Foto Tante Girang Sahabat Alexa

TANTE ALEXA - Foto Tante Girang Sahabat Alexa. Sahabat tante alexa ada dimana-mana. Bahkan dari kalangan manapun. Salah satunya adalah model-model cantik dan seksi di bawah ini. Ini Tante Alexa kasih ke kamu agar kamu senang dan bahagia. Biasalah, kamu kan jarang-jarang melihat model-model seksi teman tante.

Inilah Foto Tante Girang Sahabat Alexa

Foto Tante Girang Sahabat Alexa

Foto Tante Girang Sahabat AlexaFoto Tante Girang Sahabat Alexa


Foto Tante Girang Sahabat AlexaFoto Tante Girang Sahabat Alexa


Foto Tante Girang Sahabat Alexa by Tante Alexa.

Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

TANTE ALEXA - Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks. Nama akun facebooknya Ocha Queen. Dia suka mengajak orang untuk phone seks. Masalah itu akun milik Ocha sendiri atau bukan yah. Kali-kali aja akun facebook untuk menipu. Tapi bagi yang penasaran, silahkan aja deh cari di Facebook dengan Keyword OCHA QUEEN. Fotonya seperti di bawah ini.

Inilah Foto Seksi Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks

Itulah Foto Ocha ABG Seksi Suka Phone Seks, by Tante Alexa.

Cerita Dewasa : Kekasihku Permata Hatiku

TANTE ALEXA - Cerita Dewasa : Kekasihku Permata Hatiku. Katakanlah aku Fadly. Aku adalah laki-laki hampir setengah abad yang kuno. Masa mudaku kuhabiskan dengan menjadi aktivis dan aku pun memegang sebuah yayasan sebagai pengurus tetap. Aku menikah dengan istri yang kuno juga dan anakku sudah besar bahkan sudah ada yang kuliah dan bekerja. Aku sering mengajar (utusan yayasanku tentu saja). Banyak muridku dan kenalanku, aku pun sering berpergian ke segala penjuru tanah air. Begitu banyak wanita yang kutemui tetapi tidak pernah terlintas untuk melirik ke wanita lain.

Cerita Dewasa : Kekasihku Permata Hatiku
Sampai suatu hari, aku menemui seorang peserta di kelasku berwajah manis, kulit coklat tua, bertubuh tegap, memiliki payudara besar dan pantat yang kencang (belakangan aku tahu dia memang bekas olahragawati). Yang menjadi perhatianku adalah dia alim dan kalem serta serius sekali mengikuti pelajaran dan memang di akhir kursus dia menduduki ranking pertama di kelasnya dan nilai tertinggi selama 15 tahun pendidikan ini dilaksanakan. Dua tahun tidak kudengar kabarnya, sampai suatu saat kuketahui bahwa tulisan di buletin dengan nama "Dhei" yang selalu kuikuti adalah dia. Dan yang lebih kaget lagi ketika kami memerlukan seorang pengurus pusat yang kosong, 3 orang mengusulkan dia. Singkatnya, jadilah dia pengurus dan 2 tahun kemudian dia menikah serta memiliki seorang anak balita. Kami sering bersama-sama dan sering ke luar kota bersama (suaminya bekerja di kota lain) dan lama kelamaan kami bagaikan 2 orang sahabat, padahal usianya 15 tahun lebih muda. Kami saling berbagi cerita sampai akhirnya masalah sexualitas. Kukatakan padanya bahwa aku sering gagal dalam bercinta karena aku "peltu" (nempel metu), ejakulasi dini. Mendengar itu dia hanya tersenyum. Mungkin karena tekanan pekerjaanku dan banyaknya problem, aku merasa sudah 10 tahun menjadi "peltu".

Suatu hari di kota B, pengurus lain sudah tidur, kami masih mengobrol. Kulihat dia agak pincang, rupanya terkilir dan terlalu lelah. Kucoba mengurutnya sedikit di kamarnya, memang sakit luar biasa. Dhei sosok agak tomboy, gemar t-shirt dan celana pendek sewaktu santai. Setelah mengurut kakinya, dia melanjutkan bekerja dengan note-book sambil menonton TV, aku pun merasa ngantuk dan tanpa kusadari aku tertidur di kasurnya. Aku terbangun hampir 2 jam kemudian dengan posisi telungkup dan tanganku melingkar di pinggang Dhei (saat itu dia sudah di sampingku duduk menonton TV). Ketika tahu aku terbangun, dia menggodaku, "Mas Mas, maaf yang punya badan belum pulang kampung." Kami pun tertawa, tiba-tiba entah setan apa, aku duduk di sampingnya dan langsung kutarik wajahnya dan kukecup keningnya, perlahan-lahan turun ke bibirnya. Dhei membalas mengulum bibirku dengan lembut. Langsung darahku bergejolak karena aku ini cuma manusia kuno, berciuman pun jarang.

Dhei membuka celanaku perlahan-lahan dan dia pun membuka celananya. Kami masih sama-sama mengenakan t-shirt. Tiba-tiba aku teringat dengan "peltu"-ku dan benar saja, ketika penisku menempel pahanya, aku sudah mau meledak hingga akhirnya keluar dalam waktu hanya berciuman 2 menit. Betapa kecewanya aku, mungkin juga dia. Padahal penisku tidak kecil, diameter 3 cm, panjang 17 cm. Kusembunyikan wajahku di samping wajahnya (saat itu aku masih di atasnya), namun Dhei berkata sambil memelukku, "Mas, kita coba lagi yah, kapan-kapan, dalam suasana yang lebih rileks."

Tiga bulan kami tidak pernah membicarakan hal itu, hanya saja dia kelihatan ceria dan sering mencuri cium kepadaku. Aku senang melihat semangatnya, sampai suatu hari tiba saatnya kami harus ke luar kota lagi. Acara di sana 2 malam, tapi Dhei mengajakku untuk tinggal lebih lama dengan tanggungan sendiri tentunya. Dengan segala alasan, kami pun berpisah dengan rombongan. Dhei memilih hotel baik dan berbintang. Begitu kami sudah rileks di kamar, dia mengajakku untuk mandi sama-sama. Darahku mulai bergejolak lagi. Aku tidak pernah mandi dengan istriku kecuali ia menyekaku 1 kali waktu aku sakit. Aku disuruhnya ke kamar mandi lebih dahulu, setelah hampir 10 menit baru dia menyusul. Bagaikan memandikan seorang bayi, dia membersihkan setiap celah yang ada di tubuhku dan menyuruhku menggosok gigi. Dhei pun melakukan hal yang sama. Kurasakan penisku sudah menantang dan sudah ingin meledak lagi. Tetapi Dhei tidak menyentuhnya atau melakukan apapun yang bersifat merangsang. Seperti acuh tak acuh saja.

Keluar dari kamar mandi, aku terkejut karena sprei sudah diganti dengan bahan seperti perlak bahkan dilapisi lagi sebuah plastik yang diberi karet sudutnya seperti sprei agar bisa disangkutkan di kasur. Aku langsung bertanya, "Eyik, kamu mau bikin apa sama Mas?" Dhei hanya tersenyum dan berkata, "Mau bikin Mas Ai santai. Jangan khawatir, Eyik nggak akan bikin sakit, kok." Dhei mematikan AC dan membuka jendela (kami di lantai 11). Lalu aku direbahkannya, dia mengambil cream yang bila terkena air berbusa seperti sabun. Di samping tempat tidur sudah ada botol mineral 600 ML sebanyak 4 botol. Digosok-gosokkannya cream yang sudah terkena air ke tubuhku dan tubuhnya bagian depan. Aku hanya bertanya-tanya saja melihatnya.

Mulailah dia memijit dadaku dengan posisi berlutut di sampingku. Perlahan-lahan dikecupnya bibirku dan disedotnya dengan lembut bibirku. Caranya menyedot khas sekali, dengan bibir dalamnya dengan sedikit dimonyongkan bibirnya, tapi rasanya menggelitik sekali. Dimasukkannya lidahnya ke liang telingaku dan mengulum serta menyedot daun telingaku. "Mmmhh.." hanya itu saja yang keluar dari mulutku. Tiba-tiba, kedua lututnya diletakkan di samping tubuhku, dan Dhei memijit tubuh depanku dengan tubuhnya. Oh, aku merasakan kenikmatan awal. Dia melakukan gerakan bergesekan tubuh ke atas ke bawah (karena kami sama-sama dilumuri cream tadi), dan dia melumat bibirku. Payudaranya yang besar dan kenyal terasa sekali di dadaku. Baru saja aku hendak membalas melumat bibirnya, tiba-tiba Dhei berputar dan kini di hadapanku adalah bulu-bulu vaginanya. Disanggahnya tubuhnya dengan lututnya, sementara mulutnya sudah menghisap kemaluanku dan tangannya mengurut pahaku. Aku mulai mengerang karena penisku kejang dan mau meledak, rupanya Dhei mengetahui itu dan dikocoknya penisku dengan mulutnya sampai aku menjerit kecil dan orgasme. Dihisapnya sampai tidak setetespun tersisa.

Baru kusadari bahwa ini pengalaman pertamaku di usia setengah abad penisku dihisap. Dhei berdiri menggosok cream ke punggungnya dan meletakkan telapak kakiku di atas kasur serta memintaku menaikkan pinggulku. Kuturuti saja dan kejutan baru, dia meluncur ke bawah tubuhku dalam keadaan telungkup. Pantatnya me-massage-ku dari bawah, digoyangkannya dengan eksotik sekali. Punggungku seperti tidak bertulang lagi. Tangannya dilingkarkan ke tanganku ke atas kepala kami beberapa saat. Kemudian dilingkarkannya kakinya ke kakiku, dengan gerakan cepat, kami berbalik. Sekarang aku yang telungkup, dia di punggungku. Diraihnya sebotol air mineral, diteteskannya perlahan ke sela pantatku, maksudnya untuk dibersihkan. Setelah itu, "Ohh, Eyik.." dia memijat sela-sela pantatku dengan lidahnya, memijat lubang anusku sampai di bijiku. Dijilatinya balik ke atas. Disedotinya perlahan-lahan ke bawah, dan ke atas lagi. Spermaku berhamburan tidak tertahankan lagi di atas sprei plastik.

Lalu dia memintaku untuk berposisi menungging, dan dia meluncur lagi dari bawahku, kini dalam posisi berhadap-hadapan. Dengan suatu gerakan, kepala penisku (yang sudah tegang lagi), berada di bibir vaginanya. Naluri laki-lakiku datang dan langsung kugoyangkan pantatku sehingga penisku keluar masuk di vaginanya. Aku benar-benar menikmati dan tidak cepat orgasme lagi. Tiba-tiba didorongnya aku sedikit dan penisku keluar, dengan gerakan cepat aku ditolaknya ke kiri dan dia bergerak ke kananku. Kini kami berposisi melintang di tempat tidur, dalam keadaan 69, aku masih di atas. Aku sempat kehilangan kesadaran beberapa detik ketika kurasakan penisku sudah dijilati dan dihisapnya, sedangkan lututku sudah menyangga tubuhku. Aku tidak pernah menjilat vagina sebelumnya, tapi sekali itu, aku benar-benar buas memangsa vaginanya dan kudengar dia pun mendesah sambil mengangkat pinggulnya. Ternyata aku suka sekali rasa vaginanya. Klitorisnya yang kecil tapi menantang enak untuk digoda dengan lidahku. Kelihatannya Dhei mulai mengejang, dan perlahan-lahan dibaliknya tubuhku dan dia duduk di atas perutku. Diarahkannya penisku ke dalam vaginanya dan kami pun bercinta.

Diusapnya dadaku dengan air mineral, kemudian dengan keahlian menyedotnya, disedotinya puting susuku lembut dan bergantian. Tidak kusangka, ternyata ada rangsangan lain karena kukira puting laki-laki bukan penghantar rangsangan. "Mmmhh, Eyik.. geli sekali," itu saja yang kukatakan. Kuminta ia agar di bawah, dan gantian aku yang mengusap payudaranya dengan air mineral. Setelah itu kujilati dan kusedoti perlahan-lahan, dia mengerang dan dengan suara lirih sambil kami masih bercinta,
"Mas Ai nggak marah Eyik giniin?"
"Tentu saja tidak sayang, Mas bahkan nggak percaya bisa begini."
Suaraku semakin lirih dan ngos-ngosan. Dhei mulai mengejang dan mengerang, tapi katanya,
"Aku mau kita keluar sama-sama, Mas.. Eyik tahan-tahanin, ya?"
Akhirnya kami pun keluar bersamaan dan kami benar-benar letih. Kuusap dadanya, kekecup bibirnya. Tidak terasa kami sudah bermain-main selama 3 jam dan sejak sore itu, aku merasa kembali sebagai pejantan. Selama 3 hari 2 malam di sana, kami bercinta sekitar 10 kali.

Tidak terasa 1 tahun telah berlalu. Saat ini Dhei sedang berada di negeri Paman Sam karena dikirim kursus oleh kantornya selama 3 bulan dan baru berjalan 2 bulan. Aku sudah mulai uring-uringan karena kami biasa berhubungan sex minimal 5 kali seminggu. Dhei tidak pernah menanggapi e-mailku yang bernada porno kepadanya, jawabannya hanya seputar kursus dan tempat-tempat yang dikunjunginya. Aku mulai kesal dan karena usiaku yang sudah terbilang tidak muda lagi, aku pun merasa Dhei mulai meninggalkanku. Aku tidak pernah berhasil berhubungan sex dengan istriku, masalah "peltu" selalu terjadi lagi, padahal selalu berhasil dengan Dhei. Tibalah hari di mana aku sudah kesal luar biasa dan kutelepon Dhei dengan marah-marah, menuduhnya yang tidak-tidak, dan kukatakan bahwa aku tidak lagi mencintainya, dan sebagainya, padahal dia sedang di tengah diskusi. Dengan mesra dia menjawab, "Eyik tetap milik Mas, Eyik tetap sayang Mas, Eyik cuma sibuk." Spontan kuteriaki dia, "Bohong!" sambil kubanting teleponku.

Sekitar pukul 09.30 keesokan harinya, stafku mengantar seorang kurir yang katanya ada kiriman harus kuterima langsung. Punggung si kurir masih kelihatan meninggalkan ruangan, aku sudah berteriak gembira karena kekasihku mengirimi tiket dan tertulis, "Masih mau jemput Eyik pulang?" Luar biasa girang, dan segera kutelepon lagi dia. Baru sebut hallo dan "Ticket.." dia langsung menjawab, "Katakan lagi kalau Mas sudah tidak cinta Eyik.." Dan kami pun tertawa. Sudah 1 jam kutunggu dia di airport di negeri Paman Sam, sampai aku tertidur di bangkunya ketika sebuah kecupan hangat kurasakan di bibirku. Kekasihku sudah di hadapanku dengan sweater warna-warni dan topi warna cerah senada yang memberi kesan manis pada wajahnya. Tanpa pikir panjang kulumat habis bibirnya karena aku begitu merindukannya sampai dengan sedikit memaksa dia mengajakku ke mobil sewaannya.

Apartemen yang disewanya hanya memiliki 1 kamar tidur dengan 1 kamar mandi di kamar dan ruang tengah yang bersambung dengan dapur serta 1 toilet untuk tamu di dekat pintu masuk. Apartemen kecil tapi kelihatan ekslusive. Kulihat masakan yang sudah dingin. Rupanya pagi-pagi sekali dia sudah masak, dan pergi untuk menghadiri diskusi, makanya terlambat menjemputku. Sambil memanaskan makanan, kami mengobrol dan dia menanyakan kabar keluargaku dan anaknya (aku memang setiap hari mampir ke rumahnya untuk menengok anaknya). Selesai menyantap makanan yang lezat, seperti biasa dia memintaku untuk mandi. Aku pun memintanya untuk memandikanku. Disiapkannya air hangat di bak berendam dan kemudian pakaianku dilepaskan satu persatu.

Kerinduanku tak terbendungkan lagi. Langsung kulepas juga pakaiannya dan kudorong dia ke dinding kamar mandi. Kucium wajahnya, lehernya, puting susunya kugigit sampai dia merintih kesakitan. Kulumat-lumat payudaranya dan turun terus ke perutnya sambil terus kujilati dan kugigit. Aku masuk ke bak berendam yang bentuknya bulat dan merebahkan kepalaku ke pinggirannya sambil menarik tubuhnya. Dhei mengerti dan dia membuka kakinya sambil setengah berjongkok dan meletakkan vaginanya di atas mulutku untuk kujilati. Mendengar desahannya, semakin kubenamkan wajahku di antara selangkangannya. Kujilati klitorisnya sambil kusedot. Dhei meremas rambutku dan menarik berlawanan arah seolah-olah ingin melepaskannya, tapi aku semakin kuat menghisap vaginanya sampai akhirnya tubuhnya bergetar kuat dan kulepaskan karena dia sudah orgasme dan sudah habis kusedot cairannya. Belum puas kulampiaskan rinduku, dengan kasar dia kusetubuhi di dalam air. Air bak bergelombang dan sedikit luber karena goyangan tubuhku yang hot dan Dhei mengerang mesra sampai kami mencapai orgasme.

Selesai mandi, aku rebahan di tempat tidur. Diselimutinya dan dipijit-pijit punggungku. Kami masih sama-sama bugil dan dalam sekejap aku terlelap, letih karena perjalanan panjang. Aku terbangun 3 jam kemudian dan mencium harum kopi di meja samping tempat tidur. Rokokku pun ada di sana. Wajah manis itu sudah di hadapanku dengan t-shirt tipis dan celana pendek. Kukatakan kerinduanku dan Dhei menjawabku, "Mas Ai, selama kita di apartemen, Mas Ai tidak perlu pakaian karena badan Mas tidak akan kering". Aku masih memikirkan kata-katanya, Dhei mengambil sebuah toples berisi madu dengan pipet kecil yang unik. Dia mulai menanggalkan pakaiannya. Suhu di luar berkisar 12A,Az C, tetapi penghangat di kamar bekerja baik, sehingga aku merasa hangat walaupun tidak berpakaian seharian. Aku dimintanya telungkup, dan kurasakan punggungku ditetesi madu. Dibentuknya dua garis lurus dari bahuku sampai ke pergelangan kakiku. Setelah itu, madu itu dijilatinya mulai dari kaki perlahan-lahan ke atas.

Sambil menindihku, dikulumnya daun telingaku. Kurasakan bulu-buluku berdiri dan penisku mulai bereaksi. Kemudian direnggangkannya pantatku dan ditetesi beberapa tetes madu di sela-selanya untuk dijilatinya juga. Oh, permainan baru yang menyenangkan. Setelah selesai dengan punggungku, aku ditelentangkan. Kini badan bagian depanku ditetesi madu, seputar putingku, perut, pangkal paha, penis, sampai jari kakiku. Perlahan-lahan dikulumnya jari kakiku lalu naik ke paha. Langsung ke perut dan putingku. Dibersihkannya dengan lidahnya sampai ketika kusentuh tidak ada lagi bekas-bekas lengket. Ketiakku yang berbulu tidak begitu lebat juga dijilatinya sampai aku mengerang menahan geli bercampur nikmat. Aku hanya menutup mataku karena kegelianku.

Kini dia turun ke pangkal paha. Dipijatnya dengan lidahnya dan dikulumnya bijiku. Lalu perlahan-lahan dikulumnya penisku. Dijilat dan dikulum kepalanya bergantian sampai akhirnya dimasukkan total ke mulutnya. Lembut sekali bibirnya. Aku memang heran dengannya, Dhei selalu cool, masih muda tetapi tidak pernah menunjukkan bahwa dia menggebu-gebu. Tetapi permainannya, lebih lihai dari yang kutonton di film-film blue.

Dalam keadaan penis tegak menantang, Dhei mengajakku turun ke karpet dan menyandarkanku di tempat tidur. Kini Dhei di atasku memasukkan penisku ke vaginanya. Payudaranya yang besar di hadapanku dan sangat mengundang. Langsung kupegang kedua tangannya dan kuletakkan di balik pantatnya sehingga dadanya lebih membusung. Sambil naik-turun, payudaranya kuciumi dan kuhisap serta kugigit kecil dan kuremas-remas. Dhei mendesah dan menggigit bibirnya. Ketika aku sudah sangat tegang, tiba-tiba Dhei naik ke tempat tidur dalam posisi merangkak. Tanpa pikir panjang langsung kumasukkan penisku ke vaginanya tetapi ternyata dilepaskannya dan dimasukkan ke dalam anusnya. Aku bingung bercampur aduk, apalagi yang diinginkan sekarang, pikirku. Ternyata, enak sekali bermain dengan anusnya yang masih kencang. Cukup lama sampai aku rasa ada yang mendorong dengan cepat di penisku. Seketika itu juga Dhei berlutut menghadap penisku dan membuka mulutnya. Spermaku langsung menyembur ke mulutnya dan membasahi dagu serta dadanya dan aku pun terkulai.

Sekitar 15 menit kemudian, Dhei mengajakku bilas. Dibilasinya tubuhku dan penisku. Setelah itu dia menggandengku ke arah dapur (kami masih bugil). Meja dapurnya terbuat dari batu dan permanen. Dhei duduk di atas meja dan aku duduk di kursi. Diletakkannya kakinya di atas kedua pahaku. Melihat posisinya, penisku pun langsung bereaksi. Kuhisap lagi payudaranya. Kumain-mainkan dengan lidahku cukup lama. Dia memelukku dan sesekali membungkuk mengulum telingaku. Nafasnya mulai memburu membuat dadanya semakin busung naik-turun. Lalu kakinya kuangkat dan kulipat, kuletakkan di atas meja menempel dengan pantatnya. Kini giliran vaginanya yang kulumat-lumat dan kusedot cairannya. Penisku mengeras lagi. Melihat Dhei meronta kenikmatan, langsung aku berdiri dan kutindih perlahan tubuhnya. Tangannya meraih penisku dan dikocok pelan-pelan sambil dimasukkan ke vaginanya. Kami bercinta lagi di dapur dengan hot dan sama-sama mengerang lebih berisik. Kali ini kami lepas erangan kami dan kerinduan kami dengan berbagai posisi di meja dapur dan tidak terasa sudah hampir tengah malam ketika kami sama-sama meledak dan mandi keringat. Aku bahagia karena sanggup bertahan lebih dari 1 jam.

Dua puluh hari kutemani Dhei di sana sampai selesai kursusnya. Aku benar-benar heran melihat Dhei, kursus, mengerjakan tugas, belajar dan bercinta, tidur hanya 4 jam. Belum lagi berbelanja, memasak dan mencuci pakaian kami. Sesekali Dhei berenang, di apartemennya ada kolam renang. Entah dari mana tenaga yang dimilikinya, seperti tidak kenal lelah dan selalu bersemangat. Aku selalu di dekatnya dan kuamati apa yang dimakannya. Memang makanan sehat semua. Tepat 14 hari di sana, kuhitung kami sudah bercinta sebanyak 70 kali dan sisa 6 hari berikutnya, sudah tidak kuhitung lagi. Kini hubungan kami sudah berjalan 3 tahun, Dhei adalah kekasihku dan permata hatiku yang sangat kucintai. Dhei telah menumbuhkan kepercayaan bahwa aku tidak punya kekurangan soal sex dan aku pun berharap dapat tetap memilikinya walaupun dengan cara seperti ini.

Cerita Dewasa : Guruku Liar Sekali

TANTE ALEXA - Cerita Dewasa : Guruku Liar Sekali. Ini pengalaman kencan seksku sebelum aku mengenal internet, tepatnya ketika aku masih duduk di bangku SMA. Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih menginjak 19-20 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak. Tepatnya, Mbak Yani. Mau tahu ceritanya?

*****

Cerita Dewasa : Guruku Liar Sekali
Sore itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku diminta datang ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan listrik rumahnya yang rusak.

"Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani," ujar anak SD tetangga Mbak Yani.

Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu, kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan rumah tangganya. Yang jelas, semenjak dia mengajaku melukis pergi ke lereng gunung dan making love di semak-semak hutan, Mbak Yani makin sering mengajakku pergi. Dan sore ini dia memintaku datang ke rumahnya lagi.

Tanpa banyak pikir aku langsung berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Maklum, rumahnya terbilang cukup jauh, sekitar 5km dari rumahku. Setibanya di rumah Mbak Yani, suasana sepi. Keluarganya tampaknya sedang pergi. Betul, ketika aku mengetuk pintu, hanya Mbak Yani yang tampak.

"Ayo, cepet masuk. Semua keluargaku sedang pergi menghadiri acara hajatan saudara di luar kota," sambut Mbak Yani sambil menggandeng tangganku.

Darahku mendesir ketika membuntuti lamngkah Mbak Yani. Betapa tidak, pakaian yang dikenakan luar biasa sexy, hanya sejenis daster pendek hingga tonjolan payudara dan pahanya terasa menggoda.

"Anu, Bud.. Listrik rumahku mati melulu. Mungkin ada ada kabel yang konslet. Tolong betulin, ya.. Kau tak keberatan kan," pinta Mbak Yani kemudian.

Tanpa banyak basa-basi Mbak Yani menggandengku masuk ke ruang tengah, kemudian masuk ke sebuah kamar.

"Nah saya curiga jaringan di kamar ini yang rusak. Buruan kau teliti ya. Nanti keburu mahrib."

Aku hanya menuruti segala permintaannya. Setelah merunut jaringan kabel, akhirnya aku memutuskan untuk memanjat atap kamar melalui ranjang. Tapi aku tidak tahu persis, kamar itu tempat tidur siapa. Yang jelas, aku sangat yakin itu bukan kamarnya bapak-ibunya. Celakanya, ketika aku menelusuri kabel-kabel, aku belum menemukan kabel yang lecet. Semuanya beres. Kemudian aku pindah ke kamar sebelah. Aku juga tak bisa menemukan kabel yang lecet. Kemudian pindah ke kamar lain lagi, sampai akhirnya aku harus meneliti kamar tidur Mbak Yani sendiri, sebuah kamar yang dipenuhi dengan aneka lukisan sensual. Celakanya lagi, ketika hari telah gelap, aku belum bisa menemukan kabel yang rusak. Akibatnya, rumah Mbak Yani tetap gelap total. Dan aku hanya mengandalkan bantuan sebuah senter serta lilin kecil yang dinyalakan Mbak Yani.

Lebih celaka lagi, tiba-tiba hujan deras mengguyur seantero kota. Tidak-bisa tidak, aku harus berhenti. Maunya aku ingin melanjutkan pekerjaan itu besok pagi.

"Wah, maaf Mbak aku tak bisa menemukan kabel yang rusak. Ku pikir, kabel bagian puncak atap rumah yang kurang beres. Jadi besok aku harus bawa tangga khusus," jelasku sambil melangkah keluar kamar.
"Yah, tak apa-apa. Tapi sorry yah. Aku.. Merepotkanmu," balas Mbak Yanti, "Itu es tehnya diminum dulu."

Sementara menunggu hujan reda, kami berdua bercakap-cakap berdua di ruang tengah. Cukup banyak cerita-cerita masalah pribadi yang kami tukar, termasuk hubunganku dengan Mbak Yani selama ini. Mbak Yani juga tidak ketinggalan menanyakan soal puisi indah tulisannya yang dia kirimkan padaku lewat kado ulang tahunku beberapa bulan lalu.

Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu nada percakapan kami berubah mesra dan menjurus ke arah yang menggairahkan jiwa. Bahkan, Mbak Yani tak segan-segan membelai wajahku, mengelus telingku dan seterusnya. Tak sadar, tubuh kami berdua jadi berhimpitan hingga menimbulkan rangsangan yang cukup berarti untukku. Apalagi setelah dadaku menempel erat pada payudaranya yang berukuran tidak begitu besar namun bentuknya indah dan kencang. Dan tak ayal lagi, penisku pun mulai berdiri mengencang. Aku tak sadar, bahwa aku sudah terangsang oleh guru sekolahku sendiri! Namun hawa nafsu birahi yang mulai melandaku sepertinya mengalahkan akal sehatku. Mbak Yani sendiri juga tampaknya memiliki pikiran yang saja. Ia tidak henti-hentinya mengulumi bibirku dengan nafsunya.

Akhirnya, nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Sementara bibirku dan Mbak Yani masih tetap saling memagut, tanganku mulai menggerayangi tubuh guru sekolahku itu. Kujamah gundukan daging kembar yang menghiasi dengan indahnya dada Mbak Yani yang masih berpakaian lengkap. Dengan segera kuremas-remas bagian tubuh yang sensitif tersebut.

"Aaah.. Budi.. Aah.." Mbak Yani mulai melenguh kenikmatan. Bibirnya masih tetap melahap bibirku.

Mengetahui Mbak Yani tidak menghalangiku, aku semakin berani. Remasan-remasan tanganku pada payudaranya semakin menjadi-jadi. Sungguh suatu kenikmatan yang baru pertama kali kualami meremas-remas benda kembar indah nan kenyal milik guru sekolahku itu. Melalui kain blus yang dikenakan Mbak Yani kuusap-usap ujung payudaranya yang begitu menggiurkan itu. Tubuh Mbak Yani mulai bergerak menggelinjang.

"Uuuhh.. Mbak.." Aku mendesah saat merasakan ada jamahan yang mendarat di selangkanganku.

Penisku pun bertambah menegang akibat sentuhan tangan Mbak Yani ini, membuatku bagian selangkangan celana panjangku tampak begitu menonjol. Mbak Yani juga merasakannya, membuatnya semakin bernafsu meremas-remas penisku itu dari balik celana panjangku. Nafsu birahi yang menggelora nampaknya semakin menenggelamkan kami berdua, sehingga membuat kami melupakan hubungan kami sebagai guru-murid.

"Aaauuhh.. Bud.. Uuuh.." Mbak Yani mendesis-desis dengan Yanirnya karena remasan-remasan tanganku di payudaranya bukannya berhenti, malah semakin merajalela. Matanya terpejam merasa kenikmatan yang begitu menghebat.

Tanganku mulai membuka satu persatu kancing blus Mbak Yani dari yang paling atas hingga kancing terakhir. Lalu Mbak Yani sendiri yang menanggalkan blus yang dikenakannya itu. Aku terpana sesaat melihat tubuh guru sekolahku itu yang putih dan mulus dengan payudaranya yang membulat dan bertengger dengan begitu indahnya di dadanya yang masih tertutup beha katun berwarna krem kekuningan. Tetapi aku segera tersadar, bahwa pemandangan amboi di hadapannya itu memang tersedia untukku, terlepas itu milik guru sekolahku sendiri.

Tidak ingin membuang-buang waktu, bibirku berhenti menciumi bibir Mbak Yani dan mulai bergerak ke bawah. Kucium dan kujilati leher jenjang Mbak Yani, membuatnya menggerinjal-gerinjal sambil merintih kecil. Sementara itu, tanganku kuselipkan ke balik beha Mbak Yani sehingga menungkupi seluruh permukaan payudara sebelah kanannya. Puting susunya yang tinggi dan mulai mengeras begitu menggelitik telapak tanganku. Segera kuelus-elus puting susu yang indah itu dengan telapak tanganku. Kepala Mbak Yani tersentak menghadap ke atas sambil memejamkan matanya. Tidak puas dengan itu, ibu jari dan telunjukku memilin-milin puting susu Mbak Yani yang langsung saja menjadi sangat keras. Memang baru kali ini aku menggeluti tubuh indah seorang wanita. Namun memang insting kelelakianku membuatku seakan-akan sudah mahir melakukannya.

"Uhh.. Hmm ahh.." Mbak Yani tidak dapat menahan desahan-desahan nafsunya.

Segala gelitikan jari-jemariku yang dirasakan oleh payudara dan puting susunya dengan bertubi-tubi, membuat nafsu birahinya semakin membulak-bulak.

Kupegang tali pengikat beha Mbak Yani lalu kuturunkan ke bawah. Kemudian beha itu kupelorotkan ke bawah sampai ke perut Mbak Yani. Puting susu Mbak Yani yang sudah begitu mengeras itu langsung mencelat dan mencuat dengan indahnya di depanku. Aku langsung saja melahap puting susu yang sangat menggiurkan itu. Kusedot-sedot puting susu Mbak Yani. Kuingat masa kecilku dulu saat masih menyusu pada payudara ibuku. Bedanya, tentu saja payudara guru sekolahku ini belum dapat mengeluarkan air susu. Mbak Yani menggeliat-geliat akibat rasa nikmat yang begitu melanda kalbunya. Lidahku dengan mahirnya, tak ayal menggelitiki puting susunya sehingga pentil yang sensitif itu melenting ke kiri dan ke kanan terkena hajaran lidahku.

"Oooh. Buud' desahan Mbak Yani semakin lama bertambah keras. Untung saja rumahnya sedang sepi dan letaknya memang agak berjauhan dari rumah yang paling dekat, sehingga tidak mungkin ada orang yang mendengarnya.

Belum puas dengan payudara dan puting susu Mbak Yani yang sebelah kiri, yang sudah basah berlumuran air liurku, mulutku kini pindah merambah bukit membusung sebelah kanan. Apa yang kuperbuat pada belahan indah sebelah kiri tadi, kuperbuat pula pada yang sebelah kanan ini. Payudara sebelah kanan milik guru sekolahku yang membulat indah itu tak luput menerima jelajahan mulutku dengan lidahnya yang bergerak-gerak dengan Yanirnya. Kukulum ujung payudara Mbak Yani. Lalu kujilati dan kugelitiki puting susunya yang tinggi. Puting susu itu juga sama melenting ke kiri dan ke kanan, seperti halnya puting susu payudaranya yang sebelah kiri tadi. Mbak Yani pun semakin merintih-rintih karena merasakan geli dan nikmat yang menjadi-jadi berbaur menjadi satu padu. Seperti tengah minum soft drink dengan memakai sedotan plastik, kuseruput puting susu guru sekolahku itu.

"Aaahh.. Hmm.." Mbak Yani menjerit panjang.

Lidahku tetap tak henti-hentinya menjilati puting susu Mbak Yani yang sudah demikian kerasnya. Sementara itu tanganku mulai bergerak ke arah bawah. Kubuka retsleting celana jeans yang Mbak Yani kenakan. Kemudian dengan sedikit dibantunya sambil tetap merem-melek, kutanggalkan celana jeans itu ke bawah hingga ke mata kaki. Tubuh bagian bawah Mbak Yani sekarang hanya dilindungi oleh selembar celana dalam dengan bahan dan warna yang seragam dengan behanya. Meskipun begitu, tetap dapat kulihat warna kehitaman samar-samar di bagian selangkangannya.

Ditunjang oleh nafsu birahi yang semakin menjulang tinggi, tanpa berpikir panjang lagi, kulepas pula kain satu-satunya yang masih menutupi tubuh Mbak Yani yang memang sintal itu. Dan akhirnya tubuh mulus guru sekolahku itu pun terhampar bugil di depanku, siap untuk kunikmati.

Tak ayal, jari tengahku mulai menjamah bibir vagina Mbak Yani di selangkangannya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis kehitaman walaupun belum begitu banyak. Kutelusuri sekujur permukaan bibir vagina itu secara melingkar berulang-ulang dengan lembutnya. Tubuh Mbak Yani yang masih terduduk di sofa melengkung ke atas dibuatnya, sehingga payudaranya semakin membusung menjulang tinggi, yang masih tetap dilahap oleh mulut dan bibirku dengan tanpa henti.

"Ooohh..

Jari tengahku itu berhenti pada gundukan daging kecil berwarna kemerahan yang terletak di bibir vagina Mbak Yani yang mulai dibasahi cairan-cairan bening. Mula-mula kuusap-usap daging kecil yang bernama klitoris ini dengan perlahan-lahan. Lama-kelamaan kunaikkan temponya, sehingga usapan-usapan tersebut sekarang sudah menjadi gelitikan, bahkan tak lama kemudian bertambah lagi intensitasnya menjadi sentilan. Klitoris Mbak Yani yang bertambah merah akibat sentuhan jariku yang bagaikan sudah profesional, membuat tubuh pemiliknya itu semakin menggerinjal-gerinjal tak tentu arahnya.

Melihat Mbak Yani yang tampak semakin merangsang, aku menambah kecepatan gelitikanku pada klitorisnya. Dan akibatnya, klitoris Mbak Yani mulai membengkak. Sementara vaginanya pun semakin dibanjiri oleh cairan-cairan kenikmatan yang terus mengalir dari dalam lubang keramat yang masih sempit itu.

Puas menjelajahi klitoris Mbak Yani, jari tengahku mulai merangsek masuk perlahan-lahan ke dalam vagina guru sekolahku itu. Setahap demi setahap kumasukkan jariku ke dalam vaginanya. Mula-mula sebatas ruas jari yang pertama. Dengan susah payah memang, sebab vagina Mbak Yani memang masih teramat sempit. Kemudian perlahan-lahan jariku kutusukkan lebih dalam lagi. Pada saat setengah jariku sudah amblas ke dalam vagina Mbak Yani, terasa ada hambatan. Seperti adanya selaput yang cukup lentur.

"Hmm.. Bud.."

Mbak Yani merintih kecil seraya meringis seperti menahan rasa sakit. Saat itu juga, aku langsung sadar, bahwa yang menghambat penetrasi jari tengahku ke dalam vagina Mbak Yani adalah selaput daranya yang masih utuh. Ternyata guru sekolahku satu-satunya itu masih perawan. Baru aku tahu, ternyata sebandel-bandelnya Mbak Yani, ternyata guru sekolahku itu masih sanggup memelihara kehormatannya. Aku sedikit salut padanya. Dan untuk menghargainya, aku memutuskan tidak akan melanjutkan perbuatanku itu.

"Bud.. Jangan berhenti.." tanya Mbak Yani dengan nafas terengah-engah.
"Mbak, Mbak kan masih perawan. Nanti kalau aku terusin kan Mbak bisa.."

Mbak Yani malah menjulurkan tangannya menggapai selangkanganku. Begitu tangannya menyentuh ujung penisku yang masih ada di dalam celana pendek yang kupakai, penisku yang tadinya sudah mengecil, sontak langsung bergerak mengeras kembali. Ternyata sentuhan lembut tangannya itu berhasil membuatku terangsang kembali, membuatku tidak dapat membantah apapun lagi, bahkan aku seperti melupakan apa-apa yang kukatakan barusan.

Dengan secepat kilat, Mbak Yani memegang kolor celana pendekku itu, lalu dengan sigap pula celanaku itu dilucutinya sebatas lutut. Yang tersisa hanya celana dalamku. Mata Mbak Yani tampak berbinar-binar menyaksikan onggokan yang cukup besar di selangkanganku. Diremas-remasnya penisku dengan tangannya, membuat penisku itu semakin bertambah keras dan bertambah panjang. Kutaksir panjangnya sekarang sudah bertambah dua kali lipat semula. Bukan main! Semua ini akibat rangsangan yang kuterima dari guru sekolahku itu sedemikian hebatnya.

"Mbak.. Aku buka dulu ya," tanyaku sambil menanggalkan celana dalamku.

Penisku yang sudah begitu tegangnya seperti meloncat keluar begitu penutupnya terlepas.

"Aw!" Mbak Yani menjerit kaget melihat penisku yang begitu menjulang dan siap tempur.

Namun kemudian ia meraih penisku itu dan perlahan-lahan ia menggosok-gosok batang 'meriam'-ku itu, sehingga membuat otot-otot yang mengitarinya bertambah jelas kelihatan dan batang penisku itu pun menjadi laksana tonggak yang kokoh dan siap menghujam siapa saja yang menghalanginya. Kemudian Mbak Yani menarik penisku dan membimbingnya menuju selangkangannya sendiri. Diarahkannya penisku itu tepat ke arah lubang vaginanya.

Sekilas, aku seperti sadar. Astaga! Mbak Yani kan guru sekolahku sendiri! Apa jadinya nanti jika aku sampai menyetubuhinya? Apa kata orang-orang nanti mengetahui aku berhubungan seks dengan guru sekolahku sendiri? Akhirnya aku memutuskan tidak akan melakukan penetrasi lebih jauh ke dalam vagina Mbak Yani. Kutempelkan ujung penisku ke bibir vagina Mbak Yani, lalu kuputar-putar mengelilingi bibir gua tersebut. Mbak Yani menggerinjal-gerinjal merasakan sensasi yang demikian hebatnya serta tidak ada duanya di dunia ini.

"Aaahh.. Uuuhh.." Mbak Yani mendesah-desah dengan Yanirnya sewaktu aku sengaja menyentuhkan penisku pada klitorisnya yang kemerahan dan kini kembali membengkak. Sementara bibirku masih belum puas-puasnya berpetualang di payudara Mbak Yani itu dengan puting susunya yang menggairahkan. Terlihat payudara guru sekolahku itu dan daerah sekitarnya basah kuyup terkena jilatan dan lumatanku yang begitu menggila, sehingga tampak mengkilap.

Aku perlahan-lahan mulai memasukkan batang penisku ke dalam lubang vagina Mbak Yani. Sengaja aku tidak mau langsung menusukkannya. Sebab jika sampai kebablasan, bukan tidak mungkin dapat mengoyak selaput daranya. Aku tidak mau melakukan perbuatan itu, sebab bagaimanapun juga Mbak Yani adalah guru sekolahku, darah dagingku sendiri!

Mbak Yani mengejan ketika kusodokkan penisku lebih dalam lagi ke dalam vaginanya. Sewaktu kira-kira penisku amblas hampir setengahnya, ujung 'tonggak'-ku itu ternyata telah tertahan oleh selaput dara Mbak Yani, sehingga membuatku menghentikan hujaman penisku itu. Segera saja kutarik penisku perlahan-lahan dari liang surgawi milik guru sekolahku itu. Gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku dengan dinding lorong vagina Mbak Yani membuatku meringis-ringis menahan rasa nikmat yang yang tak terhingga. Baru kali ini aku merasakan sensasi seperti ini. Lalu, kembali kutusukkan penisku ke dalam vagina Mbak Yani sampai sebatas selaput daranya lagi dan kutarik lagi sampai hampir keluar seluruhnya.

Begitu terus kulakukan berulang-ulang memasukkan dan mengeluarkan setengah batang penisku ke dalam vagina Mbak Yani. Dan temponya pun semakin lama semakin kupercepat. Gesekan-gesekan batang penisku dengan Yaning vagina Mbak Yani semakin menggila. Rasanya tidak ada lagi di dunia ini yang dapat menandingi kenikmatan yang sedang kurasakan dalam permainan cintaku dengan guru sekolahku sendiri ini. Kenikmatan yang pertama dengan kenikmatan berikutnya, disambung dengan kenikmatan selanjutnya lagi, saling susul-menyusul tanpa henti.

Tampaknya setan mulai merajalela di otakku seiring dengan intensitas gesekan-gesekan yang terjadi di dalam vagina Mbak Yani yang semakin tinggi. Kenikmatan tiada taranya yang serasa tidak kesudahan, bahkan semakin menjadi-jadi membuat aku dan Mbak Yani menjadi lupa segala-galanya. Aku pun melupakan semua komitmenku tadi.

Dalam suatu kali saat penisku tengah menyodok vagina Mbak Yani, aku tidak menghentikan hujamanku itu sebatas selaput daranya seperti biasa, namun malah meneruskannya dengan cukup keras dan cepat, sehingga batang penisku amblas seluruhnya dalam vagina Mbak Yani. Vaginanya yang amat sempit itu berdenyut-denyut menjepit batang penisku yang tenggelam sepenuhnya.

Mbak Yani menjerit cukup keras kesakitan. Tetapi aku tidak menghiraukannya. Sebaliknya aku semakin bernafsu untuk memompa penisku itu semakin dalam dan semakin cepat lagi penetrasi di dalam vagina Mbak Yani. Tampaknya rasa sakit yang dialami guru sekolahku itu tidak membuat aku mengurungkan perbuatan setanku. Bahkan genjotan penisku ke dalam lubang vaginanya semakin menggila. Kurasakan, semakin cepat aku memompa penisku, semakin hebat pula gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku itu dengan dinding vagina Mbak Yani, dan semakin tiada tandingannya kenikmatan yang kurasakan.

Hujaman-hujaman penisku ke dalam vagina Mbak Yani terus-menerus terjadi sambung-menyambung. Bahkan tambah lama bertambah tinggi temponya. Mbak Yani tidak sanggup berbuat apa-apa lagi kecuali hanya menjerit-jerit tidak karuan. Rupa-rupanya setan telah menguasai jiwa kami berdua, sehingga kami terhanyut dalam perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh dua guru dan murid.

"Aaah.. Budi.. Aaahh.." Mbak Yani menjerit panjang.

Tampaknya ia sudah seakan-akan terbang melayang sampai langit ketujuh. Matanya terpejam sementara tubuhnya bergetar dan menggelinjang keras. Peluh mulai membasahi tubuh kami berdua. Kutahu, guru sekolahku itu sudah hampir mencapai orgasme. Namun aku tidak mempedulikannya. Aku sendiri belum merasakan apa-apa. Dan lenguhan serta jeritan Mbak Yani semakin membuat tusukan-tusukan penisku ke dalam vaginanya bertambah menggila lagi. Mbak Yani pun bertambah keras jeritan-jeritannya. Pokoknya suasana saat itu sudah gaduh sekali. Segala macam lenguhan, desahan, ditambah dengan jeritan berpadu menjadi satu.

Akhirnya kurasakan sesuatu hampir meluap keluar dari dalam penisku. Tetapi ini tidak membuatku menghentikan penetrasiku pada vagina Mbak Yani. Tempo genjotan-genjotan penisku juga tidak kukurangi. Dan akhirnya setelah rasanya aku tidak sanggup menahan orgasmeku, kutarik penisku dari dalam vagina Mbak Yani secepat kilat. Kemudian dengan tempo yang tinggi, kugosok-gosok batang penisku itu dengan tanganku. Tak lama kemudian, cairan-cairan kental berwarna putih bagaikan layaknya senapan mesin bermuncratan dari ujung penisku. Sebagian mengenai muka Mbak Yani. Ada pula yang mengenai payudara dan bagian tubuhnya yang lain. Bahkan celaka! Ada pula yang belepotan di jok sofa yang diduduki Mbak Yani.

Tak lama kemudian, kami saling mengejang-ngejang ke puncak kepuasan bersama hingga kehabisan tenaga. Aku terhempas ke atas sofa di samping Mbak Yani. Tubuh kami berdua sudah bermandikan keringat dari ujung rambut ke ujung kaki.

Hmm begitu indahnya guruku..

Cerita Dewasa - Isteri Bossku Nakal Deh

TANTE ALEXA - Cerita Dewasa - Isteri Bossku Nakal Deh. Aku bekerja di Semarang, ditengah lingkungan orang-orang Chinese yang kebanyakan perempuan. Aku berumur 35 tahun tetapi belum menikah dan sudah punya pacar yang jauh tempatnya. Istri bossku itulah yang merenggut keperjakaanku.

Suaminya affair dengan seorang perempuan marketing dari Jakarta. Memang aku kalau melihat istri bossku, aku jadi kasihan. Walau sudah punya 3 anak tapi kulihat akhir-akhir ini makin tambah seksi terutama kedua buah dadanya yang membesar. Aku tahu dia ikut fitness rutin dan body building di salah satu sanggar senam. Mungkin untuk mengimbangi WIL suaminya yang memang sangat seksi dan suaranya kalau telepon, minta ampun, merdu sekali. Makanya bossku sampai klepek-klepek seperti burung tak berdaya. Bossku orang sangat kasar, selalu menang sendiri dan otoriter pada istrinya. Tidak malu dia memarahi istrinya di depan karyawannya. Tapi anehnya aku cukup dipercaya. Itu dibuktikan ketika bossku suka cerita soal keluarganya, anak-anaknya juga. Aku yang paling dipercaya boleh masuk di rumah, bahkan di ruang pribadinya. Wah, hebat sekali. Kapan aku punya kamar begini, tempat tidur yang luks dan enak sekali.

Cerita Dewasa - Isteri Bossku Nakal Deh
Aku bekerja di kantor, di bagian ekspor dan komputer. Soal komputer aku paling pandai. Komputer inilah yang membuatku lebih dekat dan mendekati wanita yang paling cakep dan seksi di kantorku. Terus terang aku sekarang punya affair dengan manager keuangan, paling cantik dia di kantorku. Seksi? Bolehlah. Tapi aku sangat ingin menikmati seks dengan Cik Sasa. Wuah, aku suka membayangkan menggumuli tubuhnya yang seksi. Apalagi kalau aku melihat dari belakang. Paling membuatku tidak tahan. Habis, Cik Sasa punya pantat yang aduhai sangat merangsangku. Apalagi kalau dia memakai celana panjang. Wuah.. kejantananku ini tegang minta ampun sampai maksimum (15 cm dengan diameter 3.5 cm). Aku suka membayangkan melakukan senggama dengannya dari belakang dengan menungging.

Aku juga ingin menikmati seks dengan adik ipar istri bossku, Cik Nina. Aku terobsesi menikmati tubuhnya yang sangat seksi. Adik ipar bossku ini lebih seksi segalanya dibandingkan Cik Sasa dan Ima (manager keuangan). Kalau ke kantor.. wah selalu berpakaian seksi dan ketat. Tubuhnya yang memang berbodi gitar, buah dadanya besar, ukuran 36 kali. Wah aku ngiler kalau dia menemuiku dan bicara soal internet dan komputer. Aroma tubuh dan polah tingkahnya sangat menantangku. Aku juga ingin menikmati tubuh Cik Nia. Cik Nia karyawan di bagian pemasaran. Aku baru sampai pegang-pegangan tangan saja dengan Cik Nia. Rambutnya sebahu, aku paling suka dengan kedua buah dadanya yang besar juga.

Dengan Ima, aku baru sampai pegang paha dan cubit bagian atas buah dadanya dan dia diam saja atau membalas manja kalau kami naik mobil. Dengan Cik Sasa, aku baru sampai pada tahap pegang-pegang tangan dan pinggang ketika aku mengoreksi pakaiannya yang seksi (padahal aku pengen memegang pinggang dan tubuhnya) tiga minggu lalu. Cik Sasa adalah peragawati di kantorku. Tapi bak durian runtuh, aku malah bisa menikmati tubuh istri bossku yang tak pernah kuduga.

Dengan kekasihku sekarang, aku belum pernah melakukan hubungan seks. Paling bercumbu sampai aku telanjang dan dia tinggal CD-nya saja. Kuharap ini kekasihku yang terakhir. Terus terang aku ingin menikahinya. Makanya aku tahan seksku padanya sampai pernikahan nanti.

Dua bulan lalu, kira-kira jam 9 malam, aku ditelepon istri bossku untuk menemuinya di hotel Santika. Dari suaranya, pasti ada masalah dengan suaminya. Hampir jam 10 malam aku baru sampai di lobby hotel. Dari lobby, aku kontak Cik Ling dan menyarankan aku lewat lift dari basement dan langsung masuk ke kamarnya. Aku turun ke bawah (basement) dan dari sana aku dengan lift naik ke lantai 6. Aku memencet bel kamarnya dan dibuka oleh Cik Ling sendiri yang memakai kaos dengan bukaan rendah dan celana pendek. Wah, aku terkesiap melihat bukaan dadanya yang makin montok sehingga membuatku berpikir yang bukan-bukan dengannya. Di kantor, kalau aku menghadapnya (Cik Ling juga direktur keuangan) aku seolah dibiarkannya melihat belahan dadanya. Bukannya ditutup (mestinya bisa) dengan blasernya, tapi blaser diregakkan saja dan dibuka lagi seolah membiarkan kedua belahan dadanya untuk kunikmati. Belahannya putih agak kecoklatan dengan leher panjang. Wah.. aku menelan ludahku sendiri.

Aku dipersilahkannya masuk dan duduk.
"Dimana koh Edward(suaminya), Cik.." kataku.
"Ooo suamiku ke Jakarta," katanya.
"Ada apa sih Cik kok malam-malam begini?" Tanyaku.
Cik Ling mengambil dua minuman coke dan mematikan TV kemudian duduk di kursi (dia menariknya ke arah tempat tidur) agak mengahadapku. Cik Ling menerahkan Coke padaku dan aku minum hampir setengahnya. Cik Ling mulai gelisah dan aku bertanya lagi, "Ada apa Cik?". Dengan menahan tangis Cik Ling menceritakan WIL suaminya yang di Jakarta. Cik Ling memang sudah tahu perselingkungan suaminya itu. Tadi sebelum ke Jakarta, Cik Ling pesan agar Ko Edward hati-hati. "Kurang apa sih aku ini," katanya. "Aku istri baik, memberikan padanya tiga anak." Cik Ling menikah sangat muda dengan tiga anak. Anak yang bungsu sudah kelas 1 SD. "Aku juga ikut senam dan membuat tubuhku tambah seksi," katanya melanjutkan sambil menangis. "Sejak suamiku punya WIL, aku dibiarkannya merana dua tahun terakhir ini," lanjutnya sambil menangis.

Aku terpaku mendengar itu semua, tidak tahu apa yang harus kukerjakan. Apalagi ketika dia tambah menangis keras. Kedua tangannya menutup wajahnya yang tertunduk. Wah, untung ruangannya kedap dan terkunci. Lalu kutarik kursiku dan duduk lebih dekat dengannya, di depannya.

"Cik," kataku memecah kesunyian. "Cik Ling sabar ya? Pasti ini akibat Puber ke dua," kataku. Aku memberanikan memegang pundaknya dan kepalanya. Cik Ling terdiam mendengar perkataanku seolah membenarkan. Ko Edward usianya 45 tahun, Cik Ling 37 tahun usianya. Jadi kupikir puber kedua setelah membaca buku psikologi yang pernah kupelajari.

Cik Ling memandangiku sebentar dan kemudian meledak tangisnya dan ya ampun, dia merebahkan kepalanya di pahaku. Aduh, mati aku. Aku nggak bisa menahan sesuatu yang bergerak mengeras di balik celanaku. Kuelus lagi kepalanya dan beberapa nasehat meluncur dari mulutku sementara pikiranku macam-macam. Apalagi aku bisa melihat belahan pungungnya (karena pakai kaos rendah). "Kok nggak pakai BH," batinku. Kuraba kepala dan pundaknya, kulihat tangisnya mereda walau belum selesai benar. Karena aku tidak tahan dengan birahi di dadaku, aku telusurkan saja tanganku ke arah punggungnya yang terbuka bagian atas. Aku saat itu sudah sangat sengaja melakukannya dengan takut-takut. Oh my God, Cik Ling diam saja ketika aku melakukannya. Kuelus leher belakang, kepala belakangnya dan kuberanikan mengangkat kepalanya dengan memegang kedua pipi dan telinganya dari samping. "Cik Ling," kataku sambil mata kami berpandangan. Kuambil sapu tanganku dan kuusap air mata di wajahnya. "Bibirnya bagus sekali," pikirku. Ini kali pertama aku melihatnya sedekat ini, apalagi dia adalah direktur keuanganku. Kami berpandangan dan ya ampun, dia memejamkan matanya dan membuka sedikit mulutnya. Aku ingat kekasihku kalau kami mau bercumbu, dia pejamkan matanya dan bibirnya dibuka sedikit.

Kasihan Cik Ling, aku pikir pastilah suaminya sudah lama sekali tidak menjamahnya, menyetubuhinya. Karena kesempatan itu datang, kuraih saja bibir Cik Ling. Kukecup beberapa kali sebelum akhirnya aku mengulum bibirnya dan Cik Ling membalasnya. Oh God, aku dapat durian runtuh malam ini. Pikiranku sudah dipenuhi dengan birahi dan ingin menikmati tubuh Cik Ling di Hotel Santika malam ini. Ahh, lembut sekali bibirnya, kami menikmatinya dan lidahnya, lidahku menari-nari. Kutelusuri lehernya yang panjang dengan mulutku sementara tanganku memegangi tangannya, meremasnya. Ahh, Cik Ling kegirangan menyambut cumbuanku. Dia pasrah. Apalagi ketika tanganku mulai merambati pinggang dan menggapai kedua bukitnya, kuelus dari luar kaosnya yang tanpa BH itu. Aku menikmati sementara mulutku menelusuri lehernya dan turun lagi memutari dada atasnya. Cik Ling mendesah-desah dan mendesis kegirangan. Lalu kami berdekapan, kutuntun Cik Ling ke arah tombol musik yang tersedia dan kuraih chanel yang tersdia di hotel. Kami berdekapan lama sambil berdiri mengikuti irama musik instrument.

"Aku milikmu Jo, malam ini." kata Cik Ling memecah kesunyian. Aku dipanggilnya dengan Jo, seperti yang biasa dia lakukan di kantor. Dia berkata begitu sambil tangannya melepas celanaku, bajuku dan semua yang melekat padaku. Aku telanjang di depannya. Didekapnya aku, diraba dan elusnya batang kejantananku yang sudah mengejang keras. Jantungku serasa lepas. Lalu kami bercumbuan lagi. Aku membalikkan tubuhnya dan kucumbui Cik Ling dari belakang. Mulutku menelusuri lehernya, punggungnya, pipinya, telinganya dan dilingkarkannya tangan Cik Ling di kepalaku, kulumat bibirnya. Tanganku meremas kedua bukitnya dengan lembut dan membuat gumpalan itu makin mengeras. Cik Ling menggeliatkan tubuhnya, melengkung ke depan. Ahh, pemandangan yang indah kulihat. Kulepas kaos merahnya dan betapa indahnya kulihat buah dada Cik Ling, masih kencang dan cukup besar, puntingnya berwarna coklat sangat ranum dan membuatku lebih terangsang untuk memetik kedua buah dadanya yang siap panen dan kunikmati dengan mulutku.

Kubiarkan Cik Ling menikmati sensasi-sensasi yang kustimulasikan pada tubuhnya. Cik Ling membiarkan aku meremasi lembut kedua buah dadanya. Kulihat Cik Ling memejam dan menggeliat-geliat melengkung ke depan. Aku ingin menelanjanginya. Kuraih celana pendeknya dan kulorotkan ke bawah, Cik Ling melepas sendiri. Aku sekarang melihat gundukan pink di balik celana dalamnya. Kuraba gundukan itu dan Cik Ling bertambah menikmati dengan desah dan geliatnya. Kustimulasi dengan kedua tanganku sesaat dan akhirnya tanganku kumasukkan ke celana dalamnya, kulepaskan dan sekarang aku benar-benar melihat Cik Ling telanjang di dekapanku.

"Basah Cik," kataku.
"Iya, aku sudah nggak tahan Jo. Aku sangat menikmati cumbuanmu sampai sekarang, dan aku ingin kau membuatku terpuaskan Jo. Ayo lakukanlah.." Pinta Cik Ling dengan manja padaku.
"Tapi Cik.. aku.." aku ingin katakan bahwa aku belum pernah melakukannya pada wanita.
Gelora birahi di dadaku memuncak dan batang kejantananku sudah tidak tertahankan lagi. Cik Ling kupeluk erat dan membiarkan kepalanya bersandar di dada kiriku. Ahh, manja sekali Cik Ling ini, pikirku. Kukecup pipinya, dahinya. Kukecup telinganya dan Cik Ling sangat menikmati sensasi gelora seks yang kulakukan padanya. Kubalikkan tubuhnya lagi dan Cik Ling berhadapan denganku. Aku mencumbuinya lagi. Dibiarkannya mulutku menelurusi leher dan dadanya. Aku hampir tidak tahan menahan geliat tubuhnya. Apalagi ketika aku sampai di dadanya. Ahh, aku sangat menikmati kedua buah dadanya. Kuputar lembut dan membuat Cik Ling membusungkan dadanya sehingga aku semakin leluasa. Lenguhan, desahan dan geliatnya makin membuat birahiku meledak-ledak. Kupaguti bergantian kedua buah dadanya. Kukulum kedua puntingnya bergantian dan membuat tubuh Cik Ling makin menggeliat dan akhirnya aku tidak kuat lagi menahan tubuhnya, kubiarkan terjatuh di tempat tidur.

Kubiarkan Cik Ling makin ke tengah tempat tidur, aku memandangi tubuhnya yang indah. Cik Ling membuat gerakan-gerakan yang menandakan letupan birahinya sehingga membuatku sangat terangsang. Apalagi ketika dibukanya kedua kakinya dengan diangkat pahanya. Betapa menggairahkan. Kulihat gundukan hitam di puncak selangkangannya. Malam ini, pastilah akan menjadi malam pertamaku menyetubuhi wanita dan Cik Ling lah yang akan membuatku tidak perjaka lagi. Ini tekadku malam ini. Aku ingin memberinya kesan dan sensasi yang mendalam tentang diriku.

Kudekati tubuh Cik Ling dari samping. Tangannya menarikku. Kucumbui Cik Ling lagi. Aku mencumbuinya dari atas ke bawah dengan tubuhku merambat di atasnya. Kunikmati kedua bukitnya dengan leluasa dan tanganku menggapai kedua kakinya menelusuri liang senggamanya, membuat Cik Ling menggeliat mendesah lagi. Kutelusuri perutnya akhirnya aku sampai di liang senggamanya. "Oh, wangi sekali," pikirku. Tapi belum sempat aku bertindak lebih lanjut, diraihnya batang kejantananku dan dikulumnya. Aku mendesis kenikmatan. Disedotnya batang kejantananku hingga masuk penuh di mulutnya. Ohh, ini pertama kali mulut wanita mengulum batang kejantananku. Betapa nikmatnya sampai aku hanya bisa berkata "Ooohh Cik.. ahh.." dan pinggulku tergoyang-goyang mengikuti sensasi yang Cik Ling berikan melalui batang kejantananku.

"Oooh Cik, saya nggak kuat, mau keluar Cik," kataku.
Tapi tak ada sahutan. Yang ada hanya hisapan dan kuluman yang makin membuat batang kejantananku mengeras. Aku mencoba menahan diri dengan menikmati liang senggamanya dengan mulutku. Akhirnya aku tidak tahan dan kumuntahkan sperma hangatku penuh di dalam mulut Cik Ling. Aku terdiam.. inikah namanya orgasme? Kulihat Cik Ling sangat menikmati dengan apa yang baru saja terjadi.

"Thanks ya Cik," kataku. Dia hanya tersenyum tipis dan memelukku. Kucumbui lagi Cik Ling dan aku sangat suka menikmati kedua buah dadanya dengan putingnya yang ranum. Hal ini membuat Cik Ling bergelinjang kenikmatan. Kalau mulutku memaguti dan menggulumi yang kiri, tangan kananku meremas lembut yang kiri, begitu sebaliknya. Aku seperti bayi yang menikmati ASI dari samping. Kulihat gerakan kakinya yang merangsangku. Lalu sambil mulutku mengulum buah dadanya, kujulurkan tanganku menggapai liang senggamanya. Cik Ling makin menikmati permainanku ini. Kuelus liang senggama dan sekitarnya, membuat gerakan kakinya membuka lebar, semakin lebar menantiku menyetubuhinya. Kurasakan liang senggamanya yang makin membasah dan akhirnya ketika kedua kakinya masih mengangkang, aku bergerak dan berada diantara kedua kakinya. Kupandangi liang senggamanya dan kunaikkan kaki kirinya, aku menciumi pahanya lembut menukik ke bawah dan akhirnya aku mencumbui liang senggamanya. Kepalaku diremas-remas dan ditekannya, kudengar geliat dan desahnya makin menjadi-jadi. Kedua kakinya terbuka lebar di depanku. Aku sangat menikmati liang senggamanya. Ini kali pertama aku mencumbui liang senggama wanita. Aku mulai merasakan cairan dan membuatku makin terangsang dan Cik Ling memintaku agar aku segera menyelesaikannya.

Ditaruhnya kedua kakinya di pundakku dan batang kejantananku yang sudah kembali menegang kutuntun memasuki liang senggamanya. Kumasukkan sedikit demi sedikit dan kuputarkan di seputar liang senggama Cik Ling yang membuatnya melenguh kenikmatan sejadi-jadinya. Aku memasukkan lagi dan lebih dalam lagi dan akhirnya tertanam penuh di liang senggama Cik Ling. Kupegangi kedua tangannya, aku diam sejenak merasakan sensasi kenikmatan di sekeliling batang kejantananku, lalu kugoyangkan lembut sementara mulutku menikmati kedua puting susunya bergantian. Aku terus menggoyang lembut di seputar dinding kemaluannya. Aku merasakan Cik Ling mau orgasme. Kupercepat goyanganku dan kudengar suara teriakan tertahan, tubuh Cik Ling mengejang dan menjepit batang kejantananku kuat-kuat. Seketika itu aku merasakan spermaku mau keluar lagi. Akhirnya aku menikmati saat akhir yang sangat menggairahkan. Cik Ling mencapai orgasme, juga aku. Aku merasakan sangat kenikmatan. Aku tidak perjaka lagi.

"Thanks ya Cik," kataku. Kukatakan itu ketika aku mengecup telinganya, bibirnya, dahinya dan menelusuri lehernya juga dadanya yang meninggalkan warna kemerahan. Tangannya masih agak menggelepar di kanan kiri seperti pelepasan.
"Cik, ini kali pertama aku menyetubuhi wanita," kataku melanjutkan. Cik Ling tersentak dan aku meyakinkannya.
"Cik Ling lah yang merenggut keperjakaanku malam ini," kataku sambil mengecup dahi dan pipinya.
Aku dipeluknya erat lagi dan aku membalasnya.

Malam itu aku tidur di hotel sampai pagi dengan kehangatan tubuh Cik Ling di pelukanku. Rasanya tubuh Cik Ling menjadi selimut hangat buatku. Pagi-pagi aku pulang ke rumah dan masuk kerja seperti biasanya walau aku merasa ngantuk. Tapi aku minum obat penguat agar tidak ngantuk dan terbukti cukup kuat menahan rasa kantukku. Apalagi juga dengan kedatangan Cik Ling. Senyumnya sungguh beda. Aku suka. Dan lagi-lagi aku sangat tertarik dengan kedua buah dadanya yang pagi itu nampak lebih mempesona buatku. Cik Ling sepertinya bangga. Aku diteleponnya dari ruangannya dan berkata terima kasih dan senang karena dapat membuatku tidak perjaka lagi.

"Gila!" Pikirku. Pengalaman dengan Cik Ling membuatku makin terobsesi menikmati tubuh gadis dan istri orang di kantorku. Aku ingin menikmati tubuh Cik Sasa. Aku ingin menyetubuhi Ima, Nia dan Cik Nina adik ipar Cik Ling.

Gila! Ketika aku menulis tulisan ini, aku sudah makin jauh dengan Nia. Dia istri Mas Budi. Aku ingin menikmatinya. Dan sudah kurencanakan di hotel dekat dengan rumahnya. Aku sudah belikan dia daster hitam untuk dipakai nanti dan dia menerimanya dengan suka hati. Ada hotel berbintang disana.

Sementara dengan Cik Ling, aku masih terus berhubungan. Yang paling gila adalah aku menyetubuhinya di rumahnya sendiri, di sofa di ruang multimedia. Dia memanggilku ke sana saat suaminya ke luar negeri dua minggu lalu. Karena memang aku pandai komputer dan multimedia. Jadi Cik Ling memakai alasan itu. Aku menyetubuhinya berkali-kali dan Cik Ling mengajariku berbagai posisi. Aku suka posisi dogy style, padahal sudah kurencanakan mau kuterapkan nanti untuk Cik Sasa.. entah kapan, tapi menjanjikan.

Cerita Dewasa : SMS Erotik Bagian 1

TANTE ALEXA - Cerita Dewasa : SMS Erotik Bagian 1. Segala cerita kencan seks yang ku baca di internet, semula kukira hanyalah bohong-bohongan belaka. Namun, setelah memanfaatkan milis internet, aku baru bisa percaya. Sebab, aku memang bisa dapet teman kencan untuk making-love. Mau tahu ceritanya?

*****

Setelah menyimak daftar nomor HP wanita-wanita'yang butuh teman kencan melalui SMSdate aku segera menyebar SMS perkenalan. Hasilnya, SMSku dapat jawaban dari seorang wanita 33 tahun asal Jakarta (sebut saja namanya Gadis). Awalnya, dia merasa terkejut dan mengaku tak pernah mencari teman kencan pria lewat SMS. Namun setelah berdialog beberapa saat, akhirnya dia mengakui bahwa dirinya adalah seorang wanita yang kesepian. Bahkan, dia malah memintaku datang ke Jakarta dan segala biaya akan dijamin.

Tanpa pikir panjang, aku menyatakan siap. Dengan memanfaatkan jasa kereta cepat Argolawu jurusan KotaX-Jakarta, aku bisa melesat ke Stasiun Gambir Jakarta. Seperti yang dia pesan, aku diminta menunggu di peron Stasiun. Cukup lama, aku menunggu sendiri di peron, hampir satu jam hanya duduk memandang orang-orang berlalu-lalang. Semula aku hampir putu asa dan curiga, jangan-jangan aku hanya dikerjai. Ketika matahari sudah lenyap dan langit Jakarta sudah gelap, ketika aku memutuskan untuk pergi dari Stasiun Gambir (karena merasa dikerjai), tiba-tiba ada seorang wanita tua yang menghampiriku.

Wanita yang mirip nenek-nenk itu menyampaikan pesan bahwa aku telah ditunggu wanita bernama Gadis di sebuah taksi yang berhenti di halaman parkir. Karuan saja, perasaan dadaku jadi plong. Seketika itu aku lari mencari taksi tersebut. Begitu aku membuka pintu taksi, Oh.. dadaku berdetak. Wanita kencan SMSku itu ternyata tidak setua usianya. Tubuhnya terlalu tinggi bagiku, sekitar 170cm, sedang aku hanya 165cm. Kulitnya putih layaknya etnis Tionghoa.

"Ayo, masuk..," pinta wanita berambut sebahu itu sembari memberi ruang duduk di sampingnya.

Wajahnya tampak gembira sekali ketika menatap wajahku.

"Ke Hotel XX, ya Bang," ujar Gadis kepada sang pengemudi taksi.

Di dalam taksi, duduk berhimpitan bersama Gadis, aku seperti dibawa terbang ke awang-awang. Betapa tidak, tubuhnya super montok. BRA-nya kira-kira berukuran 36. Dan pinggulnya, wah membuatku benar-benar gemas. Sementara tatapan matanya, seolah ada rasa dahaga yang tertahan bertahun-tahun. Hmm.. rasanya itu membuatku tak sabar untuk melumatnya. Karena itu, begitu tiba di hotel aku bergegas chek-in dan membogkar rahasia perasaanku di kamar nomor 102.

Di kamar hotel 102, di antara lampu remang-remang, Gadis hanya termangu memandangiku. Matanya meneliti leku-lekuk tubuhku yang maih basah habis mandi.

"Sini sayang, aku pijiti. Pasti, kau capek sekali, kan," ujar Gadis kemudian.

Tanpa banyak kata, akau hanya menurut saja. Maklum tubuhku capek sekali setelah menempuh perjalanan KotaX-Jakarta. Kalau dipijiti, oh.. rasa pegal di tubuhku akan hilang. Karena itu, aku segera tidur tengkurang di ranjang dengan setengah telanjang di dekat Gadis.

"Bagian mana dulu yang dipijit sayangku," suara Gadis yang mendesah membuat darahku mendesir-desir.
"Terserah kaulah," jawabku singkat.

Tak lama kemudian, jemari lentiknya sudah menelusuri lekuk-lekuk tubuhku. Kadang-kadang tangan Gadis nakal menggoda bagian sensitifku. Urutannya lembut, seperti menyulam setiap pori-pori kulitku. Beberapa saat kemudian, aku ganti menawarkan diri untuk memijit tubuh gadis yang super montok. Seperti yang dia lakukan padaku tadi, aku mulai mengurut-urut bagian lehernya, kemudian turun ke punggung, pinnggang dan paha. Setelah itu tubuhnya ku balik sehingga tidak tengkurap lagi. Kali ini aku mengurut bagian payudaranya dengan lembut. Selanjutnya aku mulai beraksi erotik. Awalnya saya membelai rambut Gadis dan mencium bibir-nya. Dia membalasnya dengan hangat, penuh kasih sayang.

Kurebahkan dia dengan perlahan, kutatap matanya erat-erat, kusingkirkan bajunya yang menutupi buah dadanya, yang sungguh merangsang diriku. Perlahan tapi pasti kulumat puting susu-nya dan dengan tangan kiriku kumainkan puting yang satunya lagi. Gadis melenguh keenakan, sungguh suara yang merdu dan hal ini membuatku grenng lagi. Selang beberapa menit kemudian kuangkat kepalaku sambil tetap kumainkan tangan kiriku, kemudian kulihat pussy Gadis yang basah. Kulumat clitorisnya dan semua ruang vaginanya hingga Gadis menggelinjang berat. Ketika penisku menegang gagah perkasa, kurenggangkan kedua pahanya dan kumasukkan jariku ke lubang pussynya, kuputar-putar dan kusodok-sodokkan, Gadis pun semakin mengerang keras, sampai kusadari kalau waktu kusodokkan di bagian kanan atas, eluhannya semakin keras dan cairannya makin banyak, penasaran kupusatkan jariku di situ dan kugosok-gosok bagian tersebut ternyata Gadis pun berteriak makin keras.

Cairannya keluar banyak sekali, aku pun mulai grenng tidak sabar, kuangkat kontolku dan kusodokkan ke lubang pussynya dengan cepat, kali ini aku sodokkan terus menerus tapi rupanya kontolku masih membutuhkan waktu untuk reload sehingga spermaku tidak lekas keluar.

Gadis masih mengerang dengan kerasnya, dan kusodokkan penisku ke bagian kanan atas, dan yah dia pun makin melenguh keras, dan kurasakan cairannya menyembur-nyembur dengan derasnya, aku makin grenng dan kulihat wajahnya yang khas, wajah yang penuh kepuasan dan erangan penuh kenikmatan yang merdu, yang membuat kontol laki-laki manapun tidak tahan, dan akupun keluar lagi dengan deras di pussy Gadis.

Ketika aku terbangun dari tidur, sekitar tengah malam, Gadis telah menyediakan kopi panas dan duduk di sebelah ranjang. Tapi hasratku masih menggelora. Tidak bisa tidak aku harus beraksi lagi. Maklum, aku hanya bisa berada di Jakarta hanya sehari. Sayang kalau hanya sekali main di panggung ranjang panas. Karena itu, setelah mencicipi kopi aku segera membuka kancing BH-nya kulepaskan. Tanganku bergerak bebas mengusap buah dadanya. Putingnya kupegang dengan lembut. Kami sama-sama hanyut dibuai kenikmatan walaupun kami masih berdiri bersandar di dinding. Kami terangsang tak karuan. Nafas kami semakin memburu. Aku merasa tubuh Gadis menyandar ke dadaku. Dia sepertinya pasrah. Baju daster Gadis kubuka. Di dalam cahaya remang dan hujan lebat itu, kutatap wajahnya. Matanya terpejam. Daging kenyal yang selama ini terbungkus rapi menghiasi dadanya kuremas perlahan-lahan. Bibirku mengecup puting buah dadanya secara perlahan.

Kuhisap puting yang mengeras itu hingga memerah. Gadis semakin gelisah dan nafasnya sudah tidak teratur lagi. Tangannya liar menarik-narik rambutku, sedangkan aku tenggelam di celah buah dadanya yang membusung. Mulutnya mendesah-desah.

"Ssshh.., sshh!".

Puting payudaranya yang merekah itu kujilat berulangkali sambil kugigit perlahan-lahan. Kulepaskan ikatan kain di pinggangnya. Lidahku kini bermain di pusar Gadis, sambil tanganku mulai mengusap- usap pahanya. Ketika kulepaskan ikatan kainnya, tangan Gadis semakin kuat menarik rambutku. Suaranya melenguh-lenguh. Nafasnya terengah-engah ketika celana dalamnya kutarik ke bawah. Tanganku mulai menyentuh lagi daerah kemaluannya. Rambut halus di sekitar kemaluannya kuusap-usap perlahan. Ketika lidahku baru menyentuh kemaluannya, Dia menarikku berdiri. Pandangan matanya terlihat sayu bagai menyatakan sesuatu. Pandangannya ditujukan ke tempat tidurnya.

Aku segera mengerti maksudnya. Dia minta ingin segera digenjot di atas ranjang. Dengan sebuah tarikan, tubuh Gadis kubaringkan terlentang, tapi kakinya masih menyentuh lantai. Mukanya berpaling ke sebelah kiri. Matanya terpejam. Tangannya mendekap kain sprei. Buah dadanya membusung seperti minta disentuh. Puting susunya terlihat berair karena liur hisapanku tadi. Perutnya mulus dan pusarnya cukup indah. Kulihat tidak ada lipatan dan lemak seperti perut wanita yang telah melahirkan. Kemudian, tanganku terus membuka kancing bajuku satu-persatu. Ritsluiting jeans-ku kuturunkan. Aku telanjang bulat di hadapan Gadis. Penisku berdiri tegang melihat kecantikan sosok tubuh Gadis.

Buah dada yang membusung dihiasi puting kecil dan daerah di bulatan putingnya kemerah-merahan. Indah sekali kupandang di celah pahanya. Gadis telentang kaku. Tidak bergerak. Cuma nafasnya saja turun naik. Lalu akupun duduk di pinggir kasur sambil mendekap tubuhnya. Sungguh lembut tubuhnya. Kupeluk dengan gemas sambil kulumat mesra bibir ranumnya. Tanganku meraba seluruh tubuhnya. Sambil memegang puting susunya, kuremas-remas buah dada yang kenyal itu. Kuusap-usap dan kuremas-remas. Nafsuku terangsang semakin hebat. Penisku menyentuh pinggangnya. Kudekatkan penisku ke tangannya. Digenggamnya penisku erat-erat lalu diusap-usapnya.

Memang Gadis tahu apa yang harus dilakukan. Dipegangnya penisku yang sudah tegang dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Mataku terpejam-pejam ketika lidah Gadis melumat kepala penisku dengan lembut. Penisku dikulum sampai ke pangkalnya. Sukar untuk dibayangkan betapa nikmatnya diriku. Bibir Gadis terasa menarik-narik batang penisku.

Tidak tahan diperlakukan begitu aku lalu mengerang menahan nikmat. Kubuka lebar-lebar paha Gadis sambil mencari liang vaginanya. Kusibakkan vaginanya yang telah basah itu. Kujulurkan lidahku sambil memegang clitorisnya. Gadis mendesah. Kujilat-jilat dengan lidahku. Kulumat dengan mulutku. Liang kemaluan Gadis semakin memerah. Bau kemaluannya semakin kuat. Aku jadi semakin terangsang. Seketika kulihat air berwarna putih keluar dari lubang vaginanya. Tentu Gadis sudah cukup terangsang, pikirku. Aku kembali pada posisi semula. Tubuh kami berhadapan. Tangannya menarik tubuhku untuk rebah bersama. Buah dadanya tertindih oleh dadaku. Gadis memperbaiki posisinya ketika tanganku mencoba mengusap-usap pangkal pahanya. Kedua Kaki Gadis mulai membuka sedikit ketika jariku menyentuh kemaluannya. Lidahku mulai turun ke dadanya. Putingnya kuhisap sedikit kasar. Punggung Gadis terangkat-angkat ketika lidahku mengitari perutnya.

Akhirnya jilatanku sampai ke celah pahanya. Gadis semakin membuka pahanya ketika aku menjilat clitorisnya, kulihat Gadis sudah tidak bergerak lagi. Kakinya kadang-kadang menjepit kepalaku sedangkan lidahku sibuk merasakan kenikmatan yang telah dirasakan. Erangan Gadis semakin kuat dan nafasnya pun yang terus mendesah. Rambutku di tarik-tariknya dengan mata terpejam menahan kenikmatan.

"Gimana rasanya?" tanyaku lembut dengan nada manja.

Dia tidak menjawab. Dia hanya membuka matanya sedikit sambil menarik napas panjang. Aku mengerti. Itu bertanda dia setuju. Tanpa disuruh, aku mengarahkan penisku ke arah lubang vaginanya yang kini telah terbuka lebar. Lendir dan liurku telah banjir di gerbang vaginanya. Kugesek-gesekan kepala penisku di cairan yang membanjir itu. Perlahan- lahan kutekan ke dalam. Tekanan penisku memang agak sedikit susah. Terasa sempit. Kulihat Gadis menggelinjang seperti kesakitan.

"Pelan-pelan, Yang!", ujarnya berharap, suaranya terdengar sesak.
Aku sekarang mengerti. Memang aku belum berpengalaman. Kutekan lagi. Kumasukkan penisku perlahan-lahan. Kutekan punggungku ke depan. sangat hati-hati. Terasa memang sempit. Lalu Gadis memegang lenganku erat-erat. Mulutnya meringis seperti orang sedang menggigit tulang. Hanya sebagian penisku yang masuk. Kubiarkan sebentar penisku berhenti, terdiam. Gadis juga terdiam. Tenang. Sementara itu, kupeluk tubuhnya dengan gemas sambil memainkan buah dadanya, menjilat, mengusap dan menggigit-gigit lembut.

Mulutnya kukecup sambil lidahnya kumainkan. Kami memang sudah sangat bernafsu dan terangsang.

"Mau diteruskan..?" tanyaku kemudian.

Gadis membuka matanya. Di bibirnya terlihat senyum manis yang menggairahkan. Kutekan penisku ke dalam. Kemudian kutarik ke belakang perlahan-lahan. Kuhentakkan perlahan-lahan. Memang sempit kemaluan Gadis, mencengkram seluruh batang penisku. Penisku terasa seperti tersedot di dalam vaginaya. Kami mulai terangsang! Penisku mulai memasuki kemaluan Gadis lebih lancar. Terasa hangatnya sungguh menggairahkan. Mata Gadis terbuka menatapku dengan pandangan yang sayu ketika penisku mulai kukeluar-masukkan. Bibirnya dicibirkan rapat-rapat seperti tidak sabar menunggu tindakanku selanjutnya. Sedikit demi sedikit penisku masuk sampai ke pangkalnya.

Gadis mendesah dan mengerang seiring dengan keluar-masuknya penisku di kemaluannya. Kadang-kadang punggung Gadis terangkat-angkat menyambut penisku yang sudah melekat di kemaluannya. Berpuluh-puluh kali kumaju-mundurkan penisku seiring dengan nafas kami yang tidak teratur lagi. Suatu ketika aku merasakan badan Gadis mengejang dengan mata yang tertutup rapat. Tangannya memeluk erat-erat pinggangku. Punggungnya terangkat tinggi dan satu keluhan berat keluar dari mulutnya secara pelan.

Denyutan di kemaluannya terasa kuat seakan melumatkan penisku yang tertanam di dalamnya. Goyanganku semakin kuat. Lehernya kurengkuh erat sambil badanku rapat menindih badannya. Ketika itu seolah-olah aku merasakan ada denyutan yang menandakan air maniku akan keluar. Denyutan yang semakin keras membuat penisku semakin menegang keras. Gadis mengimbanginya dengan menggoyangkan pinggulnya. Goyanganku semakin kencang. Kemaluan Gadis semakin keras menjepit penisku. Kurangkul tubuhnya kuat-kuat. Dia diam saja. Bersandar pada tubuhku, Gadis lunglai seperti tidak bertenaga. Kugoyang terus hingga tubuh Gadis seperti terguncang-guncang. Dia membiarkan saja perlakuanku itu. Nafasnya semakin kencang.

Dalam keadaan sangat menggairahkan, akhirnya aku sampai ke puncak. Air maniku muncrat ke dalam kemaluan Gadis. Bergetar badanku saat maniku muncrat. Gadis mengait pahaku dengan kakinya. Matanya terbuka lebar memandangku. Mukanya serius. Bibir dan giginya dicibirkan. Nafasnya terengah-engah. Dia mengerang agak kuat. Waktu aku memuntahkan lahar maniku, tusukanku dengan kuat menghunjam masuk ke dalam. Kulihat Gadis menggelepar-gelepar. Dadanya terangkat dan kepalanya mendongak ke belakang. Aku lupa segala-galanya.

Untuk beberapa saat kami merasakan kenikmatan itu. Beberapa sodokan tadi memang membuat kami sampai ke puncak bersama- sama. Memang hebat. Sungguh puas. Memang inilah pertama kalinya aku melakukan senggama dengan orang lain selain istriku. Walaupun dia seorang janda yang sudah berumur, bagiku dia adalah wanita yang sangat cantik. Waktu kami melakukan senggama tadi, kami berkhayal entah kemana. Gadis memang hebat dalam permainannya. Sebagai seorang yang tidak pernah merasakan kenikmatan persetubuhan dengan orang lain selain istriku, bagiku Gadis betul-betul memberiku surga dunia. Aku terbaring lemas di sisi Gadis. Mataku terpejam rapat seolah tidak ada tenaga untuk membukanya. Dalam hati aku puas karena dapat mengimbangi permainan ranjang Gadis. Kulihat Gadis tertidur di sebelahku. Dia mengaku puas sekali.

"Kamu memang hebat, penismu luar biasa..!", katanya dengan nada meronta.

Anehnya, ketika aku merasa capek, Gadis malah mengocokkan batang penisku. Suaranya mengiba-iba membangkitkan gairahku.

"Kau suka?", tanyaku.

Dia tersenyum. Dia mengangguk tanda suka. Saat itu juga tanganku memegang buah dadanya. Tangannya mengocok terus penisku. Penisku tegang lagi. Kami jadi terangsang lagi.

"Kau mau lagi?", tanyaku dengan suara manja.

Bersambung ..... Baca selanjutnya disini.....

Cerita Dewasa : SMS Erotik Bagian 2

TANTE ALEXA - Cerita Dewasa : SMS Erotik Bagian 2. Dia tersenyum manis. Apa yang kuimpikan kini benar-benar menjadi kenyataan. Perlahan-lahan kubuka selimutnya. Kulihat kaki Gadis sudah mengejang. Sedikit demi sedikit terus kutarik selimutnya ke bawah. Segunduk daging mulai terlihat. Uff.., detak jantungku kembali berdegup kencang. Kunikmati kembali tubuh Gadis tanpa perlawanan. Gundukan bukit kecil yang bersih, dengan bulu-bulu tipis yang mulai tumbuh di sekelilingnya, tampak berkilat di depanku. Kurentangkan kedua kakinya hingga terlihat sebuah celah kecil di balik gundukan bukit Gadis.

Cerita Dewasa : SMS Erotik Bagian 2
Kedua belahan bibir mungil kemaluannya kubuka. Melalui celah itu kulihat semua rahasia di dalamnya. Aku menelan air liurku sendiri sambil melihat kenikmatan yang telah menanti. Kudekatkan kepalaku untuk meneliti pemandangan yang lebih jelas. Memang indah membangkitkan birahi. Tak mampu aku menahan ledakan birahi yang menghambat nafasku. Segera kudekatkan mulutku sambil mengecup bibir kemaluan Gadis dengan bibir dan lidahku. Rakus sekali lidahku menjilati setiap bagian kemaluan Gadis. Terasa seperti tak ingin aku menyia-nyiakan kesempatan yang dihidangkannya. Setiap kali lidahku menekan keras ke bagian daging kecil yang menonjol di mulut vaginanya, Gadis mendesis dan mendesah keenakan. Lidah dan bibirku menjilat dan mengecup perlahan. Beberapa kali kulihat dia mengejangkan kakinya. Aku tak peduli bau khas dari liang kemaluan Gadis memenuhi relung hidungku. Malah membuat lidahku bergerak semakin menggila. Kutekan lidahku ke lubang kemaluan Gadis yang kini sedikit terbuka. Rasanya ingin kumasukkan lebih dalam lagi, tapi tidak bisa.

Mungkin karena lidahku kurang keras. Tetapi, kelunakkan lidahku itu membuat Gadis beberapa kali mengerang karena nikmat. Dalam keadaan sudah terangsang, kutarik tubuh Gadis ke posisi menungging. Ia menuruti permintaanku dan bertanya dengan nada manja.

"Aku kau apakan, sayang?", bisiknya.

Aku diam saja. Kuatur posisinya. Tangannya meremas sprei hingga kusut. Air mani Gadis sudah membasahi kemaluannya. Kubuka pintu kemaluannya. Kulihat dan perhatikan dengan seksama. Memang aku tidak pernah melihat kemaluan wanita serapat itu.
Bau anyir dan bau air maniku bercampur dengan bau asli vagina Gadis yang merangsang. Bau vagina seorang wanita! Jelas semua! Bulu kemaluan Gadis yang lembab dan melekat berserakan di sekitar vaginanya. Kusibakkan sedikit untuk memberi ruang.

Kumasukkan jari telunjukku ke dalam lubang vaginanya. Kumain-mainkan di dalamnya. Kulihat Gadis menggoyang punggungnya. Kucium dan kugigit daging kenyal punggungnya yang putih bersih itu. Kemudan kurangkul pinggangnya. Kumasukkan penisku ke liang vaginanya. Pinggang Gadis seperti terhentak. Perlahan-lahan kutusukkan penisku yang besar panjang ke lubang vaginanya dengan posisi "doggy-style". Tusukanku semakin kencang. Nafsu syahwatku kembali sangat terangsang. Kali ini berkali-kali aku mendorong dan menarik penisku. Hentakanku memang kasar dan ganas. Kuraih pinggang Gadis. Kemudian beralih ke buah dadanya. Kuremas-remas semauku, bebas. Rambutnya acak-acakan. Lama juga Gadis menahan lampiasan nafsuku kali ini. Hampir setengah jam.

Tusukanku memang hebat. Kadang cepat, kadang pelan. Kudorong-dorong tubuh Gadis. Dia melenguh. Dengusan dari hidungnya memanjang. Berkali-kali. Seperti orang terengah-engah kecapaian.

"Ehh.. ek, Ekh, Ekh."

Akirnya aku merasakan air maniku hampir muntah lagi. Waktu itu kurangkul kedua bahu Gadis sambil menusukkan penisku ke dalam. Tenggelam semuanya hingga ke pangkalnya. Waktu itulah kumuntahkan spermaku. Kutarik lagi, dan kuhunjamkan lagi ke dalam. Tiga empat kali kugoyang seperti itu. Gadis terlihat pasrah mengikuti hentakanku. Kemudian kupeluk tubuhnya walaupun penisku masih tertancap di dalam kemaluannya. Kuelus-elus buah dadanya. Kudekati mukanya. Kami berciuman. Begitu lama hingga terasa penisku kembali normal. Gadis sepertinya kelelahan. Keringat bercucuran di dahi kami. Kami telentang miring sambil berpelukan. Gadis terlihat lemas lalu tertidur. Melihat Gadis begitu, dan hujan masih belum reda, birahiku bangkit kembali. Kurangkul tubuh Gadis dan aku bermain sekali lagi. Tak terasa, kami berdua seperti bermandikan air mani. Setelah itu, kami terkapar berdua.

Ketika aku bangun hari sudah siang. Sekitar jam 12.00 aku buru-buru chek-out dan pulang ke KotaX. Ternyata Gadis masih mau kencan lagi denganku. Tapi entah kapan waktunya, dia belum memastikan dan akupun belum memikirkannya.

"Kau memang lelaki KotaX tulen. Tenang-tenang menghanyutkan. Lemah lembut, tapi luar biasa dahsyat," bisik Gadis ketika mengantarku ke Stasiun Gambir.

*****

Setelah kencan mesra di Jakarta tiga bulan lalu, Gadis-janda 33 tahun asal Jakarta, sering kirm SMS mesra padaku. Katanya, dia merindukan sentuhanku. Sesungguhnya aku sangat ingin mengulangi kencan mesraku dulu. Tapi waktu tak memungkinkan. Karena itu, aku harus putar otak agar ganti dia yang datang ke KotaX, tempat tinggalku. Bagaimanakah aku harus memaksanya datang ke KotaX? Aku harus cari akal.

Sekedar untuk diingat, aku mengenal Gadis setelah menyimak daftar nomor HP wanita-wanita yang butuh teman kencan melalui SMS di internet. Awalnya aku hanya menyebar SMS perkenalan kepada sejumlah wanita. Hasilnya, SMSku dapat jawaban dari seorang wanita 33 tahun asal Jakarta (sebut saja namanya Gadis). Ketika bercakap-cakap denganku via telepon, semula dia merasa terkejut dan mengaku tak pernah mencari teman kencan pria lewat SMS. Namun setelah berdialog beberapa saat, akhirnya dia mengakui bahwa dirinya adalah seorang wanita yang kesepian. Bahkan, dia malah memintaku datang ke Jakarta dan segala biaya akan dijamin. Tanpa pikir panjang, aku menyatakan siap. Dengan memanfaatkan sebuah kamar hotel berbintang, kami bisa saling memuaskan hingga beberapa ronde.

Sejak kencan pertama itulah, dia sering SMS dan memintaku datang ke Jakarta lagi. Sejujurnya, aku senang-senang saja melihat rintihannya, rengekannya, dan segala kemanjaannya. Namun, ketika aku ingin memenuhi permintaannya, aku tak bisa cuti dari kantor tempat kerjaku.

"Banyak pekerjaan yang belum kau selesaikan, kenapa harus cuti? Apa kau tak mau promosi jabatan?" tukas manajer personaliaku.

Peringatan manajer personaliaku itu membuatku benar-benar tak berani nekat bolos ke Jakarta. Karuan saja, hatiku gundah. Sementara Gadis semakin gencar mengirmkan SMS-SMS rindunya.

"Ayu dong, say. Dahagaku rasanya sudah tak tertahan. Tegakah kau?"

Setelah beberapa hari merenung-renung, akhirnya aku punya ide. Aku rayu saja dia melalui email erotic. Ya, aku harus memaksanya datang kemari dengan rayuan-rayuan email eroticku.
Kiriman email pertamaku seperti ini isinya: Gadisku, sayang.. Kau tahu, jika aku bisa bertemu denganmu di kotaku, aku akan mengajakmu pergi tempat yang jauh dan menggairahkan jiwa. Akan kuajak kau ke tempat secret untuk berdua saja, biar aku bisa mereguk kemontokan tubuhmu. Bila memang hubungan semacam itu yang kau cari, maka akan kubawa kau ke kamar yang gelap dan rahasia. Kemudian akan kumanjakan kau dengan jutaan rasa nikmat.

Setiap kali mengirim email, aku selalu mengimajinasikan pengalaman eroticku padanya. Seperti ini contohnya: Gadisku, jika kau datang padaku, aku akan melahirkan syurga-syurga baru untukmu. Kau tahu kan, awalnya pasti aku akan kuminta kau berbaring, melepas gaun, juga BHmu. Selanjutnya akan kupijit-pijit lehermu, bahumu, pinggangmu, hingga pahamu dengan sentuhan selembut sutra. Kemudian akan kujamah gundukan daging kembar yang menghiasi dengan indahnya dadamu. Tapi diamlah, akan kubelai-belai payudaramu dengan jemariku, juga dengan lidahku secara bergantian.

Biarkan saja jika penisku menegang. Aku ingin membuat payudaramu menjadi kenyal sampai kau mendesis-desis. Dan, biarkan saja aku terpana melihat tubuhmu putih dan mulus. Biarkan saja kujilati leher jenjangmu. Menggerinjallah bila kau memang ingin menggerinjal. Oh.. puting susumu mulai mengeras dan begitu menggelitik telapak tanganku. Segera kuelus-elus puting susu yang indah itu dengan telapak tanganku. (Oh.. kau tersentak menghadap ke atas sambil memejamkan matanya.)

Tapi tetaplah diam. Ibu jariku dan telunjukku akan memilin-milin puting susu sebelah kirimu. Kemudian aku ganti menyedot-nyedot puting susuMu. (Oh.. puting susumu semakin lama makin bertambah keras). Setelah itu mulutku kini pindah merambah bukit membusung sebelah kanan. Apa yang kuperbuat pada belahan indah sebelah kiri tadi, kuperbuat pula pada yang sebelah kanan ini. Payudara sebelah kananmu tak luput menerima jelajahan mulutku dengan lidahnya yang bergerak-gerak dengan kukulum ujung payudaramu, lalu kujilati dan kugelitiki puting susumu yang tinggi.

Lidahku tetap tak henti-hentinya menjilati puting susumu yang sudah demikian kerasnya. Sementara itu tanganku mulai bergerak ke arah bawah. Kurenggangka pahamu pelan-2. Kulepas pula kain satu-satunya yang masih menutupi tubuhmu yang memang sintal itu. Dan akhirnya tubuh mulus guru sekolahku itu pun terhampar bugil di depanku, siap untuk kunikmati.

Tak ayal, jari tengahku mulai menjamah bibir vaginamu. Tenanglah, mendesahlah kalau ingin mendesah, akan kutelusuri sekujur permukaan bibir vagina itu secara melingkar berulang-ulang dengan lembutnya. (Oh.. payudaramu semakin membusung menjulang tinggi)

Ooohhm, penisku jadi berdenyur-denyut! Tapi jari tengahku mulai menjamah gundukan daging kecil berwarna kemerahan yang terletak di bibir vaginamu yang mulai dibasahi cairan-cairan bening. Mula-mula kuusap-usap daging kecil yang bernama klitoris ini dengan perlahan-lahan. Lama-kelamaan kunaikkan temponya, sehingga usapan-usapan tersebut sekarang sudah menjadi gelitikan, bahkan tak lama kemudian bertambah lagi intensitasnya menjadi sentilan.

Hm, klitorimus makin bertambah merah akibat sentuhan jariku yang bagaikan sudah profesional, membuat tubuhmu semakin menggerinjal-gerinjal tak tentu arahnya. Tapi tetaplah tenang, aku akan menambah kecepatan gelitikanku pada klitorismu biar vaginamu dibanjiir cairan-cairan kenikmatan yang terus mengalir dari dalam lubang keramat yang masih sempit itu.

Puas menjelajahi klitorismu, jari tengahku mulai merangsek masuk perlahan-lahan ke dalam vagina. Setahap demi setahap kumasukkan jariku ke dalam vaginanya. Mula-mula sebatas ruas jari yang pertama. Kemudian perlahan-lahan jariku kutusukkan lebih dalam lagi. Sementara lidahku mulai menjilati bibir vaginamu berputar-putar. Menjeritlah bila ingin menjerit, tapi lidahku akan terus mengkorek-korek semua permukaan kulit vaginamu dan tanganku akan terus mengosok-gosok klitorismu.

Tak lama kemudian, lidahku ganti menyedot-nyedot ujung klitorismu. Sedang tanganku ganti mengokrek liang vaginamu. (Oh.. kau mengerjap-ngerjap ketika klitorismu kusedot kuat-kuat dan jemariku menggosok liang vaginamu lebih cepat dan makin dalam lagi.) Tenang saja, aku tidak akan menusukkan penisku ke dalam vaginamu. Aku hanya ingin membuatmu orgasme tanpa harus kusetubuhi dengan penisku.

Gosokan jariku ke dalam vaginamu makin kupercepat, terus-menerus, sambung-menyambung. Bahkan tambah lama bertambah tinggi temponya. Akibatnya, kau sanggup berbuat apa-apa lagi kecuali hanya menjerit-jerit tidak karuan. Apalgi ketika lidahku menyedot isi klitorismu kuat-kuat dan senmakin kuat, kau seakan-akan terbang melayang sampai langit ketujuh. Matamu terpejam sementara tubuhmu bergetar dan menggelinjang keras. Tak lama kemudian kaumenejang dan ada cairan meleleh yang meleleh keluar dari vaginamu.

Dan itu membuatku terangsang. Ketika aku makin terangsang, akhirnya kugosok-gosok batang penisku itu dengan tanganku sendiri. Lama sekali, kemudian penisku kuarahkan ke payudaramu dan kujepit dengan kedua susu payudamu. Setelah kugosok-gisikan penisku di bali jepitan kedua payu daramu. Makin lama, kugosok makin cepat dan semakin cepat. Hasilnya, cairan-cairan kental berwarna putih muncrat dari ujung penisku. Sebagian mengenai wajamu. Ada pula yang mengenai payudara dan bagian tubuhmu yang lain.

Singkat cerita, Gadis jadi sering minta dikirimi email erotic. Tapi jika kebetulan aku tak bisa buka internet dia memaksaku untuk mengirimi SMS erotic.

"Ayo dong Say, Aku sedang in nih. Rasanya haus sekali vaginaku," pinta suatu ketika, "Rayulah aku, cumbulah aku dengan SMS mesramu. Aku sudah siapkan penis electrik di sampingku. Ayoo, dong antar aku ke gunung panas biar terobati dahagaku."

Aku tak kuasa menolak jika Gadis meronta-ronta dan selalu mendesah-desah mengharapkan sentuhan asmaraku. Tidak bisa tidak, aku harus mengerahkan jari-jariku untuk pencet huruf demi huruf untuk memuaskan hasrat sex Gadis.

"Kau mau kan," rintih Gadis di tengah malam melalui HPku.
"Oke, deh say," jawabku. Dan tangankupun menari di atas HPku:

Begini kalimat pertama yang kukirim via SMS: Anggap saja aku sudah ada disampingmu. Kini berbaringlah. Biar kurobek saja ya gaunmu, kuserobot CDmu, dan kutindih tubuhmu

(Gadis membalas SMS mesra. Katanya, dia sudah siap menerima dengan segala actionku)

Kemudian aku mengirim SMS lagi padanya: Oh.. puting susumu yang coklat itu, rasanya aku kutelan dengan lidahku, dan bibir vaginamu itu pun ingin kusedot dan jilat dengan lidahku yang dahaga ini (dia membalas dengan kalimat mendesah-desah haus dan manja: aku sudah menunggumu say.. jawabnya)

Aku segera membalasnya: Buka pahamu, say: jariku akan menari-nari di liang vaginamu. Dan biarkan lidah menggeliat-geliat di puting susumu: Apa yag kau rasa. Hmm putingmu sudah mengeras Say? Oh.. aku suka itu, aku kugigit pucuknya akan kugosok-godok dagingnya yang mengenyak-kenyal. Mendesislah. Oh vaginamu sudah basah say? Mana buka pahamu lebar-lebar, akukan sedot cairannya dan kutelan sebagai obat dahaga.

(Gadis membalas SMS, intinya dia sudah tak tahan)

Sekarang gantian kau yang mainkan aku, lihat cockku sudah tegang berdiri, kepalanya mengkilat berdenyut-denyut..
Ya say, hmm.. aku sudah tak sabar, jilatlah penisku dari ujung sampai pangkal. Gosok-gosok batangnya dengan lembut, tanganku akan tetap membelai-belai liang vaginamu biar makin licin.

Dia membalas SMS mesra dan sanggup menjilati penisku:

Oh.. ohh.. sst.. enak say, terus, gini saja kangkangi mukaku dengan 2 pahamu, biar lidahku mengkorek vaginamu, dan mulutmu teruslah menyedot penisku. Oke duduki saja mulutku dengan mulut vaginamu, biar clitorismu kusedot-sedot, tapi kau jangan diam ayo mainkan aku dong saayy.. Hhh..

(Gadis membalas SMS, dia sangup melumat batang penisku danmengurut-urutnya dengan lidah)

Hmm.. kini aku sudah tak sabar, berbaringlah say, buka pahamu lebar-lebar, dan mana liang vaginamu, penisku sudah ingin menusuk-nusuknya, menggenjotnya, sampai kau meronta-ronta.
O, penisku susah masuk say, tolong bantuin pakai tangamu, tanganku akan terus memuntir-muntir susumu, kau sudah siap menerima penisku kan?

Ayo bantuin masukkan penisku dong, say.. Hhmm Yah bagus, enak gila oh.. ohh.. goyang terus say, penisku akan kusodok-sodok masuk ke vaginamu, maju mundur, oh.. kau mengerang say, merintih-rintih?

Aku terus bergoyang menyodok vaginamu, makin lama makin cepat, sementara tanganku terus memilin-milin putingmu kadang lidahku menyerobot putinmu dan kugigit-gigit.

Hm kau menggelinjang say? Oh.. cairanmu makin banyak, penisku basah kuyup, ah.. susumu makin membusung keras say dan desahanmu itu hmm..

Ah, kamu ganti tengkurap saja say, tapi angkat bokongmu, biar aku bisa menyodok vaginamu dari belakang,

Oke say, angkat bokongmu tinggi-tinggi, biar penisku bebas menyoodk vaginamu, mana lubangnya, eit sleep ohm, enak, sekarang aku bergerak maju mundur, kau mendesah-desah.

Sodokanku makin lama makin cepat dan buas, sementara tanganku memilin-milin puting susumu, (Apa yang kau rasa?)

AH, kini ganti kau yang di atas say, aku ingin lihat permainanmu, tenang saja, putung susumu akan ku buat terus menggelinjang. Ya, duduki saja penisku dengan bibir vaginamu, terus gosok-gosoklah dengan goyangan erotic plus ngebor gaya inul. Penisku pasti akan mengejangkanmu.

Tenang saja say, kalau mainmu dahsyat, aku pasti akan lebih dahsyat membuatmu tak berdaya, kini aku menunggu bentuk goyanganmu. Ohh.. indah sekali goyangmu SAY, hmm, tapi kau berbarig lagi saja, penisku akan menusuk vaginamu dari atas, ohh.. vaginamu sudah banjir?

Hanya dengan SMS-SMS semacam itulah, Gadis mengaku bisa orgasme, tapi dengan bantuan penis elektric yang dia beli dari sexshop. Bahkan, kadang bukan hanya sekali saja orgasmenya, tapi sampai dua hingga tiga kali. Sedang SMS-SMSku dijadikan pengantar perangsang cairan vaginanya. Bila vaginanya sudah basah oleh rayuan SMS erotic, Gadis mengaku memainkan penis elketricnya dengan mata ditutup rapat kemudian membayangkan seolah-olah aku benar-benar hadir di sampingnya. Hmm sebuah perilaku yang menggemaskan bagiku.

Setelah sering kukirimi email erotic semacamitu, lama-lama Gadis akhirnya sanggup datang ke kotaku. Aku senang sekali, berarti ada kesempatan untuk live in action bersama Gadis, janda kembang super montok yang kukenal dari SMS erotic internet.

"Oke, deh aku datang. Tapi kau harus membuaskanku seribu tahun. Kalau tidak, Hmm, kau akan kumakan," begitu gertak gemas Gadis melalui teleponnya, kemarin.

Kini aku sudah tak sabar lagi menunggu kedatangannya. Selesai.

Baca - Cerita Dewasa : SMS Erotik Bagian 1
Support : Tante Alexa | Tante Alexa | Tante Alexa
Copyright © 2012. Tante Alexa - All Rights Reserved
Template ReCreated by Tante Alexa Published by Tante Alexa
Proudly powered by Blogger