langit ketujuh. Matanya terpejam sementara tubuhnya bergetar dan menggelinjang keras. Peluh mulai membasahi tubuh kami berdua. Kutahu, guru sekolahku itu sudah hampir mencapai orgasme. Namun aku tidak mempedulikannya. Aku sendiri belum merasakan apa-apa. Dan lenguhan serta jeritan Mbak Yani semakin membuat tusukan-tusukan penisku ke dalam vaginanya bertambah menggila lagi. Mbak Yani pun bertambah keras jeritan-jeritannya. Pokoknya suasana saat itu sudah gaduh sekali. Segala macam lenguhan, desahan, ditambah dengan jeritan berpadu menjadi satu.

Akhirnya kurasakan sesuatu hampir meluap keluar dari dalam penisku. Tetapi ini tidak membuatku menghentikan penetrasiku pada vagina Mbak Yani. Tempo genjotan-genjotan penisku juga tidak kukurangi. Dan akhirnya setelah rasanya aku tidak sanggup menahan orgasmeku, kutarik penisku dari dalam vagina Mbak Yani secepat kilat. Kemudian dengan tempo yang tinggi, kugosok-gosok batang penisku itu dengan tanganku. Tak lama kemudian, cairan-cairan kental berwarna putih bagaikan layaknya senapan mesin bermuncratan dari ujung penisku. Sebagian mengenai muka Mbak Yani. Ada pula yang mengenai payudara dan bagian tubuhnya yang lain. Bahkan celaka! Ada pula yang belepotan di jok sofa yang diduduki Mbak Yani.

Tak lama kemudian, kami saling mengejang-ngejang ke puncak kepuasan bersama hingga kehabisan tenaga. Aku terhempas ke atas sofa di samping Mbak Yani. Tubuh kami berdua sudah bermandikan keringat dari ujung rambut ke ujung kaki.

Hmm begitu indahnya guruku..
Support : Tante Alexa | Tante Alexa | Tante Alexa
Copyright © 2012. Tante Alexa - All Rights Reserved
Template ReCreated by Tante Alexa Published by Tante Alexa
Proudly powered by Blogger